Kemajemukan...Tidak ada hal yang sama..Segala sesuatu punya identitas, sehingga perbedaan itu ada...Agama dan ideologi pun tidak tunggal..Tetapi ketika kemajemukan ini jadi paham atau ideologi, maka perkaranya menjadi lain. Maksud saya adalah, saat yang banyak itu semuanya dikatakan sebagai kebenaran...Apakah kebenaran itu tunggal?
Jika saja yang kita sebut sebagai kebenaran ini tidak satu, maka semestinya kita menerima eksistensi kejamakan ontologis..Artinya, masing dari yang banyak itu mesti mempunyai sumber keberadaannya sendiri-sendiri...A punya asal yang berbeda dengan B, demikian juga dengan C, dan seterusnya..Tetapi bagimana ini bisa diterima, bila nampak bahwa segala sesuatu itu saling berhubungan, berada dalam ikatan yang organis...Manusia tidak bisa hidup tanpa alam, demikian juga sebaliknya..Kenyataan ini memberi kabar bahwa semuanya punya sumber yang sama, tempat bergantung yang tunggal, asal dan tujuannya pun pastilah satu saja...
Barangkali tidak terlalu sulit bagi kita untuk membenarkan kenyataan ini..Tetapi apakah ketunggalan ontologis ini meniscayakan pula ketunggalan aksiologis? Apakah jalan mencapai kebenaran itu mesti satu saja, atau bisa pula lebih dari satu?
Pada titik ini, kita mesti bicara tentang kebenaran sebagaimana kebenaran itu sendiri, dan bukan kebenaran menurut siapa-siapa...Jika akal adalah kriteria dari pada kebenaran itu sendiri, maka kita mau tidak mau kita memiliki kebutuhan untuk melakukan telaah terhadap akal itu sendiri, kemudian bagaimana hubungannya dengan kebenaran...Apakah akal mempunyai kehakikian ontologis dengan realitas diluar akal itu sendiri, ataukah tidak sama sekali...Jika tidak ada kaitan antara akal dan realitas eksternal, maka mustahillah kita bisa bicara tentang kebenaran...Tetapi bagaimanapun juga, dorongan dalam diri manusia yang menuntutnya untuk mencari dan mendapatkan jawaban atas semua teka-teki kehidupan dan realitas, merupakan sesuatu bukti bahwa manusia memang tidak bisa lepas dari kebenaran, bahkan ia berkainginan untuk menyatu dan menjadi kebenaran itu sendiri...Maka dari itu, pengandaian tentang mustahilnya manusia mendapatkan kebenaran adalah sesuatu yang tertolak sama sekali...Tegasnya, kebenaran itu bisa diketahui.
Tetapi bagimana mengukur suatu pengalaman psikologis sebagai sebuah kebenaran atau kekeliruan? Jelas bahwa intusi itu tidak bisa menjadi kriteria bagi dirinya sendiri. Akal harus tampil menjadi juri dan hakim bagi setiap pengalaman...Kembali pada pertanyaan awal di atas tentang apa itu akal?
Filsuf anti fondasionisme tidak percaya bahwa pengetahuan atau kebenaran itu punya akar-akar yang ap-riori, yang self devident..Tetapi bagaimanapun juga, setiap penolakan haruslah punya alasan. Jika saja akar-akar penolakan yang paling mendasar itu pun ditolak atau tidak benar pada dirinya sendiri, maka penolakan itu sendiri akan menjadi sesuatu yang paling lucu, dan karenanya pantas ditertawakan...Maka akal harus punya fondasi yang kokoh, dan jelas pada dirinya sendiri...Apa fondasi akal itu?
Setiap sesuatu punya sebab...Kenapa segala sesuatu tidak bisa tidak punya sebab? kita hanya mengatakan bahwa yang demikian itu mustahil...Tidak mungkin realitas ini tidak punya sebab...Tetapi mengapa yang mustahil itu mustahil? Implikasi dari penolakan atas keharusan sebab itu sendiri adalah kemestian hilangnya gerak dan perubahan...Artinya, gerak itu sendiri harus berjalan tanpa ada tujuan (sebab)...Seandainya demikian, maka kita juga harus menegaskan relasi dahulu, kini, dan besok adalah sebuah kebetulan saja...Bagaimana manusia bisa hidup dalam semesta kebetulan ini??? Singkatnya, penolakan pada fondasi pengetahuan ap-riori itu tidak saja berakibat buruk pada perkara yang sifatnya teoritis, melainkan menghancurkan pula seluruh kepentingan praksis dari manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar