Rabu, 19 Mei 2010

Sejenak Bersama Nietzche

Bagiamana jika yang kita sebut sebagai kebenaran itu, ternyata hanya sebuah kekeliruan? Apa sesungguhnya yang menjadi landasan pengetahuan manusia?

Inilah pertanyaan yang beberapa hari ini mengusik pikiranku. Sebab aku melihat bahwa pemecahan terhadap pertanyaan tersebut merupakan kunci bagi semua pengetahuan dan keyakinan manusia. Aku bisa saja, dengan sejumlah argumentasi akal menyimpulkan bahwa Tuhan itu ada, alam semesta juga ada, demikian juga dengan sejumlah maujud lainnya. Namun atas dasar apa aku bisa meyakini bahwa kesimpulanku itu adalah sebuah kebenaran? bagaimana jika ternyata itu semua hanyalah kekeliruan semata?

Ada sebuah buku karangan ST Sunardi yang pernah ku baca. Buku tersebut bercerita secara tentang gagasan-gagasan pengetahuan Nietzche. Ketika mengomentasi pemikiran Immanuel Kant, Nietzche mengatakan bahwa apa-apa yang disebut sebagai landasan pengetahuan ap-riori itu hanyalah sebentuk kepercayaan,sebab tak ada lagi pijakan lain yang bisa dijadikan landasan untuk menilai kebenaran konsep-konsep ap-riori tersebut. ketika seseorang mengatakan bahwa konsep causalitas adalah konsep ap-riori yang menjadi landasan semua pengetahuan, maka persoalan akar-akar pengetahuan dengan demikian hanya akan berhenti sampai disitu. Sesorang tidak bisa lagi melakukan rasionalisasi terhadap konsep tersebut, sebab setiap rasionalisasi hanya akan tetap berpijak kepadanya. Jika demikian, maka manusia tidak memiliki pilihan lain, selain menerima konsep ini secara ap-riori pula, tanpa bisa mempertanyakannya secara lebih jauh lagi. Karena itulah, maka Nietzche mengatakan bahwa dasar-dasar pengetahuan hanyalah sebentuk kepercayaan. Kant menyebut kenyataan ini sebagai intusi akal.

Bagaimana jadinya, jika kepercayaan ini adalah sebuah kekeliruan?
Nietzche mengatakan bahwa kebenaran hanyalah kekeliruan yang tanpanya, manusia tidak bisa hidup. Bahkan baginya, pengetahuan tak lain kecuali aktualisasi dari kehendak berkuasa. Causalitas tidak bisa digunakan untuk membuktikan eksistensi metafisis, sebab causalitas itu sendiri, sebagaimana yang telah diketahui, hanyalah sebuah kepercayaan yang irrasional. Sehingga merupakan sebuah kekeliruan, jika ada manusia yang berusaha membangun sistematika pengetahuan yang absolut dan selanjutnya menjadi kaidah yang dipatuhi. Sistematika dengan demikian hanyalah sebuah ilusi yang tak berdasar. Jikapun sistematika itu dibutuhkan, ia bukanlah kerangka pengetahuan yang sifatnya absolut, melainkan hanya sebagai sarana bagi manusia dalam menjalankan hasrat ingin berkuasanya. Causalitas hanya bisa digunakan untuk menciptakan hal-hal yang bermanfaat secara praktis bagi manusia. pengetahuan bukanlah untuk pengetahuan itu sendiri, melainkan hanya sebagai kepentingan saja. bahkan, pengetahuan itu sendiri menyatu sedemikian rupa dengan kepentingan. Tidak ada obyektifitas yang bisa dibanggakan, sebab realitas hanya bisa diketahui pada dimensi fenomenalnya. Adapun yang dinamakan dengan sesuatu dalam dirinya sendiri adalah ilusi yang muncul oleh karena manusia tidak bisa mengatasi kelemahannya ditengah-tengah kehidupan yang serta tidak tertata rapi dan sistematis ini (chaos). Demikian Sabda Nietzche...

Barangkali banyak orang yang akan berkeberatan atas toresan pemikiran Nietzche. Sesuatu hal yang lumrah dan biasa. Namun bagiku, ia justru memberikan sebuah landasan pengetahuan yang lebih pasti, yakni dimensi intuitif yang lebih dekat pada hati dari-pada rasio. Pengetahuan seharusnya menjadi sesuatu yang dirasakan secara langsung oleh manusia pada relung jiwanya, dan bukan sebatas kaidah-kadaih berfikir yang bebas kepentingan dan mati rasa, sebagaimana kesadaran dan nalar Cogito yang tertanam kuat dalam Ideologi Modernisme dan pengetahuan positivistiknya.

Sekalipun demikian, tidak semua pemikiran Nietzche dapat dipandang sebagai kebenaran yang tetap, sebab jika demikian, maka telah terjadi sebuah kekeliruan pula dalam menafsirkan sang Filsuf ini. Ia sendiri tidak pernah mengatakan bahwa apa-apa yang ditelorkan olehnya sebagai pengetahuan yang tak bisa dikritisi. Filsuf kita ini justru memahami pengetahuan sebagai proses tanpa henti untuk mencari...mencari tanpa henti...pergerakan tanpa batas...dan itulah keabadian pemikirannya. Dan disinilah menurutku titik kelemahan pemikirannya. Ia mengatakan bahwa satu-satunya hakikat (semoga tidak ditafsirkan sebagai bernada metafisis) adalah gerak itu sendiri. namun bagaimana jadinya, jika gerak itu abadi? Lantas untuk apa Nietzche susah-susah mengkritisi Kant? Mengapa juga ia mesti mengatakan bahwa dasar-dasar pengetahuan hanyalah sebentuk kepercayaan yang irrasional? Kenapa juga ia mesti memproklamirkan dirinya sebagai sebuah dinamit yang bertugas membuat orang gelisah? Apa sesungguhnya kegelisahan itu? Apakah kegelisahan itu adalah yang mesti ditemukan, atau kegelisahan adalah hambatan yang mesti diatasai oleh sebuah kepastian? Jika terbatas pada kegelisahan, maka tidakkah bisa disebut bahwa kegelisahan adalah sesuatu yang pasti dan positif? Apakah ketika seseorang manusia berusaha mencari sebuah kepastian dan nilai-nilai yang tetap maka ia dengan sendirinya menjadi orang yang bermentalitas budak? Bukankah justru seseorang telah memperbudak dirinya sendiri, ketika ia berbicara banyak tentang pengetahuan namun menolak kepastian? Ataukah Nietzche sejatinya sedang berbicara tentang kepastian dalam bentuk pemberontakan atas relativitas akal dan indra yang oleh ideologi modernisme hendak disakralkan?

Pada dasarnya, negasi atas kepastian atau bahkan terhadap ideologi adalah sebuah ideologi. Sebab jika tidak demikian, maka tak ada yang bisa memaksa seseorang untuk mengakui hasil berfikirnya. Ini artinya, ada identitas positif yang tidak bisa dalam saat bersamaan menjadi sesuatu yang ditolak. Causalitas meskipun dipandang sebagai sebuah kepercayaan irrasional, namun ia harus tetap bisa diafirmasi secara positif oleh akal itu sendiri. Maka perlulah dibedakan antara causalitas sebagai sebuah konsep dan argumentasi logis yang menjelaskannya. Andaikan pernyataan ini dipandang salah, maka kesalahannya haruslah bisa ditetapkan pula. Oleh karenanya, maka kebenaran adalah sesuatu yang pasti dan tak bisa sama sekali ditolak. Akal adalah alat pengetahuan dan dalam saat yang sama ia bisa menjadi sumber pengetahuan. Sebagai sumber pengetahuan, akal adalah sesuatu yang ap-riori atau sebentuk irrasionalitas menurut Nietzche. Adapaun sebagai alat, akal bisa menentapkan eksistensinya sendiri. pertanyaan yang sesungguhnya lebih mendasar adalah bagimana dan dari mana konsep-konsep apriori yang disebuat Nieztche sebagai sebentuk kepercayaan itu muncul?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar