Sebuah tesis yang pertama-tama mesti dikemukakan di sini adalah "bahwa kebenaran tidak bisa diukur dari dan dengan tindakan"...
Nilai-nilai kemanusiaan Universal merupakan sesuatu yang pada hakikatnya menyatu dengan diri manusia. Dengan lain perekataan, nilai-nilai tersebut merupakan hal yang alamiah...Bahkan aku berfikir, untuk sekadar menghargai orang, saling kasih-mengasihi, keadilan, dst, kita tidak perlu mengandaikan sebuah pra nilai yang berpijak pada unsur-unsur yang berbao teologis. Singkatnya, sesorang tidak perlu punya konsep teologis untuk sekadar menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai tersebut. Agama dan aliran ideologi apapun, pastilah mempunyai ajaran moral yang sedikit banyak akan menegaskan nilai-nilai tersebut diatas.
Masalahnya adalah, apakah dengan demikian semua agama atau aliran ideologi itu benar pada dirinya masing-masing, oleh karena kedekatannya dengan apa yang kita sebut nilai-nilai universal itu? Tampaknya tidak. Kebenaran pada dasarnya mempunyai logika dasar tersendiri yang sepenuhnya mandiri aspek tindakan...Kebenaran adalah hal lain, sedangkan baik-buruk (moralitas) juga sesuatu yang lain pula.Keduanya tidak bisa dicampuradukkan. Karenanya, sangatlah tidak tepat, jika kita menetapkan kebenaran sebuah aliran kepercayaan dan ideologi dari aspek tindakan (kebaikan) yang dilakukan oleh para penganutnya...Sekiranya seluruh manusia di muka bumi ini tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali, kebenaran tetaplah kebenaran yang otonom. Demikian sehingga, kita membutuhkan metode diskursus tentang kebenaran yang lebih bercorak deduktif, dan bukan penyimpulan yang merujuk pada fakta-fakta partikular (tindakan baik-buruk).
Bagaimana metode deduktif itu bekerja?
Disinilah kita kemudian menemukan relefavansi dari pada pertanyaan semisal "apakah manusia itu mampu memperoleh pengetahuan". Apakah akal juga bisa disebut sebagai sumber pengetahuan, dan tidak sebagaimana klaim kaum empirikal bahwa akal hanya berguna untuk menata data-data indrawi...
Demikian renungan singkat ini kutuliskan, untuk selanjutnya kita selama lebih dalam lagi...Sebab kebenaran adalah alasan satu-satunya dari diciptakannya diri kita...Kerananya, mengerahkan seluruh kekuatan pikir adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar....Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar