Senin, 28 Juni 2010

METAFISIKA GERAK DAN EKSISTENSI ORANG SUCI

Tidak ada sesuatu apapun di alam ini yang diam dan vakum. Semunya senantiasa berada dalam perubahan terus-menerus tanpa pernah sedetikpun berhenti. Sedangkan perubahan itu sendiri tidak mungkin terjadi, jika tidak ada sebab yang mendasarainya. Setiap gerak dan perubahan selalu merupakan akibat dari satu kehendak untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan itu sendiri selanjutnya mestilah merupakan sebuah titik yang padanya kesempurnaan dalam arti paling hakiki dapat diperoleh oleh kafilah perubahan itu sendiri. Sedangkan kesempurnaan merupakaan kemandirian Mutlak dari dari sesuatu terhadap dirinya sendiri, yang karenanya, ia tidak lagi membutuhkan apa-apa sama sekali. Sebab merupakan sebuah kontradiksi, jika sesuatu itu sempurna secara hakiki, namun pada saat yang sama ia sendiri masih memiliki ketergantungan kepada sesuatu yang sesuatu itu akan memberinya kesempurnaan.

Adalah mustahil, yang bergerak itu bisa mencapai kesempurnaan, jika dirinya sendiri tidak mempunyai potensi untuk menjadi sempurna. Sebab sebagaimana yang dikatakan di atas, bahwa kesempurnaan adalah keadaan dimana sesuatu tidak pernah membutuhkan sesuatu yang lain sama sekali. Ia sempurna dengan dirinya sendiri. Dan jika segala sesuatu ini bergerak untuk mencapai kesempurnaan, maka sudah barang tentu kesempurnaan tersebut menyatu sedemikian rupa dengan yang bergerak tersebut. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa potensi menyempurna yang intrinsik dalam diri yang bergerak itu adalah sama dengan tujuan itu sendiri. Atas dasar inilah, sehingga kita bisa mengatakan bahwa gerak itu tidah hanya terjadi pada kulit luar saja, sebab jika demikian, maka gerak tidak akan mempunyai arti sama sekali, oleh karena substansi itu sendiri tidak bergerak.dan jika substansi dari pada benda yang bergerak itu tidak mengalami perubahan (sebagai sebuah gerak menyempurna), maka kesempurnaan sebagai tujuan dari perubahan itu sendiri menjadi tidak dapat dicapai sama sekali. Mana mungkin sesuatu akan bergerak ke arah kesempurnaan, jika ia sendirinya tidak punya potensi untuk mencapai “sempurna”?. Singkatanya,Yang mendorong dan yang menyerap, yang menggerakkan dan yang digerak, serta tujuan pergerakan itu adalah satu dan sama.

Dari penjelasan diatas, kita menemukan satu kata kunci yang menjadi poros dari pada tema gerak dan perubahan, yaitu “Kesempurnaan” itu sendiri.

Di satu sisi, gagasan tentang kesempurnaan memiliki arti bahwa ia adalah satu Eksistensi Mutlak yang yang tidak membutuhkan apa-apa sama sekali. Yang karenanya, Eksistensi yang sempurna ini tidak akan mengalami dan atau dikenai perubahan, mekipun hanya sedetik saja. Sedangkan akal kita akan mengatakan bahwa yang Sempurna secara Mutlak mustahil mempunyai padanan atau sekutu. Artinya, gagasan kita tentang kesempurnaan mengharuskan kita untuk juga menerima bahwa tidak ada sesuatu apapun yang lain selain yang Sempurna itu sendiri. Jika kita asumsikan bahwa ada wujud lain yang eksistensinya bersifat mandiri dan tidak dicakup oleh Wujud yang Sempurna itu, maka Ide kita tentang kesempurnaan menjadi kehilangan artinya sama sekali. Akan tetapi pengandaian ini mengandung kontradiksi, sebab yang mula-mula kita konsepsikan adalah Wujud Maha Sempurna.Karena itu, mustahil bahwa yang sempurna ini lebih dari pada satu Wujud yang Tunggal. Kesempurnaan karena ia tunggal, maka sudah pasti ia sederhana dan karenanya mencakup segala sesuatu. Atau dengan bahasa yang lebih radikal, kita bisa mengatakan bahwa Yang Sempurnalah yang merupakan satu-satunya realitas. Tidak ada sesuatu apapun yang lain selain diri-Nya.

Tetapi pada sisi yang lain, kita menemukan fakta perubahan.dan kenyataan tentang adanya perubahan ini sangat sulit sekali ditolak. Lantas bagaimana karakteristik hubungan antara wujud Maha Sempurna yang tetap itu dengan realitas yang kita saksikan dan yang kita rasakan berubah-ubah atau bergerak ini? Bagaimana kesempurnaan yang Tunggal dan yang tidak mengalami dan dikanai perubahan itu mengakibatkan perubahan dan pergantian bentuk dalam setiap saat? Jika yang Sempurna itu adalah satu-satunya eksistensi yang hakiki, maka mengapa ada realitas yang berubah terus-menerus? Bukankah jika Dia adalah satu-satunya Realitas, maka selainnya pastilah tidak ada? Bukankah perubahan itu menjunjukan bahwa ada realitas lain selain yang Sempurna itu sendiri?

Secara sederhana kita akan mengatakan bahwa hubungan antara wujud yang tetap dan maujud yang berubah adalah hubungan yang berwatak eksistensial. Artinya, keduanya bukanlah dua hal yang masing-masing mandiri dengan dirinya sendiri, dan menjadi berhubungan melalui sebuah eksistensi penghubung tertentu. Karena sekali lagi, hal ini berarti menghilangkan pengertian dari pada kesempurnaan itu sendiri. Hubungan yang eksistensil lebih tetap diartikan sebagai hubungan antara sesuatu dengan dirinya sendiri. Bahkan bisa dikatakan sebagai “hubungan itu sendiri”. Tetapi jika masih ada fakta perubahan dan gerak, maka pengertian “hubungan itu sendiri” masih tetap problematis. Karena itu, mendedah persoalan seputar “bagaimana gerak dan perubahan itu muncul dari yang Maha Sempurna” bisa menjadi pintu masuk untuk kemudian melihat relasi antara yang tetap dan yang berubahah. Antara Wujud Niscaya dan Maujud Mungkin (bergantung).


Wujud Mutlak dan Keniscayaan Gerak.

Kesempurnaan dari pada Eksistensi Niscaya tentunya tidak mungkin potensial. Kesempurnaan-Nya pastilah bersifat aktual. Kesempurnaan potensial hanya berlaku pada wujud yang bergantung dan yang mangalami perubahan serta gerak. Sebab kesempurnaan potensial inilah yang kemudian membuat wujud mungkin itu mengalami perubahan. Jika tidak demikian, maka keberadaannya sebagai wujud mungkin akan berubah seketika menjadi wujud Niscaya. Pertanyaan selanjutnya adalah “apa implikasi dari kenyataan tentang Kesempurnaan Aktual itu’?

Sebelumnya, pengertian yang kita tarik dari kenyataan kesempurnan itu adalah bahwa Ia mestilah sebagai satu wujud yang tetap. Dan kita biasa mengartikan ketetapan itu sebagai satu situasi passif dan diam dari melakukan tindakan apa-apa. Padahal, pengertaian seperti ini hanya bisa diterapkan pada satu eksistensi yang terpisah sama sekali dengan segala sesuatu. Atau juga, pengertian ini lebih cocok jika kita menerima kehakikian esensi dari pada wujud. Akan tetapi menetapkan esensi sebagai realitas yang hakiki (obyektif) sama saja dengan membangun sebuah pengertian kontradiktif pada kesempurnaan itu sendiri. Jika esensi itu yang hakiki, maka kita mesti mengatakan bahwa segala yang berbeda-beda ini tidak bisa saling berhubungan. Dan itu berarti kita melepaskan hubungan antara wujud Niscaya dengan maujud yang bergerak dan berubah itu sendiri. Jelas sekali, bahwa yang demikian ini adalah memasukkan kelemahan kedalam wujud Niscaya yang Sempurna tersebut. Yang itu berarti sama saja dengan mengatakan bahwa yang sempurna itu cacat. Karena itu, yang benar adalah bukan esensi yang hakiki dan obyektif, melainkan wujud itu sendiri.

Kesempurnaan hakiki (wujud) yang aktual tersebut dengan demikian tidak akan mungkin sama sekali berada dalam keadaan vakum, pasif, dan diam, melainkan terus-menerus melakukan tindakan penciptaan. Adapun apa yang kita sebut dengan tindakan penciptaan itu sendiri oleh karena kita telah membuktikan bahwa wujudlah yang merupakan satu-satunya realitas yang hakiki, maka ia pastilah sebentuk aktifitas penampakan diri, dan bukan melimpahkan atau memberi sesuatu kepada sesuatu yang sudah ada. Penampakan diri itu sendiri adalah hal yang mutlak terjadi sebagai akibat darikesempurnaan Wujud. Jika penampakan diri ini diasumsikan sebagai kemungkinan yang bergantung pada kehendak, maka kita harus menyimpulkan bahwa wujud itu tidak lagi sempurna secara aktual. Artinya esensi wujud yang hakiki adalah satu dan sama dengan tindakan-Nya untuk menampakkan diri. Dan bukan dua hal yang terpisah sama sekali.

Penampakan diri yang dilakukan oleh Wujud Maha Sempurna selanjutnya merentang menjadi sejumlah bentuk yang beragam. Keragaman itu sendiri adalah keharusan dari pada aliran penciptaan yang terjadi secara terus-menerus sebagai akibat dari kesempurnaan Wujud yang aktual tersebut. Kenapa demikian? Hal ini karena penampakan diri yang mengalir secara konstan itu mengharuskan setiap saat lahir bentuk-bentuk eksistensi yang baru. Jika tidak demikian, maka penampakan diri melalui aliran waktu dan perubahan itu sendiri akan sama dengan situasi atau keadaan diam, pasif, dan vakum dari pada wujud Sempurna tersebut. Jelas yang demikian ini adalah sebuah kebatilan. Karena itu sama saja dengan menempelkan kelemahan pada yang Sempurna. Atau sama juga dengan mengatakan bahwa yang sempurna itu cacat. Jelaslah bahwa yang demikian ini tidak bisa diterima oleh pikiran yang waras.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat kita katakan tanpa sedikitpun keraguan bahwa tidak terdapat satu kontradiksi dan pertentangan antara gagasan kita tentang kesempurnaan yang tetap, dan perubahan serta gerak itu sendiri. Justru, keduanya merupakan satu kesatuan eksistensial yang tidak bisa dipisah-pisahkan sama sekali. Singkatnya, gerak dan perubahan adalah keharusan dari pada Eksistensi Maha Kesempurnaan itu sendiri, dan bukan sekadar karena ada tujuan yang hendak dicapai melalui gerak dan perubahan tersebut.

Kemaksuman Pada Kedisinian

Gerak sebagai suatu kemestian sebagaimana dijelaskan di atas, pada dasarnya menginformasikan kepada kita tentang keharusan adanya kesucian pada setiap aliran waktu. Hal ini bisa kita lihat dari kenyataan bahwa perubahan itu melewati titik-titik waktu yang tidak terhingga. Meskipun disaat yang sama, kita bisa membatasi lintasan gerak itu sendiri dalam kategori waktu berupa masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Masa kini atau bisa kita istilahkan dengan “kedisinian” adalah momen yang paling aktual. Sebab yang kita alami adalah kedisinian itu sendiri. Masa depan bagaimanapun juga, tidaklah aktual, melainkan hanya ada secara potensial dalam mental saja. Tidak ada sama sekali lompatan-lompatan waktu yang terjadi seketika untuk mencapai masa depan. Semuanya berada dalam gerak konstan yang mengalir tanpa sedikitpun pernah berhenti dalam titik-titik kedisinian yang lebih tipis dari pada rambut, dan lebih tajam dari mata pisau. Karena itulah, kedisinian itu tidak bisa diukur dengan durasi waktu sama sekali. Demikian, sehingga kedisinian itu merupakan suatu momen yang sangat abstrak,dan melampaui segala dimensi material. Bila kita mencoba untuk melihat dengan perhatian yang sangat tinggi atas rentangan waktu yang merentang dalam spasi-spasi atau jarak seperti seperti detik, menit, jam, dan seterusnya itu, kita akan melihat bahwa titik kekinian itu sendiri adalah satu titik yang teramat halus yang tidak bisa lagi dukurung oleh durasi perubahan sama sekali. Bahkan istilah kedisinian itu sendiri juga tidak terlalu tepat untuk menggambarkan eksistensinya. Seperti halnya setitik debu, bila diperhatikan dengan sedemikian rupa, maka yang akan ditemukan adalah bahwa masih ada lagi titik lebih halus dari pada debu yang teramat sangat kecil tersebut. Dan titik tersebut tidak akan lagi bisa disaksikan secara kasat mata, oleh karena ia teramat sangat halus. Tetapi ia tidak sama sekali terpisah dengan debu yang dapat dilihat oleh indra penglihatan itu sendiri. Demikianlah sifat dari pada apa yang kita istilahkan dengan kedisinian itu.

Bila diandaikan bahwa kedisinian itu bersifat material, maka ia tidak mungkin menjadi kekuatan yang dapat menciptakan masa depan yang sempurna. Bagimana mungkin yang material bisa menjadi sebab bagi sebuah tujuan yang sempurna? Padahal kita tahu bahwa masa depan itu tidak dicapai melalui lompatan-lompatan waktu yang terjadi seketika. Konsep mental yang disebut dengan masa depan itu sendiri hanya bisa dicapai perubahan yang terjadi secara bertahap melalui kedisinian yang abstrak tersebut. Selain itu, kedisinian sebagai momen paling aktual itulah, yang membuat gerak dan perubahan senantiasa terjadi. Jika tidak demikian, maka semestinya yang ada bukanlah perubahan, melainkan kevakuman dan situasi diam. Namun bagaimana mungkin asumsi ini bisa diterima, jika ternyata gerak dan perubahan itu benar-benar ada?

Dalam kaitannya dengan gerak dan perubahan yang terjadi pada diri manusia, kedisinian tersebut mewujud dalam bentuk kehendak dan ikhtiar manusia untuk mencapai masa depannya. Yang itu berarti bahwa manusia tidak akan mungkin dapat mendaki untuk sampai pada puncak kesempurnaan, bila kehendak dan ikhtiarnya tersebut tidak terbangun dari situasi eksistensial yang tidak pernah lalai dan lupa. Dengan lain perkataan, masa depan itu sendiri mustahil bisa diraih, jika diasumsikan bahwa manusia pasti pernah berada dalam kelalaian dan sifat lupa, sebagaimana yang biasa dikatakan oleh kebayakan orang. Jika tidak ada seorang manusia pun yang tidak pernah lalai dan lupa, maka eksistensi kedisinian yang abstrak dan terutama menjadi syarak bagi lahirnya masa depan itu sendiri menjadi kehilangan artinya. Jika demikian, maka semestinya perubahan dan gerak juga mesti hilang. Namun lagi-lagi hal ini adalah kekeliruan, oleh karena tidak kita dapati segala sesuatu itu pernah berhenti berubah dan bergerak. Karena itulah, maka eksistensi manusia yang tidak pernah lupa dan lalai haruslah menjadi keharusan dari pada gerak konstan dan kedisinian itu sendiri. Sesaat saja ia lalai dan lupa, maka segala yang bergerak ini akan kehilangan kesempatannya untuk mencapai tujuan yang sempurna.

Eksistensi manusia sempurna adalah bagian intrinsik dari gerak itu sendiri. Keyakinan atasnya dengan demikian, bukan karena didasarkan pada doktrin keagamaan semata (islam). Keberadaan manusia sempurna adalah keharusan dari pada Eksistensi wujud Sempurna. Bahkan ia adalah eksistensi waktu yang memberi makna pada perubahan dan gerak. Bahkan juga bisa dibilang bahwa dia adalah waktu itu sendiri. Manusia sempurna adalah elan vital yang menggerakkan segala sesuatu. Ia adalah nafas yang mengalir dalam setiap detik. Mengikuti jejak-jejak langkahnya merupakan pilihan untuk menyempurnakan diri. Jejak-jejaknya adalah shirat yang oleh Al-Qur’an dikatakan sebagai lebih tipis dari pada urat rambut sebagaimana kedisinian yang halus itu.

Karenanya, tidak ada pilihan lain sama sekali bagi seluruh manusia, kecuali mengikuti jalan yang ditunjukan olehnya. Sebab jika tidak demikian, maka kita pasti luput dari kemungkinan untuk mencapai masa depan itu sendiri. Hal ini karena sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa masa depan hanya akan muncul dari kedisinian yang abstarak (suci) itu sendiri. Jika momen kedisinian yang demikian ini dikotori dengan kesalahan dan kelupaan, maka sudah barang tentu masa depan itu sendiri tidak akan tercipta. Tidak hanya masa depan eskatologis, melainkan masa depan sejarah umat manusipun akan kehilangan kemungkinannya untuk bisa mewujud.

Sampai disini kita telah memahami bahwa waktu dan eksistensi manusia suci adalah kemestian dari pada Wujud Maha Sempurna itu sendiri. Dan kitapun telah memahami bahwa masa depan hanya mungkin tercipta dari kedisinian yang abstrak dan suci itu. Karena itulah, untuk mencapai masa depan yang sempurna, harus ada manusia yang mengalami satu keterserapan dalam dalam kedisinian yang abstrak dan amat halus (sederhana) tersebut. Berkat keterserapannya kedalam kedisinian yang sederhana itulah, maka ia pasti akan menyadari dan mengetahui dengan benar seluruh rahasia dan hakikat yang terbentang pada horizon waktu. Oleh karena yang sederhana pastilah meliputi segala sesuatu. Keserbamencakupan Eksistensi sederhana pada segala sesuatu mengandung arti bahwa hakikat segala sesuatu itu sendiri adalah yang sederhana tersebut. Karena itu, kegaiban sebagai satu kenyataan yang dialami oleh manusia (Al-Mahdi) adalah sebuah rumusan kesempurnaan yang bersesuaian dengan karakteristik wujud dan perubahan itu sendiri. Atau dalam bahasa qalam, kegaiban adalah manifestasi dari pada keadilan Tuhan. Kegaiban ialah satu syarat untuk untuk menghantarkan semua maujud kepada kesempurnaan.

Sangatlah sulit bagi kita untuk menolak keharusan adanya kegaiban itu sendiri, oleh karena hal itu sama saja dengan kita tidak menolak adanya gerak dan perubahan. Padahal kita mengetahui bahwa gerak dan perubahan itu sendiri memiliki tujuan yang sempurna. Dan untuk mencapainya, usaha dan ikhtiar harus dikerahkan saat ini juga, dan tidak boleh ada penundaan sama sekali, meski hanya sebentar saja. Waktu tetap berjalan. Segala sesuatu senantiasa berubah, realitas tidak pernah diam, meskipun manusia enggan bersegerah baik karena manusia itu lalai dan lupa, atau karena ia sengaja tidak mau bergegas berpacu dengan waktu. Jika demikian, maka mana mungkin kesempurnaan sebagai tujuan gerak itu dapat dicapai? Lupa dan lalai sama saja dengan membunuh waktu, atau hendak menghentikan aliran perubahan. Tetapi itu mustahil, sebab gerak dan perubahan tidak pernah sedikitpun berhenti. Dan selama gerak itu masih tetap ada, maka keharusan untuk mengalami transendensi pada momen kedisinian tentu tidak bisa ditolak, sebab sebagaimana yang sudah dikatakan, bahwa masa kesempurnaan yang menjadi tujuan gerak itu hanya bisa dicapai melalui titik halus kedisinian. Sedangkan kedisinian itu sendiri merupakan eksistensi abstrak yang hanya bisa dicapai tatkala seseorang mengalami satu keterserapan kedalam wujud Sempurna.

Hanya manusia yang telah mengalami keterserapan pada kedisinian yang mesti dijadikan sebagai poros gerak dan perubahan. Ia adalah tumpuan perubahan dan gerak itu sendiri. Dialah yang menjadi syarat bagi lahirnya masa depan yang sempurna. Tak akan ada cerita masa depan yang sempurna, jika manusia tidak memahami eksistensi waktu, perubahan, dan kesatuan gerak itu sendiri dengan keberadaan manusia Sempurna ini. Sebab itu sama saja dengan mengatakan bahwa perubahan dan gerak hanya sekadar fenomena material murni. Mengkingkari eksistensinya sama saja dengan upaya menahan laju gerak. Tetapi yang demikian ini adalah sebuah kemustahilan. Yang karenanya, baik sadar maupun tidak sadar, baik diterima maupun diingkari, seluruh gerak realitas ini senantiasa bertumpuh padanya, sebab dialah poros dan bahkan gerak serta perubahan itu sendiri.

Jakarta, 17 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar