Selasa, 28 Desember 2010

MUSIK JAZZ TAKLUK PADA PEREMPUAN

Engkau belajar dari buku dan ceramah..Aku mengembara bersama pengarang untuk memeriksa keadaanku sendiri...Kemudian hidup adalah teka-teki yang menawarkan keselasan paling tampak..Zig-zag dalam ketetapan pada setiap tingkatan..Seperti vertikal pula alif yang kokoh..Seperti geometri..Dan bilangan itu banyak, tak tentu arah..Sepertinya, aku sedang memecahkan misteri..Dan aku mulai sadar, bahwa aku menari dalam irama musik jazz yang meloncat tak tentu arah, improvisasi tanpa kaidah, kadang mendatar bikin jenuh, sesekali melibatkan emosi dalam nada tinggi penuh pemberontakan..Ya..Bagimu, musik jazz itu tidak tertata dalam kaidah..Namun sejatinya engkau keliru..Hanya matematika dan imajinasi kreatif yang mampu menembus kekacauan, gerak tanpa sistematika, dan semua yang tak beraturan itu..Kemudian ia menemukan garis lurus tanpa pernah melirik ke kiri atau kanan..Saat alif itu menjadi melintang, engkau akan pusing tujuh keliling karena mesti menjawab kepastian dalam teka-teki ruang dan waktu yang relatif dan tak sama itu...

Apa itu buku?
Aku melihat tulisan sebagai simbol tak beraturan..Aku melihat aturan dalam kekacauan..Engkau barangkali terlalu kaku menempatkan dirimu..Engkau tidak punya daya pikir yang menembus tembok dan selaput..Sebab engkau pikir hidup itu metode baku..Cukup ditiru, maka jadilah..Seluas kebingungan, itulah aku menapaki perjalanan..Ke barat tak cukup, aku ke timur. Sekadar melompat untuk mempercepat pencaian..Setelah aku di ambang pintu, aku terusir tanpa diusir, dan akupun melirik tempat yang lain..Ku langkahkan kaki dalam satu alasan sederhana.."Kemudian saudara perempuanku berkata "bapak menyuruhku menahan kepergianmu"..Ini aku dengar setelah aku didah tiba di tempat yang tidak dikehendaki oleh kabar samar-samar itu..Saat aku tiba, ada kabar lain yang bercerita tentang penyambutan penuh gairah dari yang melarangku itu.."Apa arti semua ini"? Bagaimana imajinasi matematisku akan bekerja mengisi tanda demi tanda yang tidak beraturan itu...?

Hidupku adalah perjalanan penuh improvisasi..Kecemerlangan muncul dalam paruh gerak yang sedang aku lakoni..Kemudian aku balik arah.aku banting setir sama sekali..Dan saat ini dan disini, aku punya keyakinan, bahwa geometri dan bilangan, bentuk dan materi, vertikal dan horizontal, langit dan bumi, laki-laki dan perempuan, dan dua bentangan sayap itu bersatu pada kerangka yang tetap dan pasti, dan sekaligus ia begitu kreatif..Pada akal, ia adalah transendensi.Pada imajinasi ia adalah tarian dan syair harapan dan kecemasan..Pada indra ia adalah keadilan yang dibuktikan dengan tindakan dan keteladanan..Akal pada tubuh, akal pada imajinasi, akal pada akal..Di atasnya adalah kesederhanaan dan absoluditas penuh kegaiban..Dan kutemukan itu pada dirinya..Pada dirinya..Pada pribadi yang menyerap segalanya pada poros dan inti tanpa kehilangan akal sehat untuk membunuh semua kekhasan dan bakat, dalam satu gerak lurus kedepan dengan begitu progresifnya, oleh karena ia memahami rahasia alam "antara" yang menentukan hubungan dua sayap..Fase "antara" dalam sejarah, fase "antara" dalam diri,.."antara" dalam abad, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik, sekond, bahkan lebih tipis dari mata silet,.Ke atas ia imajinasi non material yang menyerap cahaya dari sumbernya..Kebawah, ia imajinasi material yang mengambil peran bimbingan melalui tubuh yang berakal..

Antara nyata dan tersembunyi..Antara laki-laki dan perempuan, antara langit dan bumi.Antara masa lalu dan masa depan .Allah...Antara...Akbar...Tidakkah engkau melihat betapa kematian itu menjadi syarat kesempurnaan?..Dimanakah sosok penghubung itu dipanngung sejarah ini? Dimanakah sosok antara itu didalam shalatmu, dimanakah sosok antara itu dalam tarikan dan hembusan nafas? Tetapi jika imajinasimu terlalu sempit, maka engkau tidak akan menemukannya sama sekali..Meskipun seisi rumah dipenuhi buku, meskipun setiap saat engkau mendengar orang-orang bodoh itu berceloteh tentang kebenaran...Lepaskan saja burung imajinasi itu..Tetapi ia akan hinggap di pohon apa dan dahan sebelah mana? Tapi kata orang-orang bingung itu, tahan-dahan itu adalah cerita bohong, mitos, lelucon..Aku bilang, dialah subyek asli pencipta ekspresi dalam kebudayaanmu, kebudayaanku, dan segala macam kebudayaan di muka bumi ini...

Sampai aku begitu jauh terbang, dan menemukan, bahwa aku butuh jangkar, butuh tiang dan sandaran..Butuh pijakan..Butuh sumber harapan dan kasih sayang..Bila tidak, maka rusaklah kemuliaan itu dan kemudian berubah menjadi perempuan liar yang pasrah pada imajinasi yang menembus tebal ataupun tipisnya selaput...Aku telanjangi engkau dipikiran..Karena engkau tidak membalut diri dengan pakaian rahasia dan ketersembunyian..Sekalipun tampak engkau bercadar..Aku mau pemandu, bukan penghalang..Aku butuh sumber kejernihan yang senantiasa memberi harapan dan belaian tanpa batas..Bukan si bodoh yang kebablasan bicara kesetaraan, pula hak dan kewajiban..

Kamis, 16 Desember 2010

Bergerak dengan Tawassul..Itu Harus

Apa yang sedang kita rencanakan ini teralu besar kawan..Kita hendak bicara tentang sesuatu yang terlalu agung..Mengarahkan saudara, teman, dan semunya kepada tujuan yang tidak terbatas..Kepada kesempurnaan wujudiah..Kita memhami, bahwa pada mulanya, bengunan pemikiran yang kokoh harus berdiri tegak diatas radikalisasi pengetahuan, sebab hanya dengan itu, daya kehendak dan kebebasan akan bermuara pada sikap dan tindakan yang sadar dan bertanggung-jawab..Keseraian antara hikmah nazhari, san hikmah amali..Masya Allah..Ini terlalu tinggi..Tapi bagaimanapun juga, inilah satu-satunya cara dan tujuan paling utama..

Aku pikir, kita belum punya kekuasaan apa-apa untuk melakukan hal ini..Kita bicara kesempurnaan wujudiah..Dan pastinya engkau memahami betul, bahwa yang demikian ini hanya bisa dilakukan oleh manusia yang memiliki hak dan wewenang, oleh karena ia memahami dengan pengetahuan yang benar dan hakiki, tentang wujud itu sendiri..Aku bersyukur..Kita diberi jalan untuk mengenal kedudukan Rasul Muhammad dan Keluarganya..Kita juga punya selembar doa minta mimbingan, minta petunjung, minta wasilah..Aku menyimpannya..Aku punya selembar Tawassul..Kiranya, kita mesti memanggil dua belas nama suci yang berhak atas segala itu setiap hari..Tentu sua belas nama itu bukanlah tealitas asing yang tidak punya hubungan dengan diri kita..Mereka adalah kesejatian itu sendiri..Kutub dan puncak piramida keberadaan yang menguasai semua bentangan eksistensi.Titik puncak yang hendak membawa kita kepada kegaiban paling tersebunyi.

Ya Imamarrahmah..Ya sayyidana Wa Maulana..
Inna tawajjahna, was tasyfa'na watawassalnya bika Ilallah..
Dan bimbinglah kami berkata nama-nama indah itu, dan ucapan-ucapan ini...
Salli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad

Jumat, 10 Desember 2010

CATATAN TENTANG JIWA, KEHENDAK, DAN PENGETAHUAN

Tentang bagaimana gerak peengetahuan itu terjadi, adalah satu perkara yang cukup pelik..Dari indra, ke imajinasi, kemudian mencapai pengetahuan akal..Biasanya kita mengatakan demikianlah proses atau urutannya..Namun mengatakan demikian jelas tidak menjawab dahaga keingin-tahuan.Bagaimanapun juga, proses ini harus diterangkan sedemikian rupa, sehingga tidak ada celah sama sekali yang tersisa..Sekali lagi, hal ini memang amat berat.Namun itulah satu-satunya cara, agar keyakinan sebagai buah pengetahuan itu muncul..Demikian juga karena keyakinan itu berkaitan dengan kesadaran dan kehendak.Jika mengikuti sesuatu yang tak terurai, itu artinya mengekang kebebasan..Kita terpaksa tunduk, tanpa tahu mengapa harus demikian..Yang benar adalah, ketundukan itu hanya diperuntukkan bagi sesuatu yang terang-benderang.

Kembali kita pada pokok soal diatas.Bagaimana proses itu terjadi?
Kita mengindari sesuatu yang partikular.Kemudian kita mengadari bahwa dengan sedikit kehendak dan perhatian, apa-apa yang tersaksikan oleh indra tersebut bisa tampil dalam bentuk absrtak.Semacam cermin yang memantulkan gambar, demikianlah sifat imajinasi itu. Seterusnya, bentuk-bentuk imajinal tersebut bergerak pada tarap yang lebih tinggi, yaitu pada taraf akal, dimana pada taraf ini, akal tidak lagi menangkap bentuk imajinal yang partikular tadi, melainkan mengakap esensi universalnya..Kita lihat gunung, citra gunung itu hadir dalam imajinasi, dan kemudian, lahirlah konsep universal yakni ke-gunung-an, yang karena karakter universalitasnya itu, kita bisa menerapkannya pada sebuah bentuk dan obyek gunung partikular yang tak terhingga banyaknya itu. Ini terasa gampang. Kelurumitan itu muncul, tatkala kita masuk pada pertanyaan tentang, bagaimana peralihan dari masing-masing tingkatan pengetahuan itu terjadi?
Kenyataan sederhana berkata bahwa, obyek material yang kita indari itu, tidak bisa masuk dalam fakultar imajinasi kita..Gunung itu terlalu besar, sedangkan tempurung kepala kita amat sangat kecil, karenanya, jika ada kenyataan bahwa kita mampu menghadirkan cinta gunung tersebut, maka pastilah fakultas imajinasi itu bukan sebuah tempat yang berada dalam tempurung kepala, melainkan sesuatu instrumen pengetahuan yang melampaui dimesi material. Adapaun kehadiran citra imajinal itu sendiri merupakan efek dari apa yang disebut sebagai kreativitas jiwa..Bagaimana hal ini dijelaskan?
Jiwa tidak sebagaimana pendangan sebagian orang yang mengatakan bahwa ia adalah tempat pasif dimana segala bentuk-bentuk terindrai itu mewujud didalamnya. Ini jelas salah, sebab seperti yang telah kita ketahui, bahwa imajinasi itu bukanlah sebuah tempat yang menyimpan atau lebih tepatnya menampung bentuk-bentuk terindari tersebut. Imajinasi adalah fakultas yang sepenuhnya non-material..Yaitu satu tingkatan pengetahuan yang melampaui pengetahuan indra..Bukti ini jelas menjadi prinsip yang dengannya kita bisa menetapkan bahwa pengetahuan manusia itu tidak bekerja secera pasif, melainkan bergerak secara kreatif, sebagai akibat dari sifat jiwa yang non-material tersebut..Artinya, karena jiwa itu sederhana (tidak tersusun dari unsur-unsur pembentuk), maka ia dengan sendirinya mempunyai kemungkinan mengetahui secara tidak terbatas..Demikian sehingga karakteristik pengetahuan atau persepsi itu tidak bisa dibayangkan seperti akumulasi bentuk-bentuk obyek pengetahuan, melainkan sebagai gerak penyempurnaan dimana fase imajinasi misalnya, hanya semata-mata kelanjutan fase indra saja..Singkatanya, kita mesti memperhatikan betul-betul bahwa jiwa itu bukan tempat tinggal reseptif dan pasif yang berfungsi menampung obyek, melainkan ia adalah kekuatan penggerak yang bekerja secara kreatif, yang karenaya, jiwa itu sendiri harus dikatakan setara dengan obyek yang diketahui olehnya itu.Demikian inilah yang menjadi alasan bahwa pengetahuan itu adalah penyatuan eksistensial antara subyek dan obyek pengetahuan. Tegasnya, subyek itu sama dengan obyek itu sendiri..

Karenanya, pertanyaan tentang bagaimana prose pengetahuan itu terjadi, mendapatkan jawaban yang tegas dan jelas..Yaitu karena jiwa itu adalah realitas sederhana (non-material) yang mempunyai potensi mengetahui secara tidak terbatas, dan pada saat yang sama, ia menjadi kekuatan kreatif yang mengangkat satu bentuk pengetahuan sampai kepada taraf yang lebih tinggi..Tinggal saja, kamu dan aku menghendakinya atau tidak..Hehendak.Itulah pengertian jiwa

JAKARTA, 10 Desember 2010




Rata Penuh

Kamis, 09 Desember 2010

Agama sebagai Problem Pemikiran

Adalah salah, bila kita mengatakan bahwa agama adalah semata-mata persoalan keyakinan an-sich. Bila sekadar percaya dan yakin akan keberanaan Tuhan, praktis semua manusia memilikinya, baik itu berakar dari kedalaman hati nurani, maupun melalui sinaran pikiran tatkala manusia memandang keberadaan segala sesuatu ini. Bahkan sesorang yang memproklamirkan dirinya sebagai ateis sekalipun, tidak bisa secara mutlak mengelak dari rasa kebertuhanan tersebut..Karenanya, Tuhan sebagai sebentuk keyakinan haruslah dipandang sebagai perkara yang telah selesai..Dikatakan demikian oleh karena hal tersebut telah sedemikian jelasnya..Tak ada perbedaan apapun dalam hal keyakinan atas keberadaan Tuhan itu, baik terdengar secara jelas oleh telinga batin, maupun hanya samar-samar saja.

Persoalan menjadi rumit dan pelik, tatkala kita mulai masuk kedalam pertanyaan seperti “Siapa dan bagaimanakah Tuhan itu”, Bagaimana sesungguhnya hubungan Tuhan dengan manusia? Sejauh mana kekuasaan-Nya beroperasi, dst. Atas pertanyaan-pertanyaan ini, jelas bukan menjadi bagian dari pada intuisi. Perkara ini adalah obyek pengetahuan yang harus dihadapi oleh rasio itu sendiri. Mungkin karena itulah, sehingga Tuhan selalu mengajak manusia untuk memikirkan segala sesuatu , termasuk diri manusia sendiri.

Pertanyaannya adalah, kenapa keberfikiran itu sedemikian dianjurkan?

Pertama-tama adalah, kita mesti melihat dulu sifat dasar dari akal itu sendiri. Jelas bahwa akal itu bekerja untuk mengurai sebab-sebab. Dalam kaitannya dengan segala keragaman fenomena itu, kita pastilah mengenali sejumlah sebab-sebab yang berada dibalik kejaidian tersebut. Tetapi apakah setip fenomena itu masing-masing memili sebabnya sendiri-sendiri? Dari sudur pandang indra, kita akan mengatakan bahwa masing-masing fenomena memiliki sebabnya masing-masing, meskipun juga ada kesatuan sebab, dari beberapa fenomena berbeda. Bila sebab-akibat adalah hokum yang bergerak dalam ragam bentuk, maka setiap kasus haruslah diketahui sebabnya melaui instrument pengindraan, yang artinya juga, sesorang tidak akan bias mengatakan “setiap hal pasti mempunyai sebab”, sebelum ia mengungkpkan secara empiric sebab dari hal-hal tersebut..Akan tetapi, kita mengetaui bahwa kita tetap bias saja mengatakan bahwa “setiap sesuatu mempunyai sebab”, meskipun pengalaman empirical belum terjadi. Melihat benda bergerak, tanpa sebelumnya mengetahui bentu sebabnya yang empiris, kita telah mengetahui bahwa benda bergerak itu memiliki sebab (penggerak). Karena itulah, kita mesti menyimpulkan bahwa hokum sebab-akibat itu tidaklah lebih dari satu bentuk hubungan saja, dan bukan berada dalam keragaman. Dalam bahasa teknis filsafat, hokum sebab-akibat yang tungggal dan universal ini (dapat diterapkan pada segala sefonemana), adalah hokum umum. Sedangkan keragaman sebab itu adalah sebab-sebab spesifik saja. Sebab umum itu mempunyi nilai ontologism (relasi kebradaan) yang bersifat pasti, sedangkan sebab-sebab spesifik tersebut tidak mempunyi kekuatan menghasilkan efek, sepanjang ia tidak terkait dengan sebab umum tersebut. Dari penelusuran singkat ini, dapatlah disimpulkan bahwa kekuatan akal untuk berfikir atau menyelami hakikat sebab-sebab (relasi keberadaan itu) akan berujung pada satu sebab utama yang menjadi syarat mutlak dari keberadaan segala sesuatu, itulah Tuhan Maha Sempurna.

Mengetahui Tuhan sebagai sebab hakiki dari segala sesuatu itu pada akhirnya akan melahirkan sikap penyerahan diri yang total kepada-Nya (tawakkal). Tawakkal itu sendiri akan memunculkan sikap kebebasan yang luar biasa, oleh karena kita tidak mungkin tunduk kepada apapun, melainkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Sedangkan ketiadaan pemikiran yang melahirkan kepasrahan itu pasti memunculkan alienasi. Kita terasing dari diri sendiri oleh karena orientasi kita tidak tertuju kepada Realitas Tak Terbatas, melainkan kepada hal-hal yang terbatas, baik itu pengagungan berlebihan atas manusia dalam bentuk penegasan atas kebebasan tanpa hokum dan aturan, atau kepada benda-benda material yang sudah jelas memiliki kedudukan jauh dibawah diri kita sendiri. Penyerahan diri secara totalo kepada Tuhan, juga membuat kita dapat menempatkan alam semsta sebagai semata-mata sarana yang berguna dalam mewujudkan tujuan penghambaan tersebut. Sedangkan kebalikannya adalah sikap mensakralkan alam, atau jika tidak, adalah menempatkan alam sebagai obyek penguasaan manusia, baik sebagai individu, maupun masyarakat.

Selanjutnya adalah, bahwa manusia adalah mahluk bebas. Dan yang namanya kebebasan itu, ia sama sekali tidak bisa dibatasi oleh apapun. Pada sisi ketidakterbatasannya, kebebasan itu dengan demikian setara dengan Tuhan itu sendiri. Kebebasan itu tiada boleh dibatasi, sedangkan Tuhan adalah Realitas tidak terbatas. Tetapi tidak bisalah kita membayangkan adanya kebebasan yang bebas sama sekali dari konsekwensi, oleh karena kebebasan itu meniscayakan adanya pilihan. Lantas bagaimana agar apa yang dipilih itu tidak membatasi kebebasan yang esensinya tidak terbatas itu?jawabannya adalah, Satu-satunya yang mesti dipilih adalah Tuhan itu sendiri.

Selasa, 07 Desember 2010

Dia..Dan Kita Berdua

Sebelum engkau mendekat, aku sudah punya "untuk apa"
Setelah kau hadir, lihatlah untuk apa
jangan berceloteh tentang keadaanku

Sebelum kau melangkah ke sini
Aku sudah mengembara cukup lama
Sejak kecil, sudah kubilang debu itu tak habis dibagi
Farid bilang, semut dan gajah sama saja..
Sejak kecil, sudah ku bilang gerak itu tidak meloncat-loncat
Manni, dan mati kealam sempurna tak terkira
Dan sampai saat ini, aku semakin meyakininya

Semakin yakin karena
Dia tak berbilang
pula tak terpisahkan
tapi bukan peleburan
Dia sempurna, dan aku harus mengingat hatahari, sebab aku cahaya

Sampai sekitar dua tahun yang lampau,
Aku percaya bahwa hanya dia yang bisa mengungkapkan diri-Nya
Kulihat sepercik cahaya Muhammad dan Keluarganya
Aku saksikan kemestian Imam Zaman
Saat-saat yang teduh, aku berbisik "Ya Mahdi,Wahai Mahdi, Duhai Mahdi

Bila engkau mau bersamaku,
Marilah..!!!
Kita satukan jiwa dengan tali asal pun tujuan
supaya aku dan engkau tidak berputar-putar
Supaya aku dan engkau tidak tidak tersesat arah
Meski kadang aku sendiri terpikau pada sepercik sinar lilin
Padahal aku tahu ia amat redup
tak cukup menerangi aku, apalagi aku dan kamu..

Aku mencintaimu, sebab aku Rindu pada-Nya..
Bila engkau abaikan itu,
Ingatlah, bahwa Majnun melupakan Laila,
sebab ia terpukau pada pesona Rindu...

Kamis, 28 Oktober 2010

DESKRIPSI TENTANG HUBUNGAN MANUSIA DAN AGAMA DALAM FILSAFAT MULLA SHADRA

Apa yang menajadikan manusia bisa mencapai predikat kemanusiaan sejati? Yaitu ketika ia telah mencapai pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya..Tentunya, pengetahuan yang demikian ini, tidaklah semata-mata bersifat deskriptif dan konseptual saja, melainkan meniscayakan adanya kesatuan eksistensial. Bagi sementara kalangan yang membatasi makna pengetahuan hanya sebagai hasil konseptualisasi atas realitas indrawi ataupun rasional, pengetahuan dalam pengertian kestuan eksistensial itu akan dipandang sebagai sesuatu yang tidak mungkin diperoleh. Tetapi dalam pandangan Mulla Shadra, kemungkinan kesatuan eksistensial tersebut merupakan sebuah kemungkinan yang terbuka lebar, mengingat fakta bahwa pada hakikatnya, segala segala sesuatu yang berbeda dalam bentuk-bentuk esensialnya itu selalu berada dalam satu hubungan eksistensial, bahkan apa yang dipandang sebagai esensi yang melahirkan kejamakan tersebut hanyalah modus keberadaan eksistensi itu sendiri. Satu dalil sederhana dapatlah diketengahkan disini, yaitu bahwa “esensi sesuatu tidak bisa diterapkan atau mencakup sesuatu yang memiliki esensi yang berbeda dengannya. Namun dari satu segi, keragaman esensi tersebut kita saksikan senantiasa saling melahirkan pengaruh antara satu dengan yang lain. Jika jarak antara satu esensi dengan esensi lainnya dipatasi oleh jarang non-eksistensi, maka semestinya tidak akan muncul hubungan sama sekali diantara esensi-esensi tersebut. Jika kita hendak mengafirmasi keberadaan sebuah esensi, maka disaat yang sama, kita mesti memasukkan esensi yang lainnya sebagai ketiadaan (nottingness). Baik dalil yang bersumber pada akal itu sendiri maupun yang berdasarkan pada fakta material-indrawi, keduanya sama-sama menegaskan kemendasaran eksistensi dari pada esensi. Hubungan antara satu esensi dengan dirinya sendiri sejatinya adalah hubungan eksistensial (manusia dengan manusia). Demikian, juga hubungan antara berbagai esensi juga adalah relasi eksistesial (misalnya manusia dengan selain manusia). Hubungan eksistensial yang lahir dalam dua sisi (sesuatu dengan dirinya, dan sesuatu dengan yang selainnya) tersebut berkonsekwensi pada, Pertama, penegasan tentang ketunggalan, dan sekaligus keterjagaan kemajemukan itu sendiri..Dengan lain perkataan, Ketunggalan itu sendiri tidak lantas menegasi kejamakan sama sekali, melainkan ketunggalan tersebut justru menegaskan identitas hal-hal yang berbeda itu sendiri...Hubungan yang demikian ini adalah persis sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Jafar As-Shadiq,

" Dia bersatu dengan segala sesuatu tidak dengan peleburan, dan Dia berbeda dengan segala sesuatu bukan dengan perceraian".

Kekurang fahaman atas karakter hubungan eksistensial ini akan membawa konsekwensi pada pemahaman dikotomis atau paling tidak, oposisional antara ketunggalan dan kemajemukan, transendensi dan imanensi, ketetapan dan perubahan, dan sebagainya...Pemahaman yang dikotomis akan melahirkan keharusan menentukan pilihan apakah kita akan menetapkan yang transenden atau sebaliknya, lebih mengutamakan kesatuan, atau kemajemukan, atau juga lebih mendahulukan ketetapan dari-pada gerak dan perubahan. Sedangkan faham yang cenderung oposisional akan menjadikan sesuatu sebagai standar bagi keberadaan yang lain..Jika tidak ada ketunggalan, maka mana mungkin kejamakan akan dipahami, jika tidak ada gerak, maka bisa ketetapan dapat dimengerti, dan ungkapan-ungkapan semacamnya, adalah akibat dari pada ketidakpahaman atas realitas eksistensi yang karenanya, bangunan berfikir oposisional kemudian dijadikan sebagai sandaran pengetahuan...

Oleh karena karakter dari-pada hubungan eksistensial itu bukanlah seperti oposisional atau juga dikotomis, maka gradasi (tingkatan eksistensi) dan keniscayaan gerak substansial (gerak menyempurna), mestilah menjadi bagian yang utuh dan intrinsic dari wujud itu sendiri. Bila tidak, maka seseorang akan sangat mungkin sekali terjatuh pada kecenderungan menegaskan ketetapan yang absolute (metafisis) yang sama artinya dengan kevakuman, atau pada gerak tanpa tujuan akhir sama sekali, yang berarti nihilisme.

Bentangan wujud yang lahir melalui gerak substansial akhirnya harus mencapai puncak piramida. Dimana titik tertinggi tersebut adalah akibat niscaya dari pada gerak substansial itu sendiri, dan disaat yang sama ia mencakup semua bentuk-bentuk yang beragamam. Karenanya, titik puncak ini bukanlah sebuah capaian yang muncul dari pelepasan dirinya dengan esensi-esensi yang lebih rendah dari padanya, melainkan ia adalah hakikat dari kejamakan itu sendiri. Dia bergerak maju tanpa meninggalkan sesuatu apapun. Itulah yang dimaksud dengan Manusia Sempurna (Insan Kamil).

Pila keberadaan manusia sempurna adalah sesuatu yang harus ada dalam realitas eksistensial, maka seluruh dimensia dirinya mestilah merupakan jalan hakiki dalam mencapai kesempurnaan itu sendiri. Tak ada sesuatu apapun yang keluar dari dirinya melainkan hal tersebut merupakan sebuah jalan kesempurnaan bagi dirinya, dan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu yang dilakukan olehnya yang terpisah dengan keseluruhan, dan keseluruhan realitas berporos padanya, tanpa ada sama sekali penafian atas kekhasan bagian-bagian tersebut.Initulah kesatuan alami..Dia mengetahui seluruh nama-nama dan sifat yang terbentang dalam kejamakan, dan dia juga mengetahui ketunggalan rahasia dari kejamakan tersebut (tanpa meleburkan kejamakan dalam satu wujud yang tunggal).

Apa yang disamapaikan di atas merupakan tahapan terakhir dari gerak pengetahuan dalam system filsafat Alhikmah Muta’aliyah sang Filsuf Mulla Shadra. Atau yang biasa disebuat sebagai “perjalanan bersama Tuhan didalam mahluk”. Secara teologis, hanya pada titik inilah seseorang itu telah mendapatkan predikat sebagai khalifah (Wakil Tuhan) sehingga ia mempunyai wewenang untuk menetapakan segala sesuatu yang berkaitan dengan cara mendapatkan pengetahuan dan kebenaran (kebahagiaan) yang hakiki. Tentang hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, untuk menjamin kesempurnaan semua maujud, dan bukan sekadar kebaikan satu atau dua bagian saja....Allahumma Salli Ala Muhammad Wa Ali Muhammad







Dialog Dengan Bang Mustamin AL-Mandari Tentang Metafisika Wujud

bg..kenapa ketunggalan itu harus melahirkan kemajemukan???
15:02
hahaha, pertanyaan sulit
kalau ini menyangkut Allah yang tunggal melahirkan makhluk yang majemuk, mungkin harus diluruskan
kalau menyangkut dalil sebab akibat secara umum, bisa jadi memang satu sebab melahirkan lebih dari satu akibat
begitukah? heheh
15:09
apa seperti yg dikatakan imam Ali..Engkau tampak melalui ketersembunyian, dan engkau tersembunya dalam penampakan...Kalau saya memahami, hubungan mahluk dan tuhan (Zat) itu adalah hubungan penciptaan yg abadi...artinya, hubungan ini mustahil berubah, dlm arti mahluk mejadi tuhan setelah akhir gerak...Yaitu bahwa kesempurnaan itu meniscayakan adanya dua kutub ini, dan bukan segala sesuatu menjadi Tuhan....Jadi sampai kapanpun penciptaan itu tdk akan berakhir (mahluk menjadi Tuhan...atau gama bg??
15:10
Makhluk hanya mumkinul wujud Ustadz.
Kata Mulla Shadra, semua makhluk itu hanya bayangan cermin, hanya "hubungan", tidak wujud sebagaimana wujud Allah
Ketika yang bercermin itu pindah dari depan cermin, bayangan ndak ada lagi. Hubungan antara Allah dan makhluk adalah hubungan itu sendiri.
15:14
jadi "hubungan itu sendiri" itu abadi ya??
15:15
sebab tidak akan menjadi sebab tanpa adanya akibatnya
15:20
tp dlam sudut pandang lain, akibat itu lahir dr sebab (akibat sebagai bayangan dr sebab)...karenanya ia tdk sama dgn sebab...jadi kalau saya pahami " hubungan causasi itu abadi, namun status keberadaan (kesempurnaan) antara sebab dan akibat itu berbeda...jadi rumus berbeda tapi satu, dan satu tp berbeda itu apa bisa berakhir???
15:21
kalau akibatnya tidak ada, apakah satu ekstensi bisa disebut sebab?
Memang tidak sama antara sebab dan akibat
mereka tidak bisa pisah, tetapi sebab tetap harus "duluan" daripada akibat
namun dalam hal makhluk dan Tuhan, makhluk itu hanya bayangan Tuhan.
15:27
berarti kesempurnaan itu adalah setiap matahari mesti melahirkan cahaya kan? dan bukan cahaya menjadi matahari (sehingga seolah-oleh tdk ada lg cahaya, hanya matahari yg ada)...sebab ini kontadiktif...lantas akhi r gerak itu dimana bang, jika kita tdk bisa menjadi Tuhan (matahari)?...apakah itu artinya gerakan abadi??
15:31
Yang saya pahami, gerak manusia menyempurna itu adalah gerak dari kegelapan menuju cahaya, dan gerak di dalam cahaya dari ujung cahaya mendekat ke sumber cahaya: ujung cahaya pas di sumber cahaya itu.
Aih, contohnya susah betul hehe
15:32
bagaimana kalau disebut "gerak menyempurna, namun mustahil menjadi zat sebagaimana hakikat zat itu dlm kualitas intrinsiknya??
15:33
dari gelap ke cahaya, dari ujung paling tidak terang ke ujung paling terang kan menyempurna toh?
15:34
ya...Allah...Uda pusing saya
abstrak banget
15:37
hahaha...
saya juga gak ngerti...
hahaha
15:39
tp saya sudah mulai sedikit mehami...Mkasih bang
15:40
Ok Ustadz. Saya mau pulang ke rumah dulu...
C U
15:44
salam sm keluarga bang
15:46
Makasih...
Tapi ini jemputannya telat rupanya. Jadi masih nunggu sambil baca2 koran hehe
15:46
hahaha...