Sabtu, 22 Mei 2010

Tetang Kesadaran Akan Wujud

Setiap hari tampaknya kita menyaksikannya...Kemana mata memandang, yang disaksiakan dia...Jangan pikir bahwa penyaksian itu adalah tangga terakhir dalam perjalanan menaik yang biasanya diceritakan para mistikus...Cukup dengan sedikit tafakkur, kita bisa menyadari ada-Nya... Bahwa Kesadaran tentang keberadaan kita sendiri sudah menunjukan Dia ada...

Aku melihat dan menyadari ada meja dan benda-benda material di depan mataku...Tetapi apa itu meja? Kata Mulla Sadra, materi adalah sebuah eksistensi yang derajatnya terlalu rendah, sehingga ia tidak bisa diketahui sebagaimana adanya...Setelah dipikir-pikir, ternyata apa yang di bilang Sang Maestro Filsafat ini memang benar...Sebab kesadaranku tentang benda-benda material yang kusaksiakan itu tidak sama sekali tertuju pada dimensi materialnya, melainkan pada eksistensi non-material...Kenyataan pertama adalah, materi itu tidak bisa mewujud dalam kesadaranku...Sementara itu, aku menyadari keberadaan sesuatu...Itu artinya, yang kusadari pastilah sesuatu yang non-material...Tetapi kesadaranku akan ADA yang non-material itu sedikit banyak ditentukan oleh keberadaan materi...AKu melihat meja, dan kusadari ADA...ALhasil, dapat kukatakan bahwa materi itu tidak lain keculai ADA yang mewujud menjadi sesuatu yang indrawi...

Demikian sehingga, tidak kapan dan dimanapun, kita dapat luput dari padanya...Sebelum, disaat, dan setelah ku saksikan segala sesuatu, yang ku lihat hanyalah diri-Mu...Demikian ungkapan kesadaran Amirul Mukminin akan ADA itu sendiri...Hanya saja, apa yang kita sebut sebagai "luput" itu sendiri hanyalah perhatian yang lebih tertuju pada ADA yang indrawi, dapi pada ADA yang metafisis. Sekalipun begitu, materi tetap mempunyai status ontologis....Sehingga perhatian yang besar kepadanya akan menghantarkan seseorang kepada ada, dalam bentuk alienasi dan keresahan eksistensial...Alienasi dan keresahan itu dengan demikian adalah momen eksistensial yang sangat mungkin mengembalikan kita pada dunia yang lebih tinggi dari ruang-waktu dan indra....Keculai jika kita sendiri tak mau tahu dan lebih menginginkan hidup dalam situasi batin yang menyesakkan dada....Hingga sampai pada matinya fitra, yang kemudian membuat kita melihat kotoran sebagai kesucian, kekaburan sebagai, keneningan, kegelapan sebagai cahaya, dan kebaikan menjadi dipandang membahayakan...Dan binatangpun lebih mulai....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar