Adalah salah, bila kita mengatakan bahwa agama adalah semata-mata persoalan keyakinan an-sich. Bila sekadar percaya dan yakin akan keberanaan Tuhan, praktis semua manusia memilikinya, baik itu berakar dari kedalaman hati nurani, maupun melalui sinaran pikiran tatkala manusia memandang keberadaan segala sesuatu ini. Bahkan sesorang yang memproklamirkan dirinya sebagai ateis sekalipun, tidak bisa secara mutlak mengelak dari rasa kebertuhanan tersebut..Karenanya, Tuhan sebagai sebentuk keyakinan haruslah dipandang sebagai perkara yang telah selesai..Dikatakan demikian oleh karena hal tersebut telah sedemikian jelasnya..Tak ada perbedaan apapun dalam hal keyakinan atas keberadaan Tuhan itu, baik terdengar secara jelas oleh telinga batin, maupun hanya samar-samar saja.
Persoalan menjadi rumit dan pelik, tatkala kita mulai masuk kedalam pertanyaan seperti “Siapa dan bagaimanakah Tuhan itu”, Bagaimana sesungguhnya hubungan Tuhan dengan manusia? Sejauh mana kekuasaan-Nya beroperasi, dst. Atas pertanyaan-pertanyaan ini, jelas bukan menjadi bagian dari pada intuisi. Perkara ini adalah obyek pengetahuan yang harus dihadapi oleh rasio itu sendiri. Mungkin karena itulah, sehingga Tuhan selalu mengajak manusia untuk memikirkan segala sesuatu , termasuk diri manusia sendiri.
Pertanyaannya adalah, kenapa keberfikiran itu sedemikian dianjurkan?
Pertama-tama adalah, kita mesti melihat dulu sifat dasar dari akal itu sendiri. Jelas bahwa akal itu bekerja untuk mengurai sebab-sebab. Dalam kaitannya dengan segala keragaman fenomena itu, kita pastilah mengenali sejumlah sebab-sebab yang berada dibalik kejaidian tersebut. Tetapi apakah setip fenomena itu masing-masing memili sebabnya sendiri-sendiri? Dari sudur pandang indra, kita akan mengatakan bahwa masing-masing fenomena memiliki sebabnya masing-masing, meskipun juga ada kesatuan sebab, dari beberapa fenomena berbeda. Bila sebab-akibat adalah hokum yang bergerak dalam ragam bentuk, maka setiap kasus haruslah diketahui sebabnya melaui instrument pengindraan, yang artinya juga, sesorang tidak akan bias mengatakan “setiap hal pasti mempunyai sebab”, sebelum ia mengungkpkan secara empiric sebab dari hal-hal tersebut..Akan tetapi, kita mengetaui bahwa kita tetap bias saja mengatakan bahwa “setiap sesuatu mempunyai sebab”, meskipun pengalaman empirical belum terjadi. Melihat benda bergerak, tanpa sebelumnya mengetahui bentu sebabnya yang empiris, kita telah mengetahui bahwa benda bergerak itu memiliki sebab (penggerak). Karena itulah, kita mesti menyimpulkan bahwa hokum sebab-akibat itu tidaklah lebih dari satu bentuk hubungan saja, dan bukan berada dalam keragaman. Dalam bahasa teknis filsafat, hokum sebab-akibat yang tungggal dan universal ini (dapat diterapkan pada segala sefonemana), adalah hokum umum. Sedangkan keragaman sebab itu adalah sebab-sebab spesifik saja. Sebab umum itu mempunyi nilai ontologism (relasi kebradaan) yang bersifat pasti, sedangkan sebab-sebab spesifik tersebut tidak mempunyi kekuatan menghasilkan efek, sepanjang ia tidak terkait dengan sebab umum tersebut. Dari penelusuran singkat ini, dapatlah disimpulkan bahwa kekuatan akal untuk berfikir atau menyelami hakikat sebab-sebab (relasi keberadaan itu) akan berujung pada satu sebab utama yang menjadi syarat mutlak dari keberadaan segala sesuatu, itulah Tuhan Maha Sempurna.
Mengetahui Tuhan sebagai sebab hakiki dari segala sesuatu itu pada akhirnya akan melahirkan sikap penyerahan diri yang total kepada-Nya (tawakkal). Tawakkal itu sendiri akan memunculkan sikap kebebasan yang luar biasa, oleh karena kita tidak mungkin tunduk kepada apapun, melainkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Sedangkan ketiadaan pemikiran yang melahirkan kepasrahan itu pasti memunculkan alienasi. Kita terasing dari diri sendiri oleh karena orientasi kita tidak tertuju kepada Realitas Tak Terbatas, melainkan kepada hal-hal yang terbatas, baik itu pengagungan berlebihan atas manusia dalam bentuk penegasan atas kebebasan tanpa hokum dan aturan, atau kepada benda-benda material yang sudah jelas memiliki kedudukan jauh dibawah diri kita sendiri. Penyerahan diri secara totalo kepada Tuhan, juga membuat kita dapat menempatkan alam semsta sebagai semata-mata sarana yang berguna dalam mewujudkan tujuan penghambaan tersebut. Sedangkan kebalikannya adalah sikap mensakralkan alam, atau jika tidak, adalah menempatkan alam sebagai obyek penguasaan manusia, baik sebagai individu, maupun masyarakat.
Selanjutnya adalah, bahwa manusia adalah mahluk bebas. Dan yang namanya kebebasan itu, ia sama sekali tidak bisa dibatasi oleh apapun. Pada sisi ketidakterbatasannya, kebebasan itu dengan demikian setara dengan Tuhan itu sendiri. Kebebasan itu tiada boleh dibatasi, sedangkan Tuhan adalah Realitas tidak terbatas. Tetapi tidak bisalah kita membayangkan adanya kebebasan yang bebas sama sekali dari konsekwensi, oleh karena kebebasan itu meniscayakan adanya pilihan. Lantas bagaimana agar apa yang dipilih itu tidak membatasi kebebasan yang esensinya tidak terbatas itu?jawabannya adalah, Satu-satunya yang mesti dipilih adalah Tuhan itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar