Jumat, 28 Mei 2010

MATI AKU MATI...

Benar-benar jujur bahwa aku takut mati...Satu kenyataan batin yang tidak bisa ditipu dengan sejumlah alasan...Barangkali ini tanda bahwa aku masih cukup tahu diri...Menyadari bahwa banyak salah yang melekat dalam diriku, dan karenanya, bayang-bayang neraka hadir tatkala aku mendengar kata "mati", dan menyadari sepenuh hati bahwa kenyataan eksistensial itu akan ku alami..

Tetapi dalam perjalanan pikir yang ku lakukan, aku menemukan kenyataan bahwa segala sesuatunya selalu bergerak menyempurnakan diri...Sedangkan kesempurnaan mengharuskan terlepasnya kita dari kebergantungan terhadap apapun juga...Kesempurnaan itu, adalah kemandirian...Kita adalah segalanya...Tak sesuatu apapun yang lebih dari pada aku...Aku memberi, dan yang lain menerima...Aku menguasai segala sesuatu...Tetapi mungkinkah itu, jika keinginan yang beragam memaksa diri untuk memenuhinya...Bahkan Rasul sekalipun, ia mesti mati untuk mencapai kesempurnaan yang lebih tinggi...Ini adalah hak sebagai eksistensi yang bergerak...Dan Maha Sempurna mencurahkan karunia-Nya melalui kematian...

Tetapi perasaan takut mati itu tetap saja tidak mau pergi...Para Bijak bertari bilang bahwa itu adalah kenyataan yang sangat natural...Itu adalah ungkapan fitrah...Diri sejati yang tidak pernah tiada, dan menghendaki keabadian...Karenanya, takut mati ialah sebentuk keinginan untuk hidup abadi...Tinggal saja dibutuhkan sikap dan fikiran yang realistis. Bahwa segala yang bernyawa pasti mati...Gerak adalah kenyataan yang pada dirinya sendiri, ia adalah kesucian...

Mengenal-Nya...Melihatnya...Merasakan-Nya...Itulah yang dibilang para mistikus...Namun lagi-lagi kusaksikan sendiri, dan terutama ini tidak bisa ku bohongi. bahwa aku belum pernah melihatnya...Apalagi fana dalam perasaan "sama dengan" sebab tiada lagi aku-kamu, sebab ilusi kejamakan telah sirna...Ketunggalan menguasai segala.Tetapi bukanlah ketunggalan satu dalam kaitannya dengan dua, tiga, empat, dan seterusnya...Bukanlah ketunggan yang unik karena ia sesuatu yang tidak punya padanan...Ketunggalan yang hanya bisa dipahami dengan negasi terus menerus...Kecuali kosong dan ketidakterbatasan...

Bagaimana akan ku alami yang demikian itu?
Apakah dengan bersembahyang? Padahal tak pantaslah seseorang mengucap salam kepada bumi dan mahluk, jika ia tidak berpisah dengan semuanya? Apakah aku akan selalu berkata "assalamualaikum" padahal semuanya selalu hadir dihadapanku? Bukankah salam itu adalah kata pembuka dan mukaddimah penuh rahmat pada "pertemuan pertama"? Aku saksiakan semuanya...Aliran air, gemuruh gelombang, kicauan burung, langit bercahaya, dan matahari sebagai pemberi kekuatan..Tapi semuanya hanya tanda...Engkau tetap saja masih bersembunyi dalam alam rahasia...Atakuah aku yang buta sehungga tidak melihat-Mu? Ataukah hatiku sibuk menghasrati bayang-bayang?

Aku berteriak dengan batin yang sunyi...Wahai yang sebenar-benarnya Wujud...Wahai yang katanya memuliakanku dalam jamaah malaikat, ketika iblis tidak memahami? Wahai yang mempercayakan-Ku sebagai wakil d muka bumi? Bagaimana aku bisa menjalani semua ini, sementara aku sendiri tidak tahu dan mengenal Dirimu? Bukankah nanti aku akan lantang mengatakan "hidup manusia" Tuhan adalah produk keterbelakangan mental dan fikiran...?

Meskipun bau tak sedap selalu keluar dari kotoran tubuhku..Sekalipun aku buta dan tidak mengerti betul arti apa dan kemana? Aku ingin tetap berjalan..Biarlah kutabrak semua dinding dan akupun terluka..Biarlah ku injak duri dan menusuk bagai sembilu...Biarlah ku injak semua bangkai binatang pun manusia sehingga bau yang menesakkan dada bertambah pada diriku...Aku tetap ingin berjalan...Aku terus berjalan...Tidak akan berhenti berjalan...Dan suatu ketika nanti air mata-Mu berlinang menyaksikan aku yang payah, papah, terluka ini...Hingga Kau rangkul diriku bersama Rahman-Rahim-Mu hingga gelorah ingin mati menguasai segenap jiwa-ragalu....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar