Kamis, 20 Mei 2010

Laki-Laki-Perempuan, dan Arti Sembahyang

Nun...Demi Pena dan Lembaran...
Selalu saja kehidupan itu muncul sebagai hasil perpaduan dua unsur...Langit mencurahkan air hujan.Bumi menyerapnya, dan bermunculanlah tetumbuhan...Lembaran menerima tinda dari pena, kemudian munculla tulisan. Hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak cukup bisa disebut sebagai sebuah hubungan, jika tidak untuk melahirkan sesuatu...

APakah arti Hubungan itu?
Kecintaan pena atas dirinya sendiri tidak akan berarti, ketika ia tidak mempunyai fungsi sama sekali. Agar fungsinya bisa muncul, pena mestilah mencari lembaran yang berguna menampung arti dirinya sebagai pena. Bagaimana kita bisa mengerti arti dari pada air yang dicurahkan oleh langit, ketika tidak kepada siapa dan untuk apa dicurahkan...Demikian juga dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan...Laki-laki menjadi bisa disebut laki-laki ketika ia bisa membangun sebuah hubungan dengan perempuan...Tetapi sekali lagi mesti dikatakan, bahwa hubungan keduanya saja belum bisa memberi makna apa-apa, tatkala tidak untuk sesuatu yang mesti lahir...Yang lahir tersebutlah yang memberi makna dan arti pada hubungan dua unsur itu sendiri...Karenanya,,, Alam Kun Fayakun adalah alam keganjilan...Tiga, dan bukan satu atau dua...Pertama adalah eksistensi masing-masing unsur, kedua adalah hubungan antara dua unsur tersebut, dan ketiga adalah hasil dari pada hubungan itu sendiri.

Satu adalah Eksistensi yang berada diatas dan melampaui alam kun dan Fayakun... Karenanya, dalam dirinya Dia selalu tidak terjelaskan...Sedangkan dua tidak bisa disebut dua, jika tidak untuk tiga itu sendiri...

Pernikahan, karenanya merupakan hubungan yang ganjil, dan bukan genap...Tiga yang satu, satu yang tiga...Laki-laki, perempuan, dan anak...Eksistensi Ayah adalah Ibu dan anak.Demikian juga dengan ibu dan anak...Ketiganya tidak bisa sama sekali dicerai-beraikan....Keselamatan seorang Suami terletak juga ditentukan oleh istri dan anaknya,...Karenanya, ketika ia hendak melakukan perjalanan kelangit, ia haruslah menyertakan istri dan anaknya...Demikian sehingga, pernikahan (seksualitas), memiliki kaitan yang sangat erat dengan Shalat itu sendiri...Seseorang tidak belum bisa dikatakan dapat menunaikan shalat secara baik, jika ia belum mempunyai pasangan dan hasil hubungan itu sendiri...Yang disenangi oleh Nabi adalah Shalat dan Perempuan....????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar