Sabtu, 29 Mei 2010

Yang Luput Berkata...aku sang Pemimpin...Astaga

Memimpin berarti memiliki hak mengetur, memerintah...Tapi yang diperintah itu punya kebebasan masing-masing...Dan yang namanya kebebasan, ia adalah kemandirian penuh yang karenanya tidak boleh tunduk pada apa dan siapapun...Demikian, sehingga pemimpin dan kepemimpinan bukan perkara gampang. Memimpin itu sulit, oleh karena ia terkait dengan hak asasi orang lain.Dan yang namanya hak asasi, ia haruslah dijaga sedemikian rupa, dihargai dengan penghargaan yang sebenar-benarnya. Dan tidak ada seorang manusiapun yang bisa meruntuhkan bangunan dasar kehidupan yang bernama hak asasi ini..

Bagimana hak memerintah ini bakal dijalankan, jika keadaannya demikian? jika tidak ada seorang manusia bisa memerintah manusia lain?

Tidak ada lain pilihan, keculai seluruh mahluk, terutama manusia, harus tunduk kepada Sang Pencipta..Sebab di tangan serta kekuasaan-Nya, segala sesuatu berasal...Dengan pola yang demikian ini, maka leburlah benturan antara hak asasi masing-masing manusia...Yang di pimpin harus tunduk kepada yang memimpin...Dan yang memimpin dengan sendirinya akan memiliki hak mengatur dan memerintah, oleh karena kepemimpinannya terkait dengan Dia...Maka sulit sekali bagi pikiran yang sederhana ini, untuk menerima dan memberi legitimasi (pengsahan) kepada pemimpin yang dalam dirinya ia tidak terkait dengan Tuhan sebagai asal dan tujuan penciptaan...Ketundukan kepada pemimpin yang tidak suci, berarti juga mencederai hak asasi saya sendiri...

Betapa rumusan yang teramat alamiah ini membuat pemimpin dan kepemimpinan menyatukan dirinya dengan kesucian dan kesempurnaan pada setiap tingkatan eksistensinya..Baik keyakinan, fikiran, dan tindakannya. Tetabi bagaimana jika sekiranya dia mencuri, jika sekiranya, dia suka berbohong, jika sekiranya dirinya tiperdaya oleh bayang-bayang yang bernama jabatan dan harta dunia...Jika sekiranya kemenangannya adalah hasil kecurangan dan aksi tipu-tipu...Apakah keabsahan kepemimpinannya masih ada? Apakah ia masih punya hak memerintah? apakah kita masih punya kewajiban menuruti dan taat tanpa interupsi? Tetapi kenapa dia tetap saja bilang bahwa karena kitalah maka dia jadi pemimpin? Kenapa tidak dirobohkan saja dirinya? Ataukah kita semua sudah teramat jauh dengan Tuhan sebagai sumber makna, arti, dan hakikat hak-kewajiban, juga kepemimpinan?

Sejatinya, masalah kita jauh lebih dari sekadar masalah struktural...Masalah kita adalah bahwa kita luput dari tafakkur dan mengingat Dia yang Maha Kuasa...

Kalau bukan karena-Nya, maka aku hanyalah Barang besar yang keropos
Dengan Diri-Nya, aku adalah setitik debu yang perkasa dan mulia...Rumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar