Adam AS diajarkan oleh Tuhan nama-nama segala sesuatu...Meskipun begitu, ia selalu kelihatan murung dan tidak bergairah...Kenapa Adam menjadi demikian? Sebab ia tidak mempunyai seorang yang bisa memberinya ketentraman dan kesejukan batin...Apakah Allah tidak cukup bagi Adam? tentunya tidak...Kepuasan paling tinggi adalah ketika seseorang menempati kedudukan yang akrab dengan Sang Penciptanya...Karena itu, maka seluruh nama-nama yang diketahui oleh Adam belum bisa disebut sebagai sesuatu yang memberinya maqam kedekatan...Lantas apa makna kehadiran Hawa dalam hubungannya dengan adam dan Tuhan?
Kehadiran hawa (perempuan) bagi laki dengan demikian pastilah menyimpan sebuah rahasia besar. Siapakah perempuan itu???
Secara fisikal, kita bisa menetapkan identitas perempuan pada organ seksualnya...demikian juga dengan laki-laki...Demikian juga dengan dimesi psikologis kedua mahluk ini...Laki-laki dikatakan lebih cenderung kepada akalnya, sedangkan perempuan lebih banyak bercerita dengan bahasa intuisi...Adapun akal, ia merupakan lokus bagi terwujudkanya keadilan...Sedangkan keadilan tidak memandang perasaan suka maupun tidak suka...Keadilan mestilah diteggakan dengan hukum dan undang-undang yang jelas...Memaafkan seseorang yang bersalah adalah hal lain, sedangkan menghukum pelaku kejahatan adalah sesuatu yang lain pula...Sedangkan perasaan itu terlalu halus untuk bisa menegaskan sikapnya di dunia kemajemukan yang organis ini...Akal dengan demikian lebih diperlukan untuk melaksanakan tanggung-jawab manusia sebagai khalifah...dengan lain perkataan, dunia ini akan menjadi ladang yang melahirkan kemakmuran jika ia berdiri diatas keadilan...
Sedangkan dalam menjalin hubungan eksistensial dengan Tuhan (terutama sebagai individu), manusia lebih mengharapkan kasih-sayang Tuhan dari pada keadilannya...Artinya, Manusia lebih berharap agar semua kesalahannya dihapuskan sehingga ia tidak akan menanggung hukuman apa-apa...Situasi batinnya lebih merepresentasikan harapan tanpa batas, kelemahan dirinya sebagai mahluk, dan semua itu biasanya terekspresi secara tulus dalam air mata yang menetes...Kasih Sayang yang sangat diharapkan itu, dan terutama sebagai harapan terbesar mahluk, nampak menghadir secara kuat dalam diri perempuan, dari pada laki-laki...
Perasaan yang halus memberi manusia kesejukan luar biasa..Dan dengan kesejukan tersebut, ia akan sangat bergairah untuk melaksanakan seluruh tugas-tugas kekhalifaannya (memakmurkan bumi)...Artinya, tanpa perempuan, maka sungguh sangat sulit bagi seorang laki-laki untuk menunaikan kewajibannya sebagai utusan Tuhan...
Selanjutnya, tugas kekhalifahan itu mestilah tetap berlanjut...Demikian, sehingga keberadaan seorang anak lebih didambakan oleh laki-laki...Laki-laki adalah pena yang bertujuan menuliskan sesuatu...Namun fungsi pena tersebut menjadi tidak berarti, tatkala ada lembaran yang bisa menampungnya..Tulisan dengan demikian merupakan hasil yang muncul dari perkawinan antara pena dan lembaran...Seorang laki-laki akan sangat mendambakan kehadiran seorang anak. sedangkan perempuan masih tetap bisa memaklumi keadaan tanpa anak...Barangkali ini masih bisa ditolak sama sekali..Tetapi kenyataan bahwa syarat utama kelahiran seorang anak adalah curahan nur rahman (sperma laki) kedalam bilik kasih sayang agak sulit dipungkiri...Demikian, sehingga eksistensi mental anak pada awalnya lebih bersuara kuat dalam sanubari seorang laki-laki dari pada perempuan...Hal ini terutama sekali terkait dengan keinginan laki-laki untuk melahirkan seorang pengganti yang akan melanjutkan misi kekhalifahan (memakmurkan bumi)...Namun secara material, syarat kehadiran pelanjut eksistensi ayah (laki-laki) adalah perkawinan itu sendiri...Dan yang menyempurnakan keberadaan anak adalah seorang perempuan, sebab proses penyempurnaan sperma menjadi sorang jabang bayi itu terjadi dalam diri (rahim) perempuan...
"Istri-istrimu adalah ladang bagi dirimu". Sebagai ladang, ia mesti dikelolah untuk melahirkan tanaman. Artinya, tanaman merupakan sesuatu yang terutama lebih dihasrati oleh laki-laki ketimbang perempuan...Tetapi proses penyempurnaan biji menjadi tumbuhan yang berbuah, lebih banyak ditentukan oleh tanah atau ladang itu sendiri...
Kesimpulan...
Demikian sehingga seorang laki-laki mestilah mempunyai pasangan hidup...Karena tanpanya, seluruh nama-nama (pengetahuan) tidak akan bisa menghantarkan laki-laki kepada maqam kedekatan dengan Tuhannya...Ini begitu dipertegas oleh Ibn-Arabi...Sang Mistikus ini berkata "Seseorang yang Shalatnya tidak menyeratakan istrinya, maka shalatnya tidak sempurna". Hal ini karena Shalat salah satu perjalanan untuk menyaksikan Tuhan...Dan untuk menyaksikannya, laki-laki harus menyertakan perempuan...Pengetahuan tidak menghantarkan pada gairah...Sedangkan Perempuan mengkat kita menyaksikan-Nya, dan sekaligus dia memberi kesucian pada nama-nama (pengetahuan)...Pengetahuan adalah syarat untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah...Dan perempuan adalah teman yang membawa kita kepada kedalaman intuisi (iman)...Imam Khomeini berkata "teman ibadah bukanlah pengetahuanmu, melainkan istrimu"....
" Aku melihat asap...Engkau membuatku dapat menyaksikan api"
dan kita berdua terbakar, sehingga aku-kamu menjadi debu yang perkasa dan mulia karena-Nya"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar