Hari kemarin, pula besok...Tapi dimanakah keduanya? Jika kemarin itu ada, Maka kenapa aku tidak bisa berjalan mundur untuk menengoknyya kembali layaknya kenyataan saat ini? Jika besok itu ada? kenapa aku tidak bisa melampaui "saat ini" untuk menikmatinya?
Rumah ini adalah rumah yang aku lihat kemarin...Tetapi dimanakah rumah yang kemarin itu? Tampaknya, kemarin bukanlah lipatan waktu, yang karenanya bisa dibolak balik...Masa lalu, dimanakah dia? Masa depan, dimana pula?
Yang benar-benar eksis bagiku adalah kedisinian...Yang nyata adalah saat ini. Namun saat ini pun tidak bisa dikatakan tetap, sebab ada perubahan yang menyertainya dan lebih pendek dari pada detik per detik...Demikian sehingga masa depan pastilah bukan sesutu yang ditemukan, melainkan ia diciptkan...Mula-mula, masa depan adalah bentuk imajinal yang diciptakan oleh mental manusia...Dan manusiapun mematerialisasikan masa depan itu menjadi kenyataan-kenyataan yang rill...Namun kenyataan haruslah sesuatu yang secara langsung dialami oleh subyek, dan tidak bersifat mental semata...Karenanya, masa depan itu sendiri pada dasarnya sama saja dengan apa yang kita sebut "saat ini"....Maksudnya, masa depan mesti menjadi kenyataan yang dialami...Jika tidak, maka maknanya sebagai masa depan menjadi hilang dengan sendirinya...
Kita tahu, bahwa proses mewujudkan konsep mental (cita-cita), tidak terjadi dalam lompatan-lompatan waktu, melainkan mengalir secara tetap , dimana antara satu titik dengan titik lainnya berada dalam himpitan yang sedemikian rupa...Karenanya, kelalaian menjadi sesuatu yang tidak bisa diterima...Kelalaian adalah bentuk dari hilangnya makna pergerakan yang berarti, dan tidak akan ada masa depan yang tercipta darinya...Demikian pula dengan "lupa". Gerakan tanpa jeda tidak mengenal kata lupa...Sebab lupa membuat kita kehilangan momen pengungkapan diri...Lupa membuat kita terlambat dalam lomba lari...Kita ditinggalkan oleh perubahan itu sendiri...Jika lalai dan lupa itu tidak boleh? maka siapakah manusia yang paling memahami hakikat waktu (masa depan), yang karenanya ia tidak pernah sama sekali lalai pun lupa? Jika kita asumsikan tidak ada manusia yang demikian, maka artinya masa depan dan perubahan yang tanpa titik berhenti itu? Tampaknya, sangat sulit bagi kita untuk menerima asumsi ini...Karenanya, mestilah ada manusia yang mempunyai kapasitas memahami waktu dengan sedemikian rupa...Bahkan dia adalah waktu itu sendiri...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar