Kamis, 28 Oktober 2010

DESKRIPSI TENTANG HUBUNGAN MANUSIA DAN AGAMA DALAM FILSAFAT MULLA SHADRA

Apa yang menajadikan manusia bisa mencapai predikat kemanusiaan sejati? Yaitu ketika ia telah mencapai pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya..Tentunya, pengetahuan yang demikian ini, tidaklah semata-mata bersifat deskriptif dan konseptual saja, melainkan meniscayakan adanya kesatuan eksistensial. Bagi sementara kalangan yang membatasi makna pengetahuan hanya sebagai hasil konseptualisasi atas realitas indrawi ataupun rasional, pengetahuan dalam pengertian kestuan eksistensial itu akan dipandang sebagai sesuatu yang tidak mungkin diperoleh. Tetapi dalam pandangan Mulla Shadra, kemungkinan kesatuan eksistensial tersebut merupakan sebuah kemungkinan yang terbuka lebar, mengingat fakta bahwa pada hakikatnya, segala segala sesuatu yang berbeda dalam bentuk-bentuk esensialnya itu selalu berada dalam satu hubungan eksistensial, bahkan apa yang dipandang sebagai esensi yang melahirkan kejamakan tersebut hanyalah modus keberadaan eksistensi itu sendiri. Satu dalil sederhana dapatlah diketengahkan disini, yaitu bahwa “esensi sesuatu tidak bisa diterapkan atau mencakup sesuatu yang memiliki esensi yang berbeda dengannya. Namun dari satu segi, keragaman esensi tersebut kita saksikan senantiasa saling melahirkan pengaruh antara satu dengan yang lain. Jika jarak antara satu esensi dengan esensi lainnya dipatasi oleh jarang non-eksistensi, maka semestinya tidak akan muncul hubungan sama sekali diantara esensi-esensi tersebut. Jika kita hendak mengafirmasi keberadaan sebuah esensi, maka disaat yang sama, kita mesti memasukkan esensi yang lainnya sebagai ketiadaan (nottingness). Baik dalil yang bersumber pada akal itu sendiri maupun yang berdasarkan pada fakta material-indrawi, keduanya sama-sama menegaskan kemendasaran eksistensi dari pada esensi. Hubungan antara satu esensi dengan dirinya sendiri sejatinya adalah hubungan eksistensial (manusia dengan manusia). Demikian, juga hubungan antara berbagai esensi juga adalah relasi eksistesial (misalnya manusia dengan selain manusia). Hubungan eksistensial yang lahir dalam dua sisi (sesuatu dengan dirinya, dan sesuatu dengan yang selainnya) tersebut berkonsekwensi pada, Pertama, penegasan tentang ketunggalan, dan sekaligus keterjagaan kemajemukan itu sendiri..Dengan lain perkataan, Ketunggalan itu sendiri tidak lantas menegasi kejamakan sama sekali, melainkan ketunggalan tersebut justru menegaskan identitas hal-hal yang berbeda itu sendiri...Hubungan yang demikian ini adalah persis sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Jafar As-Shadiq,

" Dia bersatu dengan segala sesuatu tidak dengan peleburan, dan Dia berbeda dengan segala sesuatu bukan dengan perceraian".

Kekurang fahaman atas karakter hubungan eksistensial ini akan membawa konsekwensi pada pemahaman dikotomis atau paling tidak, oposisional antara ketunggalan dan kemajemukan, transendensi dan imanensi, ketetapan dan perubahan, dan sebagainya...Pemahaman yang dikotomis akan melahirkan keharusan menentukan pilihan apakah kita akan menetapkan yang transenden atau sebaliknya, lebih mengutamakan kesatuan, atau kemajemukan, atau juga lebih mendahulukan ketetapan dari-pada gerak dan perubahan. Sedangkan faham yang cenderung oposisional akan menjadikan sesuatu sebagai standar bagi keberadaan yang lain..Jika tidak ada ketunggalan, maka mana mungkin kejamakan akan dipahami, jika tidak ada gerak, maka bisa ketetapan dapat dimengerti, dan ungkapan-ungkapan semacamnya, adalah akibat dari pada ketidakpahaman atas realitas eksistensi yang karenanya, bangunan berfikir oposisional kemudian dijadikan sebagai sandaran pengetahuan...

Oleh karena karakter dari-pada hubungan eksistensial itu bukanlah seperti oposisional atau juga dikotomis, maka gradasi (tingkatan eksistensi) dan keniscayaan gerak substansial (gerak menyempurna), mestilah menjadi bagian yang utuh dan intrinsic dari wujud itu sendiri. Bila tidak, maka seseorang akan sangat mungkin sekali terjatuh pada kecenderungan menegaskan ketetapan yang absolute (metafisis) yang sama artinya dengan kevakuman, atau pada gerak tanpa tujuan akhir sama sekali, yang berarti nihilisme.

Bentangan wujud yang lahir melalui gerak substansial akhirnya harus mencapai puncak piramida. Dimana titik tertinggi tersebut adalah akibat niscaya dari pada gerak substansial itu sendiri, dan disaat yang sama ia mencakup semua bentuk-bentuk yang beragamam. Karenanya, titik puncak ini bukanlah sebuah capaian yang muncul dari pelepasan dirinya dengan esensi-esensi yang lebih rendah dari padanya, melainkan ia adalah hakikat dari kejamakan itu sendiri. Dia bergerak maju tanpa meninggalkan sesuatu apapun. Itulah yang dimaksud dengan Manusia Sempurna (Insan Kamil).

Pila keberadaan manusia sempurna adalah sesuatu yang harus ada dalam realitas eksistensial, maka seluruh dimensia dirinya mestilah merupakan jalan hakiki dalam mencapai kesempurnaan itu sendiri. Tak ada sesuatu apapun yang keluar dari dirinya melainkan hal tersebut merupakan sebuah jalan kesempurnaan bagi dirinya, dan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu yang dilakukan olehnya yang terpisah dengan keseluruhan, dan keseluruhan realitas berporos padanya, tanpa ada sama sekali penafian atas kekhasan bagian-bagian tersebut.Initulah kesatuan alami..Dia mengetahui seluruh nama-nama dan sifat yang terbentang dalam kejamakan, dan dia juga mengetahui ketunggalan rahasia dari kejamakan tersebut (tanpa meleburkan kejamakan dalam satu wujud yang tunggal).

Apa yang disamapaikan di atas merupakan tahapan terakhir dari gerak pengetahuan dalam system filsafat Alhikmah Muta’aliyah sang Filsuf Mulla Shadra. Atau yang biasa disebuat sebagai “perjalanan bersama Tuhan didalam mahluk”. Secara teologis, hanya pada titik inilah seseorang itu telah mendapatkan predikat sebagai khalifah (Wakil Tuhan) sehingga ia mempunyai wewenang untuk menetapakan segala sesuatu yang berkaitan dengan cara mendapatkan pengetahuan dan kebenaran (kebahagiaan) yang hakiki. Tentang hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, untuk menjamin kesempurnaan semua maujud, dan bukan sekadar kebaikan satu atau dua bagian saja....Allahumma Salli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad







Dialog Dengan Bang Mustamin AL-Mandari Tentang Metafisika Wujud

bg..kenapa ketunggalan itu harus melahirkan kemajemukan???
15:02
hahaha, pertanyaan sulit
kalau ini menyangkut Allah yang tunggal melahirkan makhluk yang majemuk, mungkin harus diluruskan
kalau menyangkut dalil sebab akibat secara umum, bisa jadi memang satu sebab melahirkan lebih dari satu akibat
begitukah? heheh
15:09
apa seperti yg dikatakan imam Ali..Engkau tampak melalui ketersembunyian, dan engkau tersembunya dalam penampakan...Kalau saya memahami, hubungan mahluk dan tuhan (Zat) itu adalah hubungan penciptaan yg abadi...artinya, hubungan ini mustahil berubah, dlm arti mahluk mejadi tuhan setelah akhir gerak...Yaitu bahwa kesempurnaan itu meniscayakan adanya dua kutub ini, dan bukan segala sesuatu menjadi Tuhan....Jadi sampai kapanpun penciptaan itu tdk akan berakhir (mahluk menjadi Tuhan...atau gama bg??
15:10
Makhluk hanya mumkinul wujud Ustadz.
Kata Mulla Shadra, semua makhluk itu hanya bayangan cermin, hanya "hubungan", tidak wujud sebagaimana wujud Allah
Ketika yang bercermin itu pindah dari depan cermin, bayangan ndak ada lagi. Hubungan antara Allah dan makhluk adalah hubungan itu sendiri.
15:14
jadi "hubungan itu sendiri" itu abadi ya??
15:15
sebab tidak akan menjadi sebab tanpa adanya akibatnya
15:20
tp dlam sudut pandang lain, akibat itu lahir dr sebab (akibat sebagai bayangan dr sebab)...karenanya ia tdk sama dgn sebab...jadi kalau saya pahami " hubungan causasi itu abadi, namun status keberadaan (kesempurnaan) antara sebab dan akibat itu berbeda...jadi rumus berbeda tapi satu, dan satu tp berbeda itu apa bisa berakhir???
15:21
kalau akibatnya tidak ada, apakah satu ekstensi bisa disebut sebab?
Memang tidak sama antara sebab dan akibat
mereka tidak bisa pisah, tetapi sebab tetap harus "duluan" daripada akibat
namun dalam hal makhluk dan Tuhan, makhluk itu hanya bayangan Tuhan.
15:27
berarti kesempurnaan itu adalah setiap matahari mesti melahirkan cahaya kan? dan bukan cahaya menjadi matahari (sehingga seolah-oleh tdk ada lg cahaya, hanya matahari yg ada)...sebab ini kontadiktif...lantas akhi r gerak itu dimana bang, jika kita tdk bisa menjadi Tuhan (matahari)?...apakah itu artinya gerakan abadi??
15:31
Yang saya pahami, gerak manusia menyempurna itu adalah gerak dari kegelapan menuju cahaya, dan gerak di dalam cahaya dari ujung cahaya mendekat ke sumber cahaya: ujung cahaya pas di sumber cahaya itu.
Aih, contohnya susah betul hehe
15:32
bagaimana kalau disebut "gerak menyempurna, namun mustahil menjadi zat sebagaimana hakikat zat itu dlm kualitas intrinsiknya??
15:33
dari gelap ke cahaya, dari ujung paling tidak terang ke ujung paling terang kan menyempurna toh?
15:34
ya...Allah...Uda pusing saya
abstrak banget
15:37
hahaha...
saya juga gak ngerti...
hahaha
15:39
tp saya sudah mulai sedikit mehami...Mkasih bang
15:40
Ok Ustadz. Saya mau pulang ke rumah dulu...
C U
15:44
salam sm keluarga bang
15:46
Makasih...
Tapi ini jemputannya telat rupanya. Jadi masih nunggu sambil baca2 koran hehe
15:46
hahaha...

Jumat, 22 Oktober 2010

Besar dengan-Mu. Kecil tanpa-Mu...Di dalam kehakikian-Mu, segala tidak ada

Kenapa engkau harus merendahkan dirimu sendiri di hadapan Tuhan? bukankah itu artinya engkau bermental budak? kenapa engkau tidak mengafirmasi eksistensimu sendiri..Bahwa engkau luar biasa, engkau penuh cinta, engkau punya segala kualitas yang baik...Kenapa harus menciptakan Tuhan? Dan engkau katakan Dialah yang memiliki segala...

Sang Mistikus berkata "jika engkau merasa ada, maka sejatinya engkau tidak ada"..Kualitas Maha hanya didapat tatkala diri hilang, dan barulah muncul kesejatian eksistensi, oleh karena hasrat dan cinta itu sangatlah tipis perbedaannya..Oleh karena keyakinan dan kesombongan juga demikian..pula kepasrahan dan usaha.Cinta itu menyatukan..Tetapi hasrat juga demikian..Tetapi penyatuan cinta itu murni dan alamiah, tak sama sekali ada kata memaksa, menekan, menjadikan yang lain sebagai robot..Sedangkan hasrat itu selalu ingin menguasai, menghegemoni, menundukkan yang lain hingga hilang kedendak dan kebebasannya...

Apalah kehidupan bisa berjalan dengan hasrat?
Tentu engkau akan mengatakan tidak...Maka kembalilah pada cinta.Diri harus diperiksa sedemikian rupa..Adakah kehendak ingin menguasai? Ini tidak sama dengan berhenti mengajak yang lain pada ketulusan cinta..Aku memperingatkan, namun keputusan sepenuhnya ada padamu...Itulah Muhammad..

Keyakinan melahirkan gairah pada gerak, hingga lahirlah ikhtiar tanpa henti..Sedangkan ego dan kesombongan akan menahan kafilah perubahan..Engkau pasti ku temui, maka berilah aku arah..ini keyakinan..Tak perlulah bergerak lagi, sebab semuanya telah sedemikian jelas..Cinta terlalu jelas sehingga ia harus dicari...Dan bukannya "tidak perlu lagi dicari karena ia sudah jelas"... Cinta melahirkan gairah tiada henti, sementara hasrat dan kesombongan selalu memunculkan kejenuhan dan stagnasi...Kemudian berputarlah kita dalam satu lingkaran tanpa ujung, tan tanpa pangkal.. Berpaling pada yang remeh-temeh karena hendak berlari dari kejenuhan..

Apa yang tidak dimiliki oleh yang telah menemukan-Mu?
Dan apa yang dimiliki oleh oleh yang tidak menemukan-Mu?..(Imam Husein)

Sabtu, 09 Oktober 2010

Catatan Tentang Akal, Kehendak, dan tindakan

Perlulah kiranya ku urai masalah tindkan manusia...Sebab hewan juga bertindak..Hewan tidak punya potensi untuk menolak segala kebutuhan naluriahnya.Ia lapar maka ia makan.Bersetubuh juga tak pandang siapa..Tidak beradap adalah predikat yang tidak bisa dilekatkan pada binatang..Aku juga begitu jika makan..Tapi binatang rasional.Hewan berpikir..Punya kekuatan membaca dampak..Kemudian aku memilih melakukan ini dan tidak melakukan itu...Aku punya kehendak...Bagimana jika sekiranya kebebasan itu tidak ada? apakah yang salah bisa disebut salah? Bayangkanlah tentang sebuah tindakan tanpa alasan apa-apa? Apakah kebaikan bisa dipandang bermakna? sesuatu yang tidak untuk apa, maka sesuatu tersebut tidak bisa disebut sebagai kebaikan...Lantas apa sesungguhnya tujuan dari pada segala sesuatu itu? Yang lebih rendah tak bisa jadi alasan..Bukanlah tujuan jika titik tersebut terbatas...Tujuan mestilah yang melampaui batasan-batasan...Maka gerakan yang dilakukan olehku sebagai manusia akan menjadi bermakna...Bermakna karena setiap saat selalu berarti, dan titik selanjutnya akan menjadi lebih dari yang sebelumnya...Tidak ada pengulangan, juga stagnasi...Sederhana saja...Nilai sebuah tindakan ditentukan oleh tujuan yang tak terbatas itu sendiri, dan bukan sekadar manfaat praktis apa yang bisa langsung didapatkan...Karena burung juga membuat sarang sebagai tempat berteduhnya....Binatang juga bergerak mencari makan...karenanya, apa yang mereka lakukan tidak bisa disebut sebagai baik atau butuk, oleh karena ia hanya terbatas pada menjawab naluri...mereka tidak bergerak untuk mencari tujuan yang lebih dari pada itu...Oleh karena tak ada akal pun kebebasan berkehendak...Sampai suatu ketika sang mistikus berkata...Rasakan sendiri kenikmatan yang merasuki jiwa raga pada satu gerak lurus yang dekat, semakin dekat, teramat dekat tanpa kata-kata...

Jogja.GOWOK,