Minggu, 25 Juli 2010

Kebenaran dan Logika Deduktif

Semua orang sibuk membicarakan eksistensi Tuhan...apakah Tuhan itu ada? bahkan ada yang meminta argumen untuk membuktikan Tuhan tidak ada...Aku cukup jenuh dengan perdebatan semacam ini. maka aku bertanya, apa urgensinya bicara tentang bukti Wujud TUhan? apakah ketika tuhan terbukti ada, maka persoalan menjadi selesai? bukankah orang-orang ateis pun ternyata bisa menjalankan kehidupan yang bernilai..mereka bisa sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan. mereka bahkan menjadi pembela keadilan tanpa pamrih sedikitpun... yang sebaliknya justru banyak terjadi pada si pencari Tuhan, dan orang yang setiap saat mengumandangkan ayat dan firman-firman Tuhan..Bukankah kita mengenal bahwa Yazid Bin Muawiyah adalah orang yang percaya pada Tuhan.tetapi ia justru membunuh Imam Husein yang saat itu berjuang menegakkan keadilan...Bahkan Iblis sekalipun mempercayai Tuhan, dan malah dikatakan bahwa ia pernah menjadi imam para malaikat...
Dari kenyataan-kenyataan ini, maka aku mesti bertanya, "apa pentingnya mencari bukti tentang adanya Tuhan"? apakah Tuhan mesti ada agar Keadilan bisa tegak'? sehingga yang tak percaya Tuhan pasti tidak bisa bicara dan mengupayakan keadilan'? ternyata tidak, sebab si ateis dan bahkan iblispun mempercayai-Nya...
Lihatlah Hugo Zhavez di Venezwela...ia adalah seorang kristen namun berhasil menggalang kekuatan rakyat hingga bisa melahirkan pemerintahan baru yang komit dan konsisten menjaga keadilan. Lihatlah Ahmadinejad di Iran.Ia seorang Syi'ah namun bisa menunjukkan secara tegas keaulatan bangsanya dihadapan Negara yang disebut adi kuasa itu...Bacalah kisah Mahatmah Gandhi..Ia bahkan tidak makan dan minum selama seminggu saat terjadi pertiakian antara umat islam dan hindu di India...Lantas apa arti penting pembuktian Tuhan?
Aku kira, pikiran ita masih harus mencari konsepsi kebenaran dalam cara pandang yang lain, agar kita bisa menemukan ikatan logis dan filosofis antara keimanan dan keadilan...cara pandang itulah yang bisa kuistilahkan dengan Paradigma Realisme Ingstingtif. yaitu sebuah keterpaduan eksistensial antara dimensi indra,rasio, dan hati...
Untuk itulah, maka yang pertama-tama mesti dijawab adalah hubungan antara Tuhan, Manusia, dan Alam Semsta...Siapakah Tuhan itu? bagaimana hubungannya dengan akal dan jiwa manusia? apakah alam itu, dan smesti seperti apakah hubungan antara manusia dengan alam? apakah hubungannya bersifat fungsional semata, ataukah bercorak eksistensial...

Keteraturan alam sebagai premis yang melahirkan kongklusi berupa keharusan adanya pengatur yang Maha Cerdas, tidak cukup menjadi alasan bagi manusia untuk menyembah Tuhan...dengan lain perkataan, tidak ada kaitan logis antara keberadaan Tuhan itu dengan keharusan agar Dia mesti disembah. Akan tetapi, manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari keinginan untuk menyempurnakan eksistensinya...namun bagaimana manusia bisa mencapai kesempurnaan, bila ia mengikat jiwanya dengan hal-hal yang terbatas. Disitulah, manusia membutuhkan jalan agar ia bisa mendapatkan kesempurnaan... dan sebagaimana kita ketahui, kesempurnaan sudah pasti bersifat tak terbatas (Non-Material). sedangkan manusia sendiri memiliki tubuh... apakah dengan demikian tubuh mesti dinafikkan agar manusia menjadi sempurna? jawabanya jelas tidak, sebab tubuh adalah bagian yang menyatu secara eksistensial dengan manusia...namun saat manusia condong pada tubuh, ia akan menemukan kontradiksi-kontradiksi yang luar biasa...tetapi jika ia hanya mengutamakan jiwanya, maka ia akan merasa tersiksa dan terpenjara...untuk itulah, maka mesti ada sesuatu ikatan yang menjadi penghubung antara jiwa dan raga...ikatan inilah yang disebut dengan keadilan dan kenabian..Syariat dan Rasul...penghubung ini menjawab kebutuhan tubuh-materi, namun tetap dalam bingkai tujuan manusia untuk menyempurnakan diri (Iman)... Tubuh selalu membutuhkan alam agar semua kebutuhannya bisa terpenuhi...namun ketika tidak ada ikatan yang menghubungkan antara manusia dan alam, maka alam akan menjadi obyek yang dikuasai manusia...disinilah keserakahan dan kapitalisme akan menjadi semakin kuat, olah karena penguasaannya terhadap teknologi dan sains. untuk itulah, maka unsur keimanan menjadi penghubung antara alam dan manusia, ketika alam dilihat sebagai milik mutlak Tuhan yang tidak bisa direbut oleh siapapun. dan tak seorangpun bisa menguasai secara mutlak atas alam dan semua sumber daya yang terkandung didalamnya...hanya dengan konsepsi ini saja, maka keadilan akan bisa diwujudkan, yaitu ketika manusia menyadari dan mengimani Tuhan sebagai eksistensi Maha Sempurna yang menjadi tujuan manusia, dan yang Merupakan Pemilik Mutlak atas segala sesuatu...
Dari gambaran singkat diatas, dapat dikatakan bahwa kau ateis tidak akan bisa berbicara keadilan secara baik, ketika ia meletakkan semua basis nilai hanya pada manusia saja...demikian juga dengan yang lain. meskipun mereka meyakini adanya Tuhan dan juga mereka mencintai keadilan, namun mereka tidak akan mendapatkan hukum-hukum yang realistis untuk menjawab kebutuhan material dan spiritual manusia secara bersamaan. kecuali mereka harus melakukan studi-studi ilmuah yang terus-menerus untuk mendamaikan kedua dimensi dalam dri manusia tersebut...sedangkan Al-Qur'an yang dibawa oleh Rasul Muhammad SAW, adalah doktrin yang berdiri diatas bangunan Tauhid (IMan), keadilan (Kenabian dan Syariat), dan Maad (Tujuan hidup manusia)..yang sepenuhnya bersesuaian dengan akal dan kecendeungan ruh serta tubuh manusia...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar