Rabu, 30 Juni 2010

Dari-Mu...Bukan Dari Hasrat-ku

Hidup berarti..Setelah itu mati...
Memang hidup harus berarti. Tapi ada baiknya juga kita mencoba masuk lebih jauh lagi kedalam pengertian "hidup yang berarti itu sendiri".

Apa yang kita masud dengan hidup?
Nyawa belum berpisah dari badan, itulah hidup. Semenjak akal mulai berfungsi. itu awal dari pada dipikulnya tanggung-jawab untuk hidup. naik turun nafas bikin kita hidup...Maka kehidupan itu mengalir bersama bergantian detik per detik, bahkan lebih halus dari pada itu. Jika hidup itu sama dengan harus berarti, maka setiap nafas yang berhembus semestinya tidak boleh sia-sia...Jika sedetik saja lalai dan lupa itu hadir, maka hidup menjadi berhenti...Kenapa begitu? sebab kita sudah betul-betul tahu bahwa hidup itu mestilah berarti...Jika tidak demikian, maka hidup menjadi kehilangan artinya lagi....

Selanjutnya adalah, hidup adalah gerak terus-menerus yang tidak bernah sedetikpun berhenti..Keadaannya tak beda jauh dengan yang telah ku katakan di atas..Yakni, menit berikutnya harus lebih tinggi kualitasnya dari yang sebelumnya.Kecuali jika waktu itu pernah berhenti atau gerak itu menjadi diam dan vakum, baru kita bisa menyimpulkan bahwa "tak masalah bila tadi dan saat ini, dan juga kemudian nanti itu tetap sama, tidak ada bedanya". Singat saja. Tak boleh ada kata stagnan dan diam bagi kita untuk bergerak menapaki titik dakian yang lebih tinggi dari sebelumnya dan saat ini.

Bila begitu keadaannya, maka mati pastilah menjadi momen eksistensil untuk mencapai kesempurnaan yang lebih, dan bukan sekadar satu pengalaman yang di nanti setelah kita telah maksimal berbuat baik dikehidupan ini...Dengan lain perkataan, mati itu satu garis dan satu hakikat dengan hidup itu sendiri...Bila tidak begitu, maka kalimat "sekali hidup berarti, setelah itu mati" harus ditolak...

Sebenarnya masalahnya cukup sederana...Yaitu kita mesti memahami gerak dan mengetahui arti kesempurnaan...

Tuhan Sempurna secara Aktual...Maka Nafas Rahman Rahimnya tidak akan pernah sirna..Nafasnya ada pada gerak, nyata dalam apa yang kita sebut kehidupan itu sendiri...Maka bagaimana mungkin hidup bisa berarti, jika proses memberi arti pada kehidupan kita itu tidak terkait dengan Tuhan??? Oleh karenanya, kita mutlak membutuhkan-Nya, pula mengenal-Nya.

Tafakkur yang mendalam
Keyakinan menyimpan tulus dan jujur...Engkau Awal dan aku Merindukan-Mu
Beri aku jalan...Syirat yang datang dari-Mu, dan tidak dari "hasratku" untuk menguasai kebenaran....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar