Aku membaca sebuah buku "kemarin"...Judulnya "mengenal Epistemologi"...Sedikit disunggung dalam buku itu tentang arti kata "kemarin", hari ini dan besok..Tentang waktu...Ku baca itu buku di "dalam kamarku"... Juga tentang "ruang"...Tetapi apa itu ruang-waktu?
Tak cukup banyak orang yang menatap masalah ini...Sebab kebanyakan itu selalu mempercayai sesuatu sebagaimana umumnya dipahami...Padahal, ruang waktu itu adalah satu tema yang dalam dirinya ia memberi hikmah besar kepada kita...Tentang arti ketidakterbatasan pula kesucian...Bagaimananya kaitannya?
Coba kita tanya ulang tentang ruang-waktu itu...Apakah yang dimaksud ruang itu adalah sebuah wadah yang menampung sesuatu? Jadi aku ditampung oleh kamarku..Aku membaca buku di dalam kamar. Tarik lagi relasi ini...Kamar ditampung oleh apa? Oleh rumah, dan seterusnya...Kemudian perkara itu muncul...Dimanakah ruang paling besar dan paling awal yang menampung semuanya ini? Apakah langit biru? Tapi dimana batas langit itu?
Dimanakah matahari itu? Kita biasa mengatakan "diluar sana"..Tetapi apa yang kita maksudkan dengan diluar itu? Jelslah bahwa ruang itu bukan sebuah wadah material...Demikian pula dengan waktu...Aku membaca buku kemarin...Dimanakah hari kemarin itu? Jika kemarin itu ada atau eksis secara material, maka mengapa aku tidak bisa berjalan mundur dan mengalaminya kembali? Jangan bilang bahwa pengalamanku saat ini itu persis dengan apa yang terjadi kemarin, sehingga aku mengalami apa yang disebut dengan "kemarin" itu. Tidak.Tidak demikian..Pengalamku saat ini adalah sesuatu yang baru,.Kenyataan yang baru...Demikian juga dengan besok...Besok itu tidak eksis.Besok adalah mimpi..Bayangan tentang bagaimana kita nanti...Dan karenanya, kita pun tidak bisa mendahului aliran waktu itu sendiri...Apakah dengan demikian yang real itu adalah "saat ini"? Tetapi yang ku maksudkan dengan saat ini tersebut akan terkait dengan ruang...Tentang saat ini dan di mana?
Kant kemudian mengambil simpul dengan mengatakan bahwa ruang dan waktu adalah konstruksi pikiran manusia belaka, dan bukan suatu kenyataan material yang eksis diluar diri manusia...Terkesan bahwa jawaban Kant ini telah memberi kepuasaan..Namun perkaranya belum selesai sampai di sini...Penelusuran pikir mesti berlanjut...Dan kita mesti mengangkat sebuah tanya baru, yaitu "bagaimana pikiran menciptakan konsepsi ruang-waktu itu?
Kapan dan dimana itu menandakan batasan atau spasi-spasi gerak dan posisi...Namun pada dasarnya tidak ada keterbatasan sama sekali pada realitas itu sendiri...Apa yang kita sebut sebagai kenyataan material itu pada dasarnya tidak mempunyai batasan sama sekali...Karakter pikiran memanglah selalu ingin melihat sekat-sekat dalam realitas, sebab secara indrawi, segala sesuatunya memunculkan diri dalam wajah kemajemukan...Tetapi apakah kemajemukan itu hakiki? jika diandaikan demikian, maka ruang waktu mestilah menjadi sesuatu yang obyektif, dan bukan semata-mata ciptaan pikiran...Karenanya, yang memberi makna pada ruang-waktu atau batasan-batasan itu sendiri adalah ketakterbatasan...Tetapi pada lain pandang, ketakterbatasan itu sendiri sedikit banyak dipahami dari keterbatasan...Apa artinya, yaitu bahwa yang tunggal dan yang banyak itu tidak bisa dipisah-pisahkan...Tetapi keterbatasan mengungkap wajah Sang Maha Tak terbatas...Sedangkan Yang Tak Terbatas mematerialisasikan dirinya menjadi kemajemukan...Demikian sehingga Tuhan dan alam itu tidak terpisah.Sebab dan akibat juga...Kemajemukan adalah anugerah...Tetapi keinginan yang bersuara kuat dalam batin setiap mahluk, merupakan tanda bahwa pada hakikatnya, kita adalah satu...Namun bersatu dalam ruang-waktu adalah hal yang mustahil, sebab keduanya adalah keterbatasan...Bersatu hanya mungkin terjadi jika ada ikatan batin yang kuat dengan ketidak-terbatasan itu sendiri....
Persatuan yang berpijak pada motif-motif material hanyalah hegemoni dan penguasaan sebagian atas yang lain...Sedangkan kemajemukan yang berpegang pada tali ketakterbatasan (kesucian) akan membangun harmoni yang indah semerbak....Firman Akal Tafakkur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar