Sipakah aku? Namun aku bertanya...Aku bertanya kepada diriku sendiri...Siapakah yang bertanya itu? Dan sipakah yang ditanyai?
Tetapi jika yang ditanya tidak mengenal dirinya sendiri, maka mungkinkah pertanyaan itu? Jika yang ditanyai tidak mengenal siapa dia? Maka bukankah pertanyaan dengan sendirinya menjadi sia-sia? Namun jika keharusan ini begitu jelas...Bahwa kalau yang ditanyai itu mesti mengetahui dirinya, maka mengapa aku masih bertanya? padahal yang bertanya dan yang ditanyai adalah aku sendiri...Apakah aku tidak mengenal siapa aku, sehingga aku bertanya? Tetapi mana mungkin aku bertanya kepada diriku sendiri, jika aku tidak mengenal diriku sendiri?
Lantas apa artinnya pertanyaa itu?
Begitu jelasnya pengetahuan diri...Namun diriku masih bertanya tentangnya?
Bertanya lbih dekat kepada fikiran...Keinginan untuk menganalisa relasi logis dan filosofis pengetahuan diri ini...Namun mengetahui dalam arti yang sesungguhnya, ia lebih sebagai perasaan yang hadir dari pada sebagai sebuah obyek yang hendak diketahui...
Untuk itulah, maka keheningan dan suasana sunyi senyap sangt kita butuhkan, agar kita masuk kedalam dasar diri yang lama tidak terdengar suaranya, karena ia tertutupi oleh konsentrasi dan perhatian kita atas hal-hal yang bersifat representasional (yang berada di luar kesadaran/obyek material)...Berfikir saja tidaklah cukup, sebab berfikir selalu mengandaikan bahwa yang difikirkan adalah sesuatu yang berjarak dengan diri kita...sedangkan diri sejati yang hendak diketahui itu, bukanlah sebuah obyek material yang dikurung oleh ruang pun waktu...Karenanya, merasa atau mengintuisi mestilah dijadikan sebagi sahabat karibnya akal fikiran...Bila tidak, maka semakin akal bekerja dengan sepenuh dayanya, maka semakin akal itu akan menemukan kebuntuan yang sangat...
Intinya...Adalah mesti ada upaya untukbersahabat dengan keheningan...Sebab keheningan lebih banyak berbicara tentang yang otentik.Sedangkan teriakan dan suara ramai, sangatlah sedikit bertutur tentang kesejatian meskipun suara itu begitu terdengar jelas oleh gengdang telinga... Kesucian itu bukanlah karena mata yang buta pun telinga yang tuli...Tali hati didalam dada yang pekal dan berkarat....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar