Kamis, 27 Mei 2010

Puji Akal Tafakkur...HI...

Kebenaran...Setiap saat manusia bicara tentangnya...Tetapi apakah yang dibicarakan itu adalah kebenaran...Rumi bilang, "Hasrat itu selalu ingin menguasai, sedangkan kerinduan selalu menghendaki yang natural, yang tidak dipaksakan...Kerinduan dekat kepada ketulusan, sedangkan hasrat adalah saudara kembar penguasaan dan nafsu ingin memiliki...Bisakah kita bicara kebenaran, jika ambisi menghinggapi diri? Kebenaran itu hal yang mandiri pada dirinya sendiri, dan karenanya, ia tidak sama dengan apa kata kita tentangnya...Berhasrat membicarakan kebenaran, tidak akan membuat kebenaran tersingkap, melainkan semakin terhijabi oleh ke-aku-an, padahal "aku" itu ilusi...Maka mana mungkin kegelapan bisa bicara tentang cahaya?

Suhrawardi bilang, cahaya adalah sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri, karenanya, seseorang tidak perlu mencahayai cahaya dengan maksud melihatnya...

Tafakkur lebih tinggi dari pada logika dan otak-atik premis...Tafakkur adalah keinginan melihat asap...Namun api berada dalam kedalaman ego...Panasnya api itu hanya bisa dirasakan...Karenanya, tafakkur adalah salah satu upaya mempertajam bahasa nurani...Diri otentik yang senantiasa berbicara tentang-Nya tanpa pernah berhenti...Karenanya, bukanlah telinga yang tuli, dan mata yang buta, tapi hati dalam dada yang sudah jelak lama berkeringat mencari bayangan..Padahal bayangan itu bukanlah apa-apa, kecuali ketiadaan cahaya...

Apa yang tidak bercerita tentang-Nya?
AKal bertafakkur, dan hati menyusuri kedalam rahasia...Kemudian kicauan burung, aliran air, angin yang sepoi-sepoi berhembus, ombak yang berguling, nafas yang berhembus, dan segala sesuatunya, adalah suara keanguangan yang membuat jiwa bergerat kencang, egoisme hilang tanpa wibawa, bersama-sama dengan air mata yang membasahi wajah, kemudian membuatnya memantulkan cahaya yang ia pun berbicara tentang Nur Ala Nur...Wajahku adalah keagungan-NYa, mataku, adalah tatapan lurus syirat yang tidak pernah menengok kekiri pun kanan...Jalan para Nabi, orang-orang benar, dan syuhada...

Kita membutuhkan "tulus" yang penuh pasrah...Menyerahkan diri sama sekali pada kebenaran...Hingga tak sesuatu apapun yang perlu dijelaskan...Sebab semua telah menjelaskan dirinya sendiri...Kabenaran tidaklah ditemukan dengan daya manusia, dan segala yang terbatas..Kebenaran pastilah akan mengungkapkan dirinya sendiri kepada akal tafakkur...Bukan akal "unjuk dada" yang pada dasarnya ia tidak bicara apa-apa, melainkan tentang kosong dan bayangan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar