Selasa, 28 Desember 2010

MUSIK JAZZ TAKLUK PADA PEREMPUAN

Engkau belajar dari buku dan ceramah..Aku mengembara bersama pengarang untuk memeriksa keadaanku sendiri...Kemudian hidup adalah teka-teki yang menawarkan keselasan paling tampak..Zig-zag dalam ketetapan pada setiap tingkatan..Seperti vertikal pula alif yang kokoh..Seperti geometri..Dan bilangan itu banyak, tak tentu arah..Sepertinya, aku sedang memecahkan misteri..Dan aku mulai sadar, bahwa aku menari dalam irama musik jazz yang meloncat tak tentu arah, improvisasi tanpa kaidah, kadang mendatar bikin jenuh, sesekali melibatkan emosi dalam nada tinggi penuh pemberontakan..Ya..Bagimu, musik jazz itu tidak tertata dalam kaidah..Namun sejatinya engkau keliru..Hanya matematika dan imajinasi kreatif yang mampu menembus kekacauan, gerak tanpa sistematika, dan semua yang tak beraturan itu..Kemudian ia menemukan garis lurus tanpa pernah melirik ke kiri atau kanan..Saat alif itu menjadi melintang, engkau akan pusing tujuh keliling karena mesti menjawab kepastian dalam teka-teki ruang dan waktu yang relatif dan tak sama itu...

Apa itu buku?
Aku melihat tulisan sebagai simbol tak beraturan..Aku melihat aturan dalam kekacauan..Engkau barangkali terlalu kaku menempatkan dirimu..Engkau tidak punya daya pikir yang menembus tembok dan selaput..Sebab engkau pikir hidup itu metode baku..Cukup ditiru, maka jadilah..Seluas kebingungan, itulah aku menapaki perjalanan..Ke barat tak cukup, aku ke timur. Sekadar melompat untuk mempercepat pencaian..Setelah aku di ambang pintu, aku terusir tanpa diusir, dan akupun melirik tempat yang lain..Ku langkahkan kaki dalam satu alasan sederhana.."Kemudian saudara perempuanku berkata "bapak menyuruhku menahan kepergianmu"..Ini aku dengar setelah aku didah tiba di tempat yang tidak dikehendaki oleh kabar samar-samar itu..Saat aku tiba, ada kabar lain yang bercerita tentang penyambutan penuh gairah dari yang melarangku itu.."Apa arti semua ini"? Bagaimana imajinasi matematisku akan bekerja mengisi tanda demi tanda yang tidak beraturan itu...?

Hidupku adalah perjalanan penuh improvisasi..Kecemerlangan muncul dalam paruh gerak yang sedang aku lakoni..Kemudian aku balik arah.aku banting setir sama sekali..Dan saat ini dan disini, aku punya keyakinan, bahwa geometri dan bilangan, bentuk dan materi, vertikal dan horizontal, langit dan bumi, laki-laki dan perempuan, dan dua bentangan sayap itu bersatu pada kerangka yang tetap dan pasti, dan sekaligus ia begitu kreatif..Pada akal, ia adalah transendensi.Pada imajinasi ia adalah tarian dan syair harapan dan kecemasan..Pada indra ia adalah keadilan yang dibuktikan dengan tindakan dan keteladanan..Akal pada tubuh, akal pada imajinasi, akal pada akal..Di atasnya adalah kesederhanaan dan absoluditas penuh kegaiban..Dan kutemukan itu pada dirinya..Pada dirinya..Pada pribadi yang menyerap segalanya pada poros dan inti tanpa kehilangan akal sehat untuk membunuh semua kekhasan dan bakat, dalam satu gerak lurus kedepan dengan begitu progresifnya, oleh karena ia memahami rahasia alam "antara" yang menentukan hubungan dua sayap..Fase "antara" dalam sejarah, fase "antara" dalam diri,.."antara" dalam abad, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik, sekond, bahkan lebih tipis dari mata silet,.Ke atas ia imajinasi non material yang menyerap cahaya dari sumbernya..Kebawah, ia imajinasi material yang mengambil peran bimbingan melalui tubuh yang berakal..

Antara nyata dan tersembunyi..Antara laki-laki dan perempuan, antara langit dan bumi.Antara masa lalu dan masa depan .Allah...Antara...Akbar...Tidakkah engkau melihat betapa kematian itu menjadi syarat kesempurnaan?..Dimanakah sosok penghubung itu dipanngung sejarah ini? Dimanakah sosok antara itu didalam shalatmu, dimanakah sosok antara itu dalam tarikan dan hembusan nafas? Tetapi jika imajinasimu terlalu sempit, maka engkau tidak akan menemukannya sama sekali..Meskipun seisi rumah dipenuhi buku, meskipun setiap saat engkau mendengar orang-orang bodoh itu berceloteh tentang kebenaran...Lepaskan saja burung imajinasi itu..Tetapi ia akan hinggap di pohon apa dan dahan sebelah mana? Tapi kata orang-orang bingung itu, tahan-dahan itu adalah cerita bohong, mitos, lelucon..Aku bilang, dialah subyek asli pencipta ekspresi dalam kebudayaanmu, kebudayaanku, dan segala macam kebudayaan di muka bumi ini...

Sampai aku begitu jauh terbang, dan menemukan, bahwa aku butuh jangkar, butuh tiang dan sandaran..Butuh pijakan..Butuh sumber harapan dan kasih sayang..Bila tidak, maka rusaklah kemuliaan itu dan kemudian berubah menjadi perempuan liar yang pasrah pada imajinasi yang menembus tebal ataupun tipisnya selaput...Aku telanjangi engkau dipikiran..Karena engkau tidak membalut diri dengan pakaian rahasia dan ketersembunyian..Sekalipun tampak engkau bercadar..Aku mau pemandu, bukan penghalang..Aku butuh sumber kejernihan yang senantiasa memberi harapan dan belaian tanpa batas..Bukan si bodoh yang kebablasan bicara kesetaraan, pula hak dan kewajiban..

Kamis, 16 Desember 2010

Bergerak dengan Tawassul..Itu Harus

Apa yang sedang kita rencanakan ini teralu besar kawan..Kita hendak bicara tentang sesuatu yang terlalu agung..Mengarahkan saudara, teman, dan semunya kepada tujuan yang tidak terbatas..Kepada kesempurnaan wujudiah..Kita memhami, bahwa pada mulanya, bengunan pemikiran yang kokoh harus berdiri tegak diatas radikalisasi pengetahuan, sebab hanya dengan itu, daya kehendak dan kebebasan akan bermuara pada sikap dan tindakan yang sadar dan bertanggung-jawab..Keseraian antara hikmah nazhari, san hikmah amali..Masya Allah..Ini terlalu tinggi..Tapi bagaimanapun juga, inilah satu-satunya cara dan tujuan paling utama..

Aku pikir, kita belum punya kekuasaan apa-apa untuk melakukan hal ini..Kita bicara kesempurnaan wujudiah..Dan pastinya engkau memahami betul, bahwa yang demikian ini hanya bisa dilakukan oleh manusia yang memiliki hak dan wewenang, oleh karena ia memahami dengan pengetahuan yang benar dan hakiki, tentang wujud itu sendiri..Aku bersyukur..Kita diberi jalan untuk mengenal kedudukan Rasul Muhammad dan Keluarganya..Kita juga punya selembar doa minta mimbingan, minta petunjung, minta wasilah..Aku menyimpannya..Aku punya selembar Tawassul..Kiranya, kita mesti memanggil dua belas nama suci yang berhak atas segala itu setiap hari..Tentu sua belas nama itu bukanlah tealitas asing yang tidak punya hubungan dengan diri kita..Mereka adalah kesejatian itu sendiri..Kutub dan puncak piramida keberadaan yang menguasai semua bentangan eksistensi.Titik puncak yang hendak membawa kita kepada kegaiban paling tersebunyi.

Ya Imamarrahmah..Ya sayyidana Wa Maulana..
Inna tawajjahna, was tasyfa'na watawassalnya bika Ilallah..
Dan bimbinglah kami berkata nama-nama indah itu, dan ucapan-ucapan ini...
Salli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad

Jumat, 10 Desember 2010

CATATAN TENTANG JIWA, KEHENDAK, DAN PENGETAHUAN

Tentang bagaimana gerak peengetahuan itu terjadi, adalah satu perkara yang cukup pelik..Dari indra, ke imajinasi, kemudian mencapai pengetahuan akal..Biasanya kita mengatakan demikianlah proses atau urutannya..Namun mengatakan demikian jelas tidak menjawab dahaga keingin-tahuan.Bagaimanapun juga, proses ini harus diterangkan sedemikian rupa, sehingga tidak ada celah sama sekali yang tersisa..Sekali lagi, hal ini memang amat berat.Namun itulah satu-satunya cara, agar keyakinan sebagai buah pengetahuan itu muncul..Demikian juga karena keyakinan itu berkaitan dengan kesadaran dan kehendak.Jika mengikuti sesuatu yang tak terurai, itu artinya mengekang kebebasan..Kita terpaksa tunduk, tanpa tahu mengapa harus demikian..Yang benar adalah, ketundukan itu hanya diperuntukkan bagi sesuatu yang terang-benderang.

Kembali kita pada pokok soal diatas.Bagaimana proses itu terjadi?
Kita mengindari sesuatu yang partikular.Kemudian kita mengadari bahwa dengan sedikit kehendak dan perhatian, apa-apa yang tersaksikan oleh indra tersebut bisa tampil dalam bentuk absrtak.Semacam cermin yang memantulkan gambar, demikianlah sifat imajinasi itu. Seterusnya, bentuk-bentuk imajinal tersebut bergerak pada tarap yang lebih tinggi, yaitu pada taraf akal, dimana pada taraf ini, akal tidak lagi menangkap bentuk imajinal yang partikular tadi, melainkan mengakap esensi universalnya..Kita lihat gunung, citra gunung itu hadir dalam imajinasi, dan kemudian, lahirlah konsep universal yakni ke-gunung-an, yang karena karakter universalitasnya itu, kita bisa menerapkannya pada sebuah bentuk dan obyek gunung partikular yang tak terhingga banyaknya itu. Ini terasa gampang. Kelurumitan itu muncul, tatkala kita masuk pada pertanyaan tentang, bagaimana peralihan dari masing-masing tingkatan pengetahuan itu terjadi?
Kenyataan sederhana berkata bahwa, obyek material yang kita indari itu, tidak bisa masuk dalam fakultar imajinasi kita..Gunung itu terlalu besar, sedangkan tempurung kepala kita amat sangat kecil, karenanya, jika ada kenyataan bahwa kita mampu menghadirkan cinta gunung tersebut, maka pastilah fakultas imajinasi itu bukan sebuah tempat yang berada dalam tempurung kepala, melainkan sesuatu instrumen pengetahuan yang melampaui dimesi material. Adapaun kehadiran citra imajinal itu sendiri merupakan efek dari apa yang disebut sebagai kreativitas jiwa..Bagaimana hal ini dijelaskan?
Jiwa tidak sebagaimana pendangan sebagian orang yang mengatakan bahwa ia adalah tempat pasif dimana segala bentuk-bentuk terindrai itu mewujud didalamnya. Ini jelas salah, sebab seperti yang telah kita ketahui, bahwa imajinasi itu bukanlah sebuah tempat yang menyimpan atau lebih tepatnya menampung bentuk-bentuk terindari tersebut. Imajinasi adalah fakultas yang sepenuhnya non-material..Yaitu satu tingkatan pengetahuan yang melampaui pengetahuan indra..Bukti ini jelas menjadi prinsip yang dengannya kita bisa menetapkan bahwa pengetahuan manusia itu tidak bekerja secera pasif, melainkan bergerak secara kreatif, sebagai akibat dari sifat jiwa yang non-material tersebut..Artinya, karena jiwa itu sederhana (tidak tersusun dari unsur-unsur pembentuk), maka ia dengan sendirinya mempunyai kemungkinan mengetahui secara tidak terbatas..Demikian sehingga karakteristik pengetahuan atau persepsi itu tidak bisa dibayangkan seperti akumulasi bentuk-bentuk obyek pengetahuan, melainkan sebagai gerak penyempurnaan dimana fase imajinasi misalnya, hanya semata-mata kelanjutan fase indra saja..Singkatanya, kita mesti memperhatikan betul-betul bahwa jiwa itu bukan tempat tinggal reseptif dan pasif yang berfungsi menampung obyek, melainkan ia adalah kekuatan penggerak yang bekerja secara kreatif, yang karenaya, jiwa itu sendiri harus dikatakan setara dengan obyek yang diketahui olehnya itu.Demikian inilah yang menjadi alasan bahwa pengetahuan itu adalah penyatuan eksistensial antara subyek dan obyek pengetahuan. Tegasnya, subyek itu sama dengan obyek itu sendiri..

Karenanya, pertanyaan tentang bagaimana prose pengetahuan itu terjadi, mendapatkan jawaban yang tegas dan jelas..Yaitu karena jiwa itu adalah realitas sederhana (non-material) yang mempunyai potensi mengetahui secara tidak terbatas, dan pada saat yang sama, ia menjadi kekuatan kreatif yang mengangkat satu bentuk pengetahuan sampai kepada taraf yang lebih tinggi..Tinggal saja, kamu dan aku menghendakinya atau tidak..Hehendak.Itulah pengertian jiwa

JAKARTA, 10 Desember 2010




Rata Penuh

Kamis, 09 Desember 2010

Agama sebagai Problem Pemikiran

Adalah salah, bila kita mengatakan bahwa agama adalah semata-mata persoalan keyakinan an-sich. Bila sekadar percaya dan yakin akan keberanaan Tuhan, praktis semua manusia memilikinya, baik itu berakar dari kedalaman hati nurani, maupun melalui sinaran pikiran tatkala manusia memandang keberadaan segala sesuatu ini. Bahkan sesorang yang memproklamirkan dirinya sebagai ateis sekalipun, tidak bisa secara mutlak mengelak dari rasa kebertuhanan tersebut..Karenanya, Tuhan sebagai sebentuk keyakinan haruslah dipandang sebagai perkara yang telah selesai..Dikatakan demikian oleh karena hal tersebut telah sedemikian jelasnya..Tak ada perbedaan apapun dalam hal keyakinan atas keberadaan Tuhan itu, baik terdengar secara jelas oleh telinga batin, maupun hanya samar-samar saja.

Persoalan menjadi rumit dan pelik, tatkala kita mulai masuk kedalam pertanyaan seperti “Siapa dan bagaimanakah Tuhan itu”, Bagaimana sesungguhnya hubungan Tuhan dengan manusia? Sejauh mana kekuasaan-Nya beroperasi, dst. Atas pertanyaan-pertanyaan ini, jelas bukan menjadi bagian dari pada intuisi. Perkara ini adalah obyek pengetahuan yang harus dihadapi oleh rasio itu sendiri. Mungkin karena itulah, sehingga Tuhan selalu mengajak manusia untuk memikirkan segala sesuatu , termasuk diri manusia sendiri.

Pertanyaannya adalah, kenapa keberfikiran itu sedemikian dianjurkan?

Pertama-tama adalah, kita mesti melihat dulu sifat dasar dari akal itu sendiri. Jelas bahwa akal itu bekerja untuk mengurai sebab-sebab. Dalam kaitannya dengan segala keragaman fenomena itu, kita pastilah mengenali sejumlah sebab-sebab yang berada dibalik kejaidian tersebut. Tetapi apakah setip fenomena itu masing-masing memili sebabnya sendiri-sendiri? Dari sudur pandang indra, kita akan mengatakan bahwa masing-masing fenomena memiliki sebabnya masing-masing, meskipun juga ada kesatuan sebab, dari beberapa fenomena berbeda. Bila sebab-akibat adalah hokum yang bergerak dalam ragam bentuk, maka setiap kasus haruslah diketahui sebabnya melaui instrument pengindraan, yang artinya juga, sesorang tidak akan bias mengatakan “setiap hal pasti mempunyai sebab”, sebelum ia mengungkpkan secara empiric sebab dari hal-hal tersebut..Akan tetapi, kita mengetaui bahwa kita tetap bias saja mengatakan bahwa “setiap sesuatu mempunyai sebab”, meskipun pengalaman empirical belum terjadi. Melihat benda bergerak, tanpa sebelumnya mengetahui bentu sebabnya yang empiris, kita telah mengetahui bahwa benda bergerak itu memiliki sebab (penggerak). Karena itulah, kita mesti menyimpulkan bahwa hokum sebab-akibat itu tidaklah lebih dari satu bentuk hubungan saja, dan bukan berada dalam keragaman. Dalam bahasa teknis filsafat, hokum sebab-akibat yang tungggal dan universal ini (dapat diterapkan pada segala sefonemana), adalah hokum umum. Sedangkan keragaman sebab itu adalah sebab-sebab spesifik saja. Sebab umum itu mempunyi nilai ontologism (relasi kebradaan) yang bersifat pasti, sedangkan sebab-sebab spesifik tersebut tidak mempunyi kekuatan menghasilkan efek, sepanjang ia tidak terkait dengan sebab umum tersebut. Dari penelusuran singkat ini, dapatlah disimpulkan bahwa kekuatan akal untuk berfikir atau menyelami hakikat sebab-sebab (relasi keberadaan itu) akan berujung pada satu sebab utama yang menjadi syarat mutlak dari keberadaan segala sesuatu, itulah Tuhan Maha Sempurna.

Mengetahui Tuhan sebagai sebab hakiki dari segala sesuatu itu pada akhirnya akan melahirkan sikap penyerahan diri yang total kepada-Nya (tawakkal). Tawakkal itu sendiri akan memunculkan sikap kebebasan yang luar biasa, oleh karena kita tidak mungkin tunduk kepada apapun, melainkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Sedangkan ketiadaan pemikiran yang melahirkan kepasrahan itu pasti memunculkan alienasi. Kita terasing dari diri sendiri oleh karena orientasi kita tidak tertuju kepada Realitas Tak Terbatas, melainkan kepada hal-hal yang terbatas, baik itu pengagungan berlebihan atas manusia dalam bentuk penegasan atas kebebasan tanpa hokum dan aturan, atau kepada benda-benda material yang sudah jelas memiliki kedudukan jauh dibawah diri kita sendiri. Penyerahan diri secara totalo kepada Tuhan, juga membuat kita dapat menempatkan alam semsta sebagai semata-mata sarana yang berguna dalam mewujudkan tujuan penghambaan tersebut. Sedangkan kebalikannya adalah sikap mensakralkan alam, atau jika tidak, adalah menempatkan alam sebagai obyek penguasaan manusia, baik sebagai individu, maupun masyarakat.

Selanjutnya adalah, bahwa manusia adalah mahluk bebas. Dan yang namanya kebebasan itu, ia sama sekali tidak bisa dibatasi oleh apapun. Pada sisi ketidakterbatasannya, kebebasan itu dengan demikian setara dengan Tuhan itu sendiri. Kebebasan itu tiada boleh dibatasi, sedangkan Tuhan adalah Realitas tidak terbatas. Tetapi tidak bisalah kita membayangkan adanya kebebasan yang bebas sama sekali dari konsekwensi, oleh karena kebebasan itu meniscayakan adanya pilihan. Lantas bagaimana agar apa yang dipilih itu tidak membatasi kebebasan yang esensinya tidak terbatas itu?jawabannya adalah, Satu-satunya yang mesti dipilih adalah Tuhan itu sendiri.

Selasa, 07 Desember 2010

Dia..Dan Kita Berdua

Sebelum engkau mendekat, aku sudah punya "untuk apa"
Setelah kau hadir, lihatlah untuk apa
jangan berceloteh tentang keadaanku

Sebelum kau melangkah ke sini
Aku sudah mengembara cukup lama
Sejak kecil, sudah kubilang debu itu tak habis dibagi
Farid bilang, semut dan gajah sama saja..
Sejak kecil, sudah ku bilang gerak itu tidak meloncat-loncat
Manni, dan mati kealam sempurna tak terkira
Dan sampai saat ini, aku semakin meyakininya

Semakin yakin karena
Dia tak berbilang
pula tak terpisahkan
tapi bukan peleburan
Dia sempurna, dan aku harus mengingat hatahari, sebab aku cahaya

Sampai sekitar dua tahun yang lampau,
Aku percaya bahwa hanya dia yang bisa mengungkapkan diri-Nya
Kulihat sepercik cahaya Muhammad dan Keluarganya
Aku saksikan kemestian Imam Zaman
Saat-saat yang teduh, aku berbisik "Ya Mahdi,Wahai Mahdi, Duhai Mahdi

Bila engkau mau bersamaku,
Marilah..!!!
Kita satukan jiwa dengan tali asal pun tujuan
supaya aku dan engkau tidak berputar-putar
Supaya aku dan engkau tidak tidak tersesat arah
Meski kadang aku sendiri terpikau pada sepercik sinar lilin
Padahal aku tahu ia amat redup
tak cukup menerangi aku, apalagi aku dan kamu..

Aku mencintaimu, sebab aku Rindu pada-Nya..
Bila engkau abaikan itu,
Ingatlah, bahwa Majnun melupakan Laila,
sebab ia terpukau pada pesona Rindu...

Kamis, 28 Oktober 2010

DESKRIPSI TENTANG HUBUNGAN MANUSIA DAN AGAMA DALAM FILSAFAT MULLA SHADRA

Apa yang menajadikan manusia bisa mencapai predikat kemanusiaan sejati? Yaitu ketika ia telah mencapai pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya..Tentunya, pengetahuan yang demikian ini, tidaklah semata-mata bersifat deskriptif dan konseptual saja, melainkan meniscayakan adanya kesatuan eksistensial. Bagi sementara kalangan yang membatasi makna pengetahuan hanya sebagai hasil konseptualisasi atas realitas indrawi ataupun rasional, pengetahuan dalam pengertian kestuan eksistensial itu akan dipandang sebagai sesuatu yang tidak mungkin diperoleh. Tetapi dalam pandangan Mulla Shadra, kemungkinan kesatuan eksistensial tersebut merupakan sebuah kemungkinan yang terbuka lebar, mengingat fakta bahwa pada hakikatnya, segala segala sesuatu yang berbeda dalam bentuk-bentuk esensialnya itu selalu berada dalam satu hubungan eksistensial, bahkan apa yang dipandang sebagai esensi yang melahirkan kejamakan tersebut hanyalah modus keberadaan eksistensi itu sendiri. Satu dalil sederhana dapatlah diketengahkan disini, yaitu bahwa “esensi sesuatu tidak bisa diterapkan atau mencakup sesuatu yang memiliki esensi yang berbeda dengannya. Namun dari satu segi, keragaman esensi tersebut kita saksikan senantiasa saling melahirkan pengaruh antara satu dengan yang lain. Jika jarak antara satu esensi dengan esensi lainnya dipatasi oleh jarang non-eksistensi, maka semestinya tidak akan muncul hubungan sama sekali diantara esensi-esensi tersebut. Jika kita hendak mengafirmasi keberadaan sebuah esensi, maka disaat yang sama, kita mesti memasukkan esensi yang lainnya sebagai ketiadaan (nottingness). Baik dalil yang bersumber pada akal itu sendiri maupun yang berdasarkan pada fakta material-indrawi, keduanya sama-sama menegaskan kemendasaran eksistensi dari pada esensi. Hubungan antara satu esensi dengan dirinya sendiri sejatinya adalah hubungan eksistensial (manusia dengan manusia). Demikian, juga hubungan antara berbagai esensi juga adalah relasi eksistesial (misalnya manusia dengan selain manusia). Hubungan eksistensial yang lahir dalam dua sisi (sesuatu dengan dirinya, dan sesuatu dengan yang selainnya) tersebut berkonsekwensi pada, Pertama, penegasan tentang ketunggalan, dan sekaligus keterjagaan kemajemukan itu sendiri..Dengan lain perkataan, Ketunggalan itu sendiri tidak lantas menegasi kejamakan sama sekali, melainkan ketunggalan tersebut justru menegaskan identitas hal-hal yang berbeda itu sendiri...Hubungan yang demikian ini adalah persis sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Jafar As-Shadiq,

" Dia bersatu dengan segala sesuatu tidak dengan peleburan, dan Dia berbeda dengan segala sesuatu bukan dengan perceraian".

Kekurang fahaman atas karakter hubungan eksistensial ini akan membawa konsekwensi pada pemahaman dikotomis atau paling tidak, oposisional antara ketunggalan dan kemajemukan, transendensi dan imanensi, ketetapan dan perubahan, dan sebagainya...Pemahaman yang dikotomis akan melahirkan keharusan menentukan pilihan apakah kita akan menetapkan yang transenden atau sebaliknya, lebih mengutamakan kesatuan, atau kemajemukan, atau juga lebih mendahulukan ketetapan dari-pada gerak dan perubahan. Sedangkan faham yang cenderung oposisional akan menjadikan sesuatu sebagai standar bagi keberadaan yang lain..Jika tidak ada ketunggalan, maka mana mungkin kejamakan akan dipahami, jika tidak ada gerak, maka bisa ketetapan dapat dimengerti, dan ungkapan-ungkapan semacamnya, adalah akibat dari pada ketidakpahaman atas realitas eksistensi yang karenanya, bangunan berfikir oposisional kemudian dijadikan sebagai sandaran pengetahuan...

Oleh karena karakter dari-pada hubungan eksistensial itu bukanlah seperti oposisional atau juga dikotomis, maka gradasi (tingkatan eksistensi) dan keniscayaan gerak substansial (gerak menyempurna), mestilah menjadi bagian yang utuh dan intrinsic dari wujud itu sendiri. Bila tidak, maka seseorang akan sangat mungkin sekali terjatuh pada kecenderungan menegaskan ketetapan yang absolute (metafisis) yang sama artinya dengan kevakuman, atau pada gerak tanpa tujuan akhir sama sekali, yang berarti nihilisme.

Bentangan wujud yang lahir melalui gerak substansial akhirnya harus mencapai puncak piramida. Dimana titik tertinggi tersebut adalah akibat niscaya dari pada gerak substansial itu sendiri, dan disaat yang sama ia mencakup semua bentuk-bentuk yang beragamam. Karenanya, titik puncak ini bukanlah sebuah capaian yang muncul dari pelepasan dirinya dengan esensi-esensi yang lebih rendah dari padanya, melainkan ia adalah hakikat dari kejamakan itu sendiri. Dia bergerak maju tanpa meninggalkan sesuatu apapun. Itulah yang dimaksud dengan Manusia Sempurna (Insan Kamil).

Pila keberadaan manusia sempurna adalah sesuatu yang harus ada dalam realitas eksistensial, maka seluruh dimensia dirinya mestilah merupakan jalan hakiki dalam mencapai kesempurnaan itu sendiri. Tak ada sesuatu apapun yang keluar dari dirinya melainkan hal tersebut merupakan sebuah jalan kesempurnaan bagi dirinya, dan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu yang dilakukan olehnya yang terpisah dengan keseluruhan, dan keseluruhan realitas berporos padanya, tanpa ada sama sekali penafian atas kekhasan bagian-bagian tersebut.Initulah kesatuan alami..Dia mengetahui seluruh nama-nama dan sifat yang terbentang dalam kejamakan, dan dia juga mengetahui ketunggalan rahasia dari kejamakan tersebut (tanpa meleburkan kejamakan dalam satu wujud yang tunggal).

Apa yang disamapaikan di atas merupakan tahapan terakhir dari gerak pengetahuan dalam system filsafat Alhikmah Muta’aliyah sang Filsuf Mulla Shadra. Atau yang biasa disebuat sebagai “perjalanan bersama Tuhan didalam mahluk”. Secara teologis, hanya pada titik inilah seseorang itu telah mendapatkan predikat sebagai khalifah (Wakil Tuhan) sehingga ia mempunyai wewenang untuk menetapakan segala sesuatu yang berkaitan dengan cara mendapatkan pengetahuan dan kebenaran (kebahagiaan) yang hakiki. Tentang hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, untuk menjamin kesempurnaan semua maujud, dan bukan sekadar kebaikan satu atau dua bagian saja....Allahumma Salli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad







Dialog Dengan Bang Mustamin AL-Mandari Tentang Metafisika Wujud

bg..kenapa ketunggalan itu harus melahirkan kemajemukan???
15:02
hahaha, pertanyaan sulit
kalau ini menyangkut Allah yang tunggal melahirkan makhluk yang majemuk, mungkin harus diluruskan
kalau menyangkut dalil sebab akibat secara umum, bisa jadi memang satu sebab melahirkan lebih dari satu akibat
begitukah? heheh
15:09
apa seperti yg dikatakan imam Ali..Engkau tampak melalui ketersembunyian, dan engkau tersembunya dalam penampakan...Kalau saya memahami, hubungan mahluk dan tuhan (Zat) itu adalah hubungan penciptaan yg abadi...artinya, hubungan ini mustahil berubah, dlm arti mahluk mejadi tuhan setelah akhir gerak...Yaitu bahwa kesempurnaan itu meniscayakan adanya dua kutub ini, dan bukan segala sesuatu menjadi Tuhan....Jadi sampai kapanpun penciptaan itu tdk akan berakhir (mahluk menjadi Tuhan...atau gama bg??
15:10
Makhluk hanya mumkinul wujud Ustadz.
Kata Mulla Shadra, semua makhluk itu hanya bayangan cermin, hanya "hubungan", tidak wujud sebagaimana wujud Allah
Ketika yang bercermin itu pindah dari depan cermin, bayangan ndak ada lagi. Hubungan antara Allah dan makhluk adalah hubungan itu sendiri.
15:14
jadi "hubungan itu sendiri" itu abadi ya??
15:15
sebab tidak akan menjadi sebab tanpa adanya akibatnya
15:20
tp dlam sudut pandang lain, akibat itu lahir dr sebab (akibat sebagai bayangan dr sebab)...karenanya ia tdk sama dgn sebab...jadi kalau saya pahami " hubungan causasi itu abadi, namun status keberadaan (kesempurnaan) antara sebab dan akibat itu berbeda...jadi rumus berbeda tapi satu, dan satu tp berbeda itu apa bisa berakhir???
15:21
kalau akibatnya tidak ada, apakah satu ekstensi bisa disebut sebab?
Memang tidak sama antara sebab dan akibat
mereka tidak bisa pisah, tetapi sebab tetap harus "duluan" daripada akibat
namun dalam hal makhluk dan Tuhan, makhluk itu hanya bayangan Tuhan.
15:27
berarti kesempurnaan itu adalah setiap matahari mesti melahirkan cahaya kan? dan bukan cahaya menjadi matahari (sehingga seolah-oleh tdk ada lg cahaya, hanya matahari yg ada)...sebab ini kontadiktif...lantas akhi r gerak itu dimana bang, jika kita tdk bisa menjadi Tuhan (matahari)?...apakah itu artinya gerakan abadi??
15:31
Yang saya pahami, gerak manusia menyempurna itu adalah gerak dari kegelapan menuju cahaya, dan gerak di dalam cahaya dari ujung cahaya mendekat ke sumber cahaya: ujung cahaya pas di sumber cahaya itu.
Aih, contohnya susah betul hehe
15:32
bagaimana kalau disebut "gerak menyempurna, namun mustahil menjadi zat sebagaimana hakikat zat itu dlm kualitas intrinsiknya??
15:33
dari gelap ke cahaya, dari ujung paling tidak terang ke ujung paling terang kan menyempurna toh?
15:34
ya...Allah...Uda pusing saya
abstrak banget
15:37
hahaha...
saya juga gak ngerti...
hahaha
15:39
tp saya sudah mulai sedikit mehami...Mkasih bang
15:40
Ok Ustadz. Saya mau pulang ke rumah dulu...
C U
15:44
salam sm keluarga bang
15:46
Makasih...
Tapi ini jemputannya telat rupanya. Jadi masih nunggu sambil baca2 koran hehe
15:46
hahaha...

Jumat, 22 Oktober 2010

Besar dengan-Mu. Kecil tanpa-Mu...Di dalam kehakikian-Mu, segala tidak ada

Kenapa engkau harus merendahkan dirimu sendiri di hadapan Tuhan? bukankah itu artinya engkau bermental budak? kenapa engkau tidak mengafirmasi eksistensimu sendiri..Bahwa engkau luar biasa, engkau penuh cinta, engkau punya segala kualitas yang baik...Kenapa harus menciptakan Tuhan? Dan engkau katakan Dialah yang memiliki segala...

Sang Mistikus berkata "jika engkau merasa ada, maka sejatinya engkau tidak ada"..Kualitas Maha hanya didapat tatkala diri hilang, dan barulah muncul kesejatian eksistensi, oleh karena hasrat dan cinta itu sangatlah tipis perbedaannya..Oleh karena keyakinan dan kesombongan juga demikian..pula kepasrahan dan usaha.Cinta itu menyatukan..Tetapi hasrat juga demikian..Tetapi penyatuan cinta itu murni dan alamiah, tak sama sekali ada kata memaksa, menekan, menjadikan yang lain sebagai robot..Sedangkan hasrat itu selalu ingin menguasai, menghegemoni, menundukkan yang lain hingga hilang kedendak dan kebebasannya...

Apalah kehidupan bisa berjalan dengan hasrat?
Tentu engkau akan mengatakan tidak...Maka kembalilah pada cinta.Diri harus diperiksa sedemikian rupa..Adakah kehendak ingin menguasai? Ini tidak sama dengan berhenti mengajak yang lain pada ketulusan cinta..Aku memperingatkan, namun keputusan sepenuhnya ada padamu...Itulah Muhammad..

Keyakinan melahirkan gairah pada gerak, hingga lahirlah ikhtiar tanpa henti..Sedangkan ego dan kesombongan akan menahan kafilah perubahan..Engkau pasti ku temui, maka berilah aku arah..ini keyakinan..Tak perlulah bergerak lagi, sebab semuanya telah sedemikian jelas..Cinta terlalu jelas sehingga ia harus dicari...Dan bukannya "tidak perlu lagi dicari karena ia sudah jelas"... Cinta melahirkan gairah tiada henti, sementara hasrat dan kesombongan selalu memunculkan kejenuhan dan stagnasi...Kemudian berputarlah kita dalam satu lingkaran tanpa ujung, tan tanpa pangkal.. Berpaling pada yang remeh-temeh karena hendak berlari dari kejenuhan..

Apa yang tidak dimiliki oleh yang telah menemukan-Mu?
Dan apa yang dimiliki oleh oleh yang tidak menemukan-Mu?..(Imam Husein)

Sabtu, 09 Oktober 2010

Catatan Tentang Akal, Kehendak, dan tindakan

Perlulah kiranya ku urai masalah tindkan manusia...Sebab hewan juga bertindak..Hewan tidak punya potensi untuk menolak segala kebutuhan naluriahnya.Ia lapar maka ia makan.Bersetubuh juga tak pandang siapa..Tidak beradap adalah predikat yang tidak bisa dilekatkan pada binatang..Aku juga begitu jika makan..Tapi binatang rasional.Hewan berpikir..Punya kekuatan membaca dampak..Kemudian aku memilih melakukan ini dan tidak melakukan itu...Aku punya kehendak...Bagimana jika sekiranya kebebasan itu tidak ada? apakah yang salah bisa disebut salah? Bayangkanlah tentang sebuah tindakan tanpa alasan apa-apa? Apakah kebaikan bisa dipandang bermakna? sesuatu yang tidak untuk apa, maka sesuatu tersebut tidak bisa disebut sebagai kebaikan...Lantas apa sesungguhnya tujuan dari pada segala sesuatu itu? Yang lebih rendah tak bisa jadi alasan..Bukanlah tujuan jika titik tersebut terbatas...Tujuan mestilah yang melampaui batasan-batasan...Maka gerakan yang dilakukan olehku sebagai manusia akan menjadi bermakna...Bermakna karena setiap saat selalu berarti, dan titik selanjutnya akan menjadi lebih dari yang sebelumnya...Tidak ada pengulangan, juga stagnasi...Sederhana saja...Nilai sebuah tindakan ditentukan oleh tujuan yang tak terbatas itu sendiri, dan bukan sekadar manfaat praktis apa yang bisa langsung didapatkan...Karena burung juga membuat sarang sebagai tempat berteduhnya....Binatang juga bergerak mencari makan...karenanya, apa yang mereka lakukan tidak bisa disebut sebagai baik atau butuk, oleh karena ia hanya terbatas pada menjawab naluri...mereka tidak bergerak untuk mencari tujuan yang lebih dari pada itu...Oleh karena tak ada akal pun kebebasan berkehendak...Sampai suatu ketika sang mistikus berkata...Rasakan sendiri kenikmatan yang merasuki jiwa raga pada satu gerak lurus yang dekat, semakin dekat, teramat dekat tanpa kata-kata...

Jogja.GOWOK,

Rabu, 28 Juli 2010

Catatan Tentang,,Wujud, Gerak Alamiah, dan Kehendak Bebas

Seiring perkembangan, kita mulai sadar, bahwa memang kita punya kebebasan..Kita berhak memilih...Tentang kehendak bebas ini, sebagian besar memberi penjelasan bahwa ia mesti ada, agar tindkan manusia menjadi bernilai, terlepas dari apakah ada faktor2 lain yang mendeterminasi pilihan itu sendiri...
Aku tidak cuku puas dengan penjelasan semacam ini...Bagiku, yang penting dijelaskan adalah, bagimana kehendak itu muncul dari bentuk yang lebih rendah dari padanya, yakni alam tumbuhan, dan hewan? Apakah kehendak itu adalah pemberian dari luar setelah manusia mencapai usia tertentu, atau ia adalah bentuk lebih tinggi dari aliran gerak mari dan hewan? Kenapa kehendak itu mesti ada? apa kaitannya dengan eksistensi alam semesta? Apakah alam ini bisa eksis tanpa kehendak bebas, atau sebaliknya? Selanjutnya adalah, bentuk eksistensi apa lagi yang akan dicapai oleh gerak ikhtiyari (kehendak) tersebut?

Sebelumnya aku menulis tentang kaitan antara wujud, sistem alam, dan manusia sempurna..Setelah coretan renungan itu kutulis, tiba-tiba saja, pertanyaan-pertanyaan diatas menghinggapi pikiranku...Bagaimana mungkin aku tidak menjawabnya, oleh karena kebanyakan orang cukup puas dengan argumen bahwa "kehendak bebas itu mesti ada, agar tindakan manusia menjadi bernilai"...Tidak ada teman yang bisa kuajak bersama memecahkan pertanyaan-pertanyaan diatas..Maka kupilih untuk menuliskan saja semuanya, sambil berdialog dengan pikiranku sendiri saat jemari menari-nari...Ayo kita mulai...!!!

Ku katakan...Aku menulis tentang wujud, sistem alam, dan insan alkamil...Tentang bagimana relasi organis di alam itu haruslah melahirkan eksistensi yang lebih tinggi (manusia) agar keseimbangan itu tetap ada...Pada titik itulah, pertanyaan tentang kehendak itu bermula...Bahwa yang kita sebut manusia adalah kehendaknya.Kita memiliki pilihan yang berpijak pada kesadaran tentang segala kemungkinan dari pada pilihan yang kita ambil...Di depan saya ada api..Jika saya menceburkan diri kedalamnya, maka saya akan terbakar.Bila sebaliknya, maka saya tidak akan terbakar..Tetapi bila saya mau, maka saya bisa saja memilih masuk kedalam api tersebut, meskipun harus terbakar...Bebas..Benar-benar bebas..tak pandang benar atau salah, baik atau buruk...Saya menghendaki agar tidak terbakar meskipun saya masuk kedalam kobaran..Benar bahwa keinginan atau kehendak itu bebas...Tetapi bagaimanapun juga, ia akan terkait dengan konteks tertentu...Demikianlah pengertian dari pada kebebasan itu sendiri...

Catatan Tentang

Minggu, 25 Juli 2010

Kebenaran dan Logika Deduktif

Semua orang sibuk membicarakan eksistensi Tuhan...apakah Tuhan itu ada? bahkan ada yang meminta argumen untuk membuktikan Tuhan tidak ada...Aku cukup jenuh dengan perdebatan semacam ini. maka aku bertanya, apa urgensinya bicara tentang bukti Wujud TUhan? apakah ketika tuhan terbukti ada, maka persoalan menjadi selesai? bukankah orang-orang ateis pun ternyata bisa menjalankan kehidupan yang bernilai..mereka bisa sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan. mereka bahkan menjadi pembela keadilan tanpa pamrih sedikitpun... yang sebaliknya justru banyak terjadi pada si pencari Tuhan, dan orang yang setiap saat mengumandangkan ayat dan firman-firman Tuhan..Bukankah kita mengenal bahwa Yazid Bin Muawiyah adalah orang yang percaya pada Tuhan.tetapi ia justru membunuh Imam Husein yang saat itu berjuang menegakkan keadilan...Bahkan Iblis sekalipun mempercayai Tuhan, dan malah dikatakan bahwa ia pernah menjadi imam para malaikat...
Dari kenyataan-kenyataan ini, maka aku mesti bertanya, "apa pentingnya mencari bukti tentang adanya Tuhan"? apakah Tuhan mesti ada agar Keadilan bisa tegak'? sehingga yang tak percaya Tuhan pasti tidak bisa bicara dan mengupayakan keadilan'? ternyata tidak, sebab si ateis dan bahkan iblispun mempercayai-Nya...
Lihatlah Hugo Zhavez di Venezwela...ia adalah seorang kristen namun berhasil menggalang kekuatan rakyat hingga bisa melahirkan pemerintahan baru yang komit dan konsisten menjaga keadilan. Lihatlah Ahmadinejad di Iran.Ia seorang Syi'ah namun bisa menunjukkan secara tegas keaulatan bangsanya dihadapan Negara yang disebut adi kuasa itu...Bacalah kisah Mahatmah Gandhi..Ia bahkan tidak makan dan minum selama seminggu saat terjadi pertiakian antara umat islam dan hindu di India...Lantas apa arti penting pembuktian Tuhan?
Aku kira, pikiran ita masih harus mencari konsepsi kebenaran dalam cara pandang yang lain, agar kita bisa menemukan ikatan logis dan filosofis antara keimanan dan keadilan...cara pandang itulah yang bisa kuistilahkan dengan Paradigma Realisme Ingstingtif. yaitu sebuah keterpaduan eksistensial antara dimensi indra,rasio, dan hati...
Untuk itulah, maka yang pertama-tama mesti dijawab adalah hubungan antara Tuhan, Manusia, dan Alam Semsta...Siapakah Tuhan itu? bagaimana hubungannya dengan akal dan jiwa manusia? apakah alam itu, dan smesti seperti apakah hubungan antara manusia dengan alam? apakah hubungannya bersifat fungsional semata, ataukah bercorak eksistensial...

Keteraturan alam sebagai premis yang melahirkan kongklusi berupa keharusan adanya pengatur yang Maha Cerdas, tidak cukup menjadi alasan bagi manusia untuk menyembah Tuhan...dengan lain perkataan, tidak ada kaitan logis antara keberadaan Tuhan itu dengan keharusan agar Dia mesti disembah. Akan tetapi, manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari keinginan untuk menyempurnakan eksistensinya...namun bagaimana manusia bisa mencapai kesempurnaan, bila ia mengikat jiwanya dengan hal-hal yang terbatas. Disitulah, manusia membutuhkan jalan agar ia bisa mendapatkan kesempurnaan... dan sebagaimana kita ketahui, kesempurnaan sudah pasti bersifat tak terbatas (Non-Material). sedangkan manusia sendiri memiliki tubuh... apakah dengan demikian tubuh mesti dinafikkan agar manusia menjadi sempurna? jawabanya jelas tidak, sebab tubuh adalah bagian yang menyatu secara eksistensial dengan manusia...namun saat manusia condong pada tubuh, ia akan menemukan kontradiksi-kontradiksi yang luar biasa...tetapi jika ia hanya mengutamakan jiwanya, maka ia akan merasa tersiksa dan terpenjara...untuk itulah, maka mesti ada sesuatu ikatan yang menjadi penghubung antara jiwa dan raga...ikatan inilah yang disebut dengan keadilan dan kenabian..Syariat dan Rasul...penghubung ini menjawab kebutuhan tubuh-materi, namun tetap dalam bingkai tujuan manusia untuk menyempurnakan diri (Iman)... Tubuh selalu membutuhkan alam agar semua kebutuhannya bisa terpenuhi...namun ketika tidak ada ikatan yang menghubungkan antara manusia dan alam, maka alam akan menjadi obyek yang dikuasai manusia...disinilah keserakahan dan kapitalisme akan menjadi semakin kuat, olah karena penguasaannya terhadap teknologi dan sains. untuk itulah, maka unsur keimanan menjadi penghubung antara alam dan manusia, ketika alam dilihat sebagai milik mutlak Tuhan yang tidak bisa direbut oleh siapapun. dan tak seorangpun bisa menguasai secara mutlak atas alam dan semua sumber daya yang terkandung didalamnya...hanya dengan konsepsi ini saja, maka keadilan akan bisa diwujudkan, yaitu ketika manusia menyadari dan mengimani Tuhan sebagai eksistensi Maha Sempurna yang menjadi tujuan manusia, dan yang Merupakan Pemilik Mutlak atas segala sesuatu...
Dari gambaran singkat diatas, dapat dikatakan bahwa kau ateis tidak akan bisa berbicara keadilan secara baik, ketika ia meletakkan semua basis nilai hanya pada manusia saja...demikian juga dengan yang lain. meskipun mereka meyakini adanya Tuhan dan juga mereka mencintai keadilan, namun mereka tidak akan mendapatkan hukum-hukum yang realistis untuk menjawab kebutuhan material dan spiritual manusia secara bersamaan. kecuali mereka harus melakukan studi-studi ilmuah yang terus-menerus untuk mendamaikan kedua dimensi dalam dri manusia tersebut...sedangkan Al-Qur'an yang dibawa oleh Rasul Muhammad SAW, adalah doktrin yang berdiri diatas bangunan Tauhid (IMan), keadilan (Kenabian dan Syariat), dan Maad (Tujuan hidup manusia)..yang sepenuhnya bersesuaian dengan akal dan kecendeungan ruh serta tubuh manusia...

Kamis, 22 Juli 2010

Ketetapan dan Gerak.Ketunggalan dan Kemajemukan...Tema Paling Tinggi (Ibn Al-Arabi)

Zeno mengatakan bahwa gerak itu adalah ilusi pikiran..Sebabnya adalah "karena gerak itu melewati titik-titik tak terhingga, sedangkan ketakterhinggan itu sendiri adalah situasi diam..Yang berjalan sepuluh kilo meter maupun yang hanya selangkah adalah sama saja..Sama-sama diam...
Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Zeno tersebut, namun tidak berarti bahwa gerakan atau perubahan itu tidak ada, atau semata-mata ilusi pikiran...Dalam kenyataannya, kita mengetahui dan menyadari bahwa ada perubahan pada yang bergerak dari satu keadaan atau bentuk kepada keadaan atau bentuk lainnya..Dari nol derajat cc, air berubah dan mencapai derajat yang lebih tinggi dari sebelumnya..Apakah kita akan memaksakan diri untuk mengatakan bahwa yang demikian ini adalah situasi diam? Jawabannya tentu tidak, sebab sekali lagi, ada perubahan keadaan yang begitu nampak dari yang bergerak itu sendiri..

Bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi?
Jika saja sesuatu yang bergerak itu tidak memiliki potensi untuk mencapai bentuk yang lain baik yang lebih tinggi atau sebaliknya, maka perubahan itu sendiri pastilah tidak pernah mewujud..Bagimana mungkin sebiji tumbuhan akan melahirkan buah-buahan, bila ia tidak memiliki potensi dalam dirinya untuk menjadi sesuatu yang baru tersebut? Barangkali ini tidak terlalu sulit untuk dimengerti..Namun pikiran akan dituntut lebih dalam menyikap tabir dan menemukan rahasi gerak, tatkala kita sampai pada pertanyaan tentang "Bagimana gerak itu terjadi"?

Potensi menjadi yang dimiliki oleh yang bergerak itu pada dasarnya hanyalah sebatas kemungkinan murni..Artinya, sesuatu dapat "menjadi" oleh karena ia digerakkan oleh Penggerak...Dan Eksistensi Sang Penggerak bagaimanapun juga mestilah bersifat Sempurna secara Aktual.Artinya, Eksistensi penggerak itu sendiri tidak lagi bergantung pada sesuatu penggerak yang lain...Jika kita asumsikan bahwa Kesempurnaan dari pada Eksistensi Penggerak itu potensial, maka semestinya eksistensi atau keberadaan itu tidak mungkin ada..Namun jelas sekali bahwa pengandaian ini bersifat retoris semata.Telaah singkat ini menghantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa sebab utama dari pada gerak itu sendiri adalah Wujud Maha Sempurna (Kesempurnaan Aktual). Tetapi kita masih harus menelusuri lebih jauh lagi, sebab pemaparan di atas belum sepenuhnya memuskan dahaga rasio...

Kita pun beratanya, bila Kesempurnaan Aktual adalah sebab dari pada gerak, maka semestinya Eksistensi ini bersifat tetap, atau mandiri dengan dirinya sendiri, dan segala yang disebut sebagai potensi adalah ketiadaan itu sendiri...Konsep tentang kemungkinan atau potensialitas itu dengan demikian hanyalah sudut pandang pikiran saja, dan tidak sebagai sebuah eksistensi yang berdiri sendiri..Karenanya, harus dikatakan kembali bahwa yang eksis hanyalah Wujud Sempurna saja..Namun bagaimana, jika gagasan kita tentang kesempurnaan itu lebih dekat pada kesimpulan tentang ketetapan (bukan gerak) dari yang Sempurna itu sendiri...Bagaimana Kesempurnaan Aktual yang total dan tidak terbatas (sederhana) itu memunculkan efek berupa gerak sebagai penyikapan kesempurnaan pada bagian-bagian yang mengalir satu arah dan bersifat konstan?

Pertanyaan diatas membutuhkan kekuatan abstraksi tersendiri...
Mengatakan bahwa Eksistensi Murni itu adalah realitas satu-satunya yang meliputi segala sesuatu merupakan hal yang tidak terlalu sulit dipahami..Namun bagaimana ketunggalan itu melahirkan gerak dan perubahan adalah perkara yang cukup pelik bagiku..Namun tak apa-apa, dengan tafakkur yang sabar, kita sangat bisa menjawab persoalan yang satu ini...Karenanya, marilah kita membicarakan lebih dalam lagi ikhwal konsep kesempurnaan itu sendiri.Barangkali dari sini, kita akan menemukan jawaban-jawaban yang memuaskan dahaga rasio...

Bisakah kita membayangkan tentang Eksistensi sempurna yang tidak melahirkan efek atau tindkan apa-apa? Menurutku, adalah bukan sempurna, bila kesempurnaan itu tidak beriringan dengan keharusan lahirnya akibat-akibat tertentu. Justru kesempurnaan menjadi kehilangan artinya, jika kita andaikan tidak ada apa-apa yang lahir darinya...Jika tidak ada efek yang muncul dari kesempurnaan itu, maka kesempurnaan menjadi cacat dengan sendirinya, dan karenanya, ia harus menggantungkan dirinya pada Eksistensi yang jauh diatasnya dan bila begitu seterusnya, maka lagi-lagi, ketiadaan itu harus kita tetapkan sebagai lebih hakiki dari keberadaan.Namun jelaslah bahwa yang demikian ini mustahil. Olehnya itu, harus kita katakan bahwa Eksistensi itu tidak punya perbedaan dengan gerak itu sendiri. Kata lainnya, gerak adalah akibat niscaya dari kesempurnaan Aktual yang mandiri atau sederhana itu sendiri.

Kembali kita pada pertanyaan sebelumnya.."Jika Kesempurnaan Aktual adalah satu-satunya hakikat realitas dan dia sendiri adalah sesuatu yang tetap, maka mengapa ada gerak perupa penyikapan atas totalitas pada sebagian-sebagian"? Mengapa gerak linier yang konstan itu mewujud? Kenapa tidak totalitas saja yang eksis?
Kita bisa katakan, bahwa pengertian gerak adalah penyikapan totalitas melaui begaian-bagian...Jika gerak itu tidak linier dan satu arah, dimana ada perubahan dari bentuk yang lebih rendah kepada bentuk yang lebih tinggi, maka yang harus kita terima bukan lagi gerak, melainkan ketetapan...Jika kita menerima ketepan ini, maka gagasan tentang kesempurnaan sebagai sesuatu yang mesti melahirkan gerak sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas menjadi tidak ada artinya lagi...Namun ini muntahil, oleh karena satu-satunya jalan adalah kita harus memberontak pada Eksistensi Sempurna tersebut, namun bagaimana bisa, bila keberadaan itu nyata-nyata eksis dan mustahil ditolak? Maka mustahillah menggugat Eksistensi Maha Sempurna...OLeh karenanya itu, tidak menjadi masalah untuk menegaskan bahwa gerak adalah aliran perubahan untuk mencapai totalitas pada bagian-bagian yang tersusun dalam model satu arah (struktur awal, tengah, dan akhir)..Yang demikian ini juga barangkali bisa membuka tabir dan kita punya kemungkinan besar untuk menjawab pertanyaan tentang kenapa materi itu ada, dan Dia harus mencipta)

Gerak adalah bukti Kesempurnaan..
Namun Kesempurnaan senantias tersembunyi dibalik penampakan
Engkau nampak melalui ketersembunyain, dan tersembunyi dalam penampakan...(Imam Maksum)

Rabu, 21 Juli 2010

Aku membaca buku Ayatullah Bagir Shadr..Judulnya Falsafatunna..Yang gemar mempelajari Filsafat Islam mungkin akan merasa akrab dengan buku ini...Aku tidak bicara tentang bagaimana Ayatullah Bagir Shadr mengulas teori pengetahuan (Epistemologi).Aku hendak mendedah secara singkat tentang persolan gerak..Sebab aku merasakan bahwa akhir-akhir ini pikiranku begitu terserap kedalam tema yang satu ini...Aku mengajak kalian semua untuk masuk kedalamnya..Dedalam seluk beluk tema perak dan perubahan, sebab pengertiannya tidak segampang yang kebayankan kita pahami..Gerak lebih dari pada itu..Ia adalah kabar yang memberi tahu kita tentang sesuatu Relaitas Ultim yang tanpanya, segala sesuatu menjadi mustahil...

Kita mulai saja...
Apa itu gerak?
Yaitu perpindahan dari satu posisi atau keadaan kepada keadaan lainnya...Namun Zeno mengatakan bahwa gerak itu ilusi, sebab gerak konstan berarti perubahan tanpa jeda pada titik persinggahan yang tak terbatas..Engkau bisa merangkai kalimat yang lebih sederhana dari yang kukatakan ini.AKu percaya, bahwa engkau telah dapat menangkap apa yang Zeno maksud dari kalimatku tersebut..Bila mengikuti Zeno, maka yang harus kita katakan adalah bahwa yang nyata adalah situasi diam, dan bukan gerak..Namun ini tidak bisa diterima, oleh karena kita sendiri merasakan dan menyadari bahwa ada perubahan dari satu keadaan kepada keadaan lain yang nyata direalitas itu sendiri...Sebiji jagung bergerak dari keadaannya semula menjadi buah jagung, dan sejumlah contoh lainnya..Ini nyata...Sekali lagi, ini kita sadari...Dan karenanya, gerak itu nyata, dan perubahan-perubahan itu ada...

Belumlah penelusuran kita ini selesai..Kita masih harus bertanya, tentang bagaimana gerak itu terjadi?
Air yang berada dalam temperatur nol derajat bisa mencapai seratus derajat Cc..Bagaimana ini bisa terjadi, jika tidak ada potensi intrinsik dalam diri air itu sendiri, untuk mencapai derajat yang lein dari sebelumnya? Karenanya, bisa kita katakan bahwa secara potensial, segala sesuatu yang bergerak itu (termasuk air) mempunyai kemungkinan atau potensi yang tidak terbatas..

Tetapi apa yang kita maksudkan dengan potensi tersebut?
Potensi adalah kemungkinan sesuatu untuk berubah menjadi lebih atau sebaliknya..Karena ia adalah kemungkinan, maka aktualisasainya bersandar pada Sebuah Eksistensi Penggerak..Jika tidak demikian, maka semestinya, gerak itu sendiri tidak akan terjadi, oleh karena dalam dirinya, ia telah berada (atau lebih tepatnya "sebagai") sesuatu yang aktual..Sederhananya, yang aktual pada dirinya itu tidak akan mungkin berubah...Dan kesimpulan sementara, kita bisa katakan bahwa yang menjadi sumber dari pada gerak haruslah suatu Eksistensi yang Aktual yang tidak pernah (mustahil) mengalami perubahan...
Tidak terlalu sulit memahami kenyataan logis pun filosofis seperti yang ku sampaikan di atas..Ketika sampai pada persolan tentang persentuhan atau hubungan antara Eksistensi yang Tetap dan realitas yang berubah, seluruh kekuatan pikir menjadi sama sekali dituntut...

Bagaimana yang Tetap itu mengakibatkan perubahan???

Sabtu, 17 Juli 2010

Sejenak Kedalam Akar-Akar Pengetahuan

Setiap gerak pasti punya tujuan...Dan tujuan tersebut, haruslah sempurna
Alam ini indah dan teratur, dan karenanya, pasti ada Sebab yang membuatnya demikian.
Yang sempurna, tidak mungkin melukan sesuatu karena dipaksa
Kemerdekaan sejati adalah, melakukan apapun yang diinginkan
Jika Dia Sempurna, maka Dia pasti Adil, dan Keadilan-Nya menuntut adanya Kenabian
Kematian adalah momen mencapai tahapan hidup yang lebih tinggi dan sempurna, dan sejumlah pernyataan-pernyataan lainnya..

Aku tidak cukup puas..Maka ku tanya pada diriku sendiri, "Apa hubungan antara fakta gerak itu dengan keharusan bahwa tujuannya mestilah kesempurnaan? Apa hubungan antara alam dan keharusan adanya pencipta? Bagaimana bisa kematian itu dikatakan sebagai tahapan menuju kesempurnaan?

Barangkali akan ada jawaban demikian
"Jika gerak itu tidak bertujuan, maka mengapa gerak itu terjadi'? Sesuatu terjadi karena ada sebab...Jika kesempurnaan bukan tujuan perubahan, maka apa makna segala peristiwa pun perbuatan manusia?
Tetapi setelah ku cermati dengan saksama, ada jarak yang amat nyata antara premis dan kesimpulan..Bagiku, tidak ada alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa setiap gerak pasti bertujuan"..

Dari mana muncul relasi logis antara premis dan kesimpulan tersebut?
Kenapa kebenaran disebut sebagai kebenaran?
Apa kriteria dari pada kebenaran itu sendiri?

Jika saya mengatakan bahwa setiap akibat pasti punya sebab, itu sesuatu yang biasa..Tetapi jika ada pertanyaan tentang kenapa akibat itu mesti punya sebab, maka bagaimanakah kita akan menjawab pertanyaan ini? Landasan ap-riori barangkali bisa dikatakan sebagai fondasi yang benar pada dirinya sendiri...Bahwa akibat itu berhubungan dengan sebabnya.Bahwa dua sesuatu yang bertentangan tidak bisa menyatu dalam wadah atau saat yang sama...Apakah kebenaran konsep seperti ini dapat ditetapkan oleh akal? ataukah kebenarannya adalah bersifat intuitif...Jika saya mengatakan bahwa kebenarannya bersifat intuitif, maka pernyataan ini mestilah pula ditetapkan oleh akal, berdasarkan sejumlah argumentasi yang dipandang rasional. Misalnya tentang konsep sebab-skibat itu sendiri...Kita bisa mengatakan bahwa relasi sebab-akibat adalah sebentuk emanasi, oleh karena keduanya tidak bisa dipisahkan dalam batasan ruang dan waktu..Tetapi bagaimanapun juga, argumentasi ini akan kembali mencari dalil-dalil paling fundamental yang bercorak fondasional...Artinya, pembenaran kita tentang sebab akibat sebagai relasi eksistensial (emanasi) itu sendiri mempunyai alasan-alasan, dan alasan-alasan tersebut tak lain dan tak bukan kecuali sebab itu sendiri...Sebab yang dengannya kita mengambil kesimpulan begini atau begitu tentang sesuatu apapun...Kenyataan yang demikian ini yang membuat David Hume tidak bisa menolak konsep causalitas sama sekali, meskipun ia berusaha untuk mengatakan bahwa causalitas itu tidak ada...Bagaimana mungkin Hume membuktikan sesuatu yang tidak ada?

Tidak ada sesuatu masalah yang muskil dalam membuktikan kekukuahan konsep causalitas..Tetapi masalah menjadi muncul, tatkala konsep tersebut kita gunakan sebagai landasan penilaian terhadap serangkain fenomena yang terjadi..Bagaiman bisa dikatakan bahwa gerak itu pasti menuju pada satu titik kesempurnaan? Apa hubungan antara gerak dan kesempurnaan itu sendiri? Sekuncup bungan menjadi mekar, kemudian melahirkan buah...Jabang bayi bergerak menjadi orang dewasa yang mampu berfikir dan mempunyai kehendak pun keinginan..Kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana bisa sesuatu bergerak mencapai bentuk yang lain dari sebelumnya? Kemudian kita memberi tafsiran bahwa kenyataan tersebut menandakan adanya satu tujuan tertinggi yang hendak dicapai oleh aliran gerak dan perubahan tersebut... Jika saja tidak ada tujuan yang sempurna, maka gerak tidak mungkin terjadi...Adakah benda-benda material yang bergerak itu menyadari fakta pergerakan dirinya? apakah sebiji jagung itu tau bahwa ia akan berubah menjadi buah jangung? ataukah fenomena ini adalah hasil tafsiran manusia semata, oleh karena ia menyaksikan adanya perubahan-peruban dari satu bentuk ke bentuk lainnya...Apakah jangung tersebut merasa bahwa dirinya telah berubah menjadi sempurna dari keadaan sebelumnya? Apakah dengan demikian manusia tidak bisa mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, oleh karena sesuatu itu sendiri tidak menyadari dirnya yang tengah berubah tersebut? Bukankah konsep perubahan dan gerak adalah hasil perbandingan pikir manusia, tatkal ia melihat adanya bergantian bentuk dalam dunia fenomenal?

Bagiku, adalah terlalu jauh jika kita mengatakan bahwa manusia tidak bisa mengetahui sesuatu sebagaimana adanya...Justru, hal tersebut adalah sebuah kemungkinan yang terbuka lebar..Justru perubahan itu sendiri yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Gagasan tetap tentang eksistensi Maha Sempurnalah yang menjadi basis penilaian manusia atas fenomena gerak itu sendiri (sekali lagi bukan gerak itu sendiri). Jika tidak karena ketetapan tersebut, maka mustahil manusia bisa memberi makna pada gerak sebagai satu proses mencapi sempurna..Di otak atik ini konsep kesempurnaan menjadi kata "sebab". Sedangkan konsep akibat hanyalah sudut pandang pikiran tatkala seluruh instrumen pengetahuan terpaku pada fenomena gerak...Tetapi sebagaimana yang telah ku sampaikan di atas, bahwa gerak itu terpahami oleh karena awal-awal yang diintusi dan yang dikonsepsikan adalah kesempurnaan, maka akibat itu sendiri tidak mempunyai status eksistensial sama sekali, kecuali semata-mata sebagai cara pikiran dalam menegaskan konsep kesempurnaan dalam model via negasi..Karenanya, haruslah dikatakan bahwa gerak dan perubahan itu sama saja..Tidak ada bedanya...Sebagaimana bayang-bayang yang menegaskan keberadaan cahaya, dan tidak sama sekali mengatakan bahwa ia ada...Tetapi kesan tentang bayang-bayang tersebut muncul dalam benak manusia, sehingga seolah-olah ia ada...Dibalik semua penjelasan ini, pertayaan awal itu muncul...Apa kriteria kebenaran semua ini, jika rasionalitas itu sendiri sulit dipahami?

Dan Aku berkata
Masuk akal dan Irrasionalitas itu sama saja...
Aku takjub pada pemahaman, sebab pemahaman itu sendiri sulit dipahami...

Kamis, 15 Juli 2010

Kesucian..Titik Pertemuan Antara Ketetapan dan Gerak

Filosof muslim mengatakan bahwa yang dimaksud dengan materi adalah potensi murni. Pikiran akan menjelajah lebih jauh untuk memahaminya.."Apa yang dimaksud dengan potensi murni"?, dan dari mana akar pengertian ini? Kenapa dikatakan demikian?

Potensi adalah kemungkinan untuk menjadi...Aku memiliki kemungkinan untuk mengetahui dengan lebih sempurna, namun semunya butuh proses..Jika tidak demikian, maka aku tidak akan mungkin mengatakan bahwa aku punya potensi untuk itu..Potensi itu tidak akan dimengerti, jika tidak ada gerak dan perubahan...Melalui gerak, kemungkinan tersebut menjadi aktual...Ide umumnya adalah, bahwa gerak itu mesti mencapi titik yang lebih sempurna dari titik-titik sebelumnya...Jika saja tidak demikian, maka semestinya gerakan atau perubahan itu tidak ada...

Apa yang bisa dikatakan dari kenyataan ini?
Bahwa pengertian dari pada kemungkinan itu sendiri muncul oleh karena ada fakta tentang perubahan kearah kesempurnaan. Selain itu, gerak itu sendiri mestilah didorong oleh satu kekuatan yang Maha Sempurna. Jika gerak itu terjadi hanya karena ada sebeb-sebab yang terbatas, maka kemungkinan mencapai titik yang sempurna menjadi mustahil..Dan karenanya gagasan tentang kemungkinan atau potensialitas itu sendiri menjadi hilang...Lagi-lagi, yang demikian ini mesti berakibat pada situasi diam pada realitas, dan bukannya gerak dan perubahan...

Dari sini dapatlah dikatakan, bahwa gagasan tentang kemungkinan pada dasarnya mempunyai kaitan eksistensial dengan gagasan tentang kesempurnaan dan gerak.Jika kesempurnaan dan gerak diabaikan, maka gagasan tentang kemungkinan atau potensialitas yang melampaui waktu itu mestinya tidak akan muncul...Bahkan kita sendiri tidak akan mungkin mengatakan bahwa sesuatu akan menjadi lebih atau kurang dari keadaannya saat ini..Tetapi yang kita makudkan dengan "keadaan saat ini itu merupakan sesuatu yang aktual". Jika ia aktual, maka semestinya ia tidak lagi bergerak menyempurnakan kualitasnya...Tetapi ini bertentangan, oleh karena bagaimana mungkin sesuatu yang aktual dengan dirinya sendiri itu lemah karena tidak bisa memberai efek atau melakukan tindakan apa-apa?? Artinya, kita tidak mungkin mengatakan bahwa hal-hal yang bergerak itu adalah realitas yang aktual pada dirinya sendiri...Sebab aktualitas itu meniscayakan kesempurnaan dalam dirinya..Karenanya, gagasan tentang kebergantuangan yang berubah pada Realitas Aktual yang sempurna adalah sebuah kemestian logis dan filosofis...Sebaliknya juga, yang Aktual secara Mutlak harus bisa melakukan atau melahirkan efek yang muncul dari dirinya sendiri...Efek itulah yang kita sebut dengan gerak atau perubahan...

Hubungan eksistensial antara ketetapan dan gerak itu sendiri membuat kita bisa memahami dan bahkan merasakan adanya ketetapan dan gerak dalam saat yang bersamaan...Meski duanya juga bisa sama sekali dipisahkan...Namun bagaimanapun juga, ide tentang kesempurnaan aktual itu terafirmasi terlebih dahulu secara positif, tanpa harus ada oposisi biner untuk menarik pengertian dari keduanya...Maka sangat keliru jika dikatakan bahwa gagasan tentang ketetapan itu muncul oleh karena ada perubahan, pun sebaliknya... Demikian ini merupakan akibat dari kelemahan dalam memahami pola kerja akal itu sendiri...

Maka apa yang dimaksudkan dengan materi sebagai potensialitas murni menjadi terpahami...Materi adalah gerak itu sendiri...Gerak sebagai sebuah ide, adalah sebuah ketetapan...Tetapi gerak yang terjadi dalam dunia faktual adalah proses konstan yang tidak sedetikpun berhenti...Dan ketidak-mungkinan situasi vakum dan stagnan tersebut adalah keniscayaan dari pada Wujud Aktual yang Sempurna...Tetap dan berubah selalu berhubungan pada satu titik, yaitu kesempurnaan dan kesucian, dan bukan pada pengertian yang ditarik dari oposisi biner antara satu tanda dan penanda, dan tanda dan penanda lainnya..

Jangan memilih ketetapan atau perubahan
lihatlah perkawinan keduanya pada poros kesempurnaan dan kesucian
yang nyata dalam kedisinian tanpa lalai dan lupa (kemaksuman)...Itulah waktu...

Ariel Diperkosa oleh Negara...

Beritanya sudah tidak seramai hari-hari sebelumnya..Kenapa? sebab sengaja diberitakan oleh karena selebritas ketiga orang itu membuat laku informasi...

Tidak tentang politik ekonomi media..Tulisan ini hendak mengangkat satu kenyataan ironis, yaitu bahwa Negara ini, dengan sistem hukum (khususnya UUD Pornografi) telah menganiaya hak dari pada warga negaranya...

Apakah hak dari pada Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari tersebut? Yaitu terbebas dari seluruh jerat hukum..Kenapa demikian?
Ada bebebarapa pertanyaan yang patut diajukan, yaitu :
1. Jika perbuatan tidak senonoh yang dilakukan oleh mereka adalah alasan dari hukuman itu sendiri, maka mengapa perbuatan yang sama, yang sangat banyak dilakukan oleh orang lain tidak ditindak sama sekali?
2. Jika mereka di hukum oleh karena status mereka sebagai orang yang populer di masyarakat, dan kemudian dianggap akan memberi dampak yang tidak baik, maka adakah UU Pornografi itu mengatur kenentuan hukum khusus bagi orang-orang populer?

Faktanya, setiap saat orang bisa melakukan hubungan seksual yang tidak resmi dengan sangat gampang..Baik dengan pekerja seks komersial, maupun dengan siapa saja...Ini bukan lagi hal baru, melainkan semua kita mengetahuinya...Itu artinya, alasan bahwa ketiganya dihukum karena melakukan tindakan mesum menjadi gugur dengan sendirinya...Sedangkan tentang ketentuan hukum khusus bagi orang populer sebagaimana yang diasumsikan di atas pastilah tidak ada..

Maka patutlah kita bertanya..
Sistem hukum macam apa yang sedang berlaku di negara ini?
Apakah Negara sedang melakukan sesuatu yang dilarang olehnya sendiri, yaitu perbuatan main hakim sendiri?..Negara sedang melakukan tindakan "main hakim sendiri".

Apa yang bisa disimpulkan dari kenyataan ini, yaitu bahwa kita tidak punya konsepsi hukum yang bisa membedakan antara tindakan moral dan tindakan hukum...Tindakan moral adalah tindakan individu yang tidak terkait dengan orang lain, yang karenanya, tidak bisa ada sansi hukum (dari negara) yang diberlakukan...Sedangkan tindkan itu bisa dikenai hukum (negara), tatkala tindakan tersebut terkait dengan, atau mengancam kebaikan serta kemaslahatan orang banyak...Perbuatan ketika selebritis tersebut benar-benar masuk dalam tindakan individu..Tindakan tersebut menjadi terkait dengan banyak orang (dianggap merusak kebaikan umum), tatkala perbuatan itu kemudian menjadi konsumsi umum...Dari perbendaan antara konsep moral dan hukum diatas, maka semestinya yang negara harus bertindak (menghukum) sang pelaku penyebaran video porno tersebut, dan bukan memasukkan Ariel dan kedalam teruli besi...

Negara sedang melakukan tindakan main hakim sendiri...
Negara menganiaya Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari..
Konstruksi Hukum kita carut marut...
Sebuah Negara yang lucu pantas di tertawakan....Untuk kemudian kita bertanya, Bagaimana memperbaikinya???

Kamis, 08 Juli 2010

Pengetahuan dan Perempuan...

Seluruh nama-nama telah diajarkan kepada Adam AS..Tetapi ia tetap saja tidak bergairah. Semangat itu muncul tatkala Hawa dicipta...

Apa artinya?
Bahwa pengetahuan dan seluruh nama-nama (pengetahuan) tersebut tidak bisa memberi adam maqam kedekatan yang lebih tinggi...Dan hawa memberi itu...Hawa mengangkat Adam pada ketinggian..Maka apalah artinya pengetahuan tanpa perempuan, tanpa wanita..

Kisah ini berlanjut...Mustafa Ibrahim mengeluh...Resah atas keadaannya yang tidak memiliki keturunan..Kemudian ia berdoa..Ia menikah lagi, dan lahirlah Ismail..Apa artinya? "Bahwa anak-anak adalah bagian dari rahasia kedekatan...Mana mungkin Ibrahim mengeluh, jika keluhan itu tidak terkait dengan gerak untuk menyempurna..Keinginan ibrahim bukanlah hasrat mermuara pada penguasaan dan hegemoni atas perempuan..Kenginan ibrahim untuk memiliki anak adalah kerinduan dirinya untuk mendaki tahap kemuliaan yang lebih tinggi dari sekadar meiliki istri...

Nun..Wal Qalami Wama Yasturun...Demi Pena dan Lembaran
Kebedaan mahluk adalah keganjilan...Pena dan lembaran untuk sebuah tulisan dan kitab..Laki-laki dan perempuan sama dengan anak keturunan...

Ku letakkan Ayah di depan, ibuku di belakangku..
Anak2ku disini kiri dan kanan...Dan Perempuan-ku dalam hati sanubari...Barulah aku bermi'raj....Allahu Akbar

Selasa, 06 Juli 2010

Akal...Satu dan Banyak

Kemajemukan...Tidak ada hal yang sama..Segala sesuatu punya identitas, sehingga perbedaan itu ada...Agama dan ideologi pun tidak tunggal..Tetapi ketika kemajemukan ini jadi paham atau ideologi, maka perkaranya menjadi lain. Maksud saya adalah, saat yang banyak itu semuanya dikatakan sebagai kebenaran...Apakah kebenaran itu tunggal?

Jika saja yang kita sebut sebagai kebenaran ini tidak satu, maka semestinya kita menerima eksistensi kejamakan ontologis..Artinya, masing dari yang banyak itu mesti mempunyai sumber keberadaannya sendiri-sendiri...A punya asal yang berbeda dengan B, demikian juga dengan C, dan seterusnya..Tetapi bagimana ini bisa diterima, bila nampak bahwa segala sesuatu itu saling berhubungan, berada dalam ikatan yang organis...Manusia tidak bisa hidup tanpa alam, demikian juga sebaliknya..Kenyataan ini memberi kabar bahwa semuanya punya sumber yang sama, tempat bergantung yang tunggal, asal dan tujuannya pun pastilah satu saja...

Barangkali tidak terlalu sulit bagi kita untuk membenarkan kenyataan ini..Tetapi apakah ketunggalan ontologis ini meniscayakan pula ketunggalan aksiologis? Apakah jalan mencapai kebenaran itu mesti satu saja, atau bisa pula lebih dari satu?

Pada titik ini, kita mesti bicara tentang kebenaran sebagaimana kebenaran itu sendiri, dan bukan kebenaran menurut siapa-siapa...Jika akal adalah kriteria dari pada kebenaran itu sendiri, maka kita mau tidak mau kita memiliki kebutuhan untuk melakukan telaah terhadap akal itu sendiri, kemudian bagaimana hubungannya dengan kebenaran...Apakah akal mempunyai kehakikian ontologis dengan realitas diluar akal itu sendiri, ataukah tidak sama sekali...Jika tidak ada kaitan antara akal dan realitas eksternal, maka mustahillah kita bisa bicara tentang kebenaran...Tetapi bagaimanapun juga, dorongan dalam diri manusia yang menuntutnya untuk mencari dan mendapatkan jawaban atas semua teka-teki kehidupan dan realitas, merupakan sesuatu bukti bahwa manusia memang tidak bisa lepas dari kebenaran, bahkan ia berkainginan untuk menyatu dan menjadi kebenaran itu sendiri...Maka dari itu, pengandaian tentang mustahilnya manusia mendapatkan kebenaran adalah sesuatu yang tertolak sama sekali...Tegasnya, kebenaran itu bisa diketahui.

Tetapi bagimana mengukur suatu pengalaman psikologis sebagai sebuah kebenaran atau kekeliruan? Jelas bahwa intusi itu tidak bisa menjadi kriteria bagi dirinya sendiri. Akal harus tampil menjadi juri dan hakim bagi setiap pengalaman...Kembali pada pertanyaan awal di atas tentang apa itu akal?

Filsuf anti fondasionisme tidak percaya bahwa pengetahuan atau kebenaran itu punya akar-akar yang ap-riori, yang self devident..Tetapi bagaimanapun juga, setiap penolakan haruslah punya alasan. Jika saja akar-akar penolakan yang paling mendasar itu pun ditolak atau tidak benar pada dirinya sendiri, maka penolakan itu sendiri akan menjadi sesuatu yang paling lucu, dan karenanya pantas ditertawakan...Maka akal harus punya fondasi yang kokoh, dan jelas pada dirinya sendiri...Apa fondasi akal itu?
Setiap sesuatu punya sebab...Kenapa segala sesuatu tidak bisa tidak punya sebab? kita hanya mengatakan bahwa yang demikian itu mustahil...Tidak mungkin realitas ini tidak punya sebab...Tetapi mengapa yang mustahil itu mustahil? Implikasi dari penolakan atas keharusan sebab itu sendiri adalah kemestian hilangnya gerak dan perubahan...Artinya, gerak itu sendiri harus berjalan tanpa ada tujuan (sebab)...Seandainya demikian, maka kita juga harus menegaskan relasi dahulu, kini, dan besok adalah sebuah kebetulan saja...Bagaimana manusia bisa hidup dalam semesta kebetulan ini??? Singkatnya, penolakan pada fondasi pengetahuan ap-riori itu tidak saja berakibat buruk pada perkara yang sifatnya teoritis, melainkan menghancurkan pula seluruh kepentingan praksis dari manusia.

Senin, 05 Juli 2010

MATERI..KENAPA MESTI ADA?

Kenapa ada fakta? yang dia maksud dengan fakta adalah realitas material...Sekilas pertanyaan ini terkesan gampangan...Dan apa pentingnya menjawab tanya tersebut...Alasannya cukup sederhana..Jika sebab-sebab keberadaan materi itu tidak dipahami, maka semestinya kita mesti menggugat kehidupan itu sendiri...Kenapa aku mesti hidup, jika segala yang ada ini tidak bisa dimengerti..Bukanlah sikap yang baik, bila kita malas menggubris realitas..Tanpa butuh alasan yang lebih dalam lagi, cukuplah dikatakan bahwa masa bodoh dengan realitas itu pastilah akan membawa keburukan sama sekali...

Kesadaran ini membuat kita harus mengambil sikap, dan menelusuri secara mendalam atas sebab-sebab keberadaan materi itu sendiri...Lantas apa yang dimaksudkan dengan materi? Apakah maksud kita tentang materi itu adalah gambaran utuh tentang eksistensinya, atau semata-mata deskripsi konsepsional terhadapnya...Materi itu tidak pernah menyatu sedemikian rupa dengan kesadaran kita, oleh karena kesadaran itu non-material sifatnya..kesadaran itu tidak bisa kita indrai..Jangan katakan bahwa engkau mengetahui meja...Tidak..Yang engkau ketahui adalah fenomena yang tampak secara kasat mata saja..Sedangkan substansinya tidaklah bisa diketahui...Jika demikian, apa guna kita bicara tentang materi, bila kita tak dapat mengtahuinya...

Kenyataan tentang gerak dan perubahan membuat kita harus menyimpulkan bahwa materi bukanlah sesuatu yang eksistensinya bersifat aktual...Sebab jika materi itu aktual, maka semestinya gerak itu tidak ada..Sebab sesuatu yang aktual tidak bisa lagi berubah untuk mencapai bentuk yang lebih tinggi..Yang aktual murni berarti dia juga sekaligus sempurna..Sedangkan perubahan adalah pergantian bentuk secara terus-menerus, sehingga ia mestilah membutuhkan penggerak yang aktual...Karena itu, apa yang kita maksud dengan materi tidak lain dan tidak bukan kecuali gerak dan perubahan itu sendiri...

Adapaun gerak, ia adalah aktualisasi potensi..Jika bukan demikian, maka semestinya yang ada adalah kevakuman...Sederhanya adalah, sesuatu hanya bisa mencapai bentuk yang lain, jika dalam dirinya ia menyimpan potensi untuk menjadi bentuk tersebut...Artinya, ada hubungan yang sangat eksistensial antara ketetapan dan gerak, antara aktualitas dan potensialitas...Tetapi karena potensi hanya sebatas kemungkinan murni, maka potensi itu sendiri bukanlah apa-apa. Sebab kemungkinannya bergantung pada yang Aktual...Dan ini bisa dikatakan bahwa yang eksis adalah yang aktual itu sendiri...

Jika materi adalah potensi murni? Maka meteri itu sesungguhnya adalah gerak itu sendiri...Tetapi gerak itu sendiri tidaklah sekadar perpindahan dari satu titik kepada titik yang lain, namun juga sebagai keniscayaan dari Keberadaan Eksistensi Maha Sempurna yang Aktual tadi...Artinya, mustahil yang sempurna itu pernah diam dalam melakukan tindak penciptaan..Sebab jika Dia diam, maka kesempurnaannya menjadi hilang dengan sendirinya. Mana mungkin yang Cahayanya abadi itu pernah berhenti memancarkan sinar-nya? Karenanya, sangatlah sulit bagi kita untuk memisahkan ide kesempurnaan (ketetapan) dan gerak terutama pada tataran ontologis...Tetapi juga, bahwa gerak hanya akan terjadi pada realitas yang dibatasi oleh ruang dan waktu, realitas yang terindrai..Kebalikannya adalah, realitas non-indrawi tidak mungkin mengalami perubahan untuk mencapi bentuk-bentuk yang lebih tinggi, oleh karenanya Dia adalah Kesempurnaan Aktual yang menjadi syarat utama (Penggerak) dari gerak dan perubahan itu sendiri..Simpul dari seluruh argumen ini terletak pada konsep emanasi (Pelimpahan Karunia)..Dan karenanya keberadaan materi (gerak) adalah sebuah keniscayaan..Gerak itu ada, karena karena Kesempurnaan Aktual itu Eksis..

Dari sudut pandang Qalam, gerak itu bisa disebut sebagai wujud keadilan Ilahi..Bahwa yang Maha Sempurna mestilah melimpahkan karunia-Nya kepada apappun yang berhak mendapatkannya..Bahwa keberadaan manusia di dunia ini merupakan keharusan untuk mencapai tahap yang lebih tinggi..Bahwa kematian adalah momen yang akan sangat dirindukan oleh mereka yang memahami Hikmah dan Kebijaksanaan...

Jika Pikiran telah Memahami Wujud,
Maka Negasi dan Afirmasi sama saja...
Tetap terlihat Ketunggalan pada Segala