Senin, 05 Juli 2010

MATERI..KENAPA MESTI ADA?

Kenapa ada fakta? yang dia maksud dengan fakta adalah realitas material...Sekilas pertanyaan ini terkesan gampangan...Dan apa pentingnya menjawab tanya tersebut...Alasannya cukup sederhana..Jika sebab-sebab keberadaan materi itu tidak dipahami, maka semestinya kita mesti menggugat kehidupan itu sendiri...Kenapa aku mesti hidup, jika segala yang ada ini tidak bisa dimengerti..Bukanlah sikap yang baik, bila kita malas menggubris realitas..Tanpa butuh alasan yang lebih dalam lagi, cukuplah dikatakan bahwa masa bodoh dengan realitas itu pastilah akan membawa keburukan sama sekali...

Kesadaran ini membuat kita harus mengambil sikap, dan menelusuri secara mendalam atas sebab-sebab keberadaan materi itu sendiri...Lantas apa yang dimaksudkan dengan materi? Apakah maksud kita tentang materi itu adalah gambaran utuh tentang eksistensinya, atau semata-mata deskripsi konsepsional terhadapnya...Materi itu tidak pernah menyatu sedemikian rupa dengan kesadaran kita, oleh karena kesadaran itu non-material sifatnya..kesadaran itu tidak bisa kita indrai..Jangan katakan bahwa engkau mengetahui meja...Tidak..Yang engkau ketahui adalah fenomena yang tampak secara kasat mata saja..Sedangkan substansinya tidaklah bisa diketahui...Jika demikian, apa guna kita bicara tentang materi, bila kita tak dapat mengtahuinya...

Kenyataan tentang gerak dan perubahan membuat kita harus menyimpulkan bahwa materi bukanlah sesuatu yang eksistensinya bersifat aktual...Sebab jika materi itu aktual, maka semestinya gerak itu tidak ada..Sebab sesuatu yang aktual tidak bisa lagi berubah untuk mencapai bentuk yang lebih tinggi..Yang aktual murni berarti dia juga sekaligus sempurna..Sedangkan perubahan adalah pergantian bentuk secara terus-menerus, sehingga ia mestilah membutuhkan penggerak yang aktual...Karena itu, apa yang kita maksud dengan materi tidak lain dan tidak bukan kecuali gerak dan perubahan itu sendiri...

Adapaun gerak, ia adalah aktualisasi potensi..Jika bukan demikian, maka semestinya yang ada adalah kevakuman...Sederhanya adalah, sesuatu hanya bisa mencapai bentuk yang lain, jika dalam dirinya ia menyimpan potensi untuk menjadi bentuk tersebut...Artinya, ada hubungan yang sangat eksistensial antara ketetapan dan gerak, antara aktualitas dan potensialitas...Tetapi karena potensi hanya sebatas kemungkinan murni, maka potensi itu sendiri bukanlah apa-apa. Sebab kemungkinannya bergantung pada yang Aktual...Dan ini bisa dikatakan bahwa yang eksis adalah yang aktual itu sendiri...

Jika materi adalah potensi murni? Maka meteri itu sesungguhnya adalah gerak itu sendiri...Tetapi gerak itu sendiri tidaklah sekadar perpindahan dari satu titik kepada titik yang lain, namun juga sebagai keniscayaan dari Keberadaan Eksistensi Maha Sempurna yang Aktual tadi...Artinya, mustahil yang sempurna itu pernah diam dalam melakukan tindak penciptaan..Sebab jika Dia diam, maka kesempurnaannya menjadi hilang dengan sendirinya. Mana mungkin yang Cahayanya abadi itu pernah berhenti memancarkan sinar-nya? Karenanya, sangatlah sulit bagi kita untuk memisahkan ide kesempurnaan (ketetapan) dan gerak terutama pada tataran ontologis...Tetapi juga, bahwa gerak hanya akan terjadi pada realitas yang dibatasi oleh ruang dan waktu, realitas yang terindrai..Kebalikannya adalah, realitas non-indrawi tidak mungkin mengalami perubahan untuk mencapi bentuk-bentuk yang lebih tinggi, oleh karenanya Dia adalah Kesempurnaan Aktual yang menjadi syarat utama (Penggerak) dari gerak dan perubahan itu sendiri..Simpul dari seluruh argumen ini terletak pada konsep emanasi (Pelimpahan Karunia)..Dan karenanya keberadaan materi (gerak) adalah sebuah keniscayaan..Gerak itu ada, karena karena Kesempurnaan Aktual itu Eksis..

Dari sudut pandang Qalam, gerak itu bisa disebut sebagai wujud keadilan Ilahi..Bahwa yang Maha Sempurna mestilah melimpahkan karunia-Nya kepada apappun yang berhak mendapatkannya..Bahwa keberadaan manusia di dunia ini merupakan keharusan untuk mencapai tahap yang lebih tinggi..Bahwa kematian adalah momen yang akan sangat dirindukan oleh mereka yang memahami Hikmah dan Kebijaksanaan...

Jika Pikiran telah Memahami Wujud,
Maka Negasi dan Afirmasi sama saja...
Tetap terlihat Ketunggalan pada Segala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar