Rabu, 28 Juli 2010

Catatan Tentang,,Wujud, Gerak Alamiah, dan Kehendak Bebas

Seiring perkembangan, kita mulai sadar, bahwa memang kita punya kebebasan..Kita berhak memilih...Tentang kehendak bebas ini, sebagian besar memberi penjelasan bahwa ia mesti ada, agar tindkan manusia menjadi bernilai, terlepas dari apakah ada faktor2 lain yang mendeterminasi pilihan itu sendiri...
Aku tidak cuku puas dengan penjelasan semacam ini...Bagiku, yang penting dijelaskan adalah, bagimana kehendak itu muncul dari bentuk yang lebih rendah dari padanya, yakni alam tumbuhan, dan hewan? Apakah kehendak itu adalah pemberian dari luar setelah manusia mencapai usia tertentu, atau ia adalah bentuk lebih tinggi dari aliran gerak mari dan hewan? Kenapa kehendak itu mesti ada? apa kaitannya dengan eksistensi alam semesta? Apakah alam ini bisa eksis tanpa kehendak bebas, atau sebaliknya? Selanjutnya adalah, bentuk eksistensi apa lagi yang akan dicapai oleh gerak ikhtiyari (kehendak) tersebut?

Sebelumnya aku menulis tentang kaitan antara wujud, sistem alam, dan manusia sempurna..Setelah coretan renungan itu kutulis, tiba-tiba saja, pertanyaan-pertanyaan diatas menghinggapi pikiranku...Bagaimana mungkin aku tidak menjawabnya, oleh karena kebanyakan orang cukup puas dengan argumen bahwa "kehendak bebas itu mesti ada, agar tindakan manusia menjadi bernilai"...Tidak ada teman yang bisa kuajak bersama memecahkan pertanyaan-pertanyaan diatas..Maka kupilih untuk menuliskan saja semuanya, sambil berdialog dengan pikiranku sendiri saat jemari menari-nari...Ayo kita mulai...!!!

Ku katakan...Aku menulis tentang wujud, sistem alam, dan insan alkamil...Tentang bagimana relasi organis di alam itu haruslah melahirkan eksistensi yang lebih tinggi (manusia) agar keseimbangan itu tetap ada...Pada titik itulah, pertanyaan tentang kehendak itu bermula...Bahwa yang kita sebut manusia adalah kehendaknya.Kita memiliki pilihan yang berpijak pada kesadaran tentang segala kemungkinan dari pada pilihan yang kita ambil...Di depan saya ada api..Jika saya menceburkan diri kedalamnya, maka saya akan terbakar.Bila sebaliknya, maka saya tidak akan terbakar..Tetapi bila saya mau, maka saya bisa saja memilih masuk kedalam api tersebut, meskipun harus terbakar...Bebas..Benar-benar bebas..tak pandang benar atau salah, baik atau buruk...Saya menghendaki agar tidak terbakar meskipun saya masuk kedalam kobaran..Benar bahwa keinginan atau kehendak itu bebas...Tetapi bagaimanapun juga, ia akan terkait dengan konteks tertentu...Demikianlah pengertian dari pada kebebasan itu sendiri...

Catatan Tentang

Minggu, 25 Juli 2010

Kebenaran dan Logika Deduktif

Semua orang sibuk membicarakan eksistensi Tuhan...apakah Tuhan itu ada? bahkan ada yang meminta argumen untuk membuktikan Tuhan tidak ada...Aku cukup jenuh dengan perdebatan semacam ini. maka aku bertanya, apa urgensinya bicara tentang bukti Wujud TUhan? apakah ketika tuhan terbukti ada, maka persoalan menjadi selesai? bukankah orang-orang ateis pun ternyata bisa menjalankan kehidupan yang bernilai..mereka bisa sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan. mereka bahkan menjadi pembela keadilan tanpa pamrih sedikitpun... yang sebaliknya justru banyak terjadi pada si pencari Tuhan, dan orang yang setiap saat mengumandangkan ayat dan firman-firman Tuhan..Bukankah kita mengenal bahwa Yazid Bin Muawiyah adalah orang yang percaya pada Tuhan.tetapi ia justru membunuh Imam Husein yang saat itu berjuang menegakkan keadilan...Bahkan Iblis sekalipun mempercayai Tuhan, dan malah dikatakan bahwa ia pernah menjadi imam para malaikat...
Dari kenyataan-kenyataan ini, maka aku mesti bertanya, "apa pentingnya mencari bukti tentang adanya Tuhan"? apakah Tuhan mesti ada agar Keadilan bisa tegak'? sehingga yang tak percaya Tuhan pasti tidak bisa bicara dan mengupayakan keadilan'? ternyata tidak, sebab si ateis dan bahkan iblispun mempercayai-Nya...
Lihatlah Hugo Zhavez di Venezwela...ia adalah seorang kristen namun berhasil menggalang kekuatan rakyat hingga bisa melahirkan pemerintahan baru yang komit dan konsisten menjaga keadilan. Lihatlah Ahmadinejad di Iran.Ia seorang Syi'ah namun bisa menunjukkan secara tegas keaulatan bangsanya dihadapan Negara yang disebut adi kuasa itu...Bacalah kisah Mahatmah Gandhi..Ia bahkan tidak makan dan minum selama seminggu saat terjadi pertiakian antara umat islam dan hindu di India...Lantas apa arti penting pembuktian Tuhan?
Aku kira, pikiran ita masih harus mencari konsepsi kebenaran dalam cara pandang yang lain, agar kita bisa menemukan ikatan logis dan filosofis antara keimanan dan keadilan...cara pandang itulah yang bisa kuistilahkan dengan Paradigma Realisme Ingstingtif. yaitu sebuah keterpaduan eksistensial antara dimensi indra,rasio, dan hati...
Untuk itulah, maka yang pertama-tama mesti dijawab adalah hubungan antara Tuhan, Manusia, dan Alam Semsta...Siapakah Tuhan itu? bagaimana hubungannya dengan akal dan jiwa manusia? apakah alam itu, dan smesti seperti apakah hubungan antara manusia dengan alam? apakah hubungannya bersifat fungsional semata, ataukah bercorak eksistensial...

Keteraturan alam sebagai premis yang melahirkan kongklusi berupa keharusan adanya pengatur yang Maha Cerdas, tidak cukup menjadi alasan bagi manusia untuk menyembah Tuhan...dengan lain perkataan, tidak ada kaitan logis antara keberadaan Tuhan itu dengan keharusan agar Dia mesti disembah. Akan tetapi, manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari keinginan untuk menyempurnakan eksistensinya...namun bagaimana manusia bisa mencapai kesempurnaan, bila ia mengikat jiwanya dengan hal-hal yang terbatas. Disitulah, manusia membutuhkan jalan agar ia bisa mendapatkan kesempurnaan... dan sebagaimana kita ketahui, kesempurnaan sudah pasti bersifat tak terbatas (Non-Material). sedangkan manusia sendiri memiliki tubuh... apakah dengan demikian tubuh mesti dinafikkan agar manusia menjadi sempurna? jawabanya jelas tidak, sebab tubuh adalah bagian yang menyatu secara eksistensial dengan manusia...namun saat manusia condong pada tubuh, ia akan menemukan kontradiksi-kontradiksi yang luar biasa...tetapi jika ia hanya mengutamakan jiwanya, maka ia akan merasa tersiksa dan terpenjara...untuk itulah, maka mesti ada sesuatu ikatan yang menjadi penghubung antara jiwa dan raga...ikatan inilah yang disebut dengan keadilan dan kenabian..Syariat dan Rasul...penghubung ini menjawab kebutuhan tubuh-materi, namun tetap dalam bingkai tujuan manusia untuk menyempurnakan diri (Iman)... Tubuh selalu membutuhkan alam agar semua kebutuhannya bisa terpenuhi...namun ketika tidak ada ikatan yang menghubungkan antara manusia dan alam, maka alam akan menjadi obyek yang dikuasai manusia...disinilah keserakahan dan kapitalisme akan menjadi semakin kuat, olah karena penguasaannya terhadap teknologi dan sains. untuk itulah, maka unsur keimanan menjadi penghubung antara alam dan manusia, ketika alam dilihat sebagai milik mutlak Tuhan yang tidak bisa direbut oleh siapapun. dan tak seorangpun bisa menguasai secara mutlak atas alam dan semua sumber daya yang terkandung didalamnya...hanya dengan konsepsi ini saja, maka keadilan akan bisa diwujudkan, yaitu ketika manusia menyadari dan mengimani Tuhan sebagai eksistensi Maha Sempurna yang menjadi tujuan manusia, dan yang Merupakan Pemilik Mutlak atas segala sesuatu...
Dari gambaran singkat diatas, dapat dikatakan bahwa kau ateis tidak akan bisa berbicara keadilan secara baik, ketika ia meletakkan semua basis nilai hanya pada manusia saja...demikian juga dengan yang lain. meskipun mereka meyakini adanya Tuhan dan juga mereka mencintai keadilan, namun mereka tidak akan mendapatkan hukum-hukum yang realistis untuk menjawab kebutuhan material dan spiritual manusia secara bersamaan. kecuali mereka harus melakukan studi-studi ilmuah yang terus-menerus untuk mendamaikan kedua dimensi dalam dri manusia tersebut...sedangkan Al-Qur'an yang dibawa oleh Rasul Muhammad SAW, adalah doktrin yang berdiri diatas bangunan Tauhid (IMan), keadilan (Kenabian dan Syariat), dan Maad (Tujuan hidup manusia)..yang sepenuhnya bersesuaian dengan akal dan kecendeungan ruh serta tubuh manusia...

Kamis, 22 Juli 2010

Ketetapan dan Gerak.Ketunggalan dan Kemajemukan...Tema Paling Tinggi (Ibn Al-Arabi)

Zeno mengatakan bahwa gerak itu adalah ilusi pikiran..Sebabnya adalah "karena gerak itu melewati titik-titik tak terhingga, sedangkan ketakterhinggan itu sendiri adalah situasi diam..Yang berjalan sepuluh kilo meter maupun yang hanya selangkah adalah sama saja..Sama-sama diam...
Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Zeno tersebut, namun tidak berarti bahwa gerakan atau perubahan itu tidak ada, atau semata-mata ilusi pikiran...Dalam kenyataannya, kita mengetahui dan menyadari bahwa ada perubahan pada yang bergerak dari satu keadaan atau bentuk kepada keadaan atau bentuk lainnya..Dari nol derajat cc, air berubah dan mencapai derajat yang lebih tinggi dari sebelumnya..Apakah kita akan memaksakan diri untuk mengatakan bahwa yang demikian ini adalah situasi diam? Jawabannya tentu tidak, sebab sekali lagi, ada perubahan keadaan yang begitu nampak dari yang bergerak itu sendiri..

Bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi?
Jika saja sesuatu yang bergerak itu tidak memiliki potensi untuk mencapai bentuk yang lain baik yang lebih tinggi atau sebaliknya, maka perubahan itu sendiri pastilah tidak pernah mewujud..Bagimana mungkin sebiji tumbuhan akan melahirkan buah-buahan, bila ia tidak memiliki potensi dalam dirinya untuk menjadi sesuatu yang baru tersebut? Barangkali ini tidak terlalu sulit untuk dimengerti..Namun pikiran akan dituntut lebih dalam menyikap tabir dan menemukan rahasi gerak, tatkala kita sampai pada pertanyaan tentang "Bagimana gerak itu terjadi"?

Potensi menjadi yang dimiliki oleh yang bergerak itu pada dasarnya hanyalah sebatas kemungkinan murni..Artinya, sesuatu dapat "menjadi" oleh karena ia digerakkan oleh Penggerak...Dan Eksistensi Sang Penggerak bagaimanapun juga mestilah bersifat Sempurna secara Aktual.Artinya, Eksistensi penggerak itu sendiri tidak lagi bergantung pada sesuatu penggerak yang lain...Jika kita asumsikan bahwa Kesempurnaan dari pada Eksistensi Penggerak itu potensial, maka semestinya eksistensi atau keberadaan itu tidak mungkin ada..Namun jelas sekali bahwa pengandaian ini bersifat retoris semata.Telaah singkat ini menghantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa sebab utama dari pada gerak itu sendiri adalah Wujud Maha Sempurna (Kesempurnaan Aktual). Tetapi kita masih harus menelusuri lebih jauh lagi, sebab pemaparan di atas belum sepenuhnya memuskan dahaga rasio...

Kita pun beratanya, bila Kesempurnaan Aktual adalah sebab dari pada gerak, maka semestinya Eksistensi ini bersifat tetap, atau mandiri dengan dirinya sendiri, dan segala yang disebut sebagai potensi adalah ketiadaan itu sendiri...Konsep tentang kemungkinan atau potensialitas itu dengan demikian hanyalah sudut pandang pikiran saja, dan tidak sebagai sebuah eksistensi yang berdiri sendiri..Karenanya, harus dikatakan kembali bahwa yang eksis hanyalah Wujud Sempurna saja..Namun bagaimana, jika gagasan kita tentang kesempurnaan itu lebih dekat pada kesimpulan tentang ketetapan (bukan gerak) dari yang Sempurna itu sendiri...Bagaimana Kesempurnaan Aktual yang total dan tidak terbatas (sederhana) itu memunculkan efek berupa gerak sebagai penyikapan kesempurnaan pada bagian-bagian yang mengalir satu arah dan bersifat konstan?

Pertanyaan diatas membutuhkan kekuatan abstraksi tersendiri...
Mengatakan bahwa Eksistensi Murni itu adalah realitas satu-satunya yang meliputi segala sesuatu merupakan hal yang tidak terlalu sulit dipahami..Namun bagaimana ketunggalan itu melahirkan gerak dan perubahan adalah perkara yang cukup pelik bagiku..Namun tak apa-apa, dengan tafakkur yang sabar, kita sangat bisa menjawab persoalan yang satu ini...Karenanya, marilah kita membicarakan lebih dalam lagi ikhwal konsep kesempurnaan itu sendiri.Barangkali dari sini, kita akan menemukan jawaban-jawaban yang memuaskan dahaga rasio...

Bisakah kita membayangkan tentang Eksistensi sempurna yang tidak melahirkan efek atau tindkan apa-apa? Menurutku, adalah bukan sempurna, bila kesempurnaan itu tidak beriringan dengan keharusan lahirnya akibat-akibat tertentu. Justru kesempurnaan menjadi kehilangan artinya, jika kita andaikan tidak ada apa-apa yang lahir darinya...Jika tidak ada efek yang muncul dari kesempurnaan itu, maka kesempurnaan menjadi cacat dengan sendirinya, dan karenanya, ia harus menggantungkan dirinya pada Eksistensi yang jauh diatasnya dan bila begitu seterusnya, maka lagi-lagi, ketiadaan itu harus kita tetapkan sebagai lebih hakiki dari keberadaan.Namun jelaslah bahwa yang demikian ini mustahil. Olehnya itu, harus kita katakan bahwa Eksistensi itu tidak punya perbedaan dengan gerak itu sendiri. Kata lainnya, gerak adalah akibat niscaya dari kesempurnaan Aktual yang mandiri atau sederhana itu sendiri.

Kembali kita pada pertanyaan sebelumnya.."Jika Kesempurnaan Aktual adalah satu-satunya hakikat realitas dan dia sendiri adalah sesuatu yang tetap, maka mengapa ada gerak perupa penyikapan atas totalitas pada sebagian-sebagian"? Mengapa gerak linier yang konstan itu mewujud? Kenapa tidak totalitas saja yang eksis?
Kita bisa katakan, bahwa pengertian gerak adalah penyikapan totalitas melaui begaian-bagian...Jika gerak itu tidak linier dan satu arah, dimana ada perubahan dari bentuk yang lebih rendah kepada bentuk yang lebih tinggi, maka yang harus kita terima bukan lagi gerak, melainkan ketetapan...Jika kita menerima ketepan ini, maka gagasan tentang kesempurnaan sebagai sesuatu yang mesti melahirkan gerak sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas menjadi tidak ada artinya lagi...Namun ini muntahil, oleh karena satu-satunya jalan adalah kita harus memberontak pada Eksistensi Sempurna tersebut, namun bagaimana bisa, bila keberadaan itu nyata-nyata eksis dan mustahil ditolak? Maka mustahillah menggugat Eksistensi Maha Sempurna...OLeh karenanya itu, tidak menjadi masalah untuk menegaskan bahwa gerak adalah aliran perubahan untuk mencapai totalitas pada bagian-bagian yang tersusun dalam model satu arah (struktur awal, tengah, dan akhir)..Yang demikian ini juga barangkali bisa membuka tabir dan kita punya kemungkinan besar untuk menjawab pertanyaan tentang kenapa materi itu ada, dan Dia harus mencipta)

Gerak adalah bukti Kesempurnaan..
Namun Kesempurnaan senantias tersembunyi dibalik penampakan
Engkau nampak melalui ketersembunyain, dan tersembunyi dalam penampakan...(Imam Maksum)

Rabu, 21 Juli 2010

Aku membaca buku Ayatullah Bagir Shadr..Judulnya Falsafatunna..Yang gemar mempelajari Filsafat Islam mungkin akan merasa akrab dengan buku ini...Aku tidak bicara tentang bagaimana Ayatullah Bagir Shadr mengulas teori pengetahuan (Epistemologi).Aku hendak mendedah secara singkat tentang persolan gerak..Sebab aku merasakan bahwa akhir-akhir ini pikiranku begitu terserap kedalam tema yang satu ini...Aku mengajak kalian semua untuk masuk kedalamnya..Dedalam seluk beluk tema perak dan perubahan, sebab pengertiannya tidak segampang yang kebayankan kita pahami..Gerak lebih dari pada itu..Ia adalah kabar yang memberi tahu kita tentang sesuatu Relaitas Ultim yang tanpanya, segala sesuatu menjadi mustahil...

Kita mulai saja...
Apa itu gerak?
Yaitu perpindahan dari satu posisi atau keadaan kepada keadaan lainnya...Namun Zeno mengatakan bahwa gerak itu ilusi, sebab gerak konstan berarti perubahan tanpa jeda pada titik persinggahan yang tak terbatas..Engkau bisa merangkai kalimat yang lebih sederhana dari yang kukatakan ini.AKu percaya, bahwa engkau telah dapat menangkap apa yang Zeno maksud dari kalimatku tersebut..Bila mengikuti Zeno, maka yang harus kita katakan adalah bahwa yang nyata adalah situasi diam, dan bukan gerak..Namun ini tidak bisa diterima, oleh karena kita sendiri merasakan dan menyadari bahwa ada perubahan dari satu keadaan kepada keadaan lain yang nyata direalitas itu sendiri...Sebiji jagung bergerak dari keadaannya semula menjadi buah jagung, dan sejumlah contoh lainnya..Ini nyata...Sekali lagi, ini kita sadari...Dan karenanya, gerak itu nyata, dan perubahan-perubahan itu ada...

Belumlah penelusuran kita ini selesai..Kita masih harus bertanya, tentang bagaimana gerak itu terjadi?
Air yang berada dalam temperatur nol derajat bisa mencapai seratus derajat Cc..Bagaimana ini bisa terjadi, jika tidak ada potensi intrinsik dalam diri air itu sendiri, untuk mencapai derajat yang lein dari sebelumnya? Karenanya, bisa kita katakan bahwa secara potensial, segala sesuatu yang bergerak itu (termasuk air) mempunyai kemungkinan atau potensi yang tidak terbatas..

Tetapi apa yang kita maksudkan dengan potensi tersebut?
Potensi adalah kemungkinan sesuatu untuk berubah menjadi lebih atau sebaliknya..Karena ia adalah kemungkinan, maka aktualisasainya bersandar pada Sebuah Eksistensi Penggerak..Jika tidak demikian, maka semestinya, gerak itu sendiri tidak akan terjadi, oleh karena dalam dirinya, ia telah berada (atau lebih tepatnya "sebagai") sesuatu yang aktual..Sederhananya, yang aktual pada dirinya itu tidak akan mungkin berubah...Dan kesimpulan sementara, kita bisa katakan bahwa yang menjadi sumber dari pada gerak haruslah suatu Eksistensi yang Aktual yang tidak pernah (mustahil) mengalami perubahan...
Tidak terlalu sulit memahami kenyataan logis pun filosofis seperti yang ku sampaikan di atas..Ketika sampai pada persolan tentang persentuhan atau hubungan antara Eksistensi yang Tetap dan realitas yang berubah, seluruh kekuatan pikir menjadi sama sekali dituntut...

Bagaimana yang Tetap itu mengakibatkan perubahan???

Sabtu, 17 Juli 2010

Sejenak Kedalam Akar-Akar Pengetahuan

Setiap gerak pasti punya tujuan...Dan tujuan tersebut, haruslah sempurna
Alam ini indah dan teratur, dan karenanya, pasti ada Sebab yang membuatnya demikian.
Yang sempurna, tidak mungkin melukan sesuatu karena dipaksa
Kemerdekaan sejati adalah, melakukan apapun yang diinginkan
Jika Dia Sempurna, maka Dia pasti Adil, dan Keadilan-Nya menuntut adanya Kenabian
Kematian adalah momen mencapai tahapan hidup yang lebih tinggi dan sempurna, dan sejumlah pernyataan-pernyataan lainnya..

Aku tidak cukup puas..Maka ku tanya pada diriku sendiri, "Apa hubungan antara fakta gerak itu dengan keharusan bahwa tujuannya mestilah kesempurnaan? Apa hubungan antara alam dan keharusan adanya pencipta? Bagaimana bisa kematian itu dikatakan sebagai tahapan menuju kesempurnaan?

Barangkali akan ada jawaban demikian
"Jika gerak itu tidak bertujuan, maka mengapa gerak itu terjadi'? Sesuatu terjadi karena ada sebab...Jika kesempurnaan bukan tujuan perubahan, maka apa makna segala peristiwa pun perbuatan manusia?
Tetapi setelah ku cermati dengan saksama, ada jarak yang amat nyata antara premis dan kesimpulan..Bagiku, tidak ada alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa setiap gerak pasti bertujuan"..

Dari mana muncul relasi logis antara premis dan kesimpulan tersebut?
Kenapa kebenaran disebut sebagai kebenaran?
Apa kriteria dari pada kebenaran itu sendiri?

Jika saya mengatakan bahwa setiap akibat pasti punya sebab, itu sesuatu yang biasa..Tetapi jika ada pertanyaan tentang kenapa akibat itu mesti punya sebab, maka bagaimanakah kita akan menjawab pertanyaan ini? Landasan ap-riori barangkali bisa dikatakan sebagai fondasi yang benar pada dirinya sendiri...Bahwa akibat itu berhubungan dengan sebabnya.Bahwa dua sesuatu yang bertentangan tidak bisa menyatu dalam wadah atau saat yang sama...Apakah kebenaran konsep seperti ini dapat ditetapkan oleh akal? ataukah kebenarannya adalah bersifat intuitif...Jika saya mengatakan bahwa kebenarannya bersifat intuitif, maka pernyataan ini mestilah pula ditetapkan oleh akal, berdasarkan sejumlah argumentasi yang dipandang rasional. Misalnya tentang konsep sebab-skibat itu sendiri...Kita bisa mengatakan bahwa relasi sebab-akibat adalah sebentuk emanasi, oleh karena keduanya tidak bisa dipisahkan dalam batasan ruang dan waktu..Tetapi bagaimanapun juga, argumentasi ini akan kembali mencari dalil-dalil paling fundamental yang bercorak fondasional...Artinya, pembenaran kita tentang sebab akibat sebagai relasi eksistensial (emanasi) itu sendiri mempunyai alasan-alasan, dan alasan-alasan tersebut tak lain dan tak bukan kecuali sebab itu sendiri...Sebab yang dengannya kita mengambil kesimpulan begini atau begitu tentang sesuatu apapun...Kenyataan yang demikian ini yang membuat David Hume tidak bisa menolak konsep causalitas sama sekali, meskipun ia berusaha untuk mengatakan bahwa causalitas itu tidak ada...Bagaimana mungkin Hume membuktikan sesuatu yang tidak ada?

Tidak ada sesuatu masalah yang muskil dalam membuktikan kekukuahan konsep causalitas..Tetapi masalah menjadi muncul, tatkala konsep tersebut kita gunakan sebagai landasan penilaian terhadap serangkain fenomena yang terjadi..Bagaiman bisa dikatakan bahwa gerak itu pasti menuju pada satu titik kesempurnaan? Apa hubungan antara gerak dan kesempurnaan itu sendiri? Sekuncup bungan menjadi mekar, kemudian melahirkan buah...Jabang bayi bergerak menjadi orang dewasa yang mampu berfikir dan mempunyai kehendak pun keinginan..Kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana bisa sesuatu bergerak mencapai bentuk yang lain dari sebelumnya? Kemudian kita memberi tafsiran bahwa kenyataan tersebut menandakan adanya satu tujuan tertinggi yang hendak dicapai oleh aliran gerak dan perubahan tersebut... Jika saja tidak ada tujuan yang sempurna, maka gerak tidak mungkin terjadi...Adakah benda-benda material yang bergerak itu menyadari fakta pergerakan dirinya? apakah sebiji jagung itu tau bahwa ia akan berubah menjadi buah jangung? ataukah fenomena ini adalah hasil tafsiran manusia semata, oleh karena ia menyaksikan adanya perubahan-peruban dari satu bentuk ke bentuk lainnya...Apakah jangung tersebut merasa bahwa dirinya telah berubah menjadi sempurna dari keadaan sebelumnya? Apakah dengan demikian manusia tidak bisa mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, oleh karena sesuatu itu sendiri tidak menyadari dirnya yang tengah berubah tersebut? Bukankah konsep perubahan dan gerak adalah hasil perbandingan pikir manusia, tatkal ia melihat adanya bergantian bentuk dalam dunia fenomenal?

Bagiku, adalah terlalu jauh jika kita mengatakan bahwa manusia tidak bisa mengetahui sesuatu sebagaimana adanya...Justru, hal tersebut adalah sebuah kemungkinan yang terbuka lebar..Justru perubahan itu sendiri yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Gagasan tetap tentang eksistensi Maha Sempurnalah yang menjadi basis penilaian manusia atas fenomena gerak itu sendiri (sekali lagi bukan gerak itu sendiri). Jika tidak karena ketetapan tersebut, maka mustahil manusia bisa memberi makna pada gerak sebagai satu proses mencapi sempurna..Di otak atik ini konsep kesempurnaan menjadi kata "sebab". Sedangkan konsep akibat hanyalah sudut pandang pikiran tatkala seluruh instrumen pengetahuan terpaku pada fenomena gerak...Tetapi sebagaimana yang telah ku sampaikan di atas, bahwa gerak itu terpahami oleh karena awal-awal yang diintusi dan yang dikonsepsikan adalah kesempurnaan, maka akibat itu sendiri tidak mempunyai status eksistensial sama sekali, kecuali semata-mata sebagai cara pikiran dalam menegaskan konsep kesempurnaan dalam model via negasi..Karenanya, haruslah dikatakan bahwa gerak dan perubahan itu sama saja..Tidak ada bedanya...Sebagaimana bayang-bayang yang menegaskan keberadaan cahaya, dan tidak sama sekali mengatakan bahwa ia ada...Tetapi kesan tentang bayang-bayang tersebut muncul dalam benak manusia, sehingga seolah-olah ia ada...Dibalik semua penjelasan ini, pertayaan awal itu muncul...Apa kriteria kebenaran semua ini, jika rasionalitas itu sendiri sulit dipahami?

Dan Aku berkata
Masuk akal dan Irrasionalitas itu sama saja...
Aku takjub pada pemahaman, sebab pemahaman itu sendiri sulit dipahami...

Kamis, 15 Juli 2010

Kesucian..Titik Pertemuan Antara Ketetapan dan Gerak

Filosof muslim mengatakan bahwa yang dimaksud dengan materi adalah potensi murni. Pikiran akan menjelajah lebih jauh untuk memahaminya.."Apa yang dimaksud dengan potensi murni"?, dan dari mana akar pengertian ini? Kenapa dikatakan demikian?

Potensi adalah kemungkinan untuk menjadi...Aku memiliki kemungkinan untuk mengetahui dengan lebih sempurna, namun semunya butuh proses..Jika tidak demikian, maka aku tidak akan mungkin mengatakan bahwa aku punya potensi untuk itu..Potensi itu tidak akan dimengerti, jika tidak ada gerak dan perubahan...Melalui gerak, kemungkinan tersebut menjadi aktual...Ide umumnya adalah, bahwa gerak itu mesti mencapi titik yang lebih sempurna dari titik-titik sebelumnya...Jika saja tidak demikian, maka semestinya gerakan atau perubahan itu tidak ada...

Apa yang bisa dikatakan dari kenyataan ini?
Bahwa pengertian dari pada kemungkinan itu sendiri muncul oleh karena ada fakta tentang perubahan kearah kesempurnaan. Selain itu, gerak itu sendiri mestilah didorong oleh satu kekuatan yang Maha Sempurna. Jika gerak itu terjadi hanya karena ada sebeb-sebab yang terbatas, maka kemungkinan mencapai titik yang sempurna menjadi mustahil..Dan karenanya gagasan tentang kemungkinan atau potensialitas itu sendiri menjadi hilang...Lagi-lagi, yang demikian ini mesti berakibat pada situasi diam pada realitas, dan bukannya gerak dan perubahan...

Dari sini dapatlah dikatakan, bahwa gagasan tentang kemungkinan pada dasarnya mempunyai kaitan eksistensial dengan gagasan tentang kesempurnaan dan gerak.Jika kesempurnaan dan gerak diabaikan, maka gagasan tentang kemungkinan atau potensialitas yang melampaui waktu itu mestinya tidak akan muncul...Bahkan kita sendiri tidak akan mungkin mengatakan bahwa sesuatu akan menjadi lebih atau kurang dari keadaannya saat ini..Tetapi yang kita makudkan dengan "keadaan saat ini itu merupakan sesuatu yang aktual". Jika ia aktual, maka semestinya ia tidak lagi bergerak menyempurnakan kualitasnya...Tetapi ini bertentangan, oleh karena bagaimana mungkin sesuatu yang aktual dengan dirinya sendiri itu lemah karena tidak bisa memberai efek atau melakukan tindakan apa-apa?? Artinya, kita tidak mungkin mengatakan bahwa hal-hal yang bergerak itu adalah realitas yang aktual pada dirinya sendiri...Sebab aktualitas itu meniscayakan kesempurnaan dalam dirinya..Karenanya, gagasan tentang kebergantuangan yang berubah pada Realitas Aktual yang sempurna adalah sebuah kemestian logis dan filosofis...Sebaliknya juga, yang Aktual secara Mutlak harus bisa melakukan atau melahirkan efek yang muncul dari dirinya sendiri...Efek itulah yang kita sebut dengan gerak atau perubahan...

Hubungan eksistensial antara ketetapan dan gerak itu sendiri membuat kita bisa memahami dan bahkan merasakan adanya ketetapan dan gerak dalam saat yang bersamaan...Meski duanya juga bisa sama sekali dipisahkan...Namun bagaimanapun juga, ide tentang kesempurnaan aktual itu terafirmasi terlebih dahulu secara positif, tanpa harus ada oposisi biner untuk menarik pengertian dari keduanya...Maka sangat keliru jika dikatakan bahwa gagasan tentang ketetapan itu muncul oleh karena ada perubahan, pun sebaliknya... Demikian ini merupakan akibat dari kelemahan dalam memahami pola kerja akal itu sendiri...

Maka apa yang dimaksudkan dengan materi sebagai potensialitas murni menjadi terpahami...Materi adalah gerak itu sendiri...Gerak sebagai sebuah ide, adalah sebuah ketetapan...Tetapi gerak yang terjadi dalam dunia faktual adalah proses konstan yang tidak sedetikpun berhenti...Dan ketidak-mungkinan situasi vakum dan stagnan tersebut adalah keniscayaan dari pada Wujud Aktual yang Sempurna...Tetap dan berubah selalu berhubungan pada satu titik, yaitu kesempurnaan dan kesucian, dan bukan pada pengertian yang ditarik dari oposisi biner antara satu tanda dan penanda, dan tanda dan penanda lainnya..

Jangan memilih ketetapan atau perubahan
lihatlah perkawinan keduanya pada poros kesempurnaan dan kesucian
yang nyata dalam kedisinian tanpa lalai dan lupa (kemaksuman)...Itulah waktu...

Ariel Diperkosa oleh Negara...

Beritanya sudah tidak seramai hari-hari sebelumnya..Kenapa? sebab sengaja diberitakan oleh karena selebritas ketiga orang itu membuat laku informasi...

Tidak tentang politik ekonomi media..Tulisan ini hendak mengangkat satu kenyataan ironis, yaitu bahwa Negara ini, dengan sistem hukum (khususnya UUD Pornografi) telah menganiaya hak dari pada warga negaranya...

Apakah hak dari pada Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari tersebut? Yaitu terbebas dari seluruh jerat hukum..Kenapa demikian?
Ada bebebarapa pertanyaan yang patut diajukan, yaitu :
1. Jika perbuatan tidak senonoh yang dilakukan oleh mereka adalah alasan dari hukuman itu sendiri, maka mengapa perbuatan yang sama, yang sangat banyak dilakukan oleh orang lain tidak ditindak sama sekali?
2. Jika mereka di hukum oleh karena status mereka sebagai orang yang populer di masyarakat, dan kemudian dianggap akan memberi dampak yang tidak baik, maka adakah UU Pornografi itu mengatur kenentuan hukum khusus bagi orang-orang populer?

Faktanya, setiap saat orang bisa melakukan hubungan seksual yang tidak resmi dengan sangat gampang..Baik dengan pekerja seks komersial, maupun dengan siapa saja...Ini bukan lagi hal baru, melainkan semua kita mengetahuinya...Itu artinya, alasan bahwa ketiganya dihukum karena melakukan tindakan mesum menjadi gugur dengan sendirinya...Sedangkan tentang ketentuan hukum khusus bagi orang populer sebagaimana yang diasumsikan di atas pastilah tidak ada..

Maka patutlah kita bertanya..
Sistem hukum macam apa yang sedang berlaku di negara ini?
Apakah Negara sedang melakukan sesuatu yang dilarang olehnya sendiri, yaitu perbuatan main hakim sendiri?..Negara sedang melakukan tindakan "main hakim sendiri".

Apa yang bisa disimpulkan dari kenyataan ini, yaitu bahwa kita tidak punya konsepsi hukum yang bisa membedakan antara tindakan moral dan tindakan hukum...Tindakan moral adalah tindakan individu yang tidak terkait dengan orang lain, yang karenanya, tidak bisa ada sansi hukum (dari negara) yang diberlakukan...Sedangkan tindkan itu bisa dikenai hukum (negara), tatkala tindakan tersebut terkait dengan, atau mengancam kebaikan serta kemaslahatan orang banyak...Perbuatan ketika selebritis tersebut benar-benar masuk dalam tindakan individu..Tindakan tersebut menjadi terkait dengan banyak orang (dianggap merusak kebaikan umum), tatkala perbuatan itu kemudian menjadi konsumsi umum...Dari perbendaan antara konsep moral dan hukum diatas, maka semestinya yang negara harus bertindak (menghukum) sang pelaku penyebaran video porno tersebut, dan bukan memasukkan Ariel dan kedalam teruli besi...

Negara sedang melakukan tindakan main hakim sendiri...
Negara menganiaya Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari..
Konstruksi Hukum kita carut marut...
Sebuah Negara yang lucu pantas di tertawakan....Untuk kemudian kita bertanya, Bagaimana memperbaikinya???

Kamis, 08 Juli 2010

Pengetahuan dan Perempuan...

Seluruh nama-nama telah diajarkan kepada Adam AS..Tetapi ia tetap saja tidak bergairah. Semangat itu muncul tatkala Hawa dicipta...

Apa artinya?
Bahwa pengetahuan dan seluruh nama-nama (pengetahuan) tersebut tidak bisa memberi adam maqam kedekatan yang lebih tinggi...Dan hawa memberi itu...Hawa mengangkat Adam pada ketinggian..Maka apalah artinya pengetahuan tanpa perempuan, tanpa wanita..

Kisah ini berlanjut...Mustafa Ibrahim mengeluh...Resah atas keadaannya yang tidak memiliki keturunan..Kemudian ia berdoa..Ia menikah lagi, dan lahirlah Ismail..Apa artinya? "Bahwa anak-anak adalah bagian dari rahasia kedekatan...Mana mungkin Ibrahim mengeluh, jika keluhan itu tidak terkait dengan gerak untuk menyempurna..Keinginan ibrahim bukanlah hasrat mermuara pada penguasaan dan hegemoni atas perempuan..Kenginan ibrahim untuk memiliki anak adalah kerinduan dirinya untuk mendaki tahap kemuliaan yang lebih tinggi dari sekadar meiliki istri...

Nun..Wal Qalami Wama Yasturun...Demi Pena dan Lembaran
Kebedaan mahluk adalah keganjilan...Pena dan lembaran untuk sebuah tulisan dan kitab..Laki-laki dan perempuan sama dengan anak keturunan...

Ku letakkan Ayah di depan, ibuku di belakangku..
Anak2ku disini kiri dan kanan...Dan Perempuan-ku dalam hati sanubari...Barulah aku bermi'raj....Allahu Akbar

Selasa, 06 Juli 2010

Akal...Satu dan Banyak

Kemajemukan...Tidak ada hal yang sama..Segala sesuatu punya identitas, sehingga perbedaan itu ada...Agama dan ideologi pun tidak tunggal..Tetapi ketika kemajemukan ini jadi paham atau ideologi, maka perkaranya menjadi lain. Maksud saya adalah, saat yang banyak itu semuanya dikatakan sebagai kebenaran...Apakah kebenaran itu tunggal?

Jika saja yang kita sebut sebagai kebenaran ini tidak satu, maka semestinya kita menerima eksistensi kejamakan ontologis..Artinya, masing dari yang banyak itu mesti mempunyai sumber keberadaannya sendiri-sendiri...A punya asal yang berbeda dengan B, demikian juga dengan C, dan seterusnya..Tetapi bagimana ini bisa diterima, bila nampak bahwa segala sesuatu itu saling berhubungan, berada dalam ikatan yang organis...Manusia tidak bisa hidup tanpa alam, demikian juga sebaliknya..Kenyataan ini memberi kabar bahwa semuanya punya sumber yang sama, tempat bergantung yang tunggal, asal dan tujuannya pun pastilah satu saja...

Barangkali tidak terlalu sulit bagi kita untuk membenarkan kenyataan ini..Tetapi apakah ketunggalan ontologis ini meniscayakan pula ketunggalan aksiologis? Apakah jalan mencapai kebenaran itu mesti satu saja, atau bisa pula lebih dari satu?

Pada titik ini, kita mesti bicara tentang kebenaran sebagaimana kebenaran itu sendiri, dan bukan kebenaran menurut siapa-siapa...Jika akal adalah kriteria dari pada kebenaran itu sendiri, maka kita mau tidak mau kita memiliki kebutuhan untuk melakukan telaah terhadap akal itu sendiri, kemudian bagaimana hubungannya dengan kebenaran...Apakah akal mempunyai kehakikian ontologis dengan realitas diluar akal itu sendiri, ataukah tidak sama sekali...Jika tidak ada kaitan antara akal dan realitas eksternal, maka mustahillah kita bisa bicara tentang kebenaran...Tetapi bagaimanapun juga, dorongan dalam diri manusia yang menuntutnya untuk mencari dan mendapatkan jawaban atas semua teka-teki kehidupan dan realitas, merupakan sesuatu bukti bahwa manusia memang tidak bisa lepas dari kebenaran, bahkan ia berkainginan untuk menyatu dan menjadi kebenaran itu sendiri...Maka dari itu, pengandaian tentang mustahilnya manusia mendapatkan kebenaran adalah sesuatu yang tertolak sama sekali...Tegasnya, kebenaran itu bisa diketahui.

Tetapi bagimana mengukur suatu pengalaman psikologis sebagai sebuah kebenaran atau kekeliruan? Jelas bahwa intusi itu tidak bisa menjadi kriteria bagi dirinya sendiri. Akal harus tampil menjadi juri dan hakim bagi setiap pengalaman...Kembali pada pertanyaan awal di atas tentang apa itu akal?

Filsuf anti fondasionisme tidak percaya bahwa pengetahuan atau kebenaran itu punya akar-akar yang ap-riori, yang self devident..Tetapi bagaimanapun juga, setiap penolakan haruslah punya alasan. Jika saja akar-akar penolakan yang paling mendasar itu pun ditolak atau tidak benar pada dirinya sendiri, maka penolakan itu sendiri akan menjadi sesuatu yang paling lucu, dan karenanya pantas ditertawakan...Maka akal harus punya fondasi yang kokoh, dan jelas pada dirinya sendiri...Apa fondasi akal itu?
Setiap sesuatu punya sebab...Kenapa segala sesuatu tidak bisa tidak punya sebab? kita hanya mengatakan bahwa yang demikian itu mustahil...Tidak mungkin realitas ini tidak punya sebab...Tetapi mengapa yang mustahil itu mustahil? Implikasi dari penolakan atas keharusan sebab itu sendiri adalah kemestian hilangnya gerak dan perubahan...Artinya, gerak itu sendiri harus berjalan tanpa ada tujuan (sebab)...Seandainya demikian, maka kita juga harus menegaskan relasi dahulu, kini, dan besok adalah sebuah kebetulan saja...Bagaimana manusia bisa hidup dalam semesta kebetulan ini??? Singkatnya, penolakan pada fondasi pengetahuan ap-riori itu tidak saja berakibat buruk pada perkara yang sifatnya teoritis, melainkan menghancurkan pula seluruh kepentingan praksis dari manusia.

Senin, 05 Juli 2010

MATERI..KENAPA MESTI ADA?

Kenapa ada fakta? yang dia maksud dengan fakta adalah realitas material...Sekilas pertanyaan ini terkesan gampangan...Dan apa pentingnya menjawab tanya tersebut...Alasannya cukup sederhana..Jika sebab-sebab keberadaan materi itu tidak dipahami, maka semestinya kita mesti menggugat kehidupan itu sendiri...Kenapa aku mesti hidup, jika segala yang ada ini tidak bisa dimengerti..Bukanlah sikap yang baik, bila kita malas menggubris realitas..Tanpa butuh alasan yang lebih dalam lagi, cukuplah dikatakan bahwa masa bodoh dengan realitas itu pastilah akan membawa keburukan sama sekali...

Kesadaran ini membuat kita harus mengambil sikap, dan menelusuri secara mendalam atas sebab-sebab keberadaan materi itu sendiri...Lantas apa yang dimaksudkan dengan materi? Apakah maksud kita tentang materi itu adalah gambaran utuh tentang eksistensinya, atau semata-mata deskripsi konsepsional terhadapnya...Materi itu tidak pernah menyatu sedemikian rupa dengan kesadaran kita, oleh karena kesadaran itu non-material sifatnya..kesadaran itu tidak bisa kita indrai..Jangan katakan bahwa engkau mengetahui meja...Tidak..Yang engkau ketahui adalah fenomena yang tampak secara kasat mata saja..Sedangkan substansinya tidaklah bisa diketahui...Jika demikian, apa guna kita bicara tentang materi, bila kita tak dapat mengtahuinya...

Kenyataan tentang gerak dan perubahan membuat kita harus menyimpulkan bahwa materi bukanlah sesuatu yang eksistensinya bersifat aktual...Sebab jika materi itu aktual, maka semestinya gerak itu tidak ada..Sebab sesuatu yang aktual tidak bisa lagi berubah untuk mencapai bentuk yang lebih tinggi..Yang aktual murni berarti dia juga sekaligus sempurna..Sedangkan perubahan adalah pergantian bentuk secara terus-menerus, sehingga ia mestilah membutuhkan penggerak yang aktual...Karena itu, apa yang kita maksud dengan materi tidak lain dan tidak bukan kecuali gerak dan perubahan itu sendiri...

Adapaun gerak, ia adalah aktualisasi potensi..Jika bukan demikian, maka semestinya yang ada adalah kevakuman...Sederhanya adalah, sesuatu hanya bisa mencapai bentuk yang lain, jika dalam dirinya ia menyimpan potensi untuk menjadi bentuk tersebut...Artinya, ada hubungan yang sangat eksistensial antara ketetapan dan gerak, antara aktualitas dan potensialitas...Tetapi karena potensi hanya sebatas kemungkinan murni, maka potensi itu sendiri bukanlah apa-apa. Sebab kemungkinannya bergantung pada yang Aktual...Dan ini bisa dikatakan bahwa yang eksis adalah yang aktual itu sendiri...

Jika materi adalah potensi murni? Maka meteri itu sesungguhnya adalah gerak itu sendiri...Tetapi gerak itu sendiri tidaklah sekadar perpindahan dari satu titik kepada titik yang lain, namun juga sebagai keniscayaan dari Keberadaan Eksistensi Maha Sempurna yang Aktual tadi...Artinya, mustahil yang sempurna itu pernah diam dalam melakukan tindak penciptaan..Sebab jika Dia diam, maka kesempurnaannya menjadi hilang dengan sendirinya. Mana mungkin yang Cahayanya abadi itu pernah berhenti memancarkan sinar-nya? Karenanya, sangatlah sulit bagi kita untuk memisahkan ide kesempurnaan (ketetapan) dan gerak terutama pada tataran ontologis...Tetapi juga, bahwa gerak hanya akan terjadi pada realitas yang dibatasi oleh ruang dan waktu, realitas yang terindrai..Kebalikannya adalah, realitas non-indrawi tidak mungkin mengalami perubahan untuk mencapi bentuk-bentuk yang lebih tinggi, oleh karenanya Dia adalah Kesempurnaan Aktual yang menjadi syarat utama (Penggerak) dari gerak dan perubahan itu sendiri..Simpul dari seluruh argumen ini terletak pada konsep emanasi (Pelimpahan Karunia)..Dan karenanya keberadaan materi (gerak) adalah sebuah keniscayaan..Gerak itu ada, karena karena Kesempurnaan Aktual itu Eksis..

Dari sudut pandang Qalam, gerak itu bisa disebut sebagai wujud keadilan Ilahi..Bahwa yang Maha Sempurna mestilah melimpahkan karunia-Nya kepada apappun yang berhak mendapatkannya..Bahwa keberadaan manusia di dunia ini merupakan keharusan untuk mencapai tahap yang lebih tinggi..Bahwa kematian adalah momen yang akan sangat dirindukan oleh mereka yang memahami Hikmah dan Kebijaksanaan...

Jika Pikiran telah Memahami Wujud,
Maka Negasi dan Afirmasi sama saja...
Tetap terlihat Ketunggalan pada Segala

Tawakkal ADAM

Di abaikan sama sekalipun, itu tidak berpengaruh baginya..Di puji dengan seribu satu macam pujian, semuanya tidak akan dapat mewakili kesempurnaannya..Bila di dekati, karunia tak terbayangkan akan diperoleh...Maka Sayyidah Fatimah pun berkata "Aku mendekati-Mu bukan dengan amalku. Ku sembah diri-Mu dengan sejuta harapan, hanya harapan".

Dan biarkan ego menjauh...Arahkan diriku, keinginanku, dan semuanya sesuai kemauan-Mu.

Tawakkal yang muncul dari sujud penuh tafakkur..Apa yang bisa dikatakan? Tiba-tiba, air mata jatuh...Ada rasa syukur yang keluar dari hati..Hati yang "ketika berdiri sebelum takbir ia berbisik" "Apapun diriku, sebesar apa salahku, sedalam apa ketergelinciran diriku, Engkau lebih tahu..Yang bersih tak terkira tidak bisa didekati oleh kotoran..Identitasnya, esensinya tidak sama...Tapi apa daya..Inilah aku dengan lalai dan hinaku...Aku tetap ingin berucap..Aku akan bertakbir...Allahu Akbar...Terima aku di kediaman Ridha dan Muhammad SAW...

Ruku...Wahai Pintu Rahman...Sayangi daku
Sujud...Wahai Pintu Rahim...Kasihani aku dengan Kasih yang Sempurna...
Ku hadirkan bayang diri dalam imajinasi...Membayangkan bentuk diriku yang paling indah..Paling bagus..Sebab Engkau terima aku disitu..Itu yang aku tahu...Di Tahiyat kedua...

Sampai suatu saat, dia datang...Memberi gairah pada sembahku, dan menghilangkan kejenuhan yang membuat aku kadang berlari menjauhi-Mu, padahal tinggal selangkah lagi kita bertemu...(Pasti Berjumpa)...