Hasan Tiro...wah...pasti ini orang suka bikin gaduh...suka mengganggu keutuhan negara. Senangnya melakukan aktifitas makar..Tapi tuduhan ini tidak benar.. kita yang tidak tahu pokok soal sebenarnya sedang menzhalimi Hasan Tiro. karena tidak tahu bahwa politik propaganda itu bisa massif dengan sekadar bekal istilah dan kata-kata...Padahal, makra, profokator, bandit, dan sebaga macam istilah serupa tak lantas betul-betul menggambarkan bahwa yang mendapat predikat ini memang seorang bandit, atau pengacau yang gemar melakukan kekacauan dan bahkan pertumpahan darah. Seharusnya, sebelum menvonis seseorang atau kelompok, kita mestinya menyisihkan minimal sedikit kebijaksanaan untuk menyelami alasan sebuah tindakan....sebenarnya, kita sudah cukup mengerti nasehat ini.tapi kita tidak cukup bisa membendung ego yang memaksa diri kita untuk tergesa-gesa dalam menilai seseorang atau sesuatu...
Kemarin waktu masih dibangsu SMP sampai SMA, aku juga seperti kebanyakan kita, melihat hasan tiro dengan sorotan mata penuh curiga dan juga dipenuhi rasa tidak suka.curiga dan tidak suka karena aku menilai dia sebagai seseorang yang gila. sukanya menentang Negara Kesatuan yang susah payah didirikan ini. Tiro kala itu ku anggap sebagai manusia yang tidak tahu berterima kasih atas pengorbanan penuh derita dan sengsara dari para pejuang kemerdekaan..apalagi organisasi Aceh Merdeka yang dibentuk olehnya itu...
Baru beberapa hari kemarin, aku membaca sebuah buku buah pikir Tokoh dan pendiri GAM ini...buku ini sebenarnya sudah pernah ku lihat sejak lama. namun aku baru membaca dan betul-betul menikmati suguhan pikiran Hasan Tiro ini..Wah...menyesal juga ternyata...sebab aku menemukan Tiro sebagai seorang yang begitu logis dan realistis dalam menyuguhkan pemikirannya. dan terlebih lagi, aku telah lama mencap dia sebagai orang gila...kini aku tidak percaya lagi bahwa tiro adalah manusia kurang waras...Hasan Tiro justru seseorang yang sangat waras apalagi bila dibandingkan denganku...Bahkan Tiro tidak sedang melakukan makar atas Keutuhan Republik tercita..Hasan Muhammad Tiro justru sedang bicara tentang sesuatu perkara yang lebih besar dari pada perasaan-perasaan berbangsa yang tidak punya landasan pikir yang rasional dan realistis. Bahkan GAM yang didirikan oleh Tiro adalah sebuah keharusan dari kecintaannya atas keadilan itu sendiri...Bagimana bisa?
Bagi Muhammad Tiro, Negara yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan ini tidak tepat menggunakan bentuk dan konsepsi sebagai negara kesatuan. kenapa demikian, sebab negara kesatuan berarti mengharuskan adanya satu falsafah dan ideologi tunggal dimana setiap suku bangsa dan kebudayaan yang ada di Nusantara ini harus tunduk padanya. namun ini bertentangan dengan kenyataan bahwa Nusantara ini mempunyai bergamam suku bangsa yang masing-masing punya falsafah dan kebijaksanaan yang sudah hidup jauh sebelum penjajah datang dan negara ini didirikan. APa yang dikatan Tiro ini memang sangat rasional dan terutama begitu realistis. Karenanya Tiro mengatakan bahwa Pancasila tidak bisa dijadikan sebagai Ideologi Negara..Sebab itu artinya negara mau tak mau harus memaksa ideologi-ideologi lokal agar tidak lagi dianut oleh masyarakatnya. Padahal, Pancasila itu bukan pandangan hidup masyarakat lokal. Maka bagaimana bisa gagasan ideologis yang asing ini hendak dipaksakan oleh Negara sebagai Ideologi semua suku bangsa-suku bangsa yang ternanung dalam Negara Indonesia? Bukankah itu berarti Negara sedang mencerabut masyarakat lokal dari akar-akar kebudayaan dan identitas sejarahnya? Apa hak yang dipunyai oleh Negara untuk memaksakan dianutnya Ideologi Tunggal pada Masyarakat yang mejemuk, jika Negara itu bukanlah apa-apa melainkan sekadar sarana bagi masyarakat untuk mencapai tujuan kolektifnya? Demikian Hasan Tiro menggugat..
Selain kenyataan akan kemajemukan budaya pada Masyarakat Nusantara, Tiro juga menggugat nilai Ideologis dari Pancasila itu sendiri. Dia bertanya...Bila ideologi itu adalah sebuah sistem nilai yang dianut oleh satu masyarakat yang punya konsepsi antropologis, kosmologis, dan filsafat sejarah yang jelas, maka apakah Pancasila layak disebut ideologi? apakah Pancasila punya konsepsi yang terang tentang Tuhan, manusia, dan alam serta sejarah? ternyata tidak..pancasila tidak punya sistem pengetahuan yang jelas dan konsepsional. bahkan menurut Tiro, Sila-Sila yang ada dalam Pancasila itu sendiri saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya, sebagaimana yang akan kita lihat nanti. Memeng Pancasila tidak bisa disebut sebagai Ideologi...dan memang tidak boleh ada konsepsi Ketuhanan misalnya, yang tegas dan terang diberikan oleh pancasila. sebab jika konsepsi Tuhan yang terang dan tegas itu dilahirkan, maka itu berarti akan mengganggu konsepsi agama-agama di Indonesia tentang Tuhan.inilah posisi dielmatis yang menghimpit pancasila itu sendiri..
Konsepsi teologi yang kabur tersebut juga diikuti dengan konsepsi konsepsi persatuan yang juga kabur...apa yang bikin kabur, yaitu tidak adanya satu tali yang mengikat suku bangsa dinusantara ini kecuali sama-sama dijajah oleh kaum penjajah. Tetapi ini juga tidak cukup menjadi alasan, sebab kita dapati dalam sejarah bahwa jauh sebelum indonesia ada, perlawanan atas penjajahan itu dilakukan oleh masing-masing daerah berdasarkan semangat perjuangan yang berbeda-beda...semangat perjuang orang Aceh misalnya, bukanlah semangat nasionalisme atau apapun, melainkan semangan jihad yang dipompa oleh ideologi islam, sebab orang Aceh sudah menyatu sedemikian rupa dengan Islam sebelum Pancasila itu dipikirkan. Perastuan itu bisa dipahami, ketika kita dapati dalam sejarah bahwa Nusantara ini mempunyai kultur yang sama oleh karena dahulu kala ada kekuasaan tunggal yang menjangkau timur papua sampai barat sumatera..Namun tidak kita dapati cerita itu. dan Majapahit tidak pernah menguasai Nusantara ini sebagaimana yang sering didonegngkan itu. Karenanya, Tiro mengatakan bahwa persatuan kita adalah persatuan yang berdasarkan pada kesepakatan dan bukan pada kesamaan budaya dan identitas kebudayaan yang tunggal. Namun kesepakatan itu tidak lantas berakibat lahirnya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, oleh karena konsepsi kerakyatan dan demokrasi kita juga tidak rasional dan terutama tidak sesuai dengan konteks kebangsaan kita yang majemuk itu. konsepsi keyakyatan dan demokrasi ala Pancasila itu menurut Tiro hanyalah membuka pelung pada ketidak-adilan itu sendiri. kenapa demikian, sebab konsepsi demokrasi kita adalah demokrasi mayoritas. Tiro pada dasarnya tidak menolak nilai suara mayoritas sebagai kriteria demokrasi. Namun Tiro melihat bangwa suara terbanyak yang tanpa mempertimbangkan keadaan demografi Indonesia akan mengancam eksistensi suku bangsa lain yang tidak punya jumlah penduduk yang besar. Tiro mengusulkan untuk agar sistem demokrasi kita adalah keterwakilan suku bangsa dan mestilah dijamin oleh Undang-Undang. sebab bagi Tiro, yang riil dan obyektif itu dan yang pantas disebut rakyat itu adalah rakyat lokal yang majemuk itu. Bagi Tiro, berapapun sedikitnya jumlah penduduk disuatu daerah, mereka tetap harus punya wakil di parlemen, jika mereka adalah satu suku bangsa yang punya kebudayaan...Karena konsep keatuan inilah, maka yang muncul adalah ketidak-adilan pembangunan untuk seluruh rakyat indonesia. suku bangsa jawa sudah pasti lebih punya kesempatan besar membangun masyarakatnya, sebab jumlah penduduknya begitu besar. Karena itulah, maka wakil-wakil yang berasal dari jawa akan lebih banyak bicara tentang kepentingan suku bangsanya. sedangkan yang suku bangsa lain oleh karena tidak banyak jumlah penduduknya, maka kepentingannya dengan demikian menjadi tidak terwakili... padahal, mereka adalah suku bangsa yang masuk dan memperkaya Indonesia itu sendiri. Tiro menginginkan agar konteks demografis yang tidak sama itu harus diwadahi dengan kerelaan memberi dan menerima...Orang luar jawa punya daya tawar, yaitu sumber daya alam yang mereka miliki. namun mereka tidak punya sumber daya politik sebagai akibat dari tidak terwakilinya kepentingan mereka. seharusnya kedaan ini bisa diatasi dengan kesediaan memeberi dan menerima. orang luar jawa mesti rela berbagi rezeki dengan saudaranya yang kurang punya sumber daya alam itu. dan orang jawa harus memberi jaminan atas pembangunan didaerah-daerah atau suku bangsa selain jawa. namun keadaan yang demikian ini sulit untuk diterapkan, sebab bagaimanapun, orang jawa dengan kekuatan politiknya sudah barang tentu punya kelebihan untuk memanfaatkan kekayaan alam yang berasalal dari luar jawa untuk kepentingan suku bangsa jawa sendiri. akibatnya, orang luar jawa hanya menjadi kuli saj dinegara yang katanya milik semua suku bangsa ini. Karenanya, Tiro mengatakan bahwa sentralisasi kekuasaan merupakan efek logis dari model negara yang berbentuk kesatuan ini. Adapaun sila terakhir yang berbunyai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu dengan sendirinya menjadi gugur, sebab dasarnya sudah tidak kokoh sedari awal.
Dari penjelasan singkat ini, kita bisa mengerti bahwa gerakan Aceh Merdeka merupakan konsekwensi logis dari ketidakjelasan Pancasila itu sendiri. dan bagi Hasan Muhammad Tiro, apa yang dilakukannya ini juga akan dilakukan oleh orang-orang didarha lainnya yang selama ini diperlakukan tidak adil oleh negara dan ideologi Pancasilanya itu...Dan memang begitulah kenyataannya..Gerakan Papun Merdeka, RMS di Maluku, dan Gerakan-Gerakan selupa lainnya tersebut merupakan konsekwensi logis dari inkonsistensi dan kontradiksi internal yang ada pada Pancasila itu sendiri sebagai ideologi negara yang memang bercorak menghegemoni kemajemukan falsafah dan kebudayaan suku bangsa-suku bangsa di Nusantara...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar