Selalu dikatakan bahwa kebebasan adalah hak mendasar manusia yang wajib di jaga...Tapi mestilah diurai lebih dalam lagi tentang kebebasan itu sendiri...
Apa itu kebebasan...
Apa saja bisa dilakukan...Namun setiap tindakan punya akibat...Hukum sebab-akibat dengan demikian menguasai kebebasan...Jika mau, maka semestinya kebebasan itu adalah tindakan mandiri dan otonom yang tidak punya konsekwensi apa-apa...Karena yang demikian ini tidak bisa, bahkan mustahil, maka pastilah kebebasan itu terkait dengan apa yang disebut takdir (hukum)...
Hukum pada lapisan pertama adalah "relasi causasi". Bahwa setiap sebab punya akibat, pun sebaliknya...Dia adalah hukum universal...Bahkan jika ada manusia yang tidak terbakar ketika disentuh oleh api, fenomena sepinta aneh ini tetaplah punya sebab..Cuman saja, sebabnya tidak disaksikan secara indrawi..Kekeliruan orang empirisme adalah ketika ia mengatakan bahwa relasi sebab-akibat itu sama dengan hubungan panas dan air yang mendidih...Dan jika air tidak mendidih meskipun telah dipanasi, maka oleh mereka akan dikatakan sebagai mustahil...Sejatinya, empirisme tidak paham betul tentang apa itu hukum causalitas...
Samapi disini, tampaknya persoalannya agak sedikit ringan...Namun akal radikal pastilah akan menyusuri lebih jauh lagi, bahkan kedasar-dasar yang paling susah diotak-atik..Mari kita bertanya, "mengapa setiap akibat harus ada sebabnya"? Kenapa akibat tanpa sebab atau sebaliknya itu tidak bisa terjadi?
Betul-betul mendasar..Sama halnya dengan mengapa yang ada itu mesti ada.mengapa yang ada mustahil dari tiada dan meniada?
Mungkin ini bisa kita jawab dengan satu pertanyaan "mengapa kita bertanya begitu"? Pastilah karena ada sebabnya.Rasa ingin tahu misalnya.Atau rasa tidak puas atas sebuah jawaban yang belum betuyl-betul radikal atau fondasional. Kita mencoba menggugat meharusan relasi causasi, namun menyimpan motif (alasan yang mendasari pertanyaan). Jika begitu, maka bagaimana bisa hukum paten itu bisa dirasionalitasi...Apa yang bisa kita katakan hanyalah bahwa hukum causalitas itu merupakan sesuatu yang jelas pada dirinya sendiri..Ia tidak lagi butuh pada sesuatu apapun yang akan meneranginya...Dan lagi, pengetahuan memang harus berangkat dari titik awal yang terang-benderang..mustahil ia lahir dari yang masih samar-samar. sebab jika begitu, maka pengetahuan hanya akan jadi lingkaran yang tak ada ujung pun pangkalnya...Apa yang bisa dikatakan tentang takdir sebab-akibat tersebut adalah bahwa ia adalah gambaran konseptual tentang relasi eksistensial pada segala sesuatu...Sebab-akibat adalah wujud atau eksistensi itu sendiri...Dan sebagai eksistensi, ia bebas secara mutlak...Maksudnya adalah, tidaada yang memaksa dia untuk menjadi tidak ada...Jika kita bertanya, bila ada itu mutlak, maka bisakah dia menjadikan dirinya tidak ada? Sama saja. sebab pertanyaan ini mengandaikan bahwa tidak ada ada sebuah kenyataan baru tentang ada...Ada yang menjadi tidak ada (sesuatu)...
Lapisan selanjutnya adalah, relasi fenomenal...
Air yang dipanaskan maka dia mendidih...Dan lain-lain...Ia terkait dengan sistem penciptaan...Kopi bergantung pada air panas.Air panas karena ada api...Api muncul dari sesuatu...Jadi kalau diulur ini hubungan, yang muncul adalah lingkaran...Dan lingkaran itu berarti bahwa titik berangkat adalah tujuan itu sendiri...Namanya juga berputar...Akal mesti diasah biar jadi tajam. Biar ia bisa melihat sesuatu yang bersembunyi...Apa yang bersembunyi dari relasi kehidupan yang organis ini? Adalah kehendak...Bagaimana bisa udara yang tidak menyadari dirinya itu menjadi syarat kehidupan, pula makanan, pula api bagi air mendidih, juga tentang obat-obatan dan kesembuhan orang sakit? Betul-betul tidak masuk akal...Dan memang terlihat jelas tidak ada relasi "harusnya"...Sistem alam...Adalah perwujudan kehendak Sang Maha Kuasa...Bukanlah api itu yang membakar..Tapi Kamilah yang membakar...Bukan pula engkau yang melempar, tapi kamilah yang melempar...
Jadi dimana kebebasan kita?
Apakah kita bisa merubah relasi sebab-akibat menjadi "kebetulan". Mutahil...Sangat tidak mungkin...Lantas apa yang kita maksud dengan kebebasan? Tampaknya kebebasan itu hanya bisa diraih dengan cara membakar diri dalam api ketidak-terbatasan...Satu meliputi segala sesuatu...Jika kita telah menjadi "Al Haq", maka kepada siapa lagi kita mesti menengadah? Dengan-Nya, segala sesuatu adalah milikku...Aku punya kuasa, aku punya wilayah...Tapi apakah aku harus mengatakannya, jika Dia adalah segala-galanya...Dan tidak kepada sesuatu apapun lagi aku akan berpaling...Tidak kepada segala yang kumiliki, juga kepada wilayah yang aku kuasai...AKu kaya, maka aku tidak punya apa-apa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar