Aku menyadari betul, bahwa ada ide "ketakterbatasan" dalam diriku.Dalam jiwa, ia mewujud dalam rasa ingin tahu yang juga tidak terbatas..Namun, bagaimana bisa gagasan ketakterbatasan itu bisa hadir dalam diriku, jika kenyataannya, aku ini adalah sesuatu yang terbatas...Apakah jawabannya sebagaimana yang dibilang Descartes, bahwa sumber gagasan kemutlakan itu adalah Tuhan sebagai Realitas yang Tidak Terbatas..Tetapi bagaimana mungkin aku bisa menampung gagasan itu? Bagiku, yang masuk akal adalah, bahwa gagasan ketakterbatasan hanya bisa mewujud dalam sesuatu yang juga tidak terbatas...
Ops....Barangkali sebagai gagasan, hal tersebut tidak mustahil..Yang mustahil adalah, jika ketakterbatasan itu aktual...Dan memang demikian...sebab jika ketakterbatasan itu aktual dalam diriku, maka dengan sendirinya tidak akan ada lagi rasa ingin tahu yang tidak terbatas, oleh karena segala sesuatunya telah jelas pada dirinya sendiri...
Tetapi bagaimana bisa ketakterbatasan yang aktual itu bisa dicapai???
Apakah aktualitas itu diujung sejarah sebagaimana kata Hegel...Padahal, yang tidak terbatas mustahil mempunyai akhir,pula awal...Jika demikian, maka yang tak terbatas tidak bisa diungkap dengan pergerakan linier...Yang tak terbatas harus mewujud sekarang, dan saat ini juga...Pertanyaan ini membuatku harus memeras pikir, membuka kembali sayap pemikiran dan terbang menyikap pokok soal yang satu ini...Apa itu Tubuh, pun imajinasi, pula akal, dan intuisi...Apa itu ruang-waktu. Apa yang dimaksud dengan ketetapan dan perubahan????
AKu tidak perduli...apakah ini pertanyaan abad Yunani Kuno, atau bahkan sebelum Sokrates ada..Yang jelas, ini mengganggu pikiranku, dan aku mesti memberi jawab atasnya. Manfaatnya adalah aku pun kelak bisa bersikap sebagaimana hakikat pengetahuan itu sendiri...Jika tidak, maka tindakan praksisku tidak akan mempunyai nilai kebenaran sama sekali...
Tampaknya aku tidak bisa menerima ide tentang perubahan, jika tidak ada pengertian yang aku dapatkan tentang ketetapan...Kedunya menyatu sedemikian rupa...Apakah dengan demikian berubah dan tetap itu sama saja? jika sama, kenapa ada kenyataan tentang silih bergantinya segala sesuatu? jika berubahan itu ada? maka sejauh mana ia akan berhenti menjadi tetap, sementara ide ketakterbatasan itu tidak menerima akhir segala? Berarti bukan besok atau kemarin tetapi hari ini...Tapi apa yang dimaksud dengan kedisinian? sementara tidak sedetikpun segala sesuatu itu berhenti? apakah ketetapan itu adalah arus perubahan yang berjalan tanpa lompatan-lompatan itu???? Yang aku tahu, momen kedisinian itu akan menjadi luput dari kesadaraku, jika aku mengarahkan perhatian kepada selainnya...Semestinya aku fana dalam kedisinian yang total itu...Tetapi aku tidak bisa selalu begitu...Seratus dejajat celsius dengan demikian pastilah mengandung derajat-derajat yang ada dibawahnya...sementara nol derajat pastilah secara potensial mengandung seratus derajat itu sendiri...Dingin pastilah mengandung panas...dan panas pastilah mengandung dingin...Kemarin pastilah mengandung hari ini dan besok...Ini jika kedisinian yang abadi itu terserap dedalam diri. dan ketika itu, waktu pun menjadi hilang dengan sendirinya....
Tampaknya momen eksistensial yang ku sebut dengan kedisinian yang abadi ini, membutuhkan keheningan, bahkan jika kita berada ditengah-tengah gemuruh suara sekalipun...Semuanya pasti tidak akan bisa mengusik kedisinian...Semuanya tidak ada...Yang ada adalah aku dan sama dengan kedisinian abadi....
Ku kira, masalah ini juga menghinggap sang Filsuf berkumis...Nietzche...Ia menolak ketetapan...Dan mengutamakan perubahan yang tak berkesudahan...Tetapi ia kemudian masuk kedalam dilema, oleh karena perubahan itu meniscayakan pengakuan atas ketetapan pada saat yang sama...Dan bukan memilih salah satu di antaranya...Mencari untuk menemukan...tetapi jika tidak ada akhir pencarian, maka apa artinya pencarian-pencarian itu???? Namun semunya sama saja, sebab yang tidak terbatas sebagaimana yang ku katakan di atas, pastilah tidak punya akhir...Tampaknya kita mesti menemukannya di kedisinian....dan bukan di esok atau kemarin...sebab besok dan kemarin itu tidak ada....
Ohhhh....Betapa berfikir itu asyik...
Tapi dimana akhir hasrat ingin tahu itu???
Kedisinian adalah yang abadi???
Tetapi siapakah aku dan kedisinian itu???
Aku tidak tahu...
Bagaimana aku bisa mengatakan aku abadi dalam sesuatu yang tidak aku ketahui????
Tampaknya aku tidak bisa menemukannya...
Kecuali bila dia menyingkap keberadaannya kepadaku...
Maka berfikir itu tidak bermakna apa-apa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar