Sabtu, 17 Juli 2010

Sejenak Kedalam Akar-Akar Pengetahuan

Setiap gerak pasti punya tujuan...Dan tujuan tersebut, haruslah sempurna
Alam ini indah dan teratur, dan karenanya, pasti ada Sebab yang membuatnya demikian.
Yang sempurna, tidak mungkin melukan sesuatu karena dipaksa
Kemerdekaan sejati adalah, melakukan apapun yang diinginkan
Jika Dia Sempurna, maka Dia pasti Adil, dan Keadilan-Nya menuntut adanya Kenabian
Kematian adalah momen mencapai tahapan hidup yang lebih tinggi dan sempurna, dan sejumlah pernyataan-pernyataan lainnya..

Aku tidak cukup puas..Maka ku tanya pada diriku sendiri, "Apa hubungan antara fakta gerak itu dengan keharusan bahwa tujuannya mestilah kesempurnaan? Apa hubungan antara alam dan keharusan adanya pencipta? Bagaimana bisa kematian itu dikatakan sebagai tahapan menuju kesempurnaan?

Barangkali akan ada jawaban demikian
"Jika gerak itu tidak bertujuan, maka mengapa gerak itu terjadi'? Sesuatu terjadi karena ada sebab...Jika kesempurnaan bukan tujuan perubahan, maka apa makna segala peristiwa pun perbuatan manusia?
Tetapi setelah ku cermati dengan saksama, ada jarak yang amat nyata antara premis dan kesimpulan..Bagiku, tidak ada alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa setiap gerak pasti bertujuan"..

Dari mana muncul relasi logis antara premis dan kesimpulan tersebut?
Kenapa kebenaran disebut sebagai kebenaran?
Apa kriteria dari pada kebenaran itu sendiri?

Jika saya mengatakan bahwa setiap akibat pasti punya sebab, itu sesuatu yang biasa..Tetapi jika ada pertanyaan tentang kenapa akibat itu mesti punya sebab, maka bagaimanakah kita akan menjawab pertanyaan ini? Landasan ap-riori barangkali bisa dikatakan sebagai fondasi yang benar pada dirinya sendiri...Bahwa akibat itu berhubungan dengan sebabnya.Bahwa dua sesuatu yang bertentangan tidak bisa menyatu dalam wadah atau saat yang sama...Apakah kebenaran konsep seperti ini dapat ditetapkan oleh akal? ataukah kebenarannya adalah bersifat intuitif...Jika saya mengatakan bahwa kebenarannya bersifat intuitif, maka pernyataan ini mestilah pula ditetapkan oleh akal, berdasarkan sejumlah argumentasi yang dipandang rasional. Misalnya tentang konsep sebab-skibat itu sendiri...Kita bisa mengatakan bahwa relasi sebab-akibat adalah sebentuk emanasi, oleh karena keduanya tidak bisa dipisahkan dalam batasan ruang dan waktu..Tetapi bagaimanapun juga, argumentasi ini akan kembali mencari dalil-dalil paling fundamental yang bercorak fondasional...Artinya, pembenaran kita tentang sebab akibat sebagai relasi eksistensial (emanasi) itu sendiri mempunyai alasan-alasan, dan alasan-alasan tersebut tak lain dan tak bukan kecuali sebab itu sendiri...Sebab yang dengannya kita mengambil kesimpulan begini atau begitu tentang sesuatu apapun...Kenyataan yang demikian ini yang membuat David Hume tidak bisa menolak konsep causalitas sama sekali, meskipun ia berusaha untuk mengatakan bahwa causalitas itu tidak ada...Bagaimana mungkin Hume membuktikan sesuatu yang tidak ada?

Tidak ada sesuatu masalah yang muskil dalam membuktikan kekukuahan konsep causalitas..Tetapi masalah menjadi muncul, tatkala konsep tersebut kita gunakan sebagai landasan penilaian terhadap serangkain fenomena yang terjadi..Bagaiman bisa dikatakan bahwa gerak itu pasti menuju pada satu titik kesempurnaan? Apa hubungan antara gerak dan kesempurnaan itu sendiri? Sekuncup bungan menjadi mekar, kemudian melahirkan buah...Jabang bayi bergerak menjadi orang dewasa yang mampu berfikir dan mempunyai kehendak pun keinginan..Kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana bisa sesuatu bergerak mencapai bentuk yang lain dari sebelumnya? Kemudian kita memberi tafsiran bahwa kenyataan tersebut menandakan adanya satu tujuan tertinggi yang hendak dicapai oleh aliran gerak dan perubahan tersebut... Jika saja tidak ada tujuan yang sempurna, maka gerak tidak mungkin terjadi...Adakah benda-benda material yang bergerak itu menyadari fakta pergerakan dirinya? apakah sebiji jagung itu tau bahwa ia akan berubah menjadi buah jangung? ataukah fenomena ini adalah hasil tafsiran manusia semata, oleh karena ia menyaksikan adanya perubahan-peruban dari satu bentuk ke bentuk lainnya...Apakah jangung tersebut merasa bahwa dirinya telah berubah menjadi sempurna dari keadaan sebelumnya? Apakah dengan demikian manusia tidak bisa mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, oleh karena sesuatu itu sendiri tidak menyadari dirnya yang tengah berubah tersebut? Bukankah konsep perubahan dan gerak adalah hasil perbandingan pikir manusia, tatkal ia melihat adanya bergantian bentuk dalam dunia fenomenal?

Bagiku, adalah terlalu jauh jika kita mengatakan bahwa manusia tidak bisa mengetahui sesuatu sebagaimana adanya...Justru, hal tersebut adalah sebuah kemungkinan yang terbuka lebar..Justru perubahan itu sendiri yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Gagasan tetap tentang eksistensi Maha Sempurnalah yang menjadi basis penilaian manusia atas fenomena gerak itu sendiri (sekali lagi bukan gerak itu sendiri). Jika tidak karena ketetapan tersebut, maka mustahil manusia bisa memberi makna pada gerak sebagai satu proses mencapi sempurna..Di otak atik ini konsep kesempurnaan menjadi kata "sebab". Sedangkan konsep akibat hanyalah sudut pandang pikiran tatkala seluruh instrumen pengetahuan terpaku pada fenomena gerak...Tetapi sebagaimana yang telah ku sampaikan di atas, bahwa gerak itu terpahami oleh karena awal-awal yang diintusi dan yang dikonsepsikan adalah kesempurnaan, maka akibat itu sendiri tidak mempunyai status eksistensial sama sekali, kecuali semata-mata sebagai cara pikiran dalam menegaskan konsep kesempurnaan dalam model via negasi..Karenanya, haruslah dikatakan bahwa gerak dan perubahan itu sama saja..Tidak ada bedanya...Sebagaimana bayang-bayang yang menegaskan keberadaan cahaya, dan tidak sama sekali mengatakan bahwa ia ada...Tetapi kesan tentang bayang-bayang tersebut muncul dalam benak manusia, sehingga seolah-olah ia ada...Dibalik semua penjelasan ini, pertayaan awal itu muncul...Apa kriteria kebenaran semua ini, jika rasionalitas itu sendiri sulit dipahami?

Dan Aku berkata
Masuk akal dan Irrasionalitas itu sama saja...
Aku takjub pada pemahaman, sebab pemahaman itu sendiri sulit dipahami...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar