"Tuhan itu tidak ada"...Demikian pernyataan yang sering ku baca, dan ku dengar. Apakah penyataan itu keluar dari batin sadar sebab ia adalah sebuah pengalaman pribadi, atau mungkin sekadar kata yang bermain...Biarkan saja...Anggaplah itu nyata sebagai hasil pencarian manusia...Namun ada yang aneh dari pernyataan itu...?
Tuhan tidak ada?
Bila benar begitu, maka mengapa mesti diucapkan? mengapa mesti menyatakan...Sebab mustahil adanya, bahwa yang tidak ada kembali ditegaskan sebagai tidak ada... Bagaimana mungkin "tidak ada" dibuktikan sebagai tidak ada"? Ataukah ada yang salah dengan pola kerja akal? Sehingga yang mustahil mewujud dipaksa harus mewujud?
Sejatinya, pertanyaan itu tidak hendak membuktikan Tuhan tidak ada...Barangkali ia lebih sebagai sebentuk protes atas konsepsi ke-tuhan-an yang umum dipahami, dan jamak di yakini..Pernyataan ini sendiri telah lantang menetapkan identitas sesuatu yang Wajib, yaitu wujud, Being, Eksisten, atau apapun namanya...ADA dengan demikian tidak bisa dinafikkan sama sekali...Wujud telah jelas dengan sendirinya.Ia mandiri sebagai kemutlakan...
Apakah Wujud sama dengan Sesuatu?
Apakah wujud itu adalah manusia, atau hewan, atau tumbuhan, atau batu, atau apapun juga? Jika benar, dengan misalnya dia adalah manusia, maka selainnya mestilah sebagai non-wujud...Artinya, selain manusia, segala yang lain itu tidak ada...Tetapi ini tidak sebagaimana kenyataannya...Apakah Eksisten itu jamak? mengambil bentuk dalam wajah segala sesuatu yang beragam ini? Jika demikian, maka masing-masing haruslah berdiri secara otonom...Artinya, mustahil ada hubungan yang terjalin antara sesuatu dengan yang lain...Namun lagi-lagi pengandaian ini tidak dapat diterima, sebab silaturrahmi antara segala sesuatu begitu terang...Maka apa dan bagaimanakah wujud itu?
Dia pastilah Realitas non-material yang tidak terbatas...Dan karenanya, dia meliputi segala apa...Apa yang dimaksud dengan meliputi ini juga perlu kita beri keterangan...Konsep "meliputi" yang dimaksud tidak sebagaimana tertampungnya air di dalam gelas...Meliputi itu artinya, segala sesuatu adalah diri-Nya sendiri...Batu berbeda dengan gelas...Semut lebih kecil dari pada gajah...Tapi jika diurai, tidak akan kita temukan batasan sama sekali...Maka semut dan gajah sama saja, debu dan gunung pun demikian...Bagaimana ini? Bagaimana yang Tunggal Menjadi beragam? Bahkan Ibn-Arabi mengatakan bahwa perkara ini adalah perkara yang paling tinggi dalam pengembaraan pengetahuan hati juga akal...
Tuhan itu ada atau tidak?
Ada atau tidak sama saja...Akal merabah, jiwa dan intuisi mengembara...Mancari arti Esa, Tunggal, Zat, Hakikatnya hakikat...Bagaimana Dia? Dia unik..Seperti apakah keunikan-Nya? Sebagaimana gerak...Disatu sisi adalah berjalan menitih titik-titik, tetapi pada lain sisi, akhir adalah awal itu sendiri, sebab kita berjalan dalam ringkaran Eksistensi atau keberadaan...Kulihat kesan kontradiksi ini hendak dipecahkan oleh Nietzche, sehingga ia mengatakan bahwa yang hakiki adalah gerak yang abadi...Gerak tanpa batas..Tapi gerak tanpa batas itu sama saja dengan diam, sebab itu artinya gerak tanpa tujuan...Tapi jika tujuan itu awal itu sendiri, maka untuk apa gerakan itu? Nietzche menghasrati kebadian..Tapi dia mengahadapi kenyataan yang berubah-ubah...Kebenaran harus total...Tapi kebenaran itu bergerak...Jika itu keluar dari kenyataan batinnya dalam suasana betul-betul jujur, Nietzche pastilah seorang yang telah menikmati alam balasan yang indah dan membahagiakan....Semoga saja....
Minggu, 30 Mei 2010
Rumi Bebas, Rumi Kaya, Rumi Miskin
Selalu dikatakan bahwa kebebasan adalah hak mendasar manusia yang wajib di jaga...Tapi mestilah diurai lebih dalam lagi tentang kebebasan itu sendiri...
Apa itu kebebasan...
Apa saja bisa dilakukan...Namun setiap tindakan punya akibat...Hukum sebab-akibat dengan demikian menguasai kebebasan...Jika mau, maka semestinya kebebasan itu adalah tindakan mandiri dan otonom yang tidak punya konsekwensi apa-apa...Karena yang demikian ini tidak bisa, bahkan mustahil, maka pastilah kebebasan itu terkait dengan apa yang disebut takdir (hukum)...
Hukum pada lapisan pertama adalah "relasi causasi". Bahwa setiap sebab punya akibat, pun sebaliknya...Dia adalah hukum universal...Bahkan jika ada manusia yang tidak terbakar ketika disentuh oleh api, fenomena sepinta aneh ini tetaplah punya sebab..Cuman saja, sebabnya tidak disaksikan secara indrawi..Kekeliruan orang empirisme adalah ketika ia mengatakan bahwa relasi sebab-akibat itu sama dengan hubungan panas dan air yang mendidih...Dan jika air tidak mendidih meskipun telah dipanasi, maka oleh mereka akan dikatakan sebagai mustahil...Sejatinya, empirisme tidak paham betul tentang apa itu hukum causalitas...
Samapi disini, tampaknya persoalannya agak sedikit ringan...Namun akal radikal pastilah akan menyusuri lebih jauh lagi, bahkan kedasar-dasar yang paling susah diotak-atik..Mari kita bertanya, "mengapa setiap akibat harus ada sebabnya"? Kenapa akibat tanpa sebab atau sebaliknya itu tidak bisa terjadi?
Betul-betul mendasar..Sama halnya dengan mengapa yang ada itu mesti ada.mengapa yang ada mustahil dari tiada dan meniada?
Mungkin ini bisa kita jawab dengan satu pertanyaan "mengapa kita bertanya begitu"? Pastilah karena ada sebabnya.Rasa ingin tahu misalnya.Atau rasa tidak puas atas sebuah jawaban yang belum betuyl-betul radikal atau fondasional. Kita mencoba menggugat meharusan relasi causasi, namun menyimpan motif (alasan yang mendasari pertanyaan). Jika begitu, maka bagaimana bisa hukum paten itu bisa dirasionalitasi...Apa yang bisa kita katakan hanyalah bahwa hukum causalitas itu merupakan sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri..Ia tidak lagi butuh pada sesuatu apapun yang akan meneranginya...Dan lagi, pengetahuan memang harus berangkat dari titik awal yang terang-benderang..mustahil ia lahir dari yang masih samar-samar. sebab jika begitu, maka pengetahuan hanya akan jadi lingkaran yang tak ada ujung pun pangkalnya...Apa yang bisa dikatakan tentang takdir sebab-akibat tersebut adalah bahwa ia adalah gambaran konseptual tentang relasi eksistensial pada segala sesuatu...Sebab-akibat adalah wujud atau eksistensi itu sendiri...Dan sebagai eksistensi, ia bebas secara mutlak...Maksudnya adalah, tidaada yang memaksa dia untuk menjadi tidak ada...Jika kita bertanya, bila ada itu mutlak, maka bisakah dia menjadikan dirinya tidak ada? Sama saja. sebab pertanyaan ini mengandaikan bahwa tidak ada ada sebuah kenyataan baru tentang ada...Ada yang menjadi tidak ada (sesuatu)...
Lapisan selanjutnya adalah, relasi fenomenal...
Air yang dipanaskan maka dia mendidih...Dan lain-lain...Ia terkait dengan sistem penciptaan...Kopi bergantung pada air panas.Air panas karena ada api...Api muncul dari sesuatu...Jadi kalau diulur ini hubungan, yang muncul adalah lingkaran...Dan lingkaran itu berarti bahwa titik berangkat adalah tujuan itu sendiri...Namanya juga berputar...Akal mesti diasah biar jadi tajam. Biar ia bisa melihat sesuatu yang bersembunyi...Apa yang bersembunyi dari relasi kehidupan yang organis ini? Adalah kehendak...Bagaimana bisa udara yang tidak menyadari dirinya itu menjadi syarat kehidupan, pula makanan, pula api bagi air mendidih, juga tentang obat-obatan dan kesembuhan orang sakit? Betul-betul tidak masuk akal...Dan memang terlihat jelas tidak ada relasi "harusnya"...Sistem alam...Adalah perwujudan kehendak Sang Maha Kuasa...Bukanlah api itu yang membakar..Tapi Kamilah yang membakar...Bukan pula engkau yang melempar, tapi kamilah yang melempar...
Jadi dimana kebebasan kita?
Apakah kita bisa merubah relasi sebab-akibat menjadi "kebetulan". Mutahil...Sangat tidak mungkin...Lantas apa yang kita maksud dengan kebebasan? Tampaknya kebebasan itu hanya bisa diraih dengan cara membakar diri dalam api ketidak-terbatasan...Satu meliputi segala sesuatu...Jika kita telah menjadi "Al Haq", maka kepada siapa lagi kita mesti menengadah? Dengan-Nya, segala sesuatu adalah milikku...Aku punya kuasa, aku punya wilayah...Tapi apakah aku harus mengatakannya, jika Dia adalah segala-galanya...Dan tidak kepada sesuatu apapun lagi aku akan berpaling...Tidak kepada segala yang kumiliki, juga kepada wilayah yang aku kuasai...AKu kaya, maka aku tidak punya apa-apa...
Apa itu kebebasan...
Apa saja bisa dilakukan...Namun setiap tindakan punya akibat...Hukum sebab-akibat dengan demikian menguasai kebebasan...Jika mau, maka semestinya kebebasan itu adalah tindakan mandiri dan otonom yang tidak punya konsekwensi apa-apa...Karena yang demikian ini tidak bisa, bahkan mustahil, maka pastilah kebebasan itu terkait dengan apa yang disebut takdir (hukum)...
Hukum pada lapisan pertama adalah "relasi causasi". Bahwa setiap sebab punya akibat, pun sebaliknya...Dia adalah hukum universal...Bahkan jika ada manusia yang tidak terbakar ketika disentuh oleh api, fenomena sepinta aneh ini tetaplah punya sebab..Cuman saja, sebabnya tidak disaksikan secara indrawi..Kekeliruan orang empirisme adalah ketika ia mengatakan bahwa relasi sebab-akibat itu sama dengan hubungan panas dan air yang mendidih...Dan jika air tidak mendidih meskipun telah dipanasi, maka oleh mereka akan dikatakan sebagai mustahil...Sejatinya, empirisme tidak paham betul tentang apa itu hukum causalitas...
Samapi disini, tampaknya persoalannya agak sedikit ringan...Namun akal radikal pastilah akan menyusuri lebih jauh lagi, bahkan kedasar-dasar yang paling susah diotak-atik..Mari kita bertanya, "mengapa setiap akibat harus ada sebabnya"? Kenapa akibat tanpa sebab atau sebaliknya itu tidak bisa terjadi?
Betul-betul mendasar..Sama halnya dengan mengapa yang ada itu mesti ada.mengapa yang ada mustahil dari tiada dan meniada?
Mungkin ini bisa kita jawab dengan satu pertanyaan "mengapa kita bertanya begitu"? Pastilah karena ada sebabnya.Rasa ingin tahu misalnya.Atau rasa tidak puas atas sebuah jawaban yang belum betuyl-betul radikal atau fondasional. Kita mencoba menggugat meharusan relasi causasi, namun menyimpan motif (alasan yang mendasari pertanyaan). Jika begitu, maka bagaimana bisa hukum paten itu bisa dirasionalitasi...Apa yang bisa kita katakan hanyalah bahwa hukum causalitas itu merupakan sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri..Ia tidak lagi butuh pada sesuatu apapun yang akan meneranginya...Dan lagi, pengetahuan memang harus berangkat dari titik awal yang terang-benderang..mustahil ia lahir dari yang masih samar-samar. sebab jika begitu, maka pengetahuan hanya akan jadi lingkaran yang tak ada ujung pun pangkalnya...Apa yang bisa dikatakan tentang takdir sebab-akibat tersebut adalah bahwa ia adalah gambaran konseptual tentang relasi eksistensial pada segala sesuatu...Sebab-akibat adalah wujud atau eksistensi itu sendiri...Dan sebagai eksistensi, ia bebas secara mutlak...Maksudnya adalah, tidaada yang memaksa dia untuk menjadi tidak ada...Jika kita bertanya, bila ada itu mutlak, maka bisakah dia menjadikan dirinya tidak ada? Sama saja. sebab pertanyaan ini mengandaikan bahwa tidak ada ada sebuah kenyataan baru tentang ada...Ada yang menjadi tidak ada (sesuatu)...
Lapisan selanjutnya adalah, relasi fenomenal...
Air yang dipanaskan maka dia mendidih...Dan lain-lain...Ia terkait dengan sistem penciptaan...Kopi bergantung pada air panas.Air panas karena ada api...Api muncul dari sesuatu...Jadi kalau diulur ini hubungan, yang muncul adalah lingkaran...Dan lingkaran itu berarti bahwa titik berangkat adalah tujuan itu sendiri...Namanya juga berputar...Akal mesti diasah biar jadi tajam. Biar ia bisa melihat sesuatu yang bersembunyi...Apa yang bersembunyi dari relasi kehidupan yang organis ini? Adalah kehendak...Bagaimana bisa udara yang tidak menyadari dirinya itu menjadi syarat kehidupan, pula makanan, pula api bagi air mendidih, juga tentang obat-obatan dan kesembuhan orang sakit? Betul-betul tidak masuk akal...Dan memang terlihat jelas tidak ada relasi "harusnya"...Sistem alam...Adalah perwujudan kehendak Sang Maha Kuasa...Bukanlah api itu yang membakar..Tapi Kamilah yang membakar...Bukan pula engkau yang melempar, tapi kamilah yang melempar...
Jadi dimana kebebasan kita?
Apakah kita bisa merubah relasi sebab-akibat menjadi "kebetulan". Mutahil...Sangat tidak mungkin...Lantas apa yang kita maksud dengan kebebasan? Tampaknya kebebasan itu hanya bisa diraih dengan cara membakar diri dalam api ketidak-terbatasan...Satu meliputi segala sesuatu...Jika kita telah menjadi "Al Haq", maka kepada siapa lagi kita mesti menengadah? Dengan-Nya, segala sesuatu adalah milikku...Aku punya kuasa, aku punya wilayah...Tapi apakah aku harus mengatakannya, jika Dia adalah segala-galanya...Dan tidak kepada sesuatu apapun lagi aku akan berpaling...Tidak kepada segala yang kumiliki, juga kepada wilayah yang aku kuasai...AKu kaya, maka aku tidak punya apa-apa...
Sabtu, 29 Mei 2010
Mencari Belerang Merah...
Bagaimana kalau sistem penciptaan ini tidak punya semacam filter...Penyaring yang berada tepat dianatara dua jalan...Kotor dan bersih, gelap dan terang, kotoran dan sari-sari makanan penuh gizi, baik dan buruk, dan seterunya...Pasti keduanya akan bercampur, dan karenanya, yang bersih akan menjadi kotor, yang suci bakal berdebu...Dan rusaklah segala kehidupan...
Mencari belerang merah...
Sistem alam ini berjalin kelindan layaknya satu tubuh...Sebuah sistem yang organis...Satu adalah keseluruhan, dan keseluruhan tunduk pada ketunggalan...Lahir dan batin tidak terpisah...Banyak dan sedikit sama saja...Manusia hidup dari udara yang dihidup, dari makanan yang dimakan, dan iar yang diminum...Air, makanan, udara, juga bergantung pada yang lain...Semacam sebuah lingkaran...Bergerak sama saja dengan diam, sebab tujuan akan kembali kepada awal...Dan dari manapun kita masuk kedalam rangkain ini, yang ditemukan pastilah keseluruhan...Dari udara, kita akan bergerak menemukan manusia.Dari pintu manusia, kita akan melihat arti penting segala yang lainnya...Demikian sehingga, satu bagian saja rusak, maka seluruhnya pun akan mengalami kerusakan...
Tetapi, hitunglah..!!!...Jangankan lebih dari seratus, setetes kesalahan saja, akan berakibat tidak baik pada keseluruhan...Jika demikian, maka mengapa segala seuatu ini masih tetap ekisis? Bukankah kerusakan itu mestilah telah terjadi dalam bentuk yang paling dasyat? Kematian total maksudku...Apa sebab semuanya masih tetap hidup? apa sebab kehancuran yang seketika itu tidak mewujud? Padahal pola penciptaan itu organis...
Ada kesucian yang menopang bangunan kehidupan ini...Kebaikannya mengalahkan segala buruk dan kotoran...Sesungguhnya ia adalah kesempurnaan lahir batin dan tak sedetikpun masuk kedalam selokan penuh sampah...Kesuciannya lebih kuat mempengaruhi semua cacat mahluk manusia, seperti aku, kamu, dan kita semua ini...Belerang merah yang ku maksud adalah Sang Imam...Mahdi Al-Muntazar....Dalam tubuh apa namanya? dalam jiwa ia bernama latifatul-kalbi.. dua jari bagian bawah di susu kiri...Allahu'A'lam...Ini Renungan Saya....
Mencari belerang merah...
Sistem alam ini berjalin kelindan layaknya satu tubuh...Sebuah sistem yang organis...Satu adalah keseluruhan, dan keseluruhan tunduk pada ketunggalan...Lahir dan batin tidak terpisah...Banyak dan sedikit sama saja...Manusia hidup dari udara yang dihidup, dari makanan yang dimakan, dan iar yang diminum...Air, makanan, udara, juga bergantung pada yang lain...Semacam sebuah lingkaran...Bergerak sama saja dengan diam, sebab tujuan akan kembali kepada awal...Dan dari manapun kita masuk kedalam rangkain ini, yang ditemukan pastilah keseluruhan...Dari udara, kita akan bergerak menemukan manusia.Dari pintu manusia, kita akan melihat arti penting segala yang lainnya...Demikian sehingga, satu bagian saja rusak, maka seluruhnya pun akan mengalami kerusakan...
Tetapi, hitunglah..!!!...Jangankan lebih dari seratus, setetes kesalahan saja, akan berakibat tidak baik pada keseluruhan...Jika demikian, maka mengapa segala seuatu ini masih tetap ekisis? Bukankah kerusakan itu mestilah telah terjadi dalam bentuk yang paling dasyat? Kematian total maksudku...Apa sebab semuanya masih tetap hidup? apa sebab kehancuran yang seketika itu tidak mewujud? Padahal pola penciptaan itu organis...
Ada kesucian yang menopang bangunan kehidupan ini...Kebaikannya mengalahkan segala buruk dan kotoran...Sesungguhnya ia adalah kesempurnaan lahir batin dan tak sedetikpun masuk kedalam selokan penuh sampah...Kesuciannya lebih kuat mempengaruhi semua cacat mahluk manusia, seperti aku, kamu, dan kita semua ini...Belerang merah yang ku maksud adalah Sang Imam...Mahdi Al-Muntazar....Dalam tubuh apa namanya? dalam jiwa ia bernama latifatul-kalbi.. dua jari bagian bawah di susu kiri...Allahu'A'lam...Ini Renungan Saya....
Tentang Ruang Waktu...Tentang Persatuan
Aku membaca sebuah buku "kemarin"...Judulnya "mengenal Epistemologi"...Sedikit disunggung dalam buku itu tentang arti kata "kemarin", hari ini dan besok..Tentang waktu...Ku baca itu buku di "dalam kamarku"... Juga tentang "ruang"...Tetapi apa itu ruang-waktu?
Tak cukup banyak orang yang menatap masalah ini...Sebab kebanyakan itu selalu mempercayai sesuatu sebagaimana umumnya dipahami...Padahal, ruang waktu itu adalah satu tema yang dalam dirinya ia memberi hikmah besar kepada kita...Tentang arti ketidakterbatasan pula kesucian...Bagaimananya kaitannya?
Coba kita tanya ulang tentang ruang-waktu itu...Apakah yang dimaksud ruang itu adalah sebuah wadah yang menampung sesuatu? Jadi aku ditampung oleh kamarku..Aku membaca buku di dalam kamar. Tarik lagi relasi ini...Kamar ditampung oleh apa? Oleh rumah, dan seterusnya...Kemudian perkara itu muncul...Dimanakah ruang paling besar dan paling awal yang menampung semuanya ini? Apakah langit biru? Tapi dimana batas langit itu?
Dimanakah matahari itu? Kita biasa mengatakan "diluar sana"..Tetapi apa yang kita maksudkan dengan diluar itu? Jelslah bahwa ruang itu bukan sebuah wadah material...Demikian pula dengan waktu...Aku membaca buku kemarin...Dimanakah hari kemarin itu? Jika kemarin itu ada atau eksis secara material, maka mengapa aku tidak bisa berjalan mundur dan mengalaminya kembali? Jangan bilang bahwa pengalamanku saat ini itu persis dengan apa yang terjadi kemarin, sehingga aku mengalami apa yang disebut dengan "kemarin" itu. Tidak.Tidak demikian..Pengalamku saat ini adalah sesuatu yang baru,.Kenyataan yang baru...Demikian juga dengan besok...Besok itu tidak eksis.Besok adalah mimpi..Bayangan tentang bagaimana kita nanti...Dan karenanya, kita pun tidak bisa mendahului aliran waktu itu sendiri...Apakah dengan demikian yang real itu adalah "saat ini"? Tetapi yang ku maksudkan dengan saat ini tersebut akan terkait dengan ruang...Tentang saat ini dan di mana?
Kant kemudian mengambil simpul dengan mengatakan bahwa ruang dan waktu adalah konstruksi pikiran manusia belaka, dan bukan suatu kenyataan material yang eksis diluar diri manusia...Terkesan bahwa jawaban Kant ini telah memberi kepuasaan..Namun perkaranya belum selesai sampai di sini...Penelusuran pikir mesti berlanjut...Dan kita mesti mengangkat sebuah tanya baru, yaitu "bagaimana pikiran menciptakan konsepsi ruang-waktu itu?
Kapan dan dimana itu menandakan batasan atau spasi-spasi gerak dan posisi...Namun pada dasarnya tidak ada keterbatasan sama sekali pada realitas itu sendiri...Apa yang kita sebut sebagai kenyataan material itu pada dasarnya tidak mempunyai batasan sama sekali...Karakter pikiran memanglah selalu ingin melihat sekat-sekat dalam realitas, sebab secara indrawi, segala sesuatunya memunculkan diri dalam wajah kemajemukan...Tetapi apakah kemajemukan itu hakiki? jika diandaikan demikian, maka ruang waktu mestilah menjadi sesuatu yang obyektif, dan bukan semata-mata ciptaan pikiran...Karenanya, yang memberi makna pada ruang-waktu atau batasan-batasan itu sendiri adalah ketakterbatasan...Tetapi pada lain pandang, ketakterbatasan itu sendiri sedikit banyak dipahami dari keterbatasan...Apa artinya, yaitu bahwa yang tunggal dan yang banyak itu tidak bisa dipisah-pisahkan...Tetapi keterbatasan mengungkap wajah Sang Maha Tak terbatas...Sedangkan Yang Tak Terbatas mematerialisasikan dirinya menjadi kemajemukan...Demikian sehingga Tuhan dan alam itu tidak terpisah.Sebab dan akibat juga...Kemajemukan adalah anugerah...Tetapi keinginan yang bersuara kuat dalam batin setiap mahluk, merupakan tanda bahwa pada hakikatnya, kita adalah satu...Namun bersatu dalam ruang-waktu adalah hal yang mustahil, sebab keduanya adalah keterbatasan...Bersatu hanya mungkin terjadi jika ada ikatan batin yang kuat dengan ketidak-terbatasan itu sendiri....
Persatuan yang berpijak pada motif-motif material hanyalah hegemoni dan penguasaan sebagian atas yang lain...Sedangkan kemajemukan yang berpegang pada tali ketakterbatasan (kesucian) akan membangun harmoni yang indah semerbak....Firman Akal Tafakkur
Tak cukup banyak orang yang menatap masalah ini...Sebab kebanyakan itu selalu mempercayai sesuatu sebagaimana umumnya dipahami...Padahal, ruang waktu itu adalah satu tema yang dalam dirinya ia memberi hikmah besar kepada kita...Tentang arti ketidakterbatasan pula kesucian...Bagaimananya kaitannya?
Coba kita tanya ulang tentang ruang-waktu itu...Apakah yang dimaksud ruang itu adalah sebuah wadah yang menampung sesuatu? Jadi aku ditampung oleh kamarku..Aku membaca buku di dalam kamar. Tarik lagi relasi ini...Kamar ditampung oleh apa? Oleh rumah, dan seterusnya...Kemudian perkara itu muncul...Dimanakah ruang paling besar dan paling awal yang menampung semuanya ini? Apakah langit biru? Tapi dimana batas langit itu?
Dimanakah matahari itu? Kita biasa mengatakan "diluar sana"..Tetapi apa yang kita maksudkan dengan diluar itu? Jelslah bahwa ruang itu bukan sebuah wadah material...Demikian pula dengan waktu...Aku membaca buku kemarin...Dimanakah hari kemarin itu? Jika kemarin itu ada atau eksis secara material, maka mengapa aku tidak bisa berjalan mundur dan mengalaminya kembali? Jangan bilang bahwa pengalamanku saat ini itu persis dengan apa yang terjadi kemarin, sehingga aku mengalami apa yang disebut dengan "kemarin" itu. Tidak.Tidak demikian..Pengalamku saat ini adalah sesuatu yang baru,.Kenyataan yang baru...Demikian juga dengan besok...Besok itu tidak eksis.Besok adalah mimpi..Bayangan tentang bagaimana kita nanti...Dan karenanya, kita pun tidak bisa mendahului aliran waktu itu sendiri...Apakah dengan demikian yang real itu adalah "saat ini"? Tetapi yang ku maksudkan dengan saat ini tersebut akan terkait dengan ruang...Tentang saat ini dan di mana?
Kant kemudian mengambil simpul dengan mengatakan bahwa ruang dan waktu adalah konstruksi pikiran manusia belaka, dan bukan suatu kenyataan material yang eksis diluar diri manusia...Terkesan bahwa jawaban Kant ini telah memberi kepuasaan..Namun perkaranya belum selesai sampai di sini...Penelusuran pikir mesti berlanjut...Dan kita mesti mengangkat sebuah tanya baru, yaitu "bagaimana pikiran menciptakan konsepsi ruang-waktu itu?
Kapan dan dimana itu menandakan batasan atau spasi-spasi gerak dan posisi...Namun pada dasarnya tidak ada keterbatasan sama sekali pada realitas itu sendiri...Apa yang kita sebut sebagai kenyataan material itu pada dasarnya tidak mempunyai batasan sama sekali...Karakter pikiran memanglah selalu ingin melihat sekat-sekat dalam realitas, sebab secara indrawi, segala sesuatunya memunculkan diri dalam wajah kemajemukan...Tetapi apakah kemajemukan itu hakiki? jika diandaikan demikian, maka ruang waktu mestilah menjadi sesuatu yang obyektif, dan bukan semata-mata ciptaan pikiran...Karenanya, yang memberi makna pada ruang-waktu atau batasan-batasan itu sendiri adalah ketakterbatasan...Tetapi pada lain pandang, ketakterbatasan itu sendiri sedikit banyak dipahami dari keterbatasan...Apa artinya, yaitu bahwa yang tunggal dan yang banyak itu tidak bisa dipisah-pisahkan...Tetapi keterbatasan mengungkap wajah Sang Maha Tak terbatas...Sedangkan Yang Tak Terbatas mematerialisasikan dirinya menjadi kemajemukan...Demikian sehingga Tuhan dan alam itu tidak terpisah.Sebab dan akibat juga...Kemajemukan adalah anugerah...Tetapi keinginan yang bersuara kuat dalam batin setiap mahluk, merupakan tanda bahwa pada hakikatnya, kita adalah satu...Namun bersatu dalam ruang-waktu adalah hal yang mustahil, sebab keduanya adalah keterbatasan...Bersatu hanya mungkin terjadi jika ada ikatan batin yang kuat dengan ketidak-terbatasan itu sendiri....
Persatuan yang berpijak pada motif-motif material hanyalah hegemoni dan penguasaan sebagian atas yang lain...Sedangkan kemajemukan yang berpegang pada tali ketakterbatasan (kesucian) akan membangun harmoni yang indah semerbak....Firman Akal Tafakkur
Siapakah "Aku"..Si Aku Bertanya
Sipakah aku? Namun aku bertanya...Aku bertanya kepada diriku sendiri...Siapakah yang bertanya itu? Dan sipakah yang ditanyai?
Tetapi jika yang ditanya tidak mengenal dirinya sendiri, maka mungkinkah pertanyaan itu? Jika yang ditanyai tidak mengenal siapa dia? Maka bukankah pertanyaan dengan sendirinya menjadi sia-sia? Namun jika keharusan ini begitu jelas...Bahwa kalau yang ditanyai itu mesti mengetahui dirinya, maka mengapa aku masih bertanya? padahal yang bertanya dan yang ditanyai adalah aku sendiri...Apakah aku tidak mengenal siapa aku, sehingga aku bertanya? Tetapi mana mungkin aku bertanya kepada diriku sendiri, jika aku tidak mengenal diriku sendiri?
Lantas apa artinnya pertanyaa itu?
Begitu jelasnya pengetahuan diri...Namun diriku masih bertanya tentangnya?
Bertanya lbih dekat kepada fikiran...Keinginan untuk menganalisa relasi logis dan filosofis pengetahuan diri ini...Namun mengetahui dalam arti yang sesungguhnya, ia lebih sebagai perasaan yang hadir dari pada sebagai sebuah obyek yang hendak diketahui...
Untuk itulah, maka keheningan dan suasana sunyi senyap sangt kita butuhkan, agar kita masuk kedalam dasar diri yang lama tidak terdengar suaranya, karena ia tertutupi oleh konsentrasi dan perhatian kita atas hal-hal yang bersifat representasional (yang berada di luar kesadaran/obyek material)...Berfikir saja tidaklah cukup, sebab berfikir selalu mengandaikan bahwa yang difikirkan adalah sesuatu yang berjarak dengan diri kita...sedangkan diri sejati yang hendak diketahui itu, bukanlah sebuah obyek material yang dikurung oleh ruang pun waktu...Karenanya, merasa atau mengintuisi mestilah dijadikan sebagi sahabat karibnya akal fikiran...Bila tidak, maka semakin akal bekerja dengan sepenuh dayanya, maka semakin akal itu akan menemukan kebuntuan yang sangat...
Intinya...Adalah mesti ada upaya untukbersahabat dengan keheningan...Sebab keheningan lebih banyak berbicara tentang yang otentik.Sedangkan teriakan dan suara ramai, sangatlah sedikit bertutur tentang kesejatian meskipun suara itu begitu terdengar jelas oleh gengdang telinga... Kesucian itu bukanlah karena mata yang buta pun telinga yang tuli...Tali hati didalam dada yang pekal dan berkarat....
Tetapi jika yang ditanya tidak mengenal dirinya sendiri, maka mungkinkah pertanyaan itu? Jika yang ditanyai tidak mengenal siapa dia? Maka bukankah pertanyaan dengan sendirinya menjadi sia-sia? Namun jika keharusan ini begitu jelas...Bahwa kalau yang ditanyai itu mesti mengetahui dirinya, maka mengapa aku masih bertanya? padahal yang bertanya dan yang ditanyai adalah aku sendiri...Apakah aku tidak mengenal siapa aku, sehingga aku bertanya? Tetapi mana mungkin aku bertanya kepada diriku sendiri, jika aku tidak mengenal diriku sendiri?
Lantas apa artinnya pertanyaa itu?
Begitu jelasnya pengetahuan diri...Namun diriku masih bertanya tentangnya?
Bertanya lbih dekat kepada fikiran...Keinginan untuk menganalisa relasi logis dan filosofis pengetahuan diri ini...Namun mengetahui dalam arti yang sesungguhnya, ia lebih sebagai perasaan yang hadir dari pada sebagai sebuah obyek yang hendak diketahui...
Untuk itulah, maka keheningan dan suasana sunyi senyap sangt kita butuhkan, agar kita masuk kedalam dasar diri yang lama tidak terdengar suaranya, karena ia tertutupi oleh konsentrasi dan perhatian kita atas hal-hal yang bersifat representasional (yang berada di luar kesadaran/obyek material)...Berfikir saja tidaklah cukup, sebab berfikir selalu mengandaikan bahwa yang difikirkan adalah sesuatu yang berjarak dengan diri kita...sedangkan diri sejati yang hendak diketahui itu, bukanlah sebuah obyek material yang dikurung oleh ruang pun waktu...Karenanya, merasa atau mengintuisi mestilah dijadikan sebagi sahabat karibnya akal fikiran...Bila tidak, maka semakin akal bekerja dengan sepenuh dayanya, maka semakin akal itu akan menemukan kebuntuan yang sangat...
Intinya...Adalah mesti ada upaya untukbersahabat dengan keheningan...Sebab keheningan lebih banyak berbicara tentang yang otentik.Sedangkan teriakan dan suara ramai, sangatlah sedikit bertutur tentang kesejatian meskipun suara itu begitu terdengar jelas oleh gengdang telinga... Kesucian itu bukanlah karena mata yang buta pun telinga yang tuli...Tali hati didalam dada yang pekal dan berkarat....
Yang Luput Berkata...aku sang Pemimpin...Astaga
Memimpin berarti memiliki hak mengetur, memerintah...Tapi yang diperintah itu punya kebebasan masing-masing...Dan yang namanya kebebasan, ia adalah kemandirian penuh yang karenanya tidak boleh tunduk pada apa dan siapapun...Demikian, sehingga pemimpin dan kepemimpinan bukan perkara gampang. Memimpin itu sulit, oleh karena ia terkait dengan hak asasi orang lain.Dan yang namanya hak asasi, ia haruslah dijaga sedemikian rupa, dihargai dengan penghargaan yang sebenar-benarnya. Dan tidak ada seorang manusiapun yang bisa meruntuhkan bangunan dasar kehidupan yang bernama hak asasi ini..
Bagimana hak memerintah ini bakal dijalankan, jika keadaannya demikian? jika tidak ada seorang manusia bisa memerintah manusia lain?
Tidak ada lain pilihan, keculai seluruh mahluk, terutama manusia, harus tunduk kepada Sang Pencipta..Sebab di tangan serta kekuasaan-Nya, segala sesuatu berasal...Dengan pola yang demikian ini, maka leburlah benturan antara hak asasi masing-masing manusia...Yang di pimpin harus tunduk kepada yang memimpin...Dan yang memimpin dengan sendirinya akan memiliki hak mengatur dan memerintah, oleh karena kepemimpinannya terkait dengan Dia...Maka sulit sekali bagi pikiran yang sederhana ini, untuk menerima dan memberi legitimasi (pengsahan) kepada pemimpin yang dalam dirinya ia tidak terkait dengan Tuhan sebagai asal dan tujuan penciptaan...Ketundukan kepada pemimpin yang tidak suci, berarti juga mencederai hak asasi saya sendiri...
Betapa rumusan yang teramat alamiah ini membuat pemimpin dan kepemimpinan menyatukan dirinya dengan kesucian dan kesempurnaan pada setiap tingkatan eksistensinya..Baik keyakinan, fikiran, dan tindakannya. Tetabi bagaimana jika sekiranya dia mencuri, jika sekiranya, dia suka berbohong, jika sekiranya dirinya tiperdaya oleh bayang-bayang yang bernama jabatan dan harta dunia...Jika sekiranya kemenangannya adalah hasil kecurangan dan aksi tipu-tipu...Apakah keabsahan kepemimpinannya masih ada? Apakah ia masih punya hak memerintah? apakah kita masih punya kewajiban menuruti dan taat tanpa interupsi? Tetapi kenapa dia tetap saja bilang bahwa karena kitalah maka dia jadi pemimpin? Kenapa tidak dirobohkan saja dirinya? Ataukah kita semua sudah teramat jauh dengan Tuhan sebagai sumber makna, arti, dan hakikat hak-kewajiban, juga kepemimpinan?
Sejatinya, masalah kita jauh lebih dari sekadar masalah struktural...Masalah kita adalah bahwa kita luput dari tafakkur dan mengingat Dia yang Maha Kuasa...
Kalau bukan karena-Nya, maka aku hanyalah Barang besar yang keropos
Dengan Diri-Nya, aku adalah setitik debu yang perkasa dan mulia...Rumi
Bagimana hak memerintah ini bakal dijalankan, jika keadaannya demikian? jika tidak ada seorang manusia bisa memerintah manusia lain?
Tidak ada lain pilihan, keculai seluruh mahluk, terutama manusia, harus tunduk kepada Sang Pencipta..Sebab di tangan serta kekuasaan-Nya, segala sesuatu berasal...Dengan pola yang demikian ini, maka leburlah benturan antara hak asasi masing-masing manusia...Yang di pimpin harus tunduk kepada yang memimpin...Dan yang memimpin dengan sendirinya akan memiliki hak mengatur dan memerintah, oleh karena kepemimpinannya terkait dengan Dia...Maka sulit sekali bagi pikiran yang sederhana ini, untuk menerima dan memberi legitimasi (pengsahan) kepada pemimpin yang dalam dirinya ia tidak terkait dengan Tuhan sebagai asal dan tujuan penciptaan...Ketundukan kepada pemimpin yang tidak suci, berarti juga mencederai hak asasi saya sendiri...
Betapa rumusan yang teramat alamiah ini membuat pemimpin dan kepemimpinan menyatukan dirinya dengan kesucian dan kesempurnaan pada setiap tingkatan eksistensinya..Baik keyakinan, fikiran, dan tindakannya. Tetabi bagaimana jika sekiranya dia mencuri, jika sekiranya, dia suka berbohong, jika sekiranya dirinya tiperdaya oleh bayang-bayang yang bernama jabatan dan harta dunia...Jika sekiranya kemenangannya adalah hasil kecurangan dan aksi tipu-tipu...Apakah keabsahan kepemimpinannya masih ada? Apakah ia masih punya hak memerintah? apakah kita masih punya kewajiban menuruti dan taat tanpa interupsi? Tetapi kenapa dia tetap saja bilang bahwa karena kitalah maka dia jadi pemimpin? Kenapa tidak dirobohkan saja dirinya? Ataukah kita semua sudah teramat jauh dengan Tuhan sebagai sumber makna, arti, dan hakikat hak-kewajiban, juga kepemimpinan?
Sejatinya, masalah kita jauh lebih dari sekadar masalah struktural...Masalah kita adalah bahwa kita luput dari tafakkur dan mengingat Dia yang Maha Kuasa...
Kalau bukan karena-Nya, maka aku hanyalah Barang besar yang keropos
Dengan Diri-Nya, aku adalah setitik debu yang perkasa dan mulia...Rumi
Jumat, 28 Mei 2010
MATI AKU MATI...
Benar-benar jujur bahwa aku takut mati...Satu kenyataan batin yang tidak bisa ditipu dengan sejumlah alasan...Barangkali ini tanda bahwa aku masih cukup tahu diri...Menyadari bahwa banyak salah yang melekat dalam diriku, dan karenanya, bayang-bayang neraka hadir tatkala aku mendengar kata "mati", dan menyadari sepenuh hati bahwa kenyataan eksistensial itu akan ku alami..
Tetapi dalam perjalanan pikir yang ku lakukan, aku menemukan kenyataan bahwa segala sesuatunya selalu bergerak menyempurnakan diri...Sedangkan kesempurnaan mengharuskan terlepasnya kita dari kebergantungan terhadap apapun juga...Kesempurnaan itu, adalah kemandirian...Kita adalah segalanya...Tak sesuatu apapun yang lebih dari pada aku...Aku memberi, dan yang lain menerima...Aku menguasai segala sesuatu...Tetapi mungkinkah itu, jika keinginan yang beragam memaksa diri untuk memenuhinya...Bahkan Rasul sekalipun, ia mesti mati untuk mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi...Ini adalah hak sebagai eksistensi yang bergerak...Dan Maha Sempurna mencurahkan karunia-Nya melalui kematian...
Tetapi perasaan takut mati itu tetap saja tidak mau pergi...Para Bijak bertari bilang bahwa itu adalah kenyataan yang sangat natural...Itu adalah ungkapan fitrah...Diri sejati yang tidak pernah tiada, dan menghendaki keabadian...Karenanya, takut mati ialah sebentuk keinginan untuk hidup abadi...Tinggal saja dibutuhkan sikap dan fikiran yang realistis. Bahwa segala yang bernyawa pasti mati...Gerak adalah kenyataan yang pada dirinya sendiri, ia adalah kesucian...
Mengenal-Nya...Melihatnya...Merasakan-Nya...Itulah yang dibilang para mistikus...Namun lagi-lagi kusaksikan sendiri, dan terutama ini tidak bisa ku bohongi. bahwa aku belum pernah melihatnya...Apalagi fana dalam perasaan "sama dengan" sebab tiada lagi aku-kamu, sebab ilusi kejamakan telah sirna...Ketunggalan menguasai segala.Tetapi bukanlah ketunggalan satu dalam kaitannya dengan dua, tiga, empat, dan seterusnya...Bukanlah ketunggan yang unik karena ia sesuatu yang tidak punya padanan...Ketunggalan yang hanya bisa dipahami dengan negasi terus menerus...Kecuali kosong dan ketidakterbatasan...
Bagaimana akan ku alami yang demikian itu?
Apakah dengan bersembahyang? Padahal tak pantaslah seseorang mengucap salam kepada bumi dan mahluk, jika ia tidak berpisah dengan semuanya? Apakah aku akan selalu berkata "assalamualaikum" padahal semuanya selalu hadir dihadapanku? Bukankah salam itu adalah kata pembuka dan mukaddimah penuh rahmat pada "pertemuan pertama"? Aku saksiakan semuanya...Aliran air, gemuruh gelombang, kicauan burung, langit bercahaya, dan matahari sebagai pemberi kekuatan..Tapi semuanya hanya tanda...Engkau tetap saja masih bersembunyi dalam alam rahasia...Atakuah aku yang buta sehungga tidak melihat-Mu? Ataukah hatiku sibuk menghasrati bayang-bayang?
Aku berteriak dengan batin yang sunyi...Wahai yang sebenar-benarnya Wujud...Wahai yang katanya memuliakanku dalam jamaah malaikat, ketika iblis tidak memahami? Wahai yang mempercayakan-Ku sebagai wakil d muka bumi? Bagaimana aku bisa menjalani semua ini, sementara aku sendiri tidak tahu dan mengenal Dirimu? Bukankah nanti aku akan lantang mengatakan "hidup manusia" Tuhan adalah produk keterbelakangan mental dan fikiran...?
Meskipun bau tak sedap selalu keluar dari kotoran tubuhku..Sekalipun aku buta dan tidak mengerti betul arti apa dan kemana? Aku ingin tetap berjalan..Biarlah kutabrak semua dinding dan akupun terluka..Biarlah ku injak duri dan menusuk bagai sembilu...Biarlah ku injak semua bangkai binatang pun manusia sehingga bau yang menesakkan dada bertambah pada diriku...Aku tetap ingin berjalan...Aku terus berjalan...Tidak akan berhenti berjalan...Dan suatu ketika nanti air mata-Mu berlinang menyaksikan aku yang payah, papah, terluka ini...Hingga Kau rangkul diriku bersama Rahman-Rahim-Mu hingga gelorah ingin mati menguasai segenap jiwa-ragalu....
Tetapi dalam perjalanan pikir yang ku lakukan, aku menemukan kenyataan bahwa segala sesuatunya selalu bergerak menyempurnakan diri...Sedangkan kesempurnaan mengharuskan terlepasnya kita dari kebergantungan terhadap apapun juga...Kesempurnaan itu, adalah kemandirian...Kita adalah segalanya...Tak sesuatu apapun yang lebih dari pada aku...Aku memberi, dan yang lain menerima...Aku menguasai segala sesuatu...Tetapi mungkinkah itu, jika keinginan yang beragam memaksa diri untuk memenuhinya...Bahkan Rasul sekalipun, ia mesti mati untuk mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi...Ini adalah hak sebagai eksistensi yang bergerak...Dan Maha Sempurna mencurahkan karunia-Nya melalui kematian...
Tetapi perasaan takut mati itu tetap saja tidak mau pergi...Para Bijak bertari bilang bahwa itu adalah kenyataan yang sangat natural...Itu adalah ungkapan fitrah...Diri sejati yang tidak pernah tiada, dan menghendaki keabadian...Karenanya, takut mati ialah sebentuk keinginan untuk hidup abadi...Tinggal saja dibutuhkan sikap dan fikiran yang realistis. Bahwa segala yang bernyawa pasti mati...Gerak adalah kenyataan yang pada dirinya sendiri, ia adalah kesucian...
Mengenal-Nya...Melihatnya.
Bagaimana akan ku alami yang demikian itu?
Apakah dengan bersembahyang? Padahal tak pantaslah seseorang mengucap salam kepada bumi dan mahluk, jika ia tidak berpisah dengan semuanya? Apakah aku akan selalu berkata "assalamualaikum" padahal semuanya selalu hadir dihadapanku? Bukankah salam itu adalah kata pembuka dan mukaddimah penuh rahmat pada "pertemuan pertama"? Aku saksiakan semuanya...Aliran air, gemuruh gelombang, kicauan burung, langit bercahaya, dan matahari sebagai pemberi kekuatan..Tapi semuanya hanya tanda...Engkau tetap saja masih bersembunyi dalam alam rahasia...Atakuah aku yang buta sehungga tidak melihat-Mu? Ataukah hatiku sibuk menghasrati bayang-bayang?
Aku berteriak dengan batin yang sunyi...Wahai yang sebenar-benarnya Wujud...Wahai yang katanya memuliakanku dalam jamaah malaikat, ketika iblis tidak memahami? Wahai yang mempercayakan-Ku sebagai wakil d muka bumi? Bagaimana aku bisa menjalani semua ini, sementara aku sendiri tidak tahu dan mengenal Dirimu? Bukankah nanti aku akan lantang mengatakan "hidup manusia" Tuhan adalah produk keterbelakangan mental dan fikiran...?
Meskipun bau tak sedap selalu keluar dari kotoran tubuhku..Sekalipun aku buta dan tidak mengerti betul arti apa dan kemana? Aku ingin tetap berjalan..Biarlah kutabrak semua dinding dan akupun terluka..Biarlah ku injak duri dan menusuk bagai sembilu...Biarlah ku injak semua bangkai binatang pun manusia sehingga bau yang menesakkan dada bertambah pada diriku...Aku tetap ingin berjalan...Aku terus berjalan...Tidak akan berhenti berjalan...Dan suatu ketika nanti air mata-Mu berlinang menyaksikan aku yang payah, papah, terluka ini...Hingga Kau rangkul diriku bersama Rahman-Rahim-Mu hingga gelorah ingin mati menguasai segenap jiwa-ragalu....
Kamis, 27 Mei 2010
Puji Akal Tafakkur...HI...
Kebenaran...Setiap saat manusia bicara tentangnya...Tetapi apakah yang dibicarakan itu adalah kebenaran...Rumi bilang, "Hasrat itu selalu ingin menguasai, sedangkan kerinduan selalu menghendaki yang natural, yang tidak dipaksakan...Kerinduan dekat kepada ketulusan, sedangkan hasrat adalah saudara kembar penguasaan dan nafsu ingin memiliki...Bisakah kita bicara kebenaran, jika ambisi menghinggapi diri? Kebenaran itu hal yang mandiri pada dirinya sendiri, dan karenanya, ia tidak sama dengan apa kata kita tentangnya...Berhasrat membicarakan kebenaran, tidak akan membuat kebenaran tersingkap, melainkan semakin terhijabi oleh ke-aku-an, padahal "aku" itu ilusi...Maka mana mungkin kegelapan bisa bicara tentang cahaya?
Suhrawardi bilang, cahaya adalah sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri, karenanya, seseorang tidak perlu mencahayai cahaya dengan maksud melihatnya...
Tafakkur lebih tinggi dari pada logika dan otak-atik premis...Tafakkur adalah keinginan melihat asap...Namun api berada dalam kedalaman ego...Panasnya api itu hanya bisa dirasakan...Karenanya, tafakkur adalah salah satu upaya mempertajam bahasa nurani...Diri otentik yang senantiasa berbicara tentang-Nya tanpa pernah berhenti...Karenanya, bukanlah telinga yang tuli, dan mata yang buta, tapi hati dalam dada yang sudah jelak lama berkeringat mencari bayangan..Padahal bayangan itu bukanlah apa-apa, kecuali ketiadaan cahaya...
Apa yang tidak bercerita tentang-Nya?
AKal bertafakkur, dan hati menyusuri kedalam rahasia...Kemudian kicauan burung, aliran air, angin yang sepoi-sepoi berhembus, ombak yang berguling, nafas yang berhembus, dan segala sesuatunya, adalah suara keanguangan yang membuat jiwa bergerat kencang, egoisme hilang tanpa wibawa, bersama-sama dengan air mata yang membasahi wajah, kemudian membuatnya memantulkan cahaya yang ia pun berbicara tentang Nur Ala Nur...Wajahku adalah keagungan-NYa, mataku, adalah tatapan lurus syirat yang tidak pernah menengok kekiri pun kanan...Jalan para Nabi, orang-orang benar, dan syuhada...
Kita membutuhkan "tulus" yang penuh pasrah...Menyerahkan diri sama sekali pada kebenaran...Hingga tak sesuatu apapun yang perlu dijelaskan...Sebab semua telah menjelaskan dirinya sendiri...Kabenaran tidaklah ditemukan dengan daya manusia, dan segala yang terbatas..Kebenaran pastilah akan mengungkapkan dirinya sendiri kepada akal tafakkur...Bukan akal "unjuk dada" yang pada dasarnya ia tidak bicara apa-apa, melainkan tentang kosong dan bayangan...
Suhrawardi bilang, cahaya adalah sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri, karenanya, seseorang tidak perlu mencahayai cahaya dengan maksud melihatnya...
Tafakkur lebih tinggi dari pada logika dan otak-atik premis...Tafakkur adalah keinginan melihat asap...Namun api berada dalam kedalaman ego...Panasnya api itu hanya bisa dirasakan...Karenanya, tafakkur adalah salah satu upaya mempertajam bahasa nurani...Diri otentik yang senantiasa berbicara tentang-Nya tanpa pernah berhenti...Karenanya, bukanlah telinga yang tuli, dan mata yang buta, tapi hati dalam dada yang sudah jelak lama berkeringat mencari bayangan..Padahal bayangan itu bukanlah apa-apa, kecuali ketiadaan cahaya...
Apa yang tidak bercerita tentang-Nya?
AKal bertafakkur, dan hati menyusuri kedalam rahasia...Kemudian kicauan burung, aliran air, angin yang sepoi-sepoi berhembus, ombak yang berguling, nafas yang berhembus, dan segala sesuatunya, adalah suara keanguangan yang membuat jiwa bergerat kencang, egoisme hilang tanpa wibawa, bersama-sama dengan air mata yang membasahi wajah, kemudian membuatnya memantulkan cahaya yang ia pun berbicara tentang Nur Ala Nur...Wajahku adalah keagungan-NYa, mataku, adalah tatapan lurus syirat yang tidak pernah menengok kekiri pun kanan...Jalan para Nabi, orang-orang benar, dan syuhada...
Kita membutuhkan "tulus" yang penuh pasrah...Menyerahkan diri sama sekali pada kebenaran...Hingga tak sesuatu apapun yang perlu dijelaskan...Sebab semua telah menjelaskan dirinya sendiri...Kabenaran tidaklah ditemukan dengan daya manusia, dan segala yang terbatas..Kebenaran pastilah akan mengungkapkan dirinya sendiri kepada akal tafakkur...Bukan akal "unjuk dada" yang pada dasarnya ia tidak bicara apa-apa, melainkan tentang kosong dan bayangan...
Rabu, 26 Mei 2010
Besok dan Pasifitas
Apa yang memberi manusia kreatifitas besar? yaitu cita-cita yang melampaui segala motif-motif yang terbatas...Bagaiamana dan seperti apakah cita-cita yang tidak terbatas itu?
Mula-mula, apa yang dinamakan dengan cita-cita adalah proyeksi keadaan kita di masa depan...Tetapi dimanakah batas masa depan itu? Sampai dimana semua proses ini akan berhenti?
Jika kita andaikan bahwa semua perubahan ini tidak mempunyai tujuan yang tetap, maka pengetian perubahan juga akan hilang dengan sendirinya...Setiap perubahan selalu meniscayakan "untuk apa"? Untuk apa segala sesuatu dikerjakan? Pun jika tidak ada tujuan pasti, maka untuk apa semua perubahan itu? Ataukah pikiran dan akal sehat harus dipaksa untuk menerima pengretian perubahan yang tidak bertujuan itu? Sebagaimana Nietzche yang mengatakan bahwa kebenaran adalah kekeliruan yang tanpanya manusia tidak bisa hidup...Jikapun demikian, kekeliruan yang bermanfaat itu sudah dengan sendirinya menetapkan secara kuat kebutuhan manusia akan tujuan yang pasti...Manusia adalah apa yang ia cita-citakan...
Jika tujuan itu tidak terbabatas, maka dalam dirinya, tujuan tersebut haruslah mencakup hari ini...Artinya, masa depan dan saat ini adalah dua hal yang pada dasarnya tunggal...Ini juga yang mungkin dimaksud dengan ketetapan, sebuah Eksistensi tunggal yang mengatasi setiap spasi dan batasan-batasan waktu...Dan karenanya, kita tidak bisa bergerak untuk mencari dirinya dengan ikhtiar yang mandiri, melainkan semata-mata pergerakan yang terjadi dan yang kita lakukan itu adalah karena kita diserap olehnya..Jika dengan diri kita hendak bergerak, maka dengan sendirinya dia sebagai totalitas tidak akan bisa diungkap. Dan karenanya, masa depan yang tak terbatas itu tidak akan bisa dihampiri...Sejatinya, kita mesti berada dalam sebuah keadaan yang pasif...Dan pada saat itu, pengertian aktif menjadi hadir dalam wajahnya yang sejati...Orang yang paling pasif adalah orang yang paling aktif, yaitu ketika ia memasrahkan diri intuk diserap atau ditarik oleh masa depan yang tidak terbatas tersebut...Semakin ia berihtiar, semakin dirinya tidak ada...Semakin ia berusaha, semakin ia merasa kosong dari kekuatan dan kehendak sama sekali...Keaktifannya adalah pasifitas itu sendiri...Dan passifitanya membuat ia menyatu sedemikian rupa dengan perubahan yang tidak mengenal kata diam, meski hanya sedetik saja...
Apalah Artinya syair dan surat cinta,
Jika Sang Kekasih telah didepan mata...(Jalaluddin Rumi)
Mula-mula, apa yang dinamakan dengan cita-cita adalah proyeksi keadaan kita di masa depan...Tetapi dimanakah batas masa depan itu? Sampai dimana semua proses ini akan berhenti?
Jika kita andaikan bahwa semua perubahan ini tidak mempunyai tujuan yang tetap, maka pengetian perubahan juga akan hilang dengan sendirinya...Setiap perubahan selalu meniscayakan "untuk apa"? Untuk apa segala sesuatu dikerjakan? Pun jika tidak ada tujuan pasti, maka untuk apa semua perubahan itu? Ataukah pikiran dan akal sehat harus dipaksa untuk menerima pengretian perubahan yang tidak bertujuan itu? Sebagaimana Nietzche yang mengatakan bahwa kebenaran adalah kekeliruan yang tanpanya manusia tidak bisa hidup...Jikapun demikian, kekeliruan yang bermanfaat itu sudah dengan sendirinya menetapkan secara kuat kebutuhan manusia akan tujuan yang pasti...Manusia adalah apa yang ia cita-citakan...
Jika tujuan itu tidak terbabatas, maka dalam dirinya, tujuan tersebut haruslah mencakup hari ini...Artinya, masa depan dan saat ini adalah dua hal yang pada dasarnya tunggal...Ini juga yang mungkin dimaksud dengan ketetapan, sebuah Eksistensi tunggal yang mengatasi setiap spasi dan batasan-batasan waktu...Dan karenanya, kita tidak bisa bergerak untuk mencari dirinya dengan ikhtiar yang mandiri, melainkan semata-mata pergerakan yang terjadi dan yang kita lakukan itu adalah karena kita diserap olehnya..Jika dengan diri kita hendak bergerak, maka dengan sendirinya dia sebagai totalitas tidak akan bisa diungkap. Dan karenanya, masa depan yang tak terbatas itu tidak akan bisa dihampiri...Sejatinya, kita mesti berada dalam sebuah keadaan yang pasif...Dan pada saat itu, pengertian aktif menjadi hadir dalam wajahnya yang sejati...Orang yang paling pasif adalah orang yang paling aktif, yaitu ketika ia memasrahkan diri intuk diserap atau ditarik oleh masa depan yang tidak terbatas tersebut...Semakin ia berihtiar, semakin dirinya tidak ada...Semakin ia berusaha, semakin ia merasa kosong dari kekuatan dan kehendak sama sekali...Keaktifannya adalah pasifitas itu sendiri...Dan passifitanya membuat ia menyatu sedemikian rupa dengan perubahan yang tidak mengenal kata diam, meski hanya sedetik saja...
Apalah Artinya syair dan surat cinta,
Jika Sang Kekasih telah didepan mata...(Jalaluddin Rumi)
Selasa, 25 Mei 2010
Waktu dan Orang Suci
Hari kemarin, pula besok...Tapi dimanakah keduanya? Jika kemarin itu ada, Maka kenapa aku tidak bisa berjalan mundur untuk menengoknyya kembali layaknya kenyataan saat ini? Jika besok itu ada? kenapa aku tidak bisa melampaui "saat ini" untuk menikmatinya?
Rumah ini adalah rumah yang aku lihat kemarin...Tetapi dimanakah rumah yang kemarin itu? Tampaknya, kemarin bukanlah lipatan waktu, yang karenanya bisa dibolak balik...Masa lalu, dimanakah dia? Masa depan, dimana pula?
Yang benar-benar eksis bagiku adalah kedisinian...Yang nyata adalah saat ini. Namun saat ini pun tidak bisa dikatakan tetap, sebab ada perubahan yang menyertainya dan lebih pendek dari pada detik per detik...Demikian sehingga masa depan pastilah bukan sesutu yang ditemukan, melainkan ia diciptkan...Mula-mula, masa depan adalah bentuk imajinal yang diciptakan oleh mental manusia...Dan manusiapun mematerialisasikan masa depan itu menjadi kenyataan-kenyataan yang rill...Namun kenyataan haruslah sesuatu yang secara langsung dialami oleh subyek, dan tidak bersifat mental semata...Karenanya, masa depan itu sendiri pada dasarnya sama saja dengan apa yang kita sebut "saat ini"....Maksudnya, masa depan mesti menjadi kenyataan yang dialami...Jika tidak, maka maknanya sebagai masa depan menjadi hilang dengan sendirinya...
Kita tahu, bahwa proses mewujudkan konsep mental (cita-cita), tidak terjadi dalam lompatan-lompatan waktu, melainkan mengalir secara tetap , dimana antara satu titik dengan titik lainnya berada dalam himpitan yang sedemikian rupa...Karenanya, kelalaian menjadi sesuatu yang tidak bisa diterima...Kelalaian adalah bentuk dari hilangnya makna pergerakan yang berarti, dan tidak akan ada masa depan yang tercipta darinya...Demikian pula dengan "lupa". Gerakan tanpa jeda tidak mengenal kata lupa...Sebab lupa membuat kita kehilangan momen pengungkapan diri...Lupa membuat kita terlambat dalam lomba lari...Kita ditinggalkan oleh perubahan itu sendiri...Jika lalai dan lupa itu tidak boleh? maka siapakah manusia yang paling memahami hakikat waktu (masa depan), yang karenanya ia tidak pernah sama sekali lalai pun lupa? Jika kita asumsikan tidak ada manusia yang demikian, maka artinya masa depan dan perubahan yang tanpa titik berhenti itu? Tampaknya, sangat sulit bagi kita untuk menerima asumsi ini...Karenanya, mestilah ada manusia yang mempunyai kapasitas memahami waktu dengan sedemikian rupa...Bahkan dia adalah waktu itu sendiri...
Rumah ini adalah rumah yang aku lihat kemarin...Tetapi dimanakah rumah yang kemarin itu? Tampaknya, kemarin bukanlah lipatan waktu, yang karenanya bisa dibolak balik...Masa lalu, dimanakah dia? Masa depan, dimana pula?
Yang benar-benar eksis bagiku adalah kedisinian...Yang nyata adalah saat ini. Namun saat ini pun tidak bisa dikatakan tetap, sebab ada perubahan yang menyertainya dan lebih pendek dari pada detik per detik...Demikian sehingga masa depan pastilah bukan sesutu yang ditemukan, melainkan ia diciptkan...Mula-mula, masa depan adalah bentuk imajinal yang diciptakan oleh mental manusia...Dan manusiapun mematerialisasikan masa depan itu menjadi kenyataan-kenyataan yang rill...Namun kenyataan haruslah sesuatu yang secara langsung dialami oleh subyek, dan tidak bersifat mental semata...Karenanya, masa depan itu sendiri pada dasarnya sama saja dengan apa yang kita sebut "saat ini"....Maksudnya, masa depan mesti menjadi kenyataan yang dialami...Jika tidak, maka maknanya sebagai masa depan menjadi hilang dengan sendirinya...
Kita tahu, bahwa proses mewujudkan konsep mental (cita-cita), tidak terjadi dalam lompatan-lompatan waktu, melainkan mengalir secara tetap , dimana antara satu titik dengan titik lainnya berada dalam himpitan yang sedemikian rupa...Karenanya, kelalaian menjadi sesuatu yang tidak bisa diterima...Kelalaian adalah bentuk dari hilangnya makna pergerakan yang berarti, dan tidak akan ada masa depan yang tercipta darinya...Demikian pula dengan "lupa". Gerakan tanpa jeda tidak mengenal kata lupa...Sebab lupa membuat kita kehilangan momen pengungkapan diri...Lupa membuat kita terlambat dalam lomba lari...Kita ditinggalkan oleh perubahan itu sendiri...Jika lalai dan lupa itu tidak boleh? maka siapakah manusia yang paling memahami hakikat waktu (masa depan), yang karenanya ia tidak pernah sama sekali lalai pun lupa? Jika kita asumsikan tidak ada manusia yang demikian, maka artinya masa depan dan perubahan yang tanpa titik berhenti itu? Tampaknya, sangat sulit bagi kita untuk menerima asumsi ini...Karenanya, mestilah ada manusia yang mempunyai kapasitas memahami waktu dengan sedemikian rupa...Bahkan dia adalah waktu itu sendiri...
Senin, 24 Mei 2010
HMI DAN KEKUASAAN
Nilai Dasar Perjuanga (NDP) sebagai teks dasar HMI, berdiri diatas sejumlah kepentingan..Kepentingan tersebut adalah memjamin dan menjaga wajah Keindonesiaan yang plural ini...Artinya, secara tidak langsung, NDP itu sendiri akan sangat mempunyai kedekatan dengan Pancasila...Sebab Pancasila merupakan Ideologi Negara yang berdiri diatas kesatuan dalam keragaman yang ada di Indonesia ini...Demikian sehingga, wajah keberislaman yang hendak di tonjolkan oleh HMI sudah pasti hendak meneguhkan keislaman han toleran dan humanistik...Dan untuk itulah, satu-satunya jalan untuk menjaga kepentingan ini adalah dengan tetap menjadikan Pancasila sebagai nilai dasar yang mempersatuakan keragaman tersebut...Ini artinya, orientasi perkaderan yang dilakukan oleh HMI mestilah menegaskan identitas Negara sebagai institusi penjaga Pancasila...Demikian, sehingga kedekatakan HMI dengan Negara (kekuasaan) adalah sesuatu yang mesti muncul berdasarkan kepentingan yang implisit didalam NDP itu sendiri...
Dalam beberapa tulisan, ada sebagian Kader HMI yang mencoba meletakkan HMI sebagai aparatus ideologi (negara), berdasarkan kerangka analisa kaum neo-marxis (terutama Louis Althusser)...Jika ISA disini dipahami sebagai jaring-jaring kekuasaan yang berhaluan menetapkan kekuasaa Negara, maka HMI dapat dikatakan termasuk salah satu (bahkan yang paling utama) jaring-jaring tersebut...Tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa kedekatan logis antara HMI dan Negara adalah keharusan dari paham pluralisme (keindonesiaan) yang disandang oleh HMI...Jikapun pada akhirnya Negara lebih condong menjadi komite kapitalis sebagaimana defenisi yang diberikan kaum marxis (tradisional), maka sudah barang tentu HMI akan terlibat dengan sendirinya, sebab kaderisasi kepemimpinan dalam konteks keindonesiaan merupakan logika dasar dari pada pendidikan yang dijalankan di HMI...Singkatnya, anatar HMI dan Negara, sungguh sangat tidak bisa dipisahkan...Namun yang perlu diingat adalah bahwa hubungan antara HMI dan Negara yang cenderung kapitalistik itu adalah hubungan yang tidak terjadi secara langsung...Akan tetapi dapat dikatakan bahwa HMI-lah yang paling bertanggung-jawab atas carut-marutnya kondisi negara...Meskipun tanggung-jawab itu tidak berhubungan secara langsung..Demikian pula, untuk memperbaiki keadaan Indonesia, maka HMI sebagai organisasi (pusat kaderisasi kepemimpinan di Indonesia) haruslah yang pertama-tama juga dibenahi...
Bagaimana membenahinya???
Dalam beberapa tulisan, ada sebagian Kader HMI yang mencoba meletakkan HMI sebagai aparatus ideologi (negara), berdasarkan kerangka analisa kaum neo-marxis (terutama Louis Althusser)...Jika ISA disini dipahami sebagai jaring-jaring kekuasaan yang berhaluan menetapkan kekuasaa Negara, maka HMI dapat dikatakan termasuk salah satu (bahkan yang paling utama) jaring-jaring tersebut...Tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa kedekatan logis antara HMI dan Negara adalah keharusan dari paham pluralisme (keindonesiaan) yang disandang oleh HMI...Jikapun pada akhirnya Negara lebih condong menjadi komite kapitalis sebagaimana defenisi yang diberikan kaum marxis (tradisional), maka sudah barang tentu HMI akan terlibat dengan sendirinya, sebab kaderisasi kepemimpinan dalam konteks keindonesiaan merupakan logika dasar dari pada pendidikan yang dijalankan di HMI...Singkatnya, anatar HMI dan Negara, sungguh sangat tidak bisa dipisahkan...Namun yang perlu diingat adalah bahwa hubungan antara HMI dan Negara yang cenderung kapitalistik itu adalah hubungan yang tidak terjadi secara langsung...Akan tetapi dapat dikatakan bahwa HMI-lah yang paling bertanggung-jawab atas carut-marutnya kondisi negara...Meskipun tanggung-jawab itu tidak berhubungan secara langsung..Demikian pula, untuk memperbaiki keadaan Indonesia, maka HMI sebagai organisasi (pusat kaderisasi kepemimpinan di Indonesia) haruslah yang pertama-tama juga dibenahi...
Bagaimana membenahinya???
Alam Mitzal, Ilmu dan Iman
Alastu Birabbikum? Kalu bala syahidna....
Bukankah Aku ini Tuhanmu...Benar, Engkau adalah Tuhanku...
Bagaimana mungkin kita bisa membenarkan bahwa Dia adalah Tuhan? Bukankah untuk membenarkannya, mestilah mengharuskan bahwa kita sudah mengenal Dia jauh sebelum persaksian itu terjadi...?
Dengan demikian, maka dapatlah dikatakan bahwa pengakuan kita akan ketuhanan-Nya adalah semacam nasehat sebelum kita lahir ke dunia ini...Dia hendak mengatakan bahwa "jika engkau sudah berada dalam alam dunia, maka janganlah sekali-kali engkau melupakan Diriku...Sebab jika engkau menyangkal ketuhanan-Ku, maka engkau menjadi tiada dengan sendirinya...
Kenapa demikian,?
Di alam rahim itu, Tuhan berkata "lihatlah dirimu...Setelah kita melaksanakan perintah itu, Dia pun berkata "bukankah aku ini Tuhanmu"? Satu-satunya makna dari peristiwa ini adalah bahwa yang kita saksikan adalah Dia, sebab tidak ada kaitan sama sekali antara perintanya kepada kita untuk melihat dengan pernyataan "bukankah Aku ini Tuhanmu"?
Yang mengenal dirinya, pastilah mengenal Tuhannya...
Dalam lain perkataan, bisa dibilang bahwa proses mengenal dirinya tak lain kecuali upaya untuk mengingat-ingat kembali kesejatian eksistesial kita sebagai manusia...Sedangkan eksistensi hakiki itu adalah Tuhan sendiri...Demikian sehingga apa saja yang kita saksikan di alam raya dan dalam diri kita adalah tanda yang mengingatkan kita kepada kesejatian diri...Betapa eloknya alam ini...Dengan demikian sama dengan kerinduang kita untuk kembali kepada keotentikan diri sendiri...Karenanya, berfikir itu sama dengan beriman...Sedangkan beriman itu sama dengan kita mesti merenungkan rahasia segala sesuatu dialam raya ini untuk mendapatkan kemakmuran dari padanya, dan sekaligus sebagai gerak mencapai kedirian yang sejati....
Bukankah Aku ini Tuhanmu...Benar, Engkau adalah Tuhanku...
Bagaimana mungkin kita bisa membenarkan bahwa Dia adalah Tuhan? Bukankah untuk membenarkannya, mestilah mengharuskan bahwa kita sudah mengenal Dia jauh sebelum persaksian itu terjadi...?
Dengan demikian, maka dapatlah dikatakan bahwa pengakuan kita akan ketuhanan-Nya adalah semacam nasehat sebelum kita lahir ke dunia ini...Dia hendak mengatakan bahwa "jika engkau sudah berada dalam alam dunia, maka janganlah sekali-kali engkau melupakan Diriku...Sebab jika engkau menyangkal ketuhanan-Ku, maka engkau menjadi tiada dengan sendirinya...
Kenapa demikian,?
Di alam rahim itu, Tuhan berkata "lihatlah dirimu...Setelah kita melaksanakan perintah itu, Dia pun berkata "bukankah aku ini Tuhanmu"? Satu-satunya makna dari peristiwa ini adalah bahwa yang kita saksikan adalah Dia, sebab tidak ada kaitan sama sekali antara perintanya kepada kita untuk melihat dengan pernyataan "bukankah Aku ini Tuhanmu"?
Yang mengenal dirinya, pastilah mengenal Tuhannya...
Dalam lain perkataan, bisa dibilang bahwa proses mengenal dirinya tak lain kecuali upaya untuk mengingat-ingat kembali kesejatian eksistesial kita sebagai manusia...Sedangkan eksistensi hakiki itu adalah Tuhan sendiri...Demikian sehingga apa saja yang kita saksikan di alam raya dan dalam diri kita adalah tanda yang mengingatkan kita kepada kesejatian diri...Betapa eloknya alam ini...Dengan demikian sama dengan kerinduang kita untuk kembali kepada keotentikan diri sendiri...Karenanya, berfikir itu sama dengan beriman...Sedangkan beriman itu sama dengan kita mesti merenungkan rahasia segala sesuatu dialam raya ini untuk mendapatkan kemakmuran dari padanya, dan sekaligus sebagai gerak mencapai kedirian yang sejati....
Sabtu, 22 Mei 2010
Tetang Kesadaran Akan Wujud
Setiap hari tampaknya kita menyaksikannya...Kemana mata memandang, yang disaksiakan dia...Jangan pikir bahwa penyaksian itu adalah tangga terakhir dalam perjalanan menaik yang biasanya diceritakan para mistikus...Cukup dengan sedikit tafakkur, kita bisa menyadari ada-Nya... Bahwa Kesadaran tentang keberadaan kita sendiri sudah menunjukan Dia ada...
Aku melihat dan menyadari ada meja dan benda-benda material di depan mataku...Tetapi apa itu meja? Kata Mulla Sadra, materi adalah sebuah eksistensi yang derajatnya terlalu rendah, sehingga ia tidak bisa diketahui sebagaimana adanya...Setelah dipikir-pikir, ternyata apa yang di bilang Sang Maestro Filsafat ini memang benar...Sebab kesadaranku tentang benda-benda material yang kusaksiakan itu tidak sama sekali tertuju pada dimensi materialnya, melainkan pada eksistensi non-material...Kenyataan pertama adalah, materi itu tidak bisa mewujud dalam kesadaranku...Sementara itu, aku menyadari keberadaan sesuatu...Itu artinya, yang kusadari pastilah sesuatu yang non-material...Tetapi kesadaranku akan ADA yang non-material itu sedikit banyak ditentukan oleh keberadaan materi...AKu melihat meja, dan kusadari ADA...ALhasil, dapat kukatakan bahwa materi itu tidak lain keculai ADA yang mewujud menjadi sesuatu yang indrawi...
Demikian sehingga, tidak kapan dan dimanapun, kita dapat luput dari padanya...Sebelum, disaat, dan setelah ku saksikan segala sesuatu, yang ku lihat hanyalah diri-Mu...Demikian ungkapan kesadaran Amirul Mukminin akan ADA itu sendiri...Hanya saja, apa yang kita sebut sebagai "luput" itu sendiri hanyalah perhatian yang lebih tertuju pada ADA yang indrawi, dapi pada ADA yang metafisis. Sekalipun begitu, materi tetap mempunyai status ontologis....Sehingga perhatian yang besar kepadanya akan menghantarkan seseorang kepada ada, dalam bentuk alienasi dan keresahan eksistensial...Alienasi dan keresahan itu dengan demikian adalah momen eksistensial yang sangat mungkin mengembalikan kita pada dunia yang lebih tinggi dari ruang-waktu dan indra....Keculai jika kita sendiri tak mau tahu dan lebih menginginkan hidup dalam situasi batin yang menyesakkan dada....Hingga sampai pada matinya fitra, yang kemudian membuat kita melihat kotoran sebagai kesucian, kekaburan sebagai, keneningan, kegelapan sebagai cahaya, dan kebaikan menjadi dipandang membahayakan...Dan binatangpun lebih mulai....
Aku melihat dan menyadari ada meja dan benda-benda material di depan mataku...Tetapi apa itu meja? Kata Mulla Sadra, materi adalah sebuah eksistensi yang derajatnya terlalu rendah, sehingga ia tidak bisa diketahui sebagaimana adanya...Setelah dipikir-pikir, ternyata apa yang di bilang Sang Maestro Filsafat ini memang benar...Sebab kesadaranku tentang benda-benda material yang kusaksiakan itu tidak sama sekali tertuju pada dimensi materialnya, melainkan pada eksistensi non-material...Kenyataan pertama adalah, materi itu tidak bisa mewujud dalam kesadaranku...Sementara itu, aku menyadari keberadaan sesuatu...Itu artinya, yang kusadari pastilah sesuatu yang non-material...Tetapi kesadaranku akan ADA yang non-material itu sedikit banyak ditentukan oleh keberadaan materi...AKu melihat meja, dan kusadari ADA...ALhasil, dapat kukatakan bahwa materi itu tidak lain keculai ADA yang mewujud menjadi sesuatu yang indrawi...
Demikian sehingga, tidak kapan dan dimanapun, kita dapat luput dari padanya...Sebelum, disaat, dan setelah ku saksikan segala sesuatu, yang ku lihat hanyalah diri-Mu...Demikian ungkapan kesadaran Amirul Mukminin akan ADA itu sendiri...Hanya saja, apa yang kita sebut sebagai "luput" itu sendiri hanyalah perhatian yang lebih tertuju pada ADA yang indrawi, dapi pada ADA yang metafisis. Sekalipun begitu, materi tetap mempunyai status ontologis....Sehingga perhatian yang besar kepadanya akan menghantarkan seseorang kepada ada, dalam bentuk alienasi dan keresahan eksistensial...Alienasi dan keresahan itu dengan demikian adalah momen eksistensial yang sangat mungkin mengembalikan kita pada dunia yang lebih tinggi dari ruang-waktu dan indra....Keculai jika kita sendiri tak mau tahu dan lebih menginginkan hidup dalam situasi batin yang menyesakkan dada....Hingga sampai pada matinya fitra, yang kemudian membuat kita melihat kotoran sebagai kesucian, kekaburan sebagai, keneningan, kegelapan sebagai cahaya, dan kebaikan menjadi dipandang membahayakan...Dan binatangpun lebih mulai....
Aku Berubah..Akulah Ketetapan..Dan Aku TIdak Ada
Aku menyadari betul, bahwa ada ide "ketakterbatasan" dalam diriku.Dalam jiwa, ia mewujud dalam rasa ingin tahu yang juga tidak terbatas..Namun, bagaimana bisa gagasan ketakterbatasan itu bisa hadir dalam diriku, jika kenyataannya, aku ini adalah sesuatu yang terbatas...Apakah jawabannya sebagaimana yang dibilang Descartes, bahwa sumber gagasan kemutlakan itu adalah Tuhan sebagai Realitas yang Tidak Terbatas..Tetapi bagaimana mungkin aku bisa menampung gagasan itu? Bagiku, yang masuk akal adalah, bahwa gagasan ketakterbatasan hanya bisa mewujud dalam sesuatu yang juga tidak terbatas...
Ops....Barangkali sebagai gagasan, hal tersebut tidak mustahil..Yang mustahil adalah, jika ketakterbatasan itu aktual...Dan memang demikian...sebab jika ketakterbatasan itu aktual dalam diriku, maka dengan sendirinya tidak akan ada lagi rasa ingin tahu yang tidak terbatas, oleh karena segala sesuatunya telah jelas pada dirinya sendiri...
Tetapi bagaimana bisa ketakterbatasan yang aktual itu bisa dicapai???
Apakah aktualitas itu diujung sejarah sebagaimana kata Hegel...Padahal, yang tidak terbatas mustahil mempunyai akhir,pula awal...Jika demikian, maka yang tak terbatas tidak bisa diungkap dengan pergerakan linier...Yang tak terbatas harus mewujud sekarang, dan saat ini juga...Pertanyaan ini membuatku harus memeras pikir, membuka kembali sayap pemikiran dan terbang menyikap pokok soal yang satu ini...Apa itu Tubuh, pun imajinasi, pula akal, dan intuisi...Apa itu ruang-waktu. Apa yang dimaksud dengan ketetapan dan perubahan????
AKu tidak perduli...apakah ini pertanyaan abad Yunani Kuno, atau bahkan sebelum Sokrates ada..Yang jelas, ini mengganggu pikiranku, dan aku mesti memberi jawab atasnya. Manfaatnya adalah aku pun kelak bisa bersikap sebagaimana hakikat pengetahuan itu sendiri...Jika tidak, maka tindakan praksisku tidak akan mempunyai nilai kebenaran sama sekali...
Tampaknya aku tidak bisa menerima ide tentang perubahan, jika tidak ada pengertian yang aku dapatkan tentang ketetapan...Kedunya menyatu sedemikian rupa...Apakah dengan demikian berubah dan tetap itu sama saja? jika sama, kenapa ada kenyataan tentang silih bergantinya segala sesuatu? jika berubahan itu ada? maka sejauh mana ia akan berhenti menjadi tetap, sementara ide ketakterbatasan itu tidak menerima akhir segala? Berarti bukan besok atau kemarin tetapi hari ini...Tapi apa yang dimaksud dengan kedisinian? sementara tidak sedetikpun segala sesuatu itu berhenti? apakah ketetapan itu adalah arus perubahan yang berjalan tanpa lompatan-lompatan itu???? Yang aku tahu, momen kedisinian itu akan menjadi luput dari kesadaraku, jika aku mengarahkan perhatian kepada selainnya...Semestinya aku fana dalam kedisinian yang total itu...Tetapi aku tidak bisa selalu begitu...Seratus dejajat celsius dengan demikian pastilah mengandung derajat-derajat yang ada dibawahnya...sementara nol derajat pastilah secara potensial mengandung seratus derajat itu sendiri...Dingin pastilah mengandung panas...dan panas pastilah mengandung dingin...Kemarin pastilah mengandung hari ini dan besok...Ini jika kedisinian yang abadi itu terserap dedalam diri. dan ketika itu, waktu pun menjadi hilang dengan sendirinya....
Tampaknya momen eksistensial yang ku sebut dengan kedisinian yang abadi ini, membutuhkan keheningan, bahkan jika kita berada ditengah-tengah gemuruh suara sekalipun...Semuanya pasti tidak akan bisa mengusik kedisinian...Semuanya tidak ada...Yang ada adalah aku dan sama dengan kedisinian abadi....
Ku kira, masalah ini juga menghinggap sang Filsuf berkumis...Nietzche...Ia menolak ketetapan...Dan mengutamakan perubahan yang tak berkesudahan...Tetapi ia kemudian masuk kedalam dilema, oleh karena perubahan itu meniscayakan pengakuan atas ketetapan pada saat yang sama...Dan bukan memilih salah satu di antaranya...Mencari untuk menemukan...tetapi jika tidak ada akhir pencarian, maka apa artinya pencarian-pencarian itu???? Namun semunya sama saja, sebab yang tidak terbatas sebagaimana yang ku katakan di atas, pastilah tidak punya akhir...Tampaknya kita mesti menemukannya di kedisinian....dan bukan di esok atau kemarin...sebab besok dan kemarin itu tidak ada....
Ohhhh....Betapa berfikir itu asyik...
Tapi dimana akhir hasrat ingin tahu itu???
Kedisinian adalah yang abadi???
Tetapi siapakah aku dan kedisinian itu???
Aku tidak tahu...
Bagaimana aku bisa mengatakan aku abadi dalam sesuatu yang tidak aku ketahui????
Tampaknya aku tidak bisa menemukannya...
Kecuali bila dia menyingkap keberadaannya kepadaku...
Maka berfikir itu tidak bermakna apa-apa
Ops....Barangkali sebagai gagasan, hal tersebut tidak mustahil..Yang mustahil adalah, jika ketakterbatasan itu aktual...Dan memang demikian...sebab jika ketakterbatasan itu aktual dalam diriku, maka dengan sendirinya tidak akan ada lagi rasa ingin tahu yang tidak terbatas, oleh karena segala sesuatunya telah jelas pada dirinya sendiri...
Tetapi bagaimana bisa ketakterbatasan yang aktual itu bisa dicapai???
Apakah aktualitas itu diujung sejarah sebagaimana kata Hegel...Padahal, yang tidak terbatas mustahil mempunyai akhir,pula awal...Jika demikian, maka yang tak terbatas tidak bisa diungkap dengan pergerakan linier...Yang tak terbatas harus mewujud sekarang, dan saat ini juga...Pertanyaan ini membuatku harus memeras pikir, membuka kembali sayap pemikiran dan terbang menyikap pokok soal yang satu ini...Apa itu Tubuh, pun imajinasi, pula akal, dan intuisi...Apa itu ruang-waktu. Apa yang dimaksud dengan ketetapan dan perubahan????
AKu tidak perduli...apakah ini pertanyaan abad Yunani Kuno, atau bahkan sebelum Sokrates ada..Yang jelas, ini mengganggu pikiranku, dan aku mesti memberi jawab atasnya. Manfaatnya adalah aku pun kelak bisa bersikap sebagaimana hakikat pengetahuan itu sendiri...Jika tidak, maka tindakan praksisku tidak akan mempunyai nilai kebenaran sama sekali...
Tampaknya aku tidak bisa menerima ide tentang perubahan, jika tidak ada pengertian yang aku dapatkan tentang ketetapan...Kedunya menyatu sedemikian rupa...Apakah dengan demikian berubah dan tetap itu sama saja? jika sama, kenapa ada kenyataan tentang silih bergantinya segala sesuatu? jika berubahan itu ada? maka sejauh mana ia akan berhenti menjadi tetap, sementara ide ketakterbatasan itu tidak menerima akhir segala? Berarti bukan besok atau kemarin tetapi hari ini...Tapi apa yang dimaksud dengan kedisinian? sementara tidak sedetikpun segala sesuatu itu berhenti? apakah ketetapan itu adalah arus perubahan yang berjalan tanpa lompatan-lompatan itu???? Yang aku tahu, momen kedisinian itu akan menjadi luput dari kesadaraku, jika aku mengarahkan perhatian kepada selainnya...Semestinya aku fana dalam kedisinian yang total itu...Tetapi aku tidak bisa selalu begitu...Seratus dejajat celsius dengan demikian pastilah mengandung derajat-derajat yang ada dibawahnya...sementara nol derajat pastilah secara potensial mengandung seratus derajat itu sendiri...Dingin pastilah mengandung panas...dan panas pastilah mengandung dingin...Kemarin pastilah mengandung hari ini dan besok...Ini jika kedisinian yang abadi itu terserap dedalam diri. dan ketika itu, waktu pun menjadi hilang dengan sendirinya....
Tampaknya momen eksistensial yang ku sebut dengan kedisinian yang abadi ini, membutuhkan keheningan, bahkan jika kita berada ditengah-tengah gemuruh suara sekalipun...Semuanya pasti tidak akan bisa mengusik kedisinian...Semuanya tidak ada...Yang ada adalah aku dan sama dengan kedisinian abadi....
Ku kira, masalah ini juga menghinggap sang Filsuf berkumis...Nietzche...Ia menolak ketetapan...Dan mengutamakan perubahan yang tak berkesudahan...Tetapi ia kemudian masuk kedalam dilema, oleh karena perubahan itu meniscayakan pengakuan atas ketetapan pada saat yang sama...Dan bukan memilih salah satu di antaranya...Mencari untuk menemukan...tetapi jika tidak ada akhir pencarian, maka apa artinya pencarian-pencarian itu???? Namun semunya sama saja, sebab yang tidak terbatas sebagaimana yang ku katakan di atas, pastilah tidak punya akhir...Tampaknya kita mesti menemukannya di kedisinian....dan bukan di esok atau kemarin...sebab besok dan kemarin itu tidak ada....
Ohhhh....Betapa berfikir itu asyik...
Tapi dimana akhir hasrat ingin tahu itu???
Kedisinian adalah yang abadi???
Tetapi siapakah aku dan kedisinian itu???
Aku tidak tahu...
Bagaimana aku bisa mengatakan aku abadi dalam sesuatu yang tidak aku ketahui????
Tampaknya aku tidak bisa menemukannya...
Kecuali bila dia menyingkap keberadaannya kepadaku...
Maka berfikir itu tidak bermakna apa-apa
Kamis, 20 Mei 2010
Perempuan dan Arti Sembahyang
Adam AS diajarkan oleh Tuhan nama-nama segala sesuatu...Meskipun begitu, ia selalu kelihatan murung dan tidak bergairah...Kenapa Adam menjadi demikian? Sebab ia tidak mempunyai seorang yang bisa memberinya ketentraman dan kesejukan batin...Apakah Allah tidak cukup bagi Adam? tentunya tidak...Kepuasan paling tinggi adalah ketika seseorang menempati kedudukan yang akrab dengan Sang Penciptanya...Karena itu, maka seluruh nama-nama yang diketahui oleh Adam belum bisa disebut sebagai sesuatu yang memberinya maqam kedekatan...Lantas apa makna kehadiran Hawa dalam hubungannya dengan adam dan Tuhan?
Kehadiran hawa (perempuan) bagi laki dengan demikian pastilah menyimpan sebuah rahasia besar. Siapakah perempuan itu???
Secara fisikal, kita bisa menetapkan identitas perempuan pada organ seksualnya...demikian juga dengan laki-laki...Demikian juga dengan dimesi psikologis kedua mahluk ini...Laki-laki dikatakan lebih cenderung kepada akalnya, sedangkan perempuan lebih banyak bercerita dengan bahasa intuisi...Adapun akal, ia merupakan lokus bagi terwujudkanya keadilan...Sedangkan keadilan tidak memandang perasaan suka maupun tidak suka...Keadilan mestilah diteggakan dengan hukum dan undang-undang yang jelas...Memaafkan seseorang yang bersalah adalah hal lain, sedangkan menghukum pelaku kejahatan adalah sesuatu yang lain pula...Sedangkan perasaan itu terlalu halus untuk bisa menegaskan sikapnya di dunia kemajemukan yang organis ini...Akal dengan demikian lebih diperlukan untuk melaksanakan tanggung-jawab manusia sebagai khalifah...dengan lain perkataan, dunia ini akan menjadi ladang yang melahirkan kemakmuran jika ia berdiri diatas keadilan...
Sedangkan dalam menjalin hubungan eksistensial dengan Tuhan (terutama sebagai individu), manusia lebih mengharapkan kasih-sayang Tuhan dari pada keadilannya...Artinya, Manusia lebih berharap agar semua kesalahannya dihapuskan sehingga ia tidak akan menanggung hukuman apa-apa...Situasi batinnya lebih merepresentasikan harapan tanpa batas, kelemahan dirinya sebagai mahluk, dan semua itu biasanya terekspresi secara tulus dalam air mata yang menetes...Kasih Sayang yang sangat diharapkan itu, dan terutama sebagai harapan terbesar mahluk, nampak menghadir secara kuat dalam diri perempuan, dari pada laki-laki...
Perasaan yang halus memberi manusia kesejukan luar biasa..Dan dengan kesejukan tersebut, ia akan sangat bergairah untuk melaksanakan seluruh tugas-tugas kekhalifaannya (memakmurkan bumi)...Artinya, tanpa perempuan, maka sungguh sangat sulit bagi seorang laki-laki untuk menunaikan kewajibannya sebagai utusan Tuhan...
Selanjutnya, tugas kekhalifahan itu mestilah tetap berlanjut...Demikian, sehingga keberadaan seorang anak lebih didambakan oleh laki-laki...Laki-laki adalah pena yang bertujuan menuliskan sesuatu...Namun fungsi pena tersebut menjadi tidak berarti, tatkala ada lembaran yang bisa menampungnya..Tulisan dengan demikian merupakan hasil yang muncul dari perkawinan antara pena dan lembaran...Seorang laki-laki akan sangat mendambakan kehadiran seorang anak. sedangkan perempuan masih tetap bisa memaklumi keadaan tanpa anak...Barangkali ini masih bisa ditolak sama sekali..Tetapi kenyataan bahwa syarat utama kelahiran seorang anak adalah curahan nur rahman (sperma laki) kedalam bilik kasih sayang agak sulit dipungkiri...Demikian, sehingga eksistensi mental anak pada awalnya lebih bersuara kuat dalam sanubari seorang laki-laki dari pada perempuan...Hal ini terutama sekali terkait dengan keinginan laki-laki untuk melahirkan seorang pengganti yang akan melanjutkan misi kekhalifahan (memakmurkan bumi)...Namun secara material, syarat kehadiran pelanjut eksistensi ayah (laki-laki) adalah perkawinan itu sendiri...Dan yang menyempurnakan keberadaan anak adalah seorang perempuan, sebab proses penyempurnaan sperma menjadi sorang jabang bayi itu terjadi dalam diri (rahim) perempuan...
"Istri-istrimu adalah ladang bagi dirimu". Sebagai ladang, ia mesti dikelolah untuk melahirkan tanaman. Artinya, tanaman merupakan sesuatu yang terutama lebih dihasrati oleh laki-laki ketimbang perempuan...Tetapi proses penyempurnaan biji menjadi tumbuhan yang berbuah, lebih banyak ditentukan oleh tanah atau ladang itu sendiri...
Kesimpulan...
Demikian sehingga seorang laki-laki mestilah mempunyai pasangan hidup...Karena tanpanya, seluruh nama-nama (pengetahuan) tidak akan bisa menghantarkan laki-laki kepada maqam kedekatan dengan Tuhannya...Ini begitu dipertegas oleh Ibn-Arabi...Sang Mistikus ini berkata "Seseorang yang Shalatnya tidak menyeratakan istrinya, maka shalatnya tidak sempurna". Hal ini karena Shalat salah satu perjalanan untuk menyaksikan Tuhan...Dan untuk menyaksikannya, laki-laki harus menyertakan perempuan...Pengetahuan tidak menghantarkan pada gairah...Sedangkan Perempuan mengkat kita menyaksikan-Nya, dan sekaligus dia memberi kesucian pada nama-nama (pengetahuan)...Pengetahuan adalah syarat untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah...Dan perempuan adalah teman yang membawa kita kepada kedalaman intuisi (iman)...Imam Khomeini berkata "teman ibadah bukanlah pengetahuanmu, melainkan istrimu"....
" Aku melihat asap...Engkau membuatku dapat menyaksikan api"
dan kita berdua terbakar, sehingga aku-kamu menjadi debu yang perkasa dan mulia karena-Nya"
Kehadiran hawa (perempuan) bagi laki dengan demikian pastilah menyimpan sebuah rahasia besar. Siapakah perempuan itu???
Secara fisikal, kita bisa menetapkan identitas perempuan pada organ seksualnya...demikian juga dengan laki-laki...Demikian juga dengan dimesi psikologis kedua mahluk ini...Laki-laki dikatakan lebih cenderung kepada akalnya, sedangkan perempuan lebih banyak bercerita dengan bahasa intuisi...Adapun akal, ia merupakan lokus bagi terwujudkanya keadilan...Sedangkan keadilan tidak memandang perasaan suka maupun tidak suka...Keadilan mestilah diteggakan dengan hukum dan undang-undang yang jelas...Memaafkan seseorang yang bersalah adalah hal lain, sedangkan menghukum pelaku kejahatan adalah sesuatu yang lain pula...Sedangkan perasaan itu terlalu halus untuk bisa menegaskan sikapnya di dunia kemajemukan yang organis ini...Akal dengan demikian lebih diperlukan untuk melaksanakan tanggung-jawab manusia sebagai khalifah...dengan lain perkataan, dunia ini akan menjadi ladang yang melahirkan kemakmuran jika ia berdiri diatas keadilan...
Sedangkan dalam menjalin hubungan eksistensial dengan Tuhan (terutama sebagai individu), manusia lebih mengharapkan kasih-sayang Tuhan dari pada keadilannya...Artinya, Manusia lebih berharap agar semua kesalahannya dihapuskan sehingga ia tidak akan menanggung hukuman apa-apa...Situasi batinnya lebih merepresentasikan harapan tanpa batas, kelemahan dirinya sebagai mahluk, dan semua itu biasanya terekspresi secara tulus dalam air mata yang menetes...Kasih Sayang yang sangat diharapkan itu, dan terutama sebagai harapan terbesar mahluk, nampak menghadir secara kuat dalam diri perempuan, dari pada laki-laki...
Perasaan yang halus memberi manusia kesejukan luar biasa..Dan dengan kesejukan tersebut, ia akan sangat bergairah untuk melaksanakan seluruh tugas-tugas kekhalifaannya (memakmurkan bumi)...Artinya, tanpa perempuan, maka sungguh sangat sulit bagi seorang laki-laki untuk menunaikan kewajibannya sebagai utusan Tuhan...
Selanjutnya, tugas kekhalifahan itu mestilah tetap berlanjut...Demikian, sehingga keberadaan seorang anak lebih didambakan oleh laki-laki...Laki-laki adalah pena yang bertujuan menuliskan sesuatu...Namun fungsi pena tersebut menjadi tidak berarti, tatkala ada lembaran yang bisa menampungnya..Tulisan dengan demikian merupakan hasil yang muncul dari perkawinan antara pena dan lembaran...Seorang laki-laki akan sangat mendambakan kehadiran seorang anak. sedangkan perempuan masih tetap bisa memaklumi keadaan tanpa anak...Barangkali ini masih bisa ditolak sama sekali..Tetapi kenyataan bahwa syarat utama kelahiran seorang anak adalah curahan nur rahman (sperma laki) kedalam bilik kasih sayang agak sulit dipungkiri...Demikian, sehingga eksistensi mental anak pada awalnya lebih bersuara kuat dalam sanubari seorang laki-laki dari pada perempuan...Hal ini terutama sekali terkait dengan keinginan laki-laki untuk melahirkan seorang pengganti yang akan melanjutkan misi kekhalifahan (memakmurkan bumi)...Namun secara material, syarat kehadiran pelanjut eksistensi ayah (laki-laki) adalah perkawinan itu sendiri...Dan yang menyempurnakan keberadaan anak adalah seorang perempuan, sebab proses penyempurnaan sperma menjadi sorang jabang bayi itu terjadi dalam diri (rahim) perempuan...
"Istri-istrimu adalah ladang bagi dirimu". Sebagai ladang, ia mesti dikelolah untuk melahirkan tanaman. Artinya, tanaman merupakan sesuatu yang terutama lebih dihasrati oleh laki-laki ketimbang perempuan...Tetapi proses penyempurnaan biji menjadi tumbuhan yang berbuah, lebih banyak ditentukan oleh tanah atau ladang itu sendiri...
Kesimpulan...
Demikian sehingga seorang laki-laki mestilah mempunyai pasangan hidup...Karena tanpanya, seluruh nama-nama (pengetahuan) tidak akan bisa menghantarkan laki-laki kepada maqam kedekatan dengan Tuhannya...Ini begitu dipertegas oleh Ibn-Arabi...Sang Mistikus ini berkata "Seseorang yang Shalatnya tidak menyeratakan istrinya, maka shalatnya tidak sempurna". Hal ini karena Shalat salah satu perjalanan untuk menyaksikan Tuhan...Dan untuk menyaksikannya, laki-laki harus menyertakan perempuan...Pengetahuan tidak menghantarkan pada gairah...Sedangkan Perempuan mengkat kita menyaksikan-Nya, dan sekaligus dia memberi kesucian pada nama-nama (pengetahuan)...Pengetahuan adalah syarat untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah...Dan perempuan adalah teman yang membawa kita kepada kedalaman intuisi (iman)...Imam Khomeini berkata "teman ibadah bukanlah pengetahuanmu, melainkan istrimu"....
" Aku melihat asap...Engkau membuatku dapat menyaksikan api"
dan kita berdua terbakar, sehingga aku-kamu menjadi debu yang perkasa dan mulia karena-Nya"
Sedikit Tentang Teori Pengetahuan
Setiap bentuk pengetahuan pastilah bersandar pada fondasi yang bersifat ap-riori. Ketika kita menyaksiakan segala sesuatu dengan mata lahiriah, dengan seketika kita akan mengatkan bahwa segala sesuatu tersebut mempunyai pencipta yang menjadi syarat keberadaannya...Tetapi sejauh mana kebenaran pernyataan ini, memerlukan penelururan yang lebih radikal lagi...Karenanya, pertanyaan harus diarahkan kepada persoalan tentang apa dan dari mana hukum sebab-akibat itu sendiri?
Dimana ada eksistensi sebab, kita pasti menetapkan keharusan adanya akibat yang muncul dari padanya, demikian sebaliknya. Karenanya, tampaknya sebab dan akibat bukanlah rangkaian peristiwa material yang salah satunnya bisa mandari tanpa yang lain. Sebab akibat sejatinya merupakan relasi eksistensial itu sendiri, dan bukan dua hal yang saling terpisah dimana keduanya terhubung melalui sebuah penghubung yang mandiri...Singkatnya, konsep sebab akibat adalah apa yang kita sebut sebagi wujud atau eksistensi itu sendiri...
Sedangkan wujud sebagaimana yang tampak oleh intuisi dan rasio kita, merupakan sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri...Karena itu pula, maka kita tidak bisa lagi memberi penjelasan apa-apa terhadapnya...Wujud menjadi jelas dengan dirinya sendiri...Sama halnya dengan hukum causalitas sebagai hukum yang bercorak self evident...Dalam kaitannya dengan konsep sebab-akibat ini, kita tidak bisa lagi mempertanyakan kesahihannya, dengan misalnya mengatakan "mengapa setiap akibat butuh sebab, begitupun sebaliknya...Hal ini persis sama dengan pertanyaan semisal "mengapa ada itu ada"?...
Kenyataan ini bagi Nietzche merupakan alasan tentang mengapa dia mengatakan bahwa kebenaran hanyalah sebentuk kekeliruan yang dengannya manusia tidak bisa hidup...Tetapi sejatinya, causalitas sebagai konsep apriori bukanlah sebuah kekeliruan sebagaimana yang disangkakan oleh Nietzche, melainkan ia merupakan kebenaran itu sendiri...Kenapa demikian, sebab kebenaran haruslah sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri, dan karenanya dia tidak membutuhkan sesuatu yang lain sama sekali...Demikian juga dengan pertanyaan diatas, kita tidak perlu memberi jawaban tentang kenapa causalitas dan ada itu dapat ada...Kita tidak perlu mencari tahu lebih lanjut, cukuplah dirinya yang menjelaskan siapa dia sebenarnya...Nietzche memandang hukum berfikir tersebut sebagai kekeliruan yang dibutuhkan manusia, sebab bagi Niezche, kebenaran itu haruslah sesuatu yang perlu ditafsirkan lebih jauh...Padahal, kebenaran semestinya merupakan hal yang mandiri dengan dirinya sendiri, dan tidak membutuhkan tafsiran sama sekali dari sesuatu yang lain tentang dirinya...Kebenaran lebih tepat dikatakan sebagai sesuatu yang hadir dari pada sebagai sesuatu yang diperoleh...
Dimana ada eksistensi sebab, kita pasti menetapkan keharusan adanya akibat yang muncul dari padanya, demikian sebaliknya. Karenanya, tampaknya sebab dan akibat bukanlah rangkaian peristiwa material yang salah satunnya bisa mandari tanpa yang lain. Sebab akibat sejatinya merupakan relasi eksistensial itu sendiri, dan bukan dua hal yang saling terpisah dimana keduanya terhubung melalui sebuah penghubung yang mandiri...Singkatnya, konsep sebab akibat adalah apa yang kita sebut sebagi wujud atau eksistensi itu sendiri...
Sedangkan wujud sebagaimana yang tampak oleh intuisi dan rasio kita, merupakan sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri...Karena itu pula, maka kita tidak bisa lagi memberi penjelasan apa-apa terhadapnya...Wujud menjadi jelas dengan dirinya sendiri...Sama halnya dengan hukum causalitas sebagai hukum yang bercorak self evident...Dalam kaitannya dengan konsep sebab-akibat ini, kita tidak bisa lagi mempertanyakan kesahihannya, dengan misalnya mengatakan "mengapa setiap akibat butuh sebab, begitupun sebaliknya...Hal ini persis sama dengan pertanyaan semisal "mengapa ada itu ada"?...
Kenyataan ini bagi Nietzche merupakan alasan tentang mengapa dia mengatakan bahwa kebenaran hanyalah sebentuk kekeliruan yang dengannya manusia tidak bisa hidup...Tetapi sejatinya, causalitas sebagai konsep apriori bukanlah sebuah kekeliruan sebagaimana yang disangkakan oleh Nietzche, melainkan ia merupakan kebenaran itu sendiri...Kenapa demikian, sebab kebenaran haruslah sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri, dan karenanya dia tidak membutuhkan sesuatu yang lain sama sekali...Demikian juga dengan pertanyaan diatas, kita tidak perlu memberi jawaban tentang kenapa causalitas dan ada itu dapat ada...Kita tidak perlu mencari tahu lebih lanjut, cukuplah dirinya yang menjelaskan siapa dia sebenarnya...Nietzche memandang hukum berfikir tersebut sebagai kekeliruan yang dibutuhkan manusia, sebab bagi Niezche, kebenaran itu haruslah sesuatu yang perlu ditafsirkan lebih jauh...Padahal, kebenaran semestinya merupakan hal yang mandiri dengan dirinya sendiri, dan tidak membutuhkan tafsiran sama sekali dari sesuatu yang lain tentang dirinya...Kebenaran lebih tepat dikatakan sebagai sesuatu yang hadir dari pada sebagai sesuatu yang diperoleh...
Laki-Laki-Perempuan, dan Arti Sembahyang
Nun...Demi Pena dan Lembaran...
Selalu saja kehidupan itu muncul sebagai hasil perpaduan dua unsur...Langit mencurahkan air hujan.Bumi menyerapnya, dan bermunculanlah tetumbuhan...Lembaran menerima tinda dari pena, kemudian munculla tulisan. Hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak cukup bisa disebut sebagai sebuah hubungan, jika tidak untuk melahirkan sesuatu...
APakah arti Hubungan itu?
Kecintaan pena atas dirinya sendiri tidak akan berarti, ketika ia tidak mempunyai fungsi sama sekali. Agar fungsinya bisa muncul, pena mestilah mencari lembaran yang berguna menampung arti dirinya sebagai pena. Bagaimana kita bisa mengerti arti dari pada air yang dicurahkan oleh langit, ketika tidak kepada siapa dan untuk apa dicurahkan...Demikian juga dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan...Laki-laki menjadi bisa disebut laki-laki ketika ia bisa membangun sebuah hubungan dengan perempuan...Tetapi sekali lagi mesti dikatakan, bahwa hubungan keduanya saja belum bisa memberi makna apa-apa, tatkala tidak untuk sesuatu yang mesti lahir...Yang lahir tersebutlah yang memberi makna dan arti pada hubungan dua unsur itu sendiri...Karenanya,,, Alam Kun Fayakun adalah alam keganjilan...Tiga, dan bukan satu atau dua...Pertama adalah eksistensi masing-masing unsur, kedua adalah hubungan antara dua unsur tersebut, dan ketiga adalah hasil dari pada hubungan itu sendiri.
Satu adalah Eksistensi yang berada diatas dan melampaui alam kun dan Fayakun... Karenanya, dalam dirinya Dia selalu tidak terjelaskan...Sedangkan dua tidak bisa disebut dua, jika tidak untuk tiga itu sendiri...
Pernikahan, karenanya merupakan hubungan yang ganjil, dan bukan genap...Tiga yang satu, satu yang tiga...Laki-laki, perempuan, dan anak...Eksistensi Ayah adalah Ibu dan anak.Demikian juga dengan ibu dan anak...Ketiganya tidak bisa sama sekali dicerai-beraikan....Keselamatan seorang Suami terletak juga ditentukan oleh istri dan anaknya,...Karenanya, ketika ia hendak melakukan perjalanan kelangit, ia haruslah menyertakan istri dan anaknya...Demikian sehingga, pernikahan (seksualitas), memiliki kaitan yang sangat erat dengan Shalat itu sendiri...Seseorang tidak belum bisa dikatakan dapat menunaikan shalat secara baik, jika ia belum mempunyai pasangan dan hasil hubungan itu sendiri...Yang disenangi oleh Nabi adalah Shalat dan Perempuan....????
Selalu saja kehidupan itu muncul sebagai hasil perpaduan dua unsur...Langit mencurahkan air hujan.Bumi menyerapnya, dan bermunculanlah tetumbuhan...Lembaran menerima tinda dari pena, kemudian munculla tulisan. Hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak cukup bisa disebut sebagai sebuah hubungan, jika tidak untuk melahirkan sesuatu...
APakah arti Hubungan itu?
Kecintaan pena atas dirinya sendiri tidak akan berarti, ketika ia tidak mempunyai fungsi sama sekali. Agar fungsinya bisa muncul, pena mestilah mencari lembaran yang berguna menampung arti dirinya sebagai pena. Bagaimana kita bisa mengerti arti dari pada air yang dicurahkan oleh langit, ketika tidak kepada siapa dan untuk apa dicurahkan...Demikian juga dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan...Laki-laki menjadi bisa disebut laki-laki ketika ia bisa membangun sebuah hubungan dengan perempuan...Tetapi sekali lagi mesti dikatakan, bahwa hubungan keduanya saja belum bisa memberi makna apa-apa, tatkala tidak untuk sesuatu yang mesti lahir...Yang lahir tersebutlah yang memberi makna dan arti pada hubungan dua unsur itu sendiri...Karenanya,,, Alam Kun Fayakun adalah alam keganjilan...Tiga, dan bukan satu atau dua...Pertama adalah eksistensi masing-masing unsur, kedua adalah hubungan antara dua unsur tersebut, dan ketiga adalah hasil dari pada hubungan itu sendiri.
Satu adalah Eksistensi yang berada diatas dan melampaui alam kun dan Fayakun... Karenanya, dalam dirinya Dia selalu tidak terjelaskan...Sedangkan dua tidak bisa disebut dua, jika tidak untuk tiga itu sendiri...
Pernikahan, karenanya merupakan hubungan yang ganjil, dan bukan genap...Tiga yang satu, satu yang tiga...Laki-laki, perempuan, dan anak...Eksistensi Ayah adalah Ibu dan anak.Demikian juga dengan ibu dan anak...Ketiganya tidak bisa sama sekali dicerai-beraikan....Keselamatan seorang Suami terletak juga ditentukan oleh istri dan anaknya,...Karenanya, ketika ia hendak melakukan perjalanan kelangit, ia haruslah menyertakan istri dan anaknya...Demikian sehingga, pernikahan (seksualitas), memiliki kaitan yang sangat erat dengan Shalat itu sendiri...Seseorang tidak belum bisa dikatakan dapat menunaikan shalat secara baik, jika ia belum mempunyai pasangan dan hasil hubungan itu sendiri...Yang disenangi oleh Nabi adalah Shalat dan Perempuan....????
TENTANG KEPEMILIKAN
Kepemilikan merupakan sebuah konsepsi yang menentukan seluruh bangunan kehidupan manusia, baik yang terjkait dengan hubungan individu dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, bahkan juga dengan alam semesta. Konsep kepemilikan selanjutnya juga akan sangat terkait dengan apa yang kita sebut dengan "Hak dan Kewajiban". Hubungan yang demikian ini dengan seketika akan dimengerti oleh siapapun. Namun persoalannya akan menjadi sedikit pelik, tatkala diskusi tentang kepemilikan mulai masuk kepada penetapan tentang syarat-syarat kepemilikan atas sesuatu apapun. Kita bisa merumuskan permasalahannya menjadi "apakah manusia, baik secara individu maupun sebagai masyarakat mempunyai hak atas sesuatu"?
Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama yang harus dijawab adalah tentang "kriteria kepemilikan sebagaimana yang disinggung diatas". Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa kriteria kepemilikan adalah penciptaan atau pembuatan sesuatu secara bebas". Kebun ini adalah milik saya, sebab sayalah yang menggarap tanah dan menebar biji-biji tumbuhan diatasnya". Dengan lain perkataan, kerja sadar merupakan kriteria kepemilikan itu sendiri. Demikian sehingga kebun tersebut kemudian ditetapkan sebagai haknya, dimana kewajiban orang lain adalah memelihara hak si pemilik kebun tersebut. Selanjutnya, seluruh hasil yang diperoleh dari kebun tersebut dengan demikian tidak mempunyai keterkaitan dengan orang lain. Jika sang pemilik kebun tersebut membagikan hasil perkebunannya kepada orang lain, maka itu sama sekali bukan merupakan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan olehnya, melainkan semata-mata kebijaksanaan moral semata. Jika demikian, maka corak relasi kemasyarakatan dengan sendirinya akan menjadi individualistik. Dan yang demikian ini sudah pasti menimbulkan dampak yang buruk bagi eksistensi kehidupan manusia itu sendiri.
Jika demikian, maka apakah alternatif lain yang bisa menjaga keseimbangan hubungan antar manusia itu?
Sebagian paham menjadikan nilai manusia sebagai mahluk sosial sebagai kriteria kepemilikan itu sendiri. Dengan lain perkataan, seluruh sumber daya alam sebagai sumber produksi semestinya dikelolah untuk kesejahteraan bersama, melalui sebuah pola kerja sama. Sepintas lalu, konsepsi ini lebih menjamin tatanan kehidupan bersama, namun jika ditelisik lebih dalam lagi, akan kita temukan bahwa tidak ada sebuah landasan rasional yang mendasari kepentingan sosial sebagai sebuah standar kepemilikan itu sendiri. Satu pertanyaan bisa diajukan untuk menguji paham sosialisme ini, yaitu " apa dasar yang membuat manusia menetapkan bahwa alam adalah sumber daya bagi kesejahteraan bersama?
Atas pertanyaan tersebut, diskusi mesti berlanjut kepada penelusuran atas kepemilikan alam raya itu sendiri.
Kita menyadari betul bahwa tak seorang manusiapun semenjak dahulu sampai kemudian nanti, merasa dirinya sebagai pencipta alam raya ini. Lantas siapakah yang menciptakannya? Tanpa perlu mengulas secara detail tentang pertanyaan ini, kita bisa mengatakan bahwa Tuhanlah yang merupakan Sang Pencipta satu-satunya... Karena itu, yang mempunyai hak mutlak atas alam adalah Tuhan itu sendiri. Lantas apa hubungan antara kita dengan alam itu sendiri, jika ternyata alam bukan merupakan hak kita? Padahal kita tahu bahwa, sebagai manusia, kita tidak bisa hidup tanpa alam? Sejauh mana hak kita untuk mengelola alam bagi kehidupan kita sendiri?
Untuk menjawabnya, mau tidak mau, kita perlu mengurai lebih jauh lagi seputar relasi manusia, alam semesta dan Tuhan itu sendiri, sebagai unsur-unsur pembentuk kehidupan (hak dan kewajiban).
Manusia diciptakan oleh Tuhan, demikian juga dengan alam untuk mencapai tujuan tertentu. dan tujuan itu, pastilah sesuatu yang sempurna pada dirinya sendiri. Tujuan itu sendiri, merupakan ketetapan yang dibuat oleh Sang Pencipta. Karenanya, manusia dengan sendirinya mempunyai hak terhadap alam, sepanjang dirinya mengikat hubungan dengan tujuan penciptaan itu sendiri. Sebaliknya, ketika manusia tidak berhubungan lagi dengan tujuan penciptaan, maka haknya atas alam menjadi hilang dengan sendirinya. Demikian, sehingga hak manusia atas alam hanyalah turunan dari hak mutlak Tuhan atas alam dan segala sesuatu itu sendiri. Adapun tujuan diciptakannya segala sesuatu adalah untuk mencapai tujuan kesempurnaan itu sendiri. Sedangkan kesempurnaan sudah barang tentu mencakup segala sesuatu. Dengan demikian, maka meskipun kebun dan hasil-hasilnya itu merupakan hasil kerjaku, akan tetapi semuanya terkait dengan segala sesuatu. Artinya, ada hak orang lain dalam segala sesuatu yang saya miliki, dan kewajiban saya adalah menunaikan apa yang menjadi hak orang lain.
Kesimpulan....
Konsep kepemilikan yang melahirkan hak dan kewajiban, sebagai kebutuhan dasariah manusia untuk menjaga eksistensi dan keseimbangan hidupnya hanya akan tercipta ketika manusia senantiasa mengikat dirinya dengan tujuan penciptaan yang ditetapkan oleh Tuhan itu sendiri....
Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama yang harus dijawab adalah tentang "kriteria kepemilikan sebagaimana yang disinggung diatas". Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa kriteria kepemilikan adalah penciptaan atau pembuatan sesuatu secara bebas". Kebun ini adalah milik saya, sebab sayalah yang menggarap tanah dan menebar biji-biji tumbuhan diatasnya". Dengan lain perkataan, kerja sadar merupakan kriteria kepemilikan itu sendiri. Demikian sehingga kebun tersebut kemudian ditetapkan sebagai haknya, dimana kewajiban orang lain adalah memelihara hak si pemilik kebun tersebut. Selanjutnya, seluruh hasil yang diperoleh dari kebun tersebut dengan demikian tidak mempunyai keterkaitan dengan orang lain. Jika sang pemilik kebun tersebut membagikan hasil perkebunannya kepada orang lain, maka itu sama sekali bukan merupakan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan olehnya, melainkan semata-mata kebijaksanaan moral semata. Jika demikian, maka corak relasi kemasyarakatan dengan sendirinya akan menjadi individualistik. Dan yang demikian ini sudah pasti menimbulkan dampak yang buruk bagi eksistensi kehidupan manusia itu sendiri.
Jika demikian, maka apakah alternatif lain yang bisa menjaga keseimbangan hubungan antar manusia itu?
Sebagian paham menjadikan nilai manusia sebagai mahluk sosial sebagai kriteria kepemilikan itu sendiri. Dengan lain perkataan, seluruh sumber daya alam sebagai sumber produksi semestinya dikelolah untuk kesejahteraan bersama, melalui sebuah pola kerja sama. Sepintas lalu, konsepsi ini lebih menjamin tatanan kehidupan bersama, namun jika ditelisik lebih dalam lagi, akan kita temukan bahwa tidak ada sebuah landasan rasional yang mendasari kepentingan sosial sebagai sebuah standar kepemilikan itu sendiri. Satu pertanyaan bisa diajukan untuk menguji paham sosialisme ini, yaitu " apa dasar yang membuat manusia menetapkan bahwa alam adalah sumber daya bagi kesejahteraan bersama?
Atas pertanyaan tersebut, diskusi mesti berlanjut kepada penelusuran atas kepemilikan alam raya itu sendiri.
Kita menyadari betul bahwa tak seorang manusiapun semenjak dahulu sampai kemudian nanti, merasa dirinya sebagai pencipta alam raya ini. Lantas siapakah yang menciptakannya? Tanpa perlu mengulas secara detail tentang pertanyaan ini, kita bisa mengatakan bahwa Tuhanlah yang merupakan Sang Pencipta satu-satunya... Karena itu, yang mempunyai hak mutlak atas alam adalah Tuhan itu sendiri. Lantas apa hubungan antara kita dengan alam itu sendiri, jika ternyata alam bukan merupakan hak kita? Padahal kita tahu bahwa, sebagai manusia, kita tidak bisa hidup tanpa alam? Sejauh mana hak kita untuk mengelola alam bagi kehidupan kita sendiri?
Untuk menjawabnya, mau tidak mau, kita perlu mengurai lebih jauh lagi seputar relasi manusia, alam semesta dan Tuhan itu sendiri, sebagai unsur-unsur pembentuk kehidupan (hak dan kewajiban).
Manusia diciptakan oleh Tuhan, demikian juga dengan alam untuk mencapai tujuan tertentu. dan tujuan itu, pastilah sesuatu yang sempurna pada dirinya sendiri. Tujuan itu sendiri, merupakan ketetapan yang dibuat oleh Sang Pencipta. Karenanya, manusia dengan sendirinya mempunyai hak terhadap alam, sepanjang dirinya mengikat hubungan dengan tujuan penciptaan itu sendiri. Sebaliknya, ketika manusia tidak berhubungan lagi dengan tujuan penciptaan, maka haknya atas alam menjadi hilang dengan sendirinya. Demikian, sehingga hak manusia atas alam hanyalah turunan dari hak mutlak Tuhan atas alam dan segala sesuatu itu sendiri. Adapun tujuan diciptakannya segala sesuatu adalah untuk mencapai tujuan kesempurnaan itu sendiri. Sedangkan kesempurnaan sudah barang tentu mencakup segala sesuatu. Dengan demikian, maka meskipun kebun dan hasil-hasilnya itu merupakan hasil kerjaku, akan tetapi semuanya terkait dengan segala sesuatu. Artinya, ada hak orang lain dalam segala sesuatu yang saya miliki, dan kewajiban saya adalah menunaikan apa yang menjadi hak orang lain.
Kesimpulan....
Konsep kepemilikan yang melahirkan hak dan kewajiban, sebagai kebutuhan dasariah manusia untuk menjaga eksistensi dan keseimbangan hidupnya hanya akan tercipta ketika manusia senantiasa mengikat dirinya dengan tujuan penciptaan yang ditetapkan oleh Tuhan itu sendiri....
Rabu, 19 Mei 2010
Sejenak Bersama Nietzche
Bagiamana jika yang kita sebut sebagai kebenaran itu, ternyata hanya sebuah kekeliruan? Apa sesungguhnya yang menjadi landasan pengetahuan manusia?
Inilah pertanyaan yang beberapa hari ini mengusik pikiranku. Sebab aku melihat bahwa pemecahan terhadap pertanyaan tersebut merupakan kunci bagi semua pengetahuan dan keyakinan manusia. Aku bisa saja, dengan sejumlah argumentasi akal menyimpulkan bahwa Tuhan itu ada, alam semesta juga ada, demikian juga dengan sejumlah maujud lainnya. Namun atas dasar apa aku bisa meyakini bahwa kesimpulanku itu adalah sebuah kebenaran? bagaimana jika ternyata itu semua hanyalah kekeliruan semata?
Ada sebuah buku karangan ST Sunardi yang pernah ku baca. Buku tersebut bercerita secara tentang gagasan-gagasan pengetahuan Nietzche. Ketika mengomentasi pemikiran Immanuel Kant, Nietzche mengatakan bahwa apa-apa yang disebut sebagai landasan pengetahuan ap-riori itu hanyalah sebentuk kepercayaan,sebab tak ada lagi pijakan lain yang bisa dijadikan landasan untuk menilai kebenaran konsep-konsep ap-riori tersebut. ketika seseorang mengatakan bahwa konsep causalitas adalah konsep ap-riori yang menjadi landasan semua pengetahuan, maka persoalan akar-akar pengetahuan dengan demikian hanya akan berhenti sampai disitu. Sesorang tidak bisa lagi melakukan rasionalisasi terhadap konsep tersebut, sebab setiap rasionalisasi hanya akan tetap berpijak kepadanya. Jika demikian, maka manusia tidak memiliki pilihan lain, selain menerima konsep ini secara ap-riori pula, tanpa bisa mempertanyakannya secara lebih jauh lagi. Karena itulah, maka Nietzche mengatakan bahwa dasar-dasar pengetahuan hanyalah sebentuk kepercayaan. Kant menyebut kenyataan ini sebagai intusi akal.
Bagaimana jadinya, jika kepercayaan ini adalah sebuah kekeliruan?
Nietzche mengatakan bahwa kebenaran hanyalah kekeliruan yang tanpanya, manusia tidak bisa hidup. Bahkan baginya, pengetahuan tak lain kecuali aktualisasi dari kehendak berkuasa. Causalitas tidak bisa digunakan untuk membuktikan eksistensi metafisis, sebab causalitas itu sendiri, sebagaimana yang telah diketahui, hanyalah sebuah kepercayaan yang irrasional. Sehingga merupakan sebuah kekeliruan, jika ada manusia yang berusaha membangun sistematika pengetahuan yang absolut dan selanjutnya menjadi kaidah yang dipatuhi. Sistematika dengan demikian hanyalah sebuah ilusi yang tak berdasar. Jikapun sistematika itu dibutuhkan, ia bukanlah kerangka pengetahuan yang sifatnya absolut, melainkan hanya sebagai sarana bagi manusia dalam menjalankan hasrat ingin berkuasanya. Causalitas hanya bisa digunakan untuk menciptakan hal-hal yang bermanfaat secara praktis bagi manusia. pengetahuan bukanlah untuk pengetahuan itu sendiri, melainkan hanya sebagai kepentingan saja. bahkan, pengetahuan itu sendiri menyatu sedemikian rupa dengan kepentingan. Tidak ada obyektifitas yang bisa dibanggakan, sebab realitas hanya bisa diketahui pada dimensi fenomenalnya. Adapun yang dinamakan dengan sesuatu dalam dirinya sendiri adalah ilusi yang muncul oleh karena manusia tidak bisa mengatasi kelemahannya ditengah-tengah kehidupan yang serta tidak tertata rapi dan sistematis ini (chaos). Demikian Sabda Nietzche...
Barangkali banyak orang yang akan berkeberatan atas toresan pemikiran Nietzche. Sesuatu hal yang lumrah dan biasa. Namun bagiku, ia justru memberikan sebuah landasan pengetahuan yang lebih pasti, yakni dimensi intuitif yang lebih dekat pada hati dari-pada rasio. Pengetahuan seharusnya menjadi sesuatu yang dirasakan secara langsung oleh manusia pada relung jiwanya, dan bukan sebatas kaidah-kadaih berfikir yang bebas kepentingan dan mati rasa, sebagaimana kesadaran dan nalar Cogito yang tertanam kuat dalam Ideologi Modernisme dan pengetahuan positivistiknya.
Sekalipun demikian, tidak semua pemikiran Nietzche dapat dipandang sebagai kebenaran yang tetap, sebab jika demikian, maka telah terjadi sebuah kekeliruan pula dalam menafsirkan sang Filsuf ini. Ia sendiri tidak pernah mengatakan bahwa apa-apa yang ditelorkan olehnya sebagai pengetahuan yang tak bisa dikritisi. Filsuf kita ini justru memahami pengetahuan sebagai proses tanpa henti untuk mencari...mencari tanpa henti...pergerakan tanpa batas...dan itulah keabadian pemikirannya. Dan disinilah menurutku titik kelemahan pemikirannya. Ia mengatakan bahwa satu-satunya hakikat (semoga tidak ditafsirkan sebagai bernada metafisis) adalah gerak itu sendiri. namun bagaimana jadinya, jika gerak itu abadi? Lantas untuk apa Nietzche susah-susah mengkritisi Kant? Mengapa juga ia mesti mengatakan bahwa dasar-dasar pengetahuan hanyalah sebentuk kepercayaan yang irrasional? Kenapa juga ia mesti memproklamirkan dirinya sebagai sebuah dinamit yang bertugas membuat orang gelisah? Apa sesungguhnya kegelisahan itu? Apakah kegelisahan itu adalah yang mesti ditemukan, atau kegelisahan adalah hambatan yang mesti diatasai oleh sebuah kepastian? Jika terbatas pada kegelisahan, maka tidakkah bisa disebut bahwa kegelisahan adalah sesuatu yang pasti dan positif? Apakah ketika seseorang manusia berusaha mencari sebuah kepastian dan nilai-nilai yang tetap maka ia dengan sendirinya menjadi orang yang bermentalitas budak? Bukankah justru seseorang telah memperbudak dirinya sendiri, ketika ia berbicara banyak tentang pengetahuan namun menolak kepastian? Ataukah Nietzche sejatinya sedang berbicara tentang kepastian dalam bentuk pemberontakan atas relativitas akal dan indra yang oleh ideologi modernisme hendak disakralkan?
Pada dasarnya, negasi atas kepastian atau bahkan terhadap ideologi adalah sebuah ideologi. Sebab jika tidak demikian, maka tak ada yang bisa memaksa seseorang untuk mengakui hasil berfikirnya. Ini artinya, ada identitas positif yang tidak bisa dalam saat bersamaan menjadi sesuatu yang ditolak. Causalitas meskipun dipandang sebagai sebuah kepercayaan irrasional, namun ia harus tetap bisa diafirmasi secara positif oleh akal itu sendiri. Maka perlulah dibedakan antara causalitas sebagai sebuah konsep dan argumentasi logis yang menjelaskannya. Andaikan pernyataan ini dipandang salah, maka kesalahannya haruslah bisa ditetapkan pula. Oleh karenanya, maka kebenaran adalah sesuatu yang pasti dan tak bisa sama sekali ditolak. Akal adalah alat pengetahuan dan dalam saat yang sama ia bisa menjadi sumber pengetahuan. Sebagai sumber pengetahuan, akal adalah sesuatu yang ap-riori atau sebentuk irrasionalitas menurut Nietzche. Adapaun sebagai alat, akal bisa menentapkan eksistensinya sendiri. pertanyaan yang sesungguhnya lebih mendasar adalah bagimana dan dari mana konsep-konsep apriori yang disebuat Nieztche sebagai sebentuk kepercayaan itu muncul?
Inilah pertanyaan yang beberapa hari ini mengusik pikiranku. Sebab aku melihat bahwa pemecahan terhadap pertanyaan tersebut merupakan kunci bagi semua pengetahuan dan keyakinan manusia. Aku bisa saja, dengan sejumlah argumentasi akal menyimpulkan bahwa Tuhan itu ada, alam semesta juga ada, demikian juga dengan sejumlah maujud lainnya. Namun atas dasar apa aku bisa meyakini bahwa kesimpulanku itu adalah sebuah kebenaran? bagaimana jika ternyata itu semua hanyalah kekeliruan semata?
Ada sebuah buku karangan ST Sunardi yang pernah ku baca. Buku tersebut bercerita secara tentang gagasan-gagasan pengetahuan Nietzche. Ketika mengomentasi pemikiran Immanuel Kant, Nietzche mengatakan bahwa apa-apa yang disebut sebagai landasan pengetahuan ap-riori itu hanyalah sebentuk kepercayaan,sebab tak ada lagi pijakan lain yang bisa dijadikan landasan untuk menilai kebenaran konsep-konsep ap-riori tersebut. ketika seseorang mengatakan bahwa konsep causalitas adalah konsep ap-riori yang menjadi landasan semua pengetahuan, maka persoalan akar-akar pengetahuan dengan demikian hanya akan berhenti sampai disitu. Sesorang tidak bisa lagi melakukan rasionalisasi terhadap konsep tersebut, sebab setiap rasionalisasi hanya akan tetap berpijak kepadanya. Jika demikian, maka manusia tidak memiliki pilihan lain, selain menerima konsep ini secara ap-riori pula, tanpa bisa mempertanyakannya secara lebih jauh lagi. Karena itulah, maka Nietzche mengatakan bahwa dasar-dasar pengetahuan hanyalah sebentuk kepercayaan. Kant menyebut kenyataan ini sebagai intusi akal.
Bagaimana jadinya, jika kepercayaan ini adalah sebuah kekeliruan?
Nietzche mengatakan bahwa kebenaran hanyalah kekeliruan yang tanpanya, manusia tidak bisa hidup. Bahkan baginya, pengetahuan tak lain kecuali aktualisasi dari kehendak berkuasa. Causalitas tidak bisa digunakan untuk membuktikan eksistensi metafisis, sebab causalitas itu sendiri, sebagaimana yang telah diketahui, hanyalah sebuah kepercayaan yang irrasional. Sehingga merupakan sebuah kekeliruan, jika ada manusia yang berusaha membangun sistematika pengetahuan yang absolut dan selanjutnya menjadi kaidah yang dipatuhi. Sistematika dengan demikian hanyalah sebuah ilusi yang tak berdasar. Jikapun sistematika itu dibutuhkan, ia bukanlah kerangka pengetahuan yang sifatnya absolut, melainkan hanya sebagai sarana bagi manusia dalam menjalankan hasrat ingin berkuasanya. Causalitas hanya bisa digunakan untuk menciptakan hal-hal yang bermanfaat secara praktis bagi manusia. pengetahuan bukanlah untuk pengetahuan itu sendiri, melainkan hanya sebagai kepentingan saja. bahkan, pengetahuan itu sendiri menyatu sedemikian rupa dengan kepentingan. Tidak ada obyektifitas yang bisa dibanggakan, sebab realitas hanya bisa diketahui pada dimensi fenomenalnya. Adapun yang dinamakan dengan sesuatu dalam dirinya sendiri adalah ilusi yang muncul oleh karena manusia tidak bisa mengatasi kelemahannya ditengah-tengah kehidupan yang serta tidak tertata rapi dan sistematis ini (chaos). Demikian Sabda Nietzche...
Barangkali banyak orang yang akan berkeberatan atas toresan pemikiran Nietzche. Sesuatu hal yang lumrah dan biasa. Namun bagiku, ia justru memberikan sebuah landasan pengetahuan yang lebih pasti, yakni dimensi intuitif yang lebih dekat pada hati dari-pada rasio. Pengetahuan seharusnya menjadi sesuatu yang dirasakan secara langsung oleh manusia pada relung jiwanya, dan bukan sebatas kaidah-kadaih berfikir yang bebas kepentingan dan mati rasa, sebagaimana kesadaran dan nalar Cogito yang tertanam kuat dalam Ideologi Modernisme dan pengetahuan positivistiknya.
Sekalipun demikian, tidak semua pemikiran Nietzche dapat dipandang sebagai kebenaran yang tetap, sebab jika demikian, maka telah terjadi sebuah kekeliruan pula dalam menafsirkan sang Filsuf ini. Ia sendiri tidak pernah mengatakan bahwa apa-apa yang ditelorkan olehnya sebagai pengetahuan yang tak bisa dikritisi. Filsuf kita ini justru memahami pengetahuan sebagai proses tanpa henti untuk mencari...mencari tanpa henti...pergerakan tanpa batas...dan itulah keabadian pemikirannya. Dan disinilah menurutku titik kelemahan pemikirannya. Ia mengatakan bahwa satu-satunya hakikat (semoga tidak ditafsirkan sebagai bernada metafisis) adalah gerak itu sendiri. namun bagaimana jadinya, jika gerak itu abadi? Lantas untuk apa Nietzche susah-susah mengkritisi Kant? Mengapa juga ia mesti mengatakan bahwa dasar-dasar pengetahuan hanyalah sebentuk kepercayaan yang irrasional? Kenapa juga ia mesti memproklamirkan dirinya sebagai sebuah dinamit yang bertugas membuat orang gelisah? Apa sesungguhnya kegelisahan itu? Apakah kegelisahan itu adalah yang mesti ditemukan, atau kegelisahan adalah hambatan yang mesti diatasai oleh sebuah kepastian? Jika terbatas pada kegelisahan, maka tidakkah bisa disebut bahwa kegelisahan adalah sesuatu yang pasti dan positif? Apakah ketika seseorang manusia berusaha mencari sebuah kepastian dan nilai-nilai yang tetap maka ia dengan sendirinya menjadi orang yang bermentalitas budak? Bukankah justru seseorang telah memperbudak dirinya sendiri, ketika ia berbicara banyak tentang pengetahuan namun menolak kepastian? Ataukah Nietzche sejatinya sedang berbicara tentang kepastian dalam bentuk pemberontakan atas relativitas akal dan indra yang oleh ideologi modernisme hendak disakralkan?
Pada dasarnya, negasi atas kepastian atau bahkan terhadap ideologi adalah sebuah ideologi. Sebab jika tidak demikian, maka tak ada yang bisa memaksa seseorang untuk mengakui hasil berfikirnya. Ini artinya, ada identitas positif yang tidak bisa dalam saat bersamaan menjadi sesuatu yang ditolak. Causalitas meskipun dipandang sebagai sebuah kepercayaan irrasional, namun ia harus tetap bisa diafirmasi secara positif oleh akal itu sendiri. Maka perlulah dibedakan antara causalitas sebagai sebuah konsep dan argumentasi logis yang menjelaskannya. Andaikan pernyataan ini dipandang salah, maka kesalahannya haruslah bisa ditetapkan pula. Oleh karenanya, maka kebenaran adalah sesuatu yang pasti dan tak bisa sama sekali ditolak. Akal adalah alat pengetahuan dan dalam saat yang sama ia bisa menjadi sumber pengetahuan. Sebagai sumber pengetahuan, akal adalah sesuatu yang ap-riori atau sebentuk irrasionalitas menurut Nietzche. Adapaun sebagai alat, akal bisa menentapkan eksistensinya sendiri. pertanyaan yang sesungguhnya lebih mendasar adalah bagimana dan dari mana konsep-konsep apriori yang disebuat Nieztche sebagai sebentuk kepercayaan itu muncul?
HASAN TIRO DAN PANCASILA
Hasan Tiro...wah...pasti ini orang suka bikin gaduh...suka mengganggu keutuhan negara. Senangnya melakukan aktifitas makar..Tapi tuduhan ini tidak benar.. kita yang tidak tahu pokok soal sebenarnya sedang menzhalimi Hasan Tiro. karena tidak tahu bahwa politik propaganda itu bisa massif dengan sekadar bekal istilah dan kata-kata...Padahal, makra, profokator, bandit, dan sebaga macam istilah serupa tak lantas betul-betul menggambarkan bahwa yang mendapat predikat ini memang seorang bandit, atau pengacau yang gemar melakukan kekacauan dan bahkan pertumpahan darah. Seharusnya, sebelum menvonis seseorang atau kelompok, kita mestinya menyisihkan minimal sedikit kebijaksanaan untuk menyelami alasan sebuah tindakan....sebenarnya, kita sudah cukup mengerti nasehat ini.tapi kita tidak cukup bisa membendung ego yang memaksa diri kita untuk tergesa-gesa dalam menilai seseorang atau sesuatu...
Kemarin waktu masih dibangsu SMP sampai SMA, aku juga seperti kebanyakan kita, melihat hasan tiro dengan sorotan mata penuh curiga dan juga dipenuhi rasa tidak suka.curiga dan tidak suka karena aku menilai dia sebagai seseorang yang gila. sukanya menentang Negara Kesatuan yang susah payah didirikan ini. Tiro kala itu ku anggap sebagai manusia yang tidak tahu berterima kasih atas pengorbanan penuh derita dan sengsara dari para pejuang kemerdekaan..apalagi organisasi Aceh Merdeka yang dibentuk olehnya itu...
Baru beberapa hari kemarin, aku membaca sebuah buku buah pikir Tokoh dan pendiri GAM ini...buku ini sebenarnya sudah pernah ku lihat sejak lama. namun aku baru membaca dan betul-betul menikmati suguhan pikiran Hasan Tiro ini..Wah...menyesal juga ternyata...sebab aku menemukan Tiro sebagai seorang yang begitu logis dan realistis dalam menyuguhkan pemikirannya. dan terlebih lagi, aku telah lama mencap dia sebagai orang gila...kini aku tidak percaya lagi bahwa tiro adalah manusia kurang waras...Hasan Tiro justru seseorang yang sangat waras apalagi bila dibandingkan denganku...Bahkan Tiro tidak sedang melakukan makar atas Keutuhan Republik tercita..Hasan Muhammad Tiro justru sedang bicara tentang sesuatu perkara yang lebih besar dari pada perasaan-perasaan berbangsa yang tidak punya landasan pikir yang rasional dan realistis. Bahkan GAM yang didirikan oleh Tiro adalah sebuah keharusan dari kecintaannya atas keadilan itu sendiri...Bagimana bisa?
Bagi Muhammad Tiro, Negara yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan ini tidak tepat menggunakan bentuk dan konsepsi sebagai negara kesatuan. kenapa demikian, sebab negara kesatuan berarti mengharuskan adanya satu falsafah dan ideologi tunggal dimana setiap suku bangsa dan kebudayaan yang ada di Nusantara ini harus tunduk padanya. namun ini bertentangan dengan kenyataan bahwa Nusantara ini mempunyai bergamam suku bangsa yang masing-masing punya falsafah dan kebijaksanaan yang sudah hidup jauh sebelum penjajah datang dan negara ini didirikan. APa yang dikatan Tiro ini memang sangat rasional dan terutama begitu realistis. Karenanya Tiro mengatakan bahwa Pancasila tidak bisa dijadikan sebagai Ideologi Negara..Sebab itu artinya negara mau tak mau harus memaksa ideologi-ideologi lokal agar tidak lagi dianut oleh masyarakatnya. Padahal, Pancasila itu bukan pandangan hidup masyarakat lokal. Maka bagaimana bisa gagasan ideologis yang asing ini hendak dipaksakan oleh Negara sebagai Ideologi semua suku bangsa-suku bangsa yang ternanung dalam Negara Indonesia? Bukankah itu berarti Negara sedang mencerabut masyarakat lokal dari akar-akar kebudayaan dan identitas sejarahnya? Apa hak yang dipunyai oleh Negara untuk memaksakan dianutnya Ideologi Tunggal pada Masyarakat yang mejemuk, jika Negara itu bukanlah apa-apa melainkan sekadar sarana bagi masyarakat untuk mencapai tujuan kolektifnya? Demikian Hasan Tiro menggugat..
Selain kenyataan akan kemajemukan budaya pada Masyarakat Nusantara, Tiro juga menggugat nilai Ideologis dari Pancasila itu sendiri. Dia bertanya...Bila ideologi itu adalah sebuah sistem nilai yang dianut oleh satu masyarakat yang punya konsepsi antropologis, kosmologis, dan filsafat sejarah yang jelas, maka apakah Pancasila layak disebut ideologi? apakah Pancasila punya konsepsi yang terang tentang Tuhan, manusia, dan alam serta sejarah? ternyata tidak..pancasila tidak punya sistem pengetahuan yang jelas dan konsepsional. bahkan menurut Tiro, Sila-Sila yang ada dalam Pancasila itu sendiri saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya, sebagaimana yang akan kita lihat nanti. Memeng Pancasila tidak bisa disebut sebagai Ideologi...dan memang tidak boleh ada konsepsi Ketuhanan misalnya, yang tegas dan terang diberikan oleh pancasila. sebab jika konsepsi Tuhan yang terang dan tegas itu dilahirkan, maka itu berarti akan mengganggu konsepsi agama-agama di Indonesia tentang Tuhan.inilah posisi dielmatis yang menghimpit pancasila itu sendiri..
Konsepsi teologi yang kabur tersebut juga diikuti dengan konsepsi konsepsi persatuan yang juga kabur...apa yang bikin kabur, yaitu tidak adanya satu tali yang mengikat suku bangsa dinusantara ini kecuali sama-sama dijajah oleh kaum penjajah. Tetapi ini juga tidak cukup menjadi alasan, sebab kita dapati dalam sejarah bahwa jauh sebelum indonesia ada, perlawanan atas penjajahan itu dilakukan oleh masing-masing daerah berdasarkan semangat perjuangan yang berbeda-beda...semangat perjuang orang Aceh misalnya, bukanlah semangat nasionalisme atau apapun, melainkan semangan jihad yang dipompa oleh ideologi islam, sebab orang Aceh sudah menyatu sedemikian rupa dengan Islam sebelum Pancasila itu dipikirkan. Perastuan itu bisa dipahami, ketika kita dapati dalam sejarah bahwa Nusantara ini mempunyai kultur yang sama oleh karena dahulu kala ada kekuasaan tunggal yang menjangkau timur papua sampai barat sumatera..Namun tidak kita dapati cerita itu. dan Majapahit tidak pernah menguasai Nusantara ini sebagaimana yang sering didonegngkan itu. Karenanya, Tiro mengatakan bahwa persatuan kita adalah persatuan yang berdasarkan pada kesepakatan dan bukan pada kesamaan budaya dan identitas kebudayaan yang tunggal. Namun kesepakatan itu tidak lantas berakibat lahirnya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, oleh karena konsepsi kerakyatan dan demokrasi kita juga tidak rasional dan terutama tidak sesuai dengan konteks kebangsaan kita yang majemuk itu. konsepsi keyakyatan dan demokrasi ala Pancasila itu menurut Tiro hanyalah membuka pelung pada ketidak-adilan itu sendiri. kenapa demikian, sebab konsepsi demokrasi kita adalah demokrasi mayoritas. Tiro pada dasarnya tidak menolak nilai suara mayoritas sebagai kriteria demokrasi. Namun Tiro melihat bangwa suara terbanyak yang tanpa mempertimbangkan keadaan demografi Indonesia akan mengancam eksistensi suku bangsa lain yang tidak punya jumlah penduduk yang besar. Tiro mengusulkan untuk agar sistem demokrasi kita adalah keterwakilan suku bangsa dan mestilah dijamin oleh Undang-Undang. sebab bagi Tiro, yang riil dan obyektif itu dan yang pantas disebut rakyat itu adalah rakyat lokal yang majemuk itu. Bagi Tiro, berapapun sedikitnya jumlah penduduk disuatu daerah, mereka tetap harus punya wakil di parlemen, jika mereka adalah satu suku bangsa yang punya kebudayaan...Karena konsep keatuan inilah, maka yang muncul adalah ketidak-adilan pembangunan untuk seluruh rakyat indonesia. suku bangsa jawa sudah pasti lebih punya kesempatan besar membangun masyarakatnya, sebab jumlah penduduknya begitu besar. Karena itulah, maka wakil-wakil yang berasal dari jawa akan lebih banyak bicara tentang kepentingan suku bangsanya. sedangkan yang suku bangsa lain oleh karena tidak banyak jumlah penduduknya, maka kepentingannya dengan demikian menjadi tidak terwakili... padahal, mereka adalah suku bangsa yang masuk dan memperkaya Indonesia itu sendiri. Tiro menginginkan agar konteks demografis yang tidak sama itu harus diwadahi dengan kerelaan memberi dan menerima...Orang luar jawa punya daya tawar, yaitu sumber daya alam yang mereka miliki. namun mereka tidak punya sumber daya politik sebagai akibat dari tidak terwakilinya kepentingan mereka. seharusnya kedaan ini bisa diatasi dengan kesediaan memeberi dan menerima. orang luar jawa mesti rela berbagi rezeki dengan saudaranya yang kurang punya sumber daya alam itu. dan orang jawa harus memberi jaminan atas pembangunan didaerah-daerah atau suku bangsa selain jawa. namun keadaan yang demikian ini sulit untuk diterapkan, sebab bagaimanapun, orang jawa dengan kekuatan politiknya sudah barang tentu punya kelebihan untuk memanfaatkan kekayaan alam yang berasalal dari luar jawa untuk kepentingan suku bangsa jawa sendiri. akibatnya, orang luar jawa hanya menjadi kuli saj dinegara yang katanya milik semua suku bangsa ini. Karenanya, Tiro mengatakan bahwa sentralisasi kekuasaan merupakan efek logis dari model negara yang berbentuk kesatuan ini. Adapaun sila terakhir yang berbunyai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu dengan sendirinya menjadi gugur, sebab dasarnya sudah tidak kokoh sedari awal.
Dari penjelasan singkat ini, kita bisa mengerti bahwa gerakan Aceh Merdeka merupakan konsekwensi logis dari ketidakjelasan Pancasila itu sendiri. dan bagi Hasan Muhammad Tiro, apa yang dilakukannya ini juga akan dilakukan oleh orang-orang didarha lainnya yang selama ini diperlakukan tidak adil oleh negara dan ideologi Pancasilanya itu...Dan memang begitulah kenyataannya..Gerakan Papun Merdeka, RMS di Maluku, dan Gerakan-Gerakan selupa lainnya tersebut merupakan konsekwensi logis dari inkonsistensi dan kontradiksi internal yang ada pada Pancasila itu sendiri sebagai ideologi negara yang memang bercorak menghegemoni kemajemukan falsafah dan kebudayaan suku bangsa-suku bangsa di Nusantara...
Kemarin waktu masih dibangsu SMP sampai SMA, aku juga seperti kebanyakan kita, melihat hasan tiro dengan sorotan mata penuh curiga dan juga dipenuhi rasa tidak suka.curiga dan tidak suka karena aku menilai dia sebagai seseorang yang gila. sukanya menentang Negara Kesatuan yang susah payah didirikan ini. Tiro kala itu ku anggap sebagai manusia yang tidak tahu berterima kasih atas pengorbanan penuh derita dan sengsara dari para pejuang kemerdekaan..apalagi organisasi Aceh Merdeka yang dibentuk olehnya itu...
Baru beberapa hari kemarin, aku membaca sebuah buku buah pikir Tokoh dan pendiri GAM ini...buku ini sebenarnya sudah pernah ku lihat sejak lama. namun aku baru membaca dan betul-betul menikmati suguhan pikiran Hasan Tiro ini..Wah...menyesal juga ternyata...sebab aku menemukan Tiro sebagai seorang yang begitu logis dan realistis dalam menyuguhkan pemikirannya. dan terlebih lagi, aku telah lama mencap dia sebagai orang gila...kini aku tidak percaya lagi bahwa tiro adalah manusia kurang waras...Hasan Tiro justru seseorang yang sangat waras apalagi bila dibandingkan denganku...Bahkan Tiro tidak sedang melakukan makar atas Keutuhan Republik tercita..Hasan Muhammad Tiro justru sedang bicara tentang sesuatu perkara yang lebih besar dari pada perasaan-perasaan berbangsa yang tidak punya landasan pikir yang rasional dan realistis. Bahkan GAM yang didirikan oleh Tiro adalah sebuah keharusan dari kecintaannya atas keadilan itu sendiri...Bagimana bisa?
Bagi Muhammad Tiro, Negara yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan ini tidak tepat menggunakan bentuk dan konsepsi sebagai negara kesatuan. kenapa demikian, sebab negara kesatuan berarti mengharuskan adanya satu falsafah dan ideologi tunggal dimana setiap suku bangsa dan kebudayaan yang ada di Nusantara ini harus tunduk padanya. namun ini bertentangan dengan kenyataan bahwa Nusantara ini mempunyai bergamam suku bangsa yang masing-masing punya falsafah dan kebijaksanaan yang sudah hidup jauh sebelum penjajah datang dan negara ini didirikan. APa yang dikatan Tiro ini memang sangat rasional dan terutama begitu realistis. Karenanya Tiro mengatakan bahwa Pancasila tidak bisa dijadikan sebagai Ideologi Negara..Sebab itu artinya negara mau tak mau harus memaksa ideologi-ideologi lokal agar tidak lagi dianut oleh masyarakatnya. Padahal, Pancasila itu bukan pandangan hidup masyarakat lokal. Maka bagaimana bisa gagasan ideologis yang asing ini hendak dipaksakan oleh Negara sebagai Ideologi semua suku bangsa-suku bangsa yang ternanung dalam Negara Indonesia? Bukankah itu berarti Negara sedang mencerabut masyarakat lokal dari akar-akar kebudayaan dan identitas sejarahnya? Apa hak yang dipunyai oleh Negara untuk memaksakan dianutnya Ideologi Tunggal pada Masyarakat yang mejemuk, jika Negara itu bukanlah apa-apa melainkan sekadar sarana bagi masyarakat untuk mencapai tujuan kolektifnya? Demikian Hasan Tiro menggugat..
Selain kenyataan akan kemajemukan budaya pada Masyarakat Nusantara, Tiro juga menggugat nilai Ideologis dari Pancasila itu sendiri. Dia bertanya...Bila ideologi itu adalah sebuah sistem nilai yang dianut oleh satu masyarakat yang punya konsepsi antropologis, kosmologis, dan filsafat sejarah yang jelas, maka apakah Pancasila layak disebut ideologi? apakah Pancasila punya konsepsi yang terang tentang Tuhan, manusia, dan alam serta sejarah? ternyata tidak..pancasila tidak punya sistem pengetahuan yang jelas dan konsepsional. bahkan menurut Tiro, Sila-Sila yang ada dalam Pancasila itu sendiri saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya, sebagaimana yang akan kita lihat nanti. Memeng Pancasila tidak bisa disebut sebagai Ideologi...dan memang tidak boleh ada konsepsi Ketuhanan misalnya, yang tegas dan terang diberikan oleh pancasila. sebab jika konsepsi Tuhan yang terang dan tegas itu dilahirkan, maka itu berarti akan mengganggu konsepsi agama-agama di Indonesia tentang Tuhan.inilah posisi dielmatis yang menghimpit pancasila itu sendiri..
Konsepsi teologi yang kabur tersebut juga diikuti dengan konsepsi konsepsi persatuan yang juga kabur...apa yang bikin kabur, yaitu tidak adanya satu tali yang mengikat suku bangsa dinusantara ini kecuali sama-sama dijajah oleh kaum penjajah. Tetapi ini juga tidak cukup menjadi alasan, sebab kita dapati dalam sejarah bahwa jauh sebelum indonesia ada, perlawanan atas penjajahan itu dilakukan oleh masing-masing daerah berdasarkan semangat perjuangan yang berbeda-beda...semangat perjuang orang Aceh misalnya, bukanlah semangat nasionalisme atau apapun, melainkan semangan jihad yang dipompa oleh ideologi islam, sebab orang Aceh sudah menyatu sedemikian rupa dengan Islam sebelum Pancasila itu dipikirkan. Perastuan itu bisa dipahami, ketika kita dapati dalam sejarah bahwa Nusantara ini mempunyai kultur yang sama oleh karena dahulu kala ada kekuasaan tunggal yang menjangkau timur papua sampai barat sumatera..Namun tidak kita dapati cerita itu. dan Majapahit tidak pernah menguasai Nusantara ini sebagaimana yang sering didonegngkan itu. Karenanya, Tiro mengatakan bahwa persatuan kita adalah persatuan yang berdasarkan pada kesepakatan dan bukan pada kesamaan budaya dan identitas kebudayaan yang tunggal. Namun kesepakatan itu tidak lantas berakibat lahirnya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, oleh karena konsepsi kerakyatan dan demokrasi kita juga tidak rasional dan terutama tidak sesuai dengan konteks kebangsaan kita yang majemuk itu. konsepsi keyakyatan dan demokrasi ala Pancasila itu menurut Tiro hanyalah membuka pelung pada ketidak-adilan itu sendiri. kenapa demikian, sebab konsepsi demokrasi kita adalah demokrasi mayoritas. Tiro pada dasarnya tidak menolak nilai suara mayoritas sebagai kriteria demokrasi. Namun Tiro melihat bangwa suara terbanyak yang tanpa mempertimbangkan keadaan demografi Indonesia akan mengancam eksistensi suku bangsa lain yang tidak punya jumlah penduduk yang besar. Tiro mengusulkan untuk agar sistem demokrasi kita adalah keterwakilan suku bangsa dan mestilah dijamin oleh Undang-Undang. sebab bagi Tiro, yang riil dan obyektif itu dan yang pantas disebut rakyat itu adalah rakyat lokal yang majemuk itu. Bagi Tiro, berapapun sedikitnya jumlah penduduk disuatu daerah, mereka tetap harus punya wakil di parlemen, jika mereka adalah satu suku bangsa yang punya kebudayaan...Karena konsep keatuan inilah, maka yang muncul adalah ketidak-adilan pembangunan untuk seluruh rakyat indonesia. suku bangsa jawa sudah pasti lebih punya kesempatan besar membangun masyarakatnya, sebab jumlah penduduknya begitu besar. Karena itulah, maka wakil-wakil yang berasal dari jawa akan lebih banyak bicara tentang kepentingan suku bangsanya. sedangkan yang suku bangsa lain oleh karena tidak banyak jumlah penduduknya, maka kepentingannya dengan demikian menjadi tidak terwakili... padahal, mereka adalah suku bangsa yang masuk dan memperkaya Indonesia itu sendiri. Tiro menginginkan agar konteks demografis yang tidak sama itu harus diwadahi dengan kerelaan memberi dan menerima...Orang luar jawa punya daya tawar, yaitu sumber daya alam yang mereka miliki. namun mereka tidak punya sumber daya politik sebagai akibat dari tidak terwakilinya kepentingan mereka. seharusnya kedaan ini bisa diatasi dengan kesediaan memeberi dan menerima. orang luar jawa mesti rela berbagi rezeki dengan saudaranya yang kurang punya sumber daya alam itu. dan orang jawa harus memberi jaminan atas pembangunan didaerah-daerah atau suku bangsa selain jawa. namun keadaan yang demikian ini sulit untuk diterapkan, sebab bagaimanapun, orang jawa dengan kekuatan politiknya sudah barang tentu punya kelebihan untuk memanfaatkan kekayaan alam yang berasalal dari luar jawa untuk kepentingan suku bangsa jawa sendiri. akibatnya, orang luar jawa hanya menjadi kuli saj dinegara yang katanya milik semua suku bangsa ini. Karenanya, Tiro mengatakan bahwa sentralisasi kekuasaan merupakan efek logis dari model negara yang berbentuk kesatuan ini. Adapaun sila terakhir yang berbunyai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu dengan sendirinya menjadi gugur, sebab dasarnya sudah tidak kokoh sedari awal.
Dari penjelasan singkat ini, kita bisa mengerti bahwa gerakan Aceh Merdeka merupakan konsekwensi logis dari ketidakjelasan Pancasila itu sendiri. dan bagi Hasan Muhammad Tiro, apa yang dilakukannya ini juga akan dilakukan oleh orang-orang didarha lainnya yang selama ini diperlakukan tidak adil oleh negara dan ideologi Pancasilanya itu...Dan memang begitulah kenyataannya..Gerakan Papun Merdeka, RMS di Maluku, dan Gerakan-Gerakan selupa lainnya tersebut merupakan konsekwensi logis dari inkonsistensi dan kontradiksi internal yang ada pada Pancasila itu sendiri sebagai ideologi negara yang memang bercorak menghegemoni kemajemukan falsafah dan kebudayaan suku bangsa-suku bangsa di Nusantara...
Kebenaran dan Logika Deduktif
Sebuah tesis yang pertama-tama mesti dikemukakan di sini adalah "bahwa kebenaran tidak bisa diukur dari dan dengan tindakan"...
Nilai-nilai kemanusiaan Universal merupakan sesuatu yang pada hakikatnya menyatu dengan diri manusia. Dengan lain perekataan, nilai-nilai tersebut merupakan hal yang alamiah...Bahkan aku berfikir, untuk sekadar menghargai orang, saling kasih-mengasihi, keadilan, dst, kita tidak perlu mengandaikan sebuah pra nilai yang berpijak pada unsur-unsur yang berbao teologis. Singkatnya, sesorang tidak perlu punya konsep teologis untuk sekadar menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai tersebut. Agama dan aliran ideologi apapun, pastilah mempunyai ajaran moral yang sedikit banyak akan menegaskan nilai-nilai tersebut diatas.
Masalahnya adalah, apakah dengan demikian semua agama atau aliran ideologi itu benar pada dirinya masing-masing, oleh karena kedekatannya dengan apa yang kita sebut nilai-nilai universal itu? Tampaknya tidak. Kebenaran pada dasarnya mempunyai logika dasar tersendiri yang sepenuhnya mandiri aspek tindakan...Kebenaran adalah hal lain, sedangkan baik-buruk (moralitas) juga sesuatu yang lain pula.Keduanya tidak bisa dicampuradukkan. Karenanya, sangatlah tidak tepat, jika kita menetapkan kebenaran sebuah aliran kepercayaan dan ideologi dari aspek tindakan (kebaikan) yang dilakukan oleh para penganutnya...Sekiranya seluruh manusia di muka bumi ini tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali, kebenaran tetaplah kebenaran yang otonom. Demikian sehingga, kita membutuhkan metode diskursus tentang kebenaran yang lebih bercorak deduktif, dan bukan penyimpulan yang merujuk pada fakta-fakta partikular (tindakan baik-buruk).
Bagaimana metode deduktif itu bekerja?
Disinilah kita kemudian menemukan relefavansi dari pada pertanyaan semisal "apakah manusia itu mampu memperoleh pengetahuan". Apakah akal juga bisa disebut sebagai sumber pengetahuan, dan tidak sebagaimana klaim kaum empirikal bahwa akal hanya berguna untuk menata data-data indrawi...
Demikian renungan singkat ini kutuliskan, untuk selanjutnya kita selama lebih dalam lagi...Sebab kebenaran adalah alasan satu-satunya dari diciptakannya diri kita...Kerananya, mengerahkan seluruh kekuatan pikir adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar....Wassalam
Nilai-nilai kemanusiaan Universal merupakan sesuatu yang pada hakikatnya menyatu dengan diri manusia. Dengan lain perekataan, nilai-nilai tersebut merupakan hal yang alamiah...Bahkan aku berfikir, untuk sekadar menghargai orang, saling kasih-mengasihi, keadilan, dst, kita tidak perlu mengandaikan sebuah pra nilai yang berpijak pada unsur-unsur yang berbao teologis. Singkatnya, sesorang tidak perlu punya konsep teologis untuk sekadar menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai tersebut. Agama dan aliran ideologi apapun, pastilah mempunyai ajaran moral yang sedikit banyak akan menegaskan nilai-nilai tersebut diatas.
Masalahnya adalah, apakah dengan demikian semua agama atau aliran ideologi itu benar pada dirinya masing-masing, oleh karena kedekatannya dengan apa yang kita sebut nilai-nilai universal itu? Tampaknya tidak. Kebenaran pada dasarnya mempunyai logika dasar tersendiri yang sepenuhnya mandiri aspek tindakan...Kebenaran adalah hal lain, sedangkan baik-buruk (moralitas) juga sesuatu yang lain pula.Keduanya tidak bisa dicampuradukkan. Karenanya, sangatlah tidak tepat, jika kita menetapkan kebenaran sebuah aliran kepercayaan dan ideologi dari aspek tindakan (kebaikan) yang dilakukan oleh para penganutnya...Sekiranya seluruh manusia di muka bumi ini tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali, kebenaran tetaplah kebenaran yang otonom. Demikian sehingga, kita membutuhkan metode diskursus tentang kebenaran yang lebih bercorak deduktif, dan bukan penyimpulan yang merujuk pada fakta-fakta partikular (tindakan baik-buruk).
Bagaimana metode deduktif itu bekerja?
Disinilah kita kemudian menemukan relefavansi dari pada pertanyaan semisal "apakah manusia itu mampu memperoleh pengetahuan". Apakah akal juga bisa disebut sebagai sumber pengetahuan, dan tidak sebagaimana klaim kaum empirikal bahwa akal hanya berguna untuk menata data-data indrawi...
Demikian renungan singkat ini kutuliskan, untuk selanjutnya kita selama lebih dalam lagi...Sebab kebenaran adalah alasan satu-satunya dari diciptakannya diri kita...Kerananya, mengerahkan seluruh kekuatan pikir adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar....Wassalam
Langganan:
Postingan (Atom)