Rabu, 30 Juni 2010

Dari-Mu...Bukan Dari Hasrat-ku

Hidup berarti..Setelah itu mati...
Memang hidup harus berarti. Tapi ada baiknya juga kita mencoba masuk lebih jauh lagi kedalam pengertian "hidup yang berarti itu sendiri".

Apa yang kita masud dengan hidup?
Nyawa belum berpisah dari badan, itulah hidup. Semenjak akal mulai berfungsi. itu awal dari pada dipikulnya tanggung-jawab untuk hidup. naik turun nafas bikin kita hidup...Maka kehidupan itu mengalir bersama bergantian detik per detik, bahkan lebih halus dari pada itu. Jika hidup itu sama dengan harus berarti, maka setiap nafas yang berhembus semestinya tidak boleh sia-sia...Jika sedetik saja lalai dan lupa itu hadir, maka hidup menjadi berhenti...Kenapa begitu? sebab kita sudah betul-betul tahu bahwa hidup itu mestilah berarti...Jika tidak demikian, maka hidup menjadi kehilangan artinya lagi....

Selanjutnya adalah, hidup adalah gerak terus-menerus yang tidak bernah sedetikpun berhenti..Keadaannya tak beda jauh dengan yang telah ku katakan di atas..Yakni, menit berikutnya harus lebih tinggi kualitasnya dari yang sebelumnya.Kecuali jika waktu itu pernah berhenti atau gerak itu menjadi diam dan vakum, baru kita bisa menyimpulkan bahwa "tak masalah bila tadi dan saat ini, dan juga kemudian nanti itu tetap sama, tidak ada bedanya". Singat saja. Tak boleh ada kata stagnan dan diam bagi kita untuk bergerak menapaki titik dakian yang lebih tinggi dari sebelumnya dan saat ini.

Bila begitu keadaannya, maka mati pastilah menjadi momen eksistensil untuk mencapai kesempurnaan yang lebih, dan bukan sekadar satu pengalaman yang di nanti setelah kita telah maksimal berbuat baik dikehidupan ini...Dengan lain perkataan, mati itu satu garis dan satu hakikat dengan hidup itu sendiri...Bila tidak begitu, maka kalimat "sekali hidup berarti, setelah itu mati" harus ditolak...

Sebenarnya masalahnya cukup sederana...Yaitu kita mesti memahami gerak dan mengetahui arti kesempurnaan...

Tuhan Sempurna secara Aktual...Maka Nafas Rahman Rahimnya tidak akan pernah sirna..Nafasnya ada pada gerak, nyata dalam apa yang kita sebut kehidupan itu sendiri...Maka bagaimana mungkin hidup bisa berarti, jika proses memberi arti pada kehidupan kita itu tidak terkait dengan Tuhan??? Oleh karenanya, kita mutlak membutuhkan-Nya, pula mengenal-Nya.

Tafakkur yang mendalam
Keyakinan menyimpan tulus dan jujur...Engkau Awal dan aku Merindukan-Mu
Beri aku jalan...Syirat yang datang dari-Mu, dan tidak dari "hasratku" untuk menguasai kebenaran....

Selasa, 29 Juni 2010

ILahi Diabaikan, HAM Porak-poranda

Hak Asasi Manusia.Apa itu HAM?
Mari kita ambil pengertian yang gampang saja...Pertama-tama tentang Hak...
Hak itu sama juga dengan kekuasaan..Sama juga dengan kepemilikan...Saya berhak atas meja ini..Karena meja ini milik saya.Saya memilikinya oleh karenanya sayalah yang membuatnya...Sedangkan membeli itu bukan ukuran hak yang primer...itu hak yang bersifat turunan saja...Tapi bagaimanapun juga, bahan baku meja itu tidak saya buat...Alam sudah menyediakannya, dan saya hanya merubah bentuknya sesuai dengan kebutuhan saya...Tanpa harus membincangkan lebih dalam lagi, cukuplah dikatakan bahwa alam itu ciptaan Tuhan...Dan Tuhan pasti memiliki maksud ketika mencipta

Demikian sehingga hak atau kepemilikan mutlak atas segala itu ada pada Tuhan...Bagaimana dengan kita?

Karena semua punya tujuan, bahkan binatang paling kecil dan rerumputan sekalipun, maka kita hanya bisa mempunyai hak atas sesuatu bila mana ada kaitan antara diri kita dengan tujuan penciptaan yang ditetapkan oleh Tuhan itu sendiri...

Apakah kita punya hak atas diri kita sendiri?
Jelas sekali, bahwa tak ada manusia yang menciptakan dirinya sendiri...Dirinya adalah ciptaan Tuhan..Karenanya dirinya tetap ada dalam kekuasaan Mutlak Sang Pencipta...Maka apa yang disebut hak asasi manusia itu sejatinya tidak ada...Yang eksis dan benar adalah hak Mutlak Tuhan...Manusia berhak atas dirinya jika ia menghubungkan eksistensinya dengan tujuan penciptaan...Sama saja dengan apa yang telah aku utarakan di atas...

Adapun kebebasan, hak untuk hidup, tetap tidak bisa berdiri diatas fondasi filsafat humanisme eksistensial yang menjadikan manusia bebas bertanggung-jawab sebagai ukurannya...Sebagaimana Sartre bilang...Bila manusia jadi ukuran, maka runtuhlah Hak Asasi itu sendiri, sebab tidak boleh ada manusia atau individu dan kelompok lain yang memaksa individu atau kelompok lainnya...Apa hak-mu atas diriku, sehingga engkau memerintah dan mengaturku? Jika aku bertanya begitu dan engkau tetap memaksa, maka engkau telah menghegemoni serta menginjak-injak hak asasiku...Lantas bagaimana???Jika setiap individu memang benar-benar bebas? Jika aku tidak berbuat salah karena ada hak orang lain yang harus aku hargai, maka itu artinya aku sedang mengalami alienasi...Yang lain mendeterminasi kebebasanku...Lantas di mana kebebasanku itu, jika demikian perkaranya???

Awalnya metafisika dibabat..
Lalu rasio dibatasi
Lalu segala tercerai-berai...Itulah Modernitas dan pasca-nya

Fokus....Titik Itu Tidak Kasat Mata

Konsentrasi dan konsisten menatap satu titik..Apa itu titik? ialah realitas yang tidak kasat mata. Sebuah butiran amat kecil masih bisa kita urai. Dan hasil penguarian itu, sampai saat ini tidak ditemukan...Masksud saya adalah, tidak ada unsur pembentuk yang lebih kecil dari pada atom yang membentuk materi...Titik dengan demian merupakan ketakterhinggaan itu sendiri...Ketakterbatasan yang tidak bisa dikonsepsikan dengan batasan ruang maupun waktu...Bukan realitas kuantitatif yang bisa dikurung dalam pengertian besar dan kecil...Karenanya, Titik fokus itu pasti bersifat metafisis dan sederhana, yang karenanya ia meliputi segala sesuatu...

Aku berkata "aku ingin fokus pada pekerjaanku"...Ini tidak salah..Tetapi kurang tepat, jika obyek yang dituju itu tidak dikaitan dengan yang Metafisis...Jika tidak terhubung dengan-Nya, maka bukan fokus namanya...Justru sebaliknya...Oleh karena kita luput dari melihat pengertian yang beigu terang dari pada fokus dan konsentrasi itu sendiri.
Fokus itu menemukan...Jika sekadar pada yang material, maka ia adalah alienasi...Ketidakwajaran...Sebab kita mencari yang bukan inti, yang tidak hakiki, sebagaimana titik fokus yang lebih halus dari sehelai rambut itu sendiri....

Semakin kita melihat dengan penglihatan yang benar-benar tertujuh pada sebuah obyek, maka semestinya yang kita saksikan adalah ketiadaan titik halus itu dari pantauan indra...Jika masih saja mata masih melihat titik tersebut, maka sejatinya kita belumlah benar-benar fokus...Namun, mungkinkah titik itu akan hilang, jika instrumen indra lebih kuasa dari akal dan intuisi? Tafakkkur dan mendengar bisik nurani adalah proses untuk untuk bisa betul-betul fokus.....

Senin, 28 Juni 2010

METAFISIKA GERAK DAN EKSISTENSI ORANG SUCI

Tidak ada sesuatu apapun di alam ini yang diam dan vakum. Semunya senantiasa berada dalam perubahan terus-menerus tanpa pernah sedetikpun berhenti. Sedangkan perubahan itu sendiri tidak mungkin terjadi, jika tidak ada sebab yang mendasarainya. Setiap gerak dan perubahan selalu merupakan akibat dari satu kehendak untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan itu sendiri selanjutnya mestilah merupakan sebuah titik yang padanya kesempurnaan dalam arti paling hakiki dapat diperoleh oleh kafilah perubahan itu sendiri. Sedangkan kesempurnaan merupakaan kemandirian Mutlak dari dari sesuatu terhadap dirinya sendiri, yang karenanya, ia tidak lagi membutuhkan apa-apa sama sekali. Sebab merupakan sebuah kontradiksi, jika sesuatu itu sempurna secara hakiki, namun pada saat yang sama ia sendiri masih memiliki ketergantungan kepada sesuatu yang sesuatu itu akan memberinya kesempurnaan.

Adalah mustahil, yang bergerak itu bisa mencapai kesempurnaan, jika dirinya sendiri tidak mempunyai potensi untuk menjadi sempurna. Sebab sebagaimana yang dikatakan di atas, bahwa kesempurnaan adalah keadaan dimana sesuatu tidak pernah membutuhkan sesuatu yang lain sama sekali. Ia sempurna dengan dirinya sendiri. Dan jika segala sesuatu ini bergerak untuk mencapai kesempurnaan, maka sudah barang tentu kesempurnaan tersebut menyatu sedemikian rupa dengan yang bergerak tersebut. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa potensi menyempurna yang intrinsik dalam diri yang bergerak itu adalah sama dengan tujuan itu sendiri. Atas dasar inilah, sehingga kita bisa mengatakan bahwa gerak itu tidah hanya terjadi pada kulit luar saja, sebab jika demikian, maka gerak tidak akan mempunyai arti sama sekali, oleh karena substansi itu sendiri tidak bergerak.dan jika substansi dari pada benda yang bergerak itu tidak mengalami perubahan (sebagai sebuah gerak menyempurna), maka kesempurnaan sebagai tujuan dari perubahan itu sendiri menjadi tidak dapat dicapai sama sekali. Mana mungkin sesuatu akan bergerak ke arah kesempurnaan, jika ia sendirinya tidak punya potensi untuk mencapai “sempurna”?. Singkatanya,Yang mendorong dan yang menyerap, yang menggerakkan dan yang digerak, serta tujuan pergerakan itu adalah satu dan sama.

Dari penjelasan diatas, kita menemukan satu kata kunci yang menjadi poros dari pada tema gerak dan perubahan, yaitu “Kesempurnaan” itu sendiri.

Di satu sisi, gagasan tentang kesempurnaan memiliki arti bahwa ia adalah satu Eksistensi Mutlak yang yang tidak membutuhkan apa-apa sama sekali. Yang karenanya, Eksistensi yang sempurna ini tidak akan mengalami dan atau dikenai perubahan, mekipun hanya sedetik saja. Sedangkan akal kita akan mengatakan bahwa yang Sempurna secara Mutlak mustahil mempunyai padanan atau sekutu. Artinya, gagasan kita tentang kesempurnaan mengharuskan kita untuk juga menerima bahwa tidak ada sesuatu apapun yang lain selain yang Sempurna itu sendiri. Jika kita asumsikan bahwa ada wujud lain yang eksistensinya bersifat mandiri dan tidak dicakup oleh Wujud yang Sempurna itu, maka Ide kita tentang kesempurnaan menjadi kehilangan artinya sama sekali. Akan tetapi pengandaian ini mengandung kontradiksi, sebab yang mula-mula kita konsepsikan adalah Wujud Maha Sempurna.Karena itu, mustahil bahwa yang sempurna ini lebih dari pada satu Wujud yang Tunggal. Kesempurnaan karena ia tunggal, maka sudah pasti ia sederhana dan karenanya mencakup segala sesuatu. Atau dengan bahasa yang lebih radikal, kita bisa mengatakan bahwa Yang Sempurnalah yang merupakan satu-satunya realitas. Tidak ada sesuatu apapun yang lain selain diri-Nya.

Tetapi pada sisi yang lain, kita menemukan fakta perubahan.dan kenyataan tentang adanya perubahan ini sangat sulit sekali ditolak. Lantas bagaimana karakteristik hubungan antara wujud Maha Sempurna yang tetap itu dengan realitas yang kita saksikan dan yang kita rasakan berubah-ubah atau bergerak ini? Bagaimana kesempurnaan yang Tunggal dan yang tidak mengalami dan dikanai perubahan itu mengakibatkan perubahan dan pergantian bentuk dalam setiap saat? Jika yang Sempurna itu adalah satu-satunya eksistensi yang hakiki, maka mengapa ada realitas yang berubah terus-menerus? Bukankah jika Dia adalah satu-satunya Realitas, maka selainnya pastilah tidak ada? Bukankah perubahan itu menjunjukan bahwa ada realitas lain selain yang Sempurna itu sendiri?

Secara sederhana kita akan mengatakan bahwa hubungan antara wujud yang tetap dan maujud yang berubah adalah hubungan yang berwatak eksistensial. Artinya, keduanya bukanlah dua hal yang masing-masing mandiri dengan dirinya sendiri, dan menjadi berhubungan melalui sebuah eksistensi penghubung tertentu. Karena sekali lagi, hal ini berarti menghilangkan pengertian dari pada kesempurnaan itu sendiri. Hubungan yang eksistensil lebih tetap diartikan sebagai hubungan antara sesuatu dengan dirinya sendiri. Bahkan bisa dikatakan sebagai “hubungan itu sendiri”. Tetapi jika masih ada fakta perubahan dan gerak, maka pengertian “hubungan itu sendiri” masih tetap problematis. Karena itu, mendedah persoalan seputar “bagaimana gerak dan perubahan itu muncul dari yang Maha Sempurna” bisa menjadi pintu masuk untuk kemudian melihat relasi antara yang tetap dan yang berubahah. Antara Wujud Niscaya dan Maujud Mungkin (bergantung).


Wujud Mutlak dan Keniscayaan Gerak.

Kesempurnaan dari pada Eksistensi Niscaya tentunya tidak mungkin potensial. Kesempurnaan-Nya pastilah bersifat aktual. Kesempurnaan potensial hanya berlaku pada wujud yang bergantung dan yang mangalami perubahan serta gerak. Sebab kesempurnaan potensial inilah yang kemudian membuat wujud mungkin itu mengalami perubahan. Jika tidak demikian, maka keberadaannya sebagai wujud mungkin akan berubah seketika menjadi wujud Niscaya. Pertanyaan selanjutnya adalah “apa implikasi dari kenyataan tentang Kesempurnaan Aktual itu’?

Sebelumnya, pengertian yang kita tarik dari kenyataan kesempurnan itu adalah bahwa Ia mestilah sebagai satu wujud yang tetap. Dan kita biasa mengartikan ketetapan itu sebagai satu situasi passif dan diam dari melakukan tindakan apa-apa. Padahal, pengertaian seperti ini hanya bisa diterapkan pada satu eksistensi yang terpisah sama sekali dengan segala sesuatu. Atau juga, pengertian ini lebih cocok jika kita menerima kehakikian esensi dari pada wujud. Akan tetapi menetapkan esensi sebagai realitas yang hakiki (obyektif) sama saja dengan membangun sebuah pengertian kontradiktif pada kesempurnaan itu sendiri. Jika esensi itu yang hakiki, maka kita mesti mengatakan bahwa segala yang berbeda-beda ini tidak bisa saling berhubungan. Dan itu berarti kita melepaskan hubungan antara wujud Niscaya dengan maujud yang bergerak dan berubah itu sendiri. Jelas sekali, bahwa yang demikian ini adalah memasukkan kelemahan kedalam wujud Niscaya yang Sempurna tersebut. Yang itu berarti sama saja dengan mengatakan bahwa yang sempurna itu cacat. Karena itu, yang benar adalah bukan esensi yang hakiki dan obyektif, melainkan wujud itu sendiri.

Kesempurnaan hakiki (wujud) yang aktual tersebut dengan demikian tidak akan mungkin sama sekali berada dalam keadaan vakum, pasif, dan diam, melainkan terus-menerus melakukan tindakan penciptaan. Adapun apa yang kita sebut dengan tindakan penciptaan itu sendiri oleh karena kita telah membuktikan bahwa wujudlah yang merupakan satu-satunya realitas yang hakiki, maka ia pastilah sebentuk aktifitas penampakan diri, dan bukan melimpahkan atau memberi sesuatu kepada sesuatu yang sudah ada. Penampakan diri itu sendiri adalah hal yang mutlak terjadi sebagai akibat darikesempurnaan Wujud. Jika penampakan diri ini diasumsikan sebagai kemungkinan yang bergantung pada kehendak, maka kita harus menyimpulkan bahwa wujud itu tidak lagi sempurna secara aktual. Artinya esensi wujud yang hakiki adalah satu dan sama dengan tindakan-Nya untuk menampakkan diri. Dan bukan dua hal yang terpisah sama sekali.

Penampakan diri yang dilakukan oleh Wujud Maha Sempurna selanjutnya merentang menjadi sejumlah bentuk yang beragam. Keragaman itu sendiri adalah keharusan dari pada aliran penciptaan yang terjadi secara terus-menerus sebagai akibat dari kesempurnaan Wujud yang aktual tersebut. Kenapa demikian? Hal ini karena penampakan diri yang mengalir secara konstan itu mengharuskan setiap saat lahir bentuk-bentuk eksistensi yang baru. Jika tidak demikian, maka penampakan diri melalui aliran waktu dan perubahan itu sendiri akan sama dengan situasi atau keadaan diam, pasif, dan vakum dari pada wujud Sempurna tersebut. Jelas yang demikian ini adalah sebuah kebatilan. Karena itu sama saja dengan menempelkan kelemahan pada yang Sempurna. Atau sama juga dengan mengatakan bahwa yang sempurna itu cacat. Jelaslah bahwa yang demikian ini tidak bisa diterima oleh pikiran yang waras.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat kita katakan tanpa sedikitpun keraguan bahwa tidak terdapat satu kontradiksi dan pertentangan antara gagasan kita tentang kesempurnaan yang tetap, dan perubahan serta gerak itu sendiri. Justru, keduanya merupakan satu kesatuan eksistensial yang tidak bisa dipisah-pisahkan sama sekali. Singkatnya, gerak dan perubahan adalah keharusan dari pada Eksistensi Maha Kesempurnaan itu sendiri, dan bukan sekadar karena ada tujuan yang hendak dicapai melalui gerak dan perubahan tersebut.

Kemaksuman Pada Kedisinian

Gerak sebagai suatu kemestian sebagaimana dijelaskan di atas, pada dasarnya menginformasikan kepada kita tentang keharusan adanya kesucian pada setiap aliran waktu. Hal ini bisa kita lihat dari kenyataan bahwa perubahan itu melewati titik-titik waktu yang tidak terhingga. Meskipun disaat yang sama, kita bisa membatasi lintasan gerak itu sendiri dalam kategori waktu berupa masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Masa kini atau bisa kita istilahkan dengan “kedisinian” adalah momen yang paling aktual. Sebab yang kita alami adalah kedisinian itu sendiri. Masa depan bagaimanapun juga, tidaklah aktual, melainkan hanya ada secara potensial dalam mental saja. Tidak ada sama sekali lompatan-lompatan waktu yang terjadi seketika untuk mencapai masa depan. Semuanya berada dalam gerak konstan yang mengalir tanpa sedikitpun pernah berhenti dalam titik-titik kedisinian yang lebih tipis dari pada rambut, dan lebih tajam dari mata pisau. Karena itulah, kedisinian itu tidak bisa diukur dengan durasi waktu sama sekali. Demikian, sehingga kedisinian itu merupakan suatu momen yang sangat abstrak,dan melampaui segala dimensi material. Bila kita mencoba untuk melihat dengan perhatian yang sangat tinggi atas rentangan waktu yang merentang dalam spasi-spasi atau jarak seperti seperti detik, menit, jam, dan seterusnya itu, kita akan melihat bahwa titik kekinian itu sendiri adalah satu titik yang teramat halus yang tidak bisa lagi dukurung oleh durasi perubahan sama sekali. Bahkan istilah kedisinian itu sendiri juga tidak terlalu tepat untuk menggambarkan eksistensinya. Seperti halnya setitik debu, bila diperhatikan dengan sedemikian rupa, maka yang akan ditemukan adalah bahwa masih ada lagi titik lebih halus dari pada debu yang teramat sangat kecil tersebut. Dan titik tersebut tidak akan lagi bisa disaksikan secara kasat mata, oleh karena ia teramat sangat halus. Tetapi ia tidak sama sekali terpisah dengan debu yang dapat dilihat oleh indra penglihatan itu sendiri. Demikianlah sifat dari pada apa yang kita istilahkan dengan kedisinian itu.

Bila diandaikan bahwa kedisinian itu bersifat material, maka ia tidak mungkin menjadi kekuatan yang dapat menciptakan masa depan yang sempurna. Bagimana mungkin yang material bisa menjadi sebab bagi sebuah tujuan yang sempurna? Padahal kita tahu bahwa masa depan itu tidak dicapai melalui lompatan-lompatan waktu yang terjadi seketika. Konsep mental yang disebut dengan masa depan itu sendiri hanya bisa dicapai perubahan yang terjadi secara bertahap melalui kedisinian yang abstrak tersebut. Selain itu, kedisinian sebagai momen paling aktual itulah, yang membuat gerak dan perubahan senantiasa terjadi. Jika tidak demikian, maka semestinya yang ada bukanlah perubahan, melainkan kevakuman dan situasi diam. Namun bagaimana mungkin asumsi ini bisa diterima, jika ternyata gerak dan perubahan itu benar-benar ada?

Dalam kaitannya dengan gerak dan perubahan yang terjadi pada diri manusia, kedisinian tersebut mewujud dalam bentuk kehendak dan ikhtiar manusia untuk mencapai masa depannya. Yang itu berarti bahwa manusia tidak akan mungkin dapat mendaki untuk sampai pada puncak kesempurnaan, bila kehendak dan ikhtiarnya tersebut tidak terbangun dari situasi eksistensial yang tidak pernah lalai dan lupa. Dengan lain perkataan, masa depan itu sendiri mustahil bisa diraih, jika diasumsikan bahwa manusia pasti pernah berada dalam kelalaian dan sifat lupa, sebagaimana yang biasa dikatakan oleh kebayakan orang. Jika tidak ada seorang manusia pun yang tidak pernah lalai dan lupa, maka eksistensi kedisinian yang abstrak dan terutama menjadi syarak bagi lahirnya masa depan itu sendiri menjadi kehilangan artinya. Jika demikian, maka semestinya perubahan dan gerak juga mesti hilang. Namun lagi-lagi hal ini adalah kekeliruan, oleh karena tidak kita dapati segala sesuatu itu pernah berhenti berubah dan bergerak. Karena itulah, maka eksistensi manusia yang tidak pernah lupa dan lalai haruslah menjadi keharusan dari pada gerak konstan dan kedisinian itu sendiri. Sesaat saja ia lalai dan lupa, maka segala yang bergerak ini akan kehilangan kesempatannya untuk mencapai tujuan yang sempurna.

Eksistensi manusia sempurna adalah bagian intrinsik dari gerak itu sendiri. Keyakinan atasnya dengan demikian, bukan karena didasarkan pada doktrin keagamaan semata (islam). Keberadaan manusia sempurna adalah keharusan dari pada Eksistensi wujud Sempurna. Bahkan ia adalah eksistensi waktu yang memberi makna pada perubahan dan gerak. Bahkan juga bisa dibilang bahwa dia adalah waktu itu sendiri. Manusia sempurna adalah elan vital yang menggerakkan segala sesuatu. Ia adalah nafas yang mengalir dalam setiap detik. Mengikuti jejak-jejak langkahnya merupakan pilihan untuk menyempurnakan diri. Jejak-jejaknya adalah shirat yang oleh Al-Qur’an dikatakan sebagai lebih tipis dari pada urat rambut sebagaimana kedisinian yang halus itu.

Karenanya, tidak ada pilihan lain sama sekali bagi seluruh manusia, kecuali mengikuti jalan yang ditunjukan olehnya. Sebab jika tidak demikian, maka kita pasti luput dari kemungkinan untuk mencapai masa depan itu sendiri. Hal ini karena sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa masa depan hanya akan muncul dari kedisinian yang abstarak (suci) itu sendiri. Jika momen kedisinian yang demikian ini dikotori dengan kesalahan dan kelupaan, maka sudah barang tentu masa depan itu sendiri tidak akan tercipta. Tidak hanya masa depan eskatologis, melainkan masa depan sejarah umat manusipun akan kehilangan kemungkinannya untuk bisa mewujud.

Sampai disini kita telah memahami bahwa waktu dan eksistensi manusia suci adalah kemestian dari pada Wujud Maha Sempurna itu sendiri. Dan kitapun telah memahami bahwa masa depan hanya mungkin tercipta dari kedisinian yang abstrak dan suci itu. Karena itulah, untuk mencapai masa depan yang sempurna, harus ada manusia yang mengalami satu keterserapan dalam dalam kedisinian yang abstrak dan amat halus (sederhana) tersebut. Berkat keterserapannya kedalam kedisinian yang sederhana itulah, maka ia pasti akan menyadari dan mengetahui dengan benar seluruh rahasia dan hakikat yang terbentang pada horizon waktu. Oleh karena yang sederhana pastilah meliputi segala sesuatu. Keserbamencakupan Eksistensi sederhana pada segala sesuatu mengandung arti bahwa hakikat segala sesuatu itu sendiri adalah yang sederhana tersebut. Karena itu, kegaiban sebagai satu kenyataan yang dialami oleh manusia (Al-Mahdi) adalah sebuah rumusan kesempurnaan yang bersesuaian dengan karakteristik wujud dan perubahan itu sendiri. Atau dalam bahasa qalam, kegaiban adalah manifestasi dari pada keadilan Tuhan. Kegaiban ialah satu syarat untuk untuk menghantarkan semua maujud kepada kesempurnaan.

Sangatlah sulit bagi kita untuk menolak keharusan adanya kegaiban itu sendiri, oleh karena hal itu sama saja dengan kita tidak menolak adanya gerak dan perubahan. Padahal kita mengetahui bahwa gerak dan perubahan itu sendiri memiliki tujuan yang sempurna. Dan untuk mencapainya, usaha dan ikhtiar harus dikerahkan saat ini juga, dan tidak boleh ada penundaan sama sekali, meski hanya sebentar saja. Waktu tetap berjalan. Segala sesuatu senantiasa berubah, realitas tidak pernah diam, meskipun manusia enggan bersegerah baik karena manusia itu lalai dan lupa, atau karena ia sengaja tidak mau bergegas berpacu dengan waktu. Jika demikian, maka mana mungkin kesempurnaan sebagai tujuan gerak itu dapat dicapai? Lupa dan lalai sama saja dengan membunuh waktu, atau hendak menghentikan aliran perubahan. Tetapi itu mustahil, sebab gerak dan perubahan tidak pernah sedikitpun berhenti. Dan selama gerak itu masih tetap ada, maka keharusan untuk mengalami transendensi pada momen kedisinian tentu tidak bisa ditolak, sebab sebagaimana yang sudah dikatakan, bahwa masa kesempurnaan yang menjadi tujuan gerak itu hanya bisa dicapai melalui titik halus kedisinian. Sedangkan kedisinian itu sendiri merupakan eksistensi abstrak yang hanya bisa dicapai tatkala seseorang mengalami satu keterserapan kedalam wujud Sempurna.

Hanya manusia yang telah mengalami keterserapan pada kedisinian yang mesti dijadikan sebagai poros gerak dan perubahan. Ia adalah tumpuan perubahan dan gerak itu sendiri. Dialah yang menjadi syarat bagi lahirnya masa depan yang sempurna. Tak akan ada cerita masa depan yang sempurna, jika manusia tidak memahami eksistensi waktu, perubahan, dan kesatuan gerak itu sendiri dengan keberadaan manusia Sempurna ini. Sebab itu sama saja dengan mengatakan bahwa perubahan dan gerak hanya sekadar fenomena material murni. Mengkingkari eksistensinya sama saja dengan upaya menahan laju gerak. Tetapi yang demikian ini adalah sebuah kemustahilan. Yang karenanya, baik sadar maupun tidak sadar, baik diterima maupun diingkari, seluruh gerak realitas ini senantiasa bertumpuh padanya, sebab dialah poros dan bahkan gerak serta perubahan itu sendiri.

Jakarta, 17 Juni 2010

Minggu, 27 Juni 2010

Catatan Singkat Tentang Sejarah Islam

Setelah mengikuti kajian tentang filsafat sejarah, tiba-tiba pikiranku mengarah pada sejarah islam. kok bisa ya, umat yang punya kitab yang sangat sempurna ini justru menjadi umat yang paling terbelakang. kurang lebih seribu tujuh ratus tahun Qur'an melintasi sejarah kehidupan manusia. namun waktu yang begitu panjang tersebut tidak cukup bisa membuat umat islam menjadi garda terdepan bagi kemajuan hidup umat manusia. bahkan kini dan sebelumnya kita hanya menjadi bulan-bulanan dan obyek eksploitasi orang eropa.
Tak butuh waktu lama.cukup sedetik saja, sahabat-sahabat Nabi yang dalam bayangan kita mestilah orang-orang yang punya iman dan ketaatan pada kebenaran itu malah terpecah menjadi beberapa kelompok, dan kemudian melahirkan konfrontasi serta pertentangan, bahkan perang yang tak kalah sengitnya dengan perang-perang semasa nabi masih hidup. Umat yang begitu dekat jaraknya dengan kehidupan Nabi justru menjadi pihak yang tega menebas kepala Cucunda Nabi tercinta, "imam Husein". sedangkan Iman Hasan diracun oleh Istrinya. yang jelas, ia diracun bukan karena ada persoalan rumah tangga. demikian juga dengan keturunan iman husein.
Kita pun mengenal aliran teologi yang mengatakan bahwa Tuhan harus tetap dikatakan adil, meskipun ia memasukkan orang baik yang ikhlas dan jujur lahir-batin dedalam neraka.Wah...bagaimana bisa?kezhaliman dibalik menjadi keadilan? namun konseps yang anehi ini menjadi pandangan dan keyakinan teologis mayoritas umat islam. Sementara yang mengatakan bahwa Keadilan Tuhan adalah sama dengan keterbukaan tanpa batas dari diri-Nya untuk memberi karunia kepada yang berhak, justru menjadi golongan yang tidak populer...
Aku mulai mengerti kenapa Hasan Hanafi menulis buku yang begitu tebal (Kiri Islam) dan menyajikan pembahasan yang banyak sekali atas kenyataan-kenyataan dalam sejarah umat islam itu...tampaknya sejarah kita adalah sejarah kekuasaan. dan segala gagasan-gagasan tak masuk akal sebagaimana yang ku sebutkan diatas itu tidak mungkin dilahirkan oleh orang awam. konsep-konsep teologis yang rancu ini pastilah diproduk oleh orang-orang yang punya kekuatan dan kekuasaan, sebab hanya dengan itu, pandangan-pandangannya akan berpengaruh secara luas. Perpecahan yang terjadi sesaat saja setelah Nabi wafat juga tidak mungkin muncul dari sekadar perbedaan pendapat yang wajar. sebab beda pendapat pada mereka yang hidup dan mendengar kebenaran langsung dari Nabi Muhammad tak mungkin melahirkan konfilk dan perpecahan yang begitu besar dan berkepanjangan. mana mungkin orang-orang beriaman itu saling bermusuhan? bukankah orang beriman itu hanya keras kepada para pengingkar dan sangat mencinati sesama mukmin? ataukah kita akan berkata bahwa Firman ini keliru?
Kemudian ada yang mengatakan bahwa tidak perlulah kita menengok kembali sejarah yang kelam itu, sebab masa depan jauh lebih penting untuk dipikirkan. Apakah orang-orang ini tidak menyadari bahwa antara masa lalu dan hari ini dan juga tentang bagaimana esok hari itu saling berkaitan? mana mungkin kita bisa berharap tentang masa depan yang membahagiakan, ketika fondasi masa kini dan masa depan, yakni masa lalu itu tidak dipahami oleh kita sama sekali. Apakah mereka tidak memahami, bahwa antara awal dan akhir itu tidak terpisah. Ataukah mereka yang tak mau bicara pita hitam masa lalu itu punya kepentingan dengan kekuasaan, sehingga ia takut jika kepentingannya itu akan hancur kala hitam masa lalu diungkap?
Sejarah tak bisa ditutup-tutupi. Kelemahan tak bisa dipupuk. Kelut masa lalu tidak bisa dipoles dengan retorika kosong tanpa pijakan... Masa lalu harus dihadapkan pada mahkama analisa dan kejujuran, agar kita tahu bagaimana dasar hari ini itu dibangun, dan islam seperti apa dan orang beriman kayak apa yang pantas memangkul amanah sebagai pemimpin khafilah sejarah manusia dan kemanusiaan...

Rabu, 02 Juni 2010

Tulus Saja...Benar...Engkaulah Aku...

Gunung, matahari, aku sendiri, dan semunya...Ketika aku lihat...Seketika aku mengatakan bahwa semuanyapasti ada sebab...ADa yang bikin itu semuan...Tapi..Aku tidak melihat Sang Pembuat secara langsung...AKu tidak menyaksikannya...Kalau begitu, apakah aku harus mencarinya? Tidak...Kagum tidak tidak berarti yang dikagumi mesti ku temui...Tetapi aku tetap saja tidak bisa lari dari pertanyaan tentang siapa dia? Kenapa aku bertanya? Mengapa aku harus mengetahuinya?

Tetapi apakah aku bisa menemuinya, jika aku tidak mengenal dia jauh sebelumnya? Bagaimana aku akan mencarinya, bila aku tidak mengenalnya? Tentu tidak bisa...Dan memang mustahil mencari apa dan siapapun yang tidak kita ketahui dirinya...Sebelumnya....Itu bukan perncarian..itu undian..semuanya serba tidak pasti...Bagimana kalau yang bukan dia mengaku-aku bahwa dia adalah yg kucari? Dari dan bagaimana aku akan memastikannya? Tidak bisa...Aku serba tidak pasti jika begitu...

Tetapi seperti apakah dia? bagaimana aku bisa lupa? apa yang bikin aku luput dari senantiasa bersamanya? Dan hendak ku cari dia dimana?

Tetap saja aku tidak mengenal dia secara persis..Sebagaimana pada jumpa pertama dalam keabadian..Persaksian tiada tiada waktu, tak dalam ruang...APa yang bisa aku lakukan wahai kejelasan samar-samar? Apakah aku harus menciptakan seribu gambaran, berjuta bayangan, tak terkira ilusi...Pada manusia adalah Engkau..Pada Alam pusat segala...Pada Tuhan para teolog pun agamawan, yang aku sendiri meragunaka..Sansi, apakah menreka bicara benar?

Sedikita saja modalku...Tulus mencari...Akal rafakkur kubentangkan sayapnya...Semoga Kau tampakkan dirimu...Supaya aku tidak mengaku-aku itu kamu..Bikin aku ingat...Dekatkanlah dirimu padaku...Ceritakan bagaimana kita dulu..tentang perkenalan pertama kita...Bikin aku mengingatnya...Hingga nyatalah "Alastu birabbikum?... "Qalu bala syahidna"....Apakah aku Tuhanmu? Banar...Sesungguhnya Engkau Tuhan-ku...Dan terangkan kepadaku...Alam jauh sebelum mitzal dan rahim? Sebeb Qalu bala syahidna itu, karena aku telah mengenalmu jauh sebelumnya....???

Selasa, 01 Juni 2010

Di"sini"..Fana'a..Teramat Bersih

Nietzche bicara tentang pengulangan kembali..Apa itu pengulangan kembali?
Baginya, keabadian ada pada gerak...Artinya, gerak tidak punya sebuah titik akhir. Bila begitu, maka bisa dikatakan bahwa gerak itu tidak terbatas...Sedangkan ketidak-terbatasan adalah ketiadaan awal pun akhir pada sesuatu yang bergerak...Tetapi bagaimana ini bisa dipahami? Bila saja gerak itu tidak punya titik berangkat, maka gerak dengan sendirinya tidak mungkin ada...Awal bagi sebuah langkah adalah sesuatu yang membuat langkah itu sendiri menjadi berarti...Jika tidak demikian, maka gerak sama saja dengan diam itu sendiri....Tetapi faktanya, bahwa ada perubahan yang terjadi dalam aliran-aliran waktu tanpa pernah sedikitpun berhenti...Dan masalahnya semakin rumit, kita berada pada dua keadaan yang terjadi dalam saat yang sama...Pertama adalah ketakterbatasan gerak, yang berarti ketetapan atau situasi diam itu sendiri, dan kedua, adalah fakta tentang tidak ada sesuatu apapun yang pernah berhenti menjadi sebuah identitas paten pada satu waktu tertentu...Singkatnya, gerak dan diam itu ada pada saat yang sama, dan menyatu sedemikian rupa...Ketakterbatasan gerak, dan batasan-batasan perubahan..Bisa juga diindahkan bahasanya menjadi demikian...

Segala yang bergerak itu terbatas dalam aliran pergerakan yang tidak terbatas...Sama saja dengan dalam dirinya, yang bergerak itu tidak terbatas...Bagaimana ini? Ketidakterbatasan berarti kesempurnaan, oleh karena itu konsep tentang keserbamencakupan...Bukan lagi sempurna, bila saja kesempurnaan itu bersifat potensial semata...Karenanya, aktualitas adalah sesuatu yang sama dengan kesempurnaan itu sendiri...Demikian sehingga kesempurnaan murni yang aktual itu tidak akan pernah berhenti berada dalam tindakan terus-menerus...Jika tidak demikian, maka kesempurnaan yang aktual itu menjadi tertolak..Yang berarti bukan lagi sebagai kesempurnaan... Bila begitu, maka tidak mungkin ada apapun yang maujud, termasuk gerak itu sendiri...Tetapi ini pengandaian saja, sebab nyata bahwa gerak itu ada...Karenanya kesempurnaan aktual juga ada, dan bahkan bisa dibilang sama dengan gerak itu sendiri...Tetapi apa yang baru dalam tindakan mencipta itu?

Nieztche punya satu renungan yang menarik...Ia berkata bahwa semua kejadian hanyalah sebentuk pengulangan kembali...Kenapa begitu? Karena gerak yang tidak terbatas itu sama saja dengan diam, oleh karena seperti kataku tadi, ia pasti tidak punya awal-akhir...Abadi...Sedangkan apa yang disebut dengan gerak hanyalah pengulangan kembali...Semacam gerak dalam lingkaran...titik berangkat adalah tujuan itu sendiri....Dalam lain perpektif, pengulangan kembali itu menunjukan bahwa yang tidak terbatas itu adalah eksistensi yang tetap dan sempurna...

Apa yang bisa kita manfaatkan dari renungan kecil di atas?
Bahwa kita tidak punya pilihan lain kecuali menjadi abadi...Dengan merenungkan kenyataan penciptaan setiap saat, setiap detik, setiap dibawahnya detik...Dan yang lebih halus lagi dari rambut yang dibelah...Ketidak-terbatasan...Adalah titik pertemuan antara kemarin dan saat ini...Syirat..Tunjukanlah kami Jalan yang Lurus...Jalan kesucian, bahkan suci sesuci-sucinya..Jalan yang lurus..Jalan kesempurnaan yang tidak bisa dibayangkan, sebab ia tidak terbatas...

Demi Waktu...Apakah mata ini buta sehingga ia tidak melihat suci dan fana'a yang begitu nampak pada kedisianian...Lebih pendek dari detik...Lebih halus dari mata pisau....