Minggu, 30 Mei 2010

Tuhan Tidak Ada..Nietzche Orang Hebat

"Tuhan itu tidak ada"...Demikian pernyataan yang sering ku baca, dan ku dengar. Apakah penyataan itu keluar dari batin sadar sebab ia adalah sebuah pengalaman pribadi, atau mungkin sekadar kata yang bermain...Biarkan saja...Anggaplah itu nyata sebagai hasil pencarian manusia...Namun ada yang aneh dari pernyataan itu...?

Tuhan tidak ada?
Bila benar begitu, maka mengapa mesti diucapkan? mengapa mesti menyatakan...Sebab mustahil adanya, bahwa yang tidak ada kembali ditegaskan sebagai tidak ada... Bagaimana mungkin "tidak ada" dibuktikan sebagai tidak ada"? Ataukah ada yang salah dengan pola kerja akal? Sehingga yang mustahil mewujud dipaksa harus mewujud?

Sejatinya, pertanyaan itu tidak hendak membuktikan Tuhan tidak ada...Barangkali ia lebih sebagai sebentuk protes atas konsepsi ke-tuhan-an yang umum dipahami, dan jamak di yakini..Pernyataan ini sendiri telah lantang menetapkan identitas sesuatu yang Wajib, yaitu wujud, Being, Eksisten, atau apapun namanya...ADA dengan demikian tidak bisa dinafikkan sama sekali...Wujud telah jelas dengan sendirinya.Ia mandiri sebagai kemutlakan...

Apakah Wujud sama dengan Sesuatu?
Apakah wujud itu adalah manusia, atau hewan, atau tumbuhan, atau batu, atau apapun juga? Jika benar, dengan misalnya dia adalah manusia, maka selainnya mestilah sebagai non-wujud...Artinya, selain manusia, segala yang lain itu tidak ada...Tetapi ini tidak sebagaimana kenyataannya...Apakah Eksisten itu jamak? mengambil bentuk dalam wajah segala sesuatu yang beragam ini? Jika demikian, maka masing-masing haruslah berdiri secara otonom...Artinya, mustahil ada hubungan yang terjalin antara sesuatu dengan yang lain...Namun lagi-lagi pengandaian ini tidak dapat diterima, sebab silaturrahmi antara segala sesuatu begitu terang...Maka apa dan bagaimanakah wujud itu?

Dia pastilah Realitas non-material yang tidak terbatas...Dan karenanya, dia meliputi segala apa...Apa yang dimaksud dengan meliputi ini juga perlu kita beri keterangan...Konsep "meliputi" yang dimaksud tidak sebagaimana tertampungnya air di dalam gelas...Meliputi itu artinya, segala sesuatu adalah diri-Nya sendiri...Batu berbeda dengan gelas...Semut lebih kecil dari pada gajah...Tapi jika diurai, tidak akan kita temukan batasan sama sekali...Maka semut dan gajah sama saja, debu dan gunung pun demikian...Bagaimana ini? Bagaimana yang Tunggal Menjadi beragam? Bahkan Ibn-Arabi mengatakan bahwa perkara ini adalah perkara yang paling tinggi dalam pengembaraan pengetahuan hati juga akal...

Tuhan itu ada atau tidak?
Ada atau tidak sama saja...Akal merabah, jiwa dan intuisi mengembara...Mancari arti Esa, Tunggal, Zat, Hakikatnya hakikat...Bagaimana Dia? Dia unik..Seperti apakah keunikan-Nya? Sebagaimana gerak...Disatu sisi adalah berjalan menitih titik-titik, tetapi pada lain sisi, akhir adalah awal itu sendiri, sebab kita berjalan dalam ringkaran Eksistensi atau keberadaan...Kulihat kesan kontradiksi ini hendak dipecahkan oleh Nietzche, sehingga ia mengatakan bahwa yang hakiki adalah gerak yang abadi...Gerak tanpa batas..Tapi gerak tanpa batas itu sama saja dengan diam, sebab itu artinya gerak tanpa tujuan...Tapi jika tujuan itu awal itu sendiri, maka untuk apa gerakan itu? Nietzche menghasrati kebadian..Tapi dia mengahadapi kenyataan yang berubah-ubah...Kebenaran harus total...Tapi kebenaran itu bergerak...Jika itu keluar dari kenyataan batinnya dalam suasana betul-betul jujur, Nietzche pastilah seorang yang telah menikmati alam balasan yang indah dan membahagiakan....Semoga saja....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar