Jumat, 10 Desember 2010

CATATAN TENTANG JIWA, KEHENDAK, DAN PENGETAHUAN

Tentang bagaimana gerak peengetahuan itu terjadi, adalah satu perkara yang cukup pelik..Dari indra, ke imajinasi, kemudian mencapai pengetahuan akal..Biasanya kita mengatakan demikianlah proses atau urutannya..Namun mengatakan demikian jelas tidak menjawab dahaga keingin-tahuan.Bagaimanapun juga, proses ini harus diterangkan sedemikian rupa, sehingga tidak ada celah sama sekali yang tersisa..Sekali lagi, hal ini memang amat berat.Namun itulah satu-satunya cara, agar keyakinan sebagai buah pengetahuan itu muncul..Demikian juga karena keyakinan itu berkaitan dengan kesadaran dan kehendak.Jika mengikuti sesuatu yang tak terurai, itu artinya mengekang kebebasan..Kita terpaksa tunduk, tanpa tahu mengapa harus demikian..Yang benar adalah, ketundukan itu hanya diperuntukkan bagi sesuatu yang terang-benderang.

Kembali kita pada pokok soal diatas.Bagaimana proses itu terjadi?
Kita mengindari sesuatu yang partikular.Kemudian kita mengadari bahwa dengan sedikit kehendak dan perhatian, apa-apa yang tersaksikan oleh indra tersebut bisa tampil dalam bentuk absrtak.Semacam cermin yang memantulkan gambar, demikianlah sifat imajinasi itu. Seterusnya, bentuk-bentuk imajinal tersebut bergerak pada tarap yang lebih tinggi, yaitu pada taraf akal, dimana pada taraf ini, akal tidak lagi menangkap bentuk imajinal yang partikular tadi, melainkan mengakap esensi universalnya..Kita lihat gunung, citra gunung itu hadir dalam imajinasi, dan kemudian, lahirlah konsep universal yakni ke-gunung-an, yang karena karakter universalitasnya itu, kita bisa menerapkannya pada sebuah bentuk dan obyek gunung partikular yang tak terhingga banyaknya itu. Ini terasa gampang. Kelurumitan itu muncul, tatkala kita masuk pada pertanyaan tentang, bagaimana peralihan dari masing-masing tingkatan pengetahuan itu terjadi?
Kenyataan sederhana berkata bahwa, obyek material yang kita indari itu, tidak bisa masuk dalam fakultar imajinasi kita..Gunung itu terlalu besar, sedangkan tempurung kepala kita amat sangat kecil, karenanya, jika ada kenyataan bahwa kita mampu menghadirkan cinta gunung tersebut, maka pastilah fakultas imajinasi itu bukan sebuah tempat yang berada dalam tempurung kepala, melainkan sesuatu instrumen pengetahuan yang melampaui dimesi material. Adapaun kehadiran citra imajinal itu sendiri merupakan efek dari apa yang disebut sebagai kreativitas jiwa..Bagaimana hal ini dijelaskan?
Jiwa tidak sebagaimana pendangan sebagian orang yang mengatakan bahwa ia adalah tempat pasif dimana segala bentuk-bentuk terindrai itu mewujud didalamnya. Ini jelas salah, sebab seperti yang telah kita ketahui, bahwa imajinasi itu bukanlah sebuah tempat yang menyimpan atau lebih tepatnya menampung bentuk-bentuk terindari tersebut. Imajinasi adalah fakultas yang sepenuhnya non-material..Yaitu satu tingkatan pengetahuan yang melampaui pengetahuan indra..Bukti ini jelas menjadi prinsip yang dengannya kita bisa menetapkan bahwa pengetahuan manusia itu tidak bekerja secera pasif, melainkan bergerak secara kreatif, sebagai akibat dari sifat jiwa yang non-material tersebut..Artinya, karena jiwa itu sederhana (tidak tersusun dari unsur-unsur pembentuk), maka ia dengan sendirinya mempunyai kemungkinan mengetahui secara tidak terbatas..Demikian sehingga karakteristik pengetahuan atau persepsi itu tidak bisa dibayangkan seperti akumulasi bentuk-bentuk obyek pengetahuan, melainkan sebagai gerak penyempurnaan dimana fase imajinasi misalnya, hanya semata-mata kelanjutan fase indra saja..Singkatanya, kita mesti memperhatikan betul-betul bahwa jiwa itu bukan tempat tinggal reseptif dan pasif yang berfungsi menampung obyek, melainkan ia adalah kekuatan penggerak yang bekerja secara kreatif, yang karenaya, jiwa itu sendiri harus dikatakan setara dengan obyek yang diketahui olehnya itu.Demikian inilah yang menjadi alasan bahwa pengetahuan itu adalah penyatuan eksistensial antara subyek dan obyek pengetahuan. Tegasnya, subyek itu sama dengan obyek itu sendiri..

Karenanya, pertanyaan tentang bagaimana prose pengetahuan itu terjadi, mendapatkan jawaban yang tegas dan jelas..Yaitu karena jiwa itu adalah realitas sederhana (non-material) yang mempunyai potensi mengetahui secara tidak terbatas, dan pada saat yang sama, ia menjadi kekuatan kreatif yang mengangkat satu bentuk pengetahuan sampai kepada taraf yang lebih tinggi..Tinggal saja, kamu dan aku menghendakinya atau tidak..Hehendak.Itulah pengertian jiwa

JAKARTA, 10 Desember 2010




Rata Penuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar